background image
Aspek Pengembangan Farmasi
Rumah Sakit
Dr. Boenjamin Setiawan, Ph.D.
Presiden Komisaris PT Kalbe Farma
PENDAHULUAN
WHO telah mencanangkan Health for all by the year 2000.
Karena pelayanan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan
kualitas hidup, maka ada pendapat bahwa tersedianya sarana pe-
layanan kesehatan dasar menjadi hak setiap orang dan merupa-
kan kebutuhan dasar masyarakat. Setiap orang, setiap keluarga
dan seluruh masyarakat memang sangat mengharapkan bahwa
semua anggotanya sehat walafiat. Dalam hal ini sehat tidak hanya
berarti tidak sakit, tetapi sehat secara fisik, mental dan sosial.
Sehat secara fisik artinya tidak ada cacat bawaan, dan semua
organ-organ berfungsi dengan baik. Sehat mental berarti bahwa
fungsi otak dan kemampuan mental berjalan dengan baik se-
dangkan sehat sosial berarti bahwa ia dapat melakukan pekerja-
an dan melaksanakan tanggung jawab sebagai individu dalam
masyarakat.
Kebutuhan akan sarana pelayanan kesehatan tergantung
dari taraf pendidikan dan pengetahuan masyarakat. Masyarakat
yang masih hidup dalam jaman batu membutuhkan sarana pela-
yanan kesehatan yang sangat minim. Masyarakat petani sudah
meningkat kebutuhannya dan dalam masyarakat modem yang
hidup dalam kota kebutuhan sarana kesehatannya sudah sangat
meningkat. Mereka mcngharapkan tersedianya rumah sakit
modem, yang dilengkapi dengan berbagai alatdiagnostik terbaru
seperti MRI (magnetic resonance imaging) yang harganya bebe-
rapa juta US$, alat ultrasonografi (beberapa puluh ribu US$) dan
berbagai sarana kesehatan lain yang mahal-mahal.
Akibat dari semua peralatan yang mahal ini maka biaya
kesehatan terus meningkat. Di USA biaya kesehatan pada 1989
adalah sejumlah lebih dari 600 milyard dollar atau 30 x dari
anggaran belanja negara kita. Di berbagai negara lain biaya
kesehatan sebagai persen GDP adalah sebagai berikut, USA
Dibacakan di Seminar Upaya Peningkatan Pelayanan Rwnah Sakit. Kerjasama
PERSI dengan Kalbe Farma. Bukit Raya, Puncak 4-6 Agustus 1991
130
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 71, 1991
(12%), Kanada (8,7%), Swedia (8,8%), Perancis (8,7%), Jerman
(8,2%), Jepang (6,7%), dan Inggris (5.8%)
(1)
.
Di negara tetangga kita biaya kesehatan yang ditanggung
pemerintah adalah sebagai berikut :
Comparative Health Expenditure Ratios
Year
As % of Central
Gov. expenditure
As %
GDP
US $ per
Capita
Indonesia
1985
2,56
0,56
3,37
Malaysia
1981
4,39
1,36
23,40
Philippines
1985
5,95
0,63
3,75
Thailand
1985
5,69
1,20
8,98
Singapore
1985
6,47
1,78
122,29
Pemerintah Malaysia, Singapura dan Thailand menyedia-
kan dana yang relatip cukup besar untuk kesehatan sedangkan
Indonesia dan Filipina di bawah 1%. Pada tahun 1990 jumlah
uang yang dikeluarkan pemerintah dan masyarakat Indonesia
diperkirakan berjumlah 2.5-3% dari GDP atau 2250 - 2700 juta
US$ (diasumsikan GDP Indonesia 180 juta x US$ 500); karena
masyarakat Indonesia masih sangat heterogen maka kualitas
sarana kesehatannya juga sangat bervariasi. Di desa yang tersedia
adalah Puskesmas Pembantu, Posyandu, Puskesmas dengan
tempat tidur, Balai Pengobatan, BKIA dan sebagainya. Di kota
kecil/sedang biasanya sudah ada Rumah Sakit sederhana
sedangkan di kota besar pada umumnya sudah tersedia Rumah
Sakit yang cukup lengkap sarana mediknya.
INDUSTRI FARMASI DI INDONESIA
Industri kesehatan merupakan suatu mata rantai pelayanan
kesehatan, mulai dari pelayanan tenaga kesehatan dengan dokter
background image
sebagai titik pusatnya dibantu oleh drg, apoteker, tenaga perawat,
teknisi laboratorium, X-ray dan sebagainya. Kemudian ada in-
dustri obat, industri alat-alat kedokteran, laboratorium, apotik,
dan rumah sakit yang merawat orang sakit. Juga ada nursing
homes, tukang gigi, toko kaca mata dan berbagai sarana pelayan-
an kesehatan lain yang semuanya bertujuan untuk menyediakan
alat-alat kedokteran/kesehatan yang dapat dipergunakan oleh
para pelayan kesehatan untuk mencegah, mendiagnosis, meng-
obati dan merehabilitasi berbagai macam penyakit dan juga
menyediakan kegiatan promotif kesehatan.
Industri farmasi memegang peranan penting untuk menye-
diakan obat yang bermutu dan terjangkau harganya oleh masya-
rakat. Di Indonesia jumlah pabrik obat dewasa ini adalah
280.
Sebagian besar bahan baku aktifnya masih diimpor sedangkan
bahan pembantunya sudah dapat dibuat di dalam negeri. Taraf
perkembangan industri farmasi adalah masih dalam tahap
assembling. Bahan aktifnya diimpor, kemudian di pabrik diolah
dan dijadikan berbagai dosage forms seperti tablet, kapsul,
suppositoria, salep, cairan sirop, dan injectables. Pengawasan
mutu cukup ketat dan oleh Dep Kes setiap pabrik harus me-
menuhi syarat-syarat Cara Pembuatan Obat Baik (CPOB). Di-
harapkan bahwa pada tahun-tahun yang akan datang, berbagai
bahan aktif sudah dapat dibuat di Indonesia. Walaupun sekarang
berbagai bahan baku sudah dibuat di Indonesia seperti Cetamol,
Ampisilin, Khloramphenikol, Telrasiklin, Erithromisin dan se-
bagainya, tetapi pada umumnya pembuatannya adalah one-step
atau two-step process, hanya untuk memenuhi persyaratan pe-
merintah yang dikenakan terhadap pabrik farmasi PMA. Hal ini
dilakukan karena memang sarana industri kimia dasar untuk
menunjang industri bahan baku obatbelum ada atau masih dalam
taraf yang sangat sederhana.
Tahap selanjutnya di mana kita melakukan R D untuk
mengembangkan obat baru juga masih merupakan impian. Hal
ini disebabkan karena personalia untuk dapat melakukan pene-
litian belum tersedia dan juga biaya penelitian adalah sangat
mahal. Untuk menghasilkan satu New Chemical Entity yang
dapat dikembangkan menjadi obat yang dapat dipakai dalam
klinik dibutuhkan dana sebesar lebih kurang 100 juta US$.
Dengan perkataan lain suatu pabrik obat harus mempunyai hasil
penjualan beberapa ratus juta dollar untuk dapat menyediakan
dana penelitian yang cukup besar sehingga dapat menghasilkan
suatu obat baru.
Di Indonesia menurut IPA report, besarnya pasar obat pada
1990 adalah 1100 juta US$ dan diperkirakan pada 1
991
akan
menjadi 1300 juta $. Bilamana dibandingkan dengan perkiraan
biaya kesehatan yang diperkirakan akan dikeluarkan masyarakat
Indonesia pada tahun
1990 (± $2.700
juta) maka proporsi obat
akan merupakan 40% dari seluruh biaya kesehatan. Dengan
kemajuan pelayanan kesehatan di mana alat diagnostik dan
kuratif akan semakin canggih dan mahal proporsi yang dikeluar-
kan untuk obat akan turun. Di AS pengeluaran untuk obat hanya
7,8%
dari seluruh biaya pengobatan dan biaya rumah sakitadalah
sebesar 40% sedangkan untuk doctors services adalah sebesar
19,5%
(lihat tabel)
(3)
FUNGSI FARMASI DI RUMAH SAKIT
Rumah Sakit di masa yang akan datang merupakan sarana
terpenting dalam sistim pelayanan kesehatan. Walaupun dampak
rumah sakit dalam usaha peningkatan mutu kesehatan masyara-
kat tidak besar, tetapi kebutuhan akan rumah sakit di masyarakat
modem sangat besar. Dampak terbesar untuk meningkatkan
parameter kesehatan adalah perilaku perorangan/masyarakat (life
style) dan lingkungan hidup yang sangat dipengaruhi oleh kuali-
tas manusianya. Di USA dalam dua dasawarsa terakhir angka
kematian karena penyakit kardiovaskuler dan kecelakaan telah
menurun secara drastis. Hal ini disebabkan karena masyarakat
Amerika Serikat telah mengubah cara hidup mereka dengan
lebih banyak berolah raga, mengurangi makanan yang mengan-
dung lemak hewan, mengurangi rokok dan mengurangi minum
alkohol selama mengemudi kendaraan.
Berbicara mengenai peningkatan pelayanan, hal ini menun-
tut perubahan perilaku para pelayan kesehatan dan masyarakat
secara umum. Di Indonesia kata Customer Satisfaction me-
rupakan kata yang relatif baru. Keinginan untuk melayani, untuk
memberikan kepuasan pada langganan masih sangat minim. Di
Indonesia, kebudayaan masyarakat pada umumnya, terutama
para pejabat, para penguasa, para pegawai negeri, dan orang-
orang yang mempunyai kedudukan bukannya ingin memberikan
pelayanan yang baik, tetapi malahan selalu ingin dilayani. Kalau
kita ke kantor pemerintah, rumah sakit, apotik bahkan toko-toko
kecilpun pelayanan sering
sangat rendah mutunya. Berbeda
dengan keadaan di Jepang atau Singapura, mereka pada umum-
nya sangat memperhatikan kepuasan pelanggan. Pelayanan di
Puskesmas, Apotik dan Rumah Sakit pada umumnya masih
banyak kekurangannya. Dengan merembesnya era baru di Indo-
nesia di mana pemerintah melakukan deregulasi dan debirokra-
tisasi di segala bidang, dan pihak swasta lebih banyak diikut
sertakan dalam pembangunan, maka total customer satisfaction
akan mendapatkan perhatian yang lebih besar di masa yang akan
datang.
Apakah fungsi farmasi di Rumah Sakit? Secara umum dapat
dikatakan bahwa pasien datang ke dokter untuk berobat. Dokter
akan membuat diagnosis penyakit dan kemudian ia akan menulis
resep. Pasien membawa resep ke apotik, di mana obat akan
diracik dan kemudian akan diberikan pada pasien. Dahulu (ter-
utama sebelum tahun
1970)
banyak resep memuat campuran
berbagai bahan obat. Tetapi sekarang dengan kemajuan tekno-
logi dan arah pengobatan yang tidak menganjurkan dokter
melakukan pengobatan polifarmasi maka resep pada umumnya
memberikan obatdalam bentuk tablet atau kapsul. Polifarmasi di
mana resep sekaligus memuat campuran analgetika-antipiretika,
antibiotika, antihistamin, obat tidur, kafein dan sebagainya dalam
bentuk puyer sudah mulai ditinggalkan. Meracik campuran ber-
bagai obat dalam satu puyer selain tidak rasional juga memakan
waktu pembuatannya dan tidak efisien. Dengan tendensi resep
rasional yang hanya memberikan obat dalam bentuk tablet,
kapsul, salep dan sebagainya yang sudah jadi, maka pelayanan
apotik harus lebih cepat. Pasien tidak perlu meninggu lama,
seharusnya dalam maksimum 15 menit sudah dapat dilayani.
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 71, 1991
131
background image
Apotik Rumah Sakit berfungsi sebagai pabrik obat kecil
karena harus mampu membuat berbagai macam campuran obat
sederhana, juga berfungsi sebagai gudang obat/alat kesehatan
karena harus menyimpan semua obat/alat keschatan yang dibu-
tuhkan rumah sakit. Selainnya ini apoteker harus melaksanakan
fungsinya sebagai Clinical Pharmacist. Ia harus mendampingi
para dokter sebagai amber informasi mengenai perkembangan
baru dalam bidang obat. Ia harus menjadi counterpart dalam
bidang obat. Ia harus menjadi counterpart dalam bidang peng-
obatan dan mengawasi supaya pengobatan yang dilakukan para
dokter tetap rasional. Efek samping yang timbul karena peng-
obatan harus dimonitor. Dari berbagai survai mengenai efek
samping obat telah diketahui bahwa insidens efek samping obat
cukup besar, berkisar 6-10%. Karena itu dokter, apoteker dan
para perawat harus cukup alert untuk secepatnya mengenal
gejala efek samping obat sehingga pasien tidak akan dirugikan.
Setiap tindakan pengobatan harus selalu mempertimbangkan
risk-benefit ratio.
PENGEMBANGAN FUNG SI APOTIK DI RUMAH SAKIT
Di USA dana kesehatan masyarakat yang dikeluarkan untuk
rumah sakit adalah sebesar 40% atau 240 milyard US$ dan untuk
obat adalah sebesar 8% atau 48 milyard. Seluruh dana kesehatan
di USA pada 1989 adalah sebesar 604 milyard, 351 milyard
berasal dari swasta dan 253 milyard berasal dari pemerintah
(federal 174 milyard, state local government
79
milyard). Jadi
dana dari swasta sedikit di bawah 60% dan dari pemerintah
40%.
Di Indonesia perkiraan pengeluaran dana kesehatan pada
1990 adalah sebesar 3% GDP atau $2700 juta. Dari jumlah ini
$1100 juta adalah untuk pengobatan (IPA report) dan 25% adalah
untuk Rumah Sakit ( $ 900 juta). Menurut laporan keuangan
Rumah Sakit Mitra Keluarga selama Januari-Juni 1991, bila-
mana seluruh pendapatan (revenue) adalah 100% maka 30%
didapatkan dari perawatan pasien, 60% dari pelayanan medik
(apotik, lab, radiologi, USG, CT Scan, EEG, Endoskopi, Mamo-
grafi, Eskul dan sebagainya) dan 10% dari poliklinik. Pelayanan
apotik menghasilkan 30% dari seluruh hasil (revenue) Rumah
Sakit. Mengingat peran apotik yang cukup besar sebagai sumber
dana Rumah Sakit maka sudah selayaknya bahwa Rumah Sakit
menaruh perhatian lebih besar terhadap peningkatan mutu pe-
layanan apotik rumah sakit.
Bagaimana kita dapat meningkatkan mutu pelayanan apotik
rumah sakit? Pertama-tama kita harus mengkaji kembali fungsi-
fungsi pokok apotik rumah sakit dan peran apoteker, asisten
apoteker dan lain-lain karyawan apotik rumah sakit. Fungsi
pokok apotik rumah sakit dan apoteker, asisten apoteker dan lain-
lain karyawan apotik rumah sakit.
Fungsi pokok apotik rumah sakit dan apoteker menurut
ASHP (American Society of Hospital Pharmacist) adalah se-
bagai berikut
oj
:
1. Membuat dan mensterilisasi obat injeksi bilamana dibuat di
RS.
132
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 71, 1991
2. Membuat obat yang sederhana.
3. Memberikan (dispensing) obat, bahan kimia dan preparat
farmasi.
4. Mengisi dan memberikan etiket pada semua container yang
berisi obat dan diberikan kepada pasien maupun lain bagian
RS.
5. Mengawasi semua pharmaceutical supplies yang dikirimkan
dan dipergunakan di berbagai bagian RS.
6. Menyediakan persediaan antidot dan lain-lain obat untuk
kcadaan gawat darurat.
7. Mengawasi pengeluaran obat narkotika dan alkohol dan
membuat daftar inventory.
8. Membuat spesifikasi (kualitas dan sumber) dari pembelian
semua obat, bahan kimia, antibiotika, biologicals dan
preparat-preparat farmasi yang dipakai dalam pengobatan
pasien di RS.
9. Memberikan informasi mengenai perkembangan terbaru
berbagai obat kepada para dokter, perawat dan lain-lain
orang yang berkepentingan.
10. Membantu mengajar para mahasiswa kedokteran dan pe-
rawat pada program koasisten fakultas kedokteran/perawat.
11. Melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil oleh
panitia Pharmacy and Therapeutics.
Tugas pokok scorang apotcker di RS adalah supaya peng-
obatan yang dilakukan para dokter di RS adalah RASIONAL dan
memenuhi syarat 5 TEPAT ialah, Obat yang tepat, untuk pasien
yang tepat, dengan dosis yang tepat, diberikan pada waktu yang
tepat dengan harga yang tepat sesuai dengan kemampuan pasien.
Sistim pelayanan pada para pasien juga perlu ditingkatkan,
terutama adalah keramahan, kecepatan, ketepatan dan pene-
rangan yang cukup jelas pada pasien.
Keramahan pelayanan sangatpenting, supaya pasien (peng-
ambil obat) merasa dihargai dan betah sehingga ia akan menjadi
pelanggan seumur hidup.
Kecepatan pelayanan juga penting , apalagi dalam dunia
modem sekarang ini di mana waktu dirasakan sangat terbatas dan
berharga. Waktu adalah satu-satunya komoditi yang tidak dapat
diulang kembali. Setelah lewat dengan harga seberapa tinggipun
tidak dapat dibeli kembali. Waktu sebetulnya adalah komoditi
termahal di dunia tetapi di masyarakat Indonesia masih sangat
kurang dihargai.
Ketepatan pelayanan sangat penting. Bayangkan apa yang
dapat terjadi bilamana obat yang diberikan salah. Paling ringan
penyakitnya tidak disembuhkan, tetapi kelalaian ini dapat me-
nyebabkan kematian atau dapat menimbulkan cacat seumur
hidup. Beberapa kasus kecelakaan karena kesalahan pemberian
obat telah terjadi yang menimbulkan akibat yang parah terhadap
pasien. Mengingat hal ini maka apoteker harus menyempatkan
diri untuk recheck sewaktu obat diberikan pada pasien apakah
isinya sesuai dengan resep dokter.
Penerangan yang cukup jelas juga sangat penting untuk
mencegah kemungkinan terjadinya kesalahan dosis, cara pakai
obat dan supaya pasien juga mengetahui efek samping obat.
Pernah terjadi bahwa seorang pasien diberi suppositoria dan
background image
diminum, bukannya dimasukkan ke
anus.
Manajemen apotik juga perlu ditingkatkan, yaitu fungsi
perencanaan, pengarahan (directing), organizing, staffing, coor-
dinating and controlling. Seorang apoteker
RS harus
dapat
melakukan fungsi manajemen umum dan manajemen keuangan.
Bilamana semua fungsi ini dapat dilakukan dengan baik maka
apotik
RS
bisa menjadi kebanggaan
RS,
pasien rawat jalan
maupun pasien rawat inap akan merasakan tenteram dan para
dokter/perawat/mahasiswa juga dapat menarik
man
faat
yang
tak
terhingga dari semua informasi mengenai perkembangan mu-
takhir dunia farmasi.
KESIMPULAN
1. Dana yang dikeluarkan masyarakat untuk obat di Indonesia
cukup besar dan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan
pelayanan
yang
memadai.
2. Di
masa-masa
yang
akan datang peranan rumah sakit dalam
sistim pelayanan kesehatan akan semakin besar, terutama
di
kota dan masyarakat akan menuntut pelayanan
yang
lebih
baik.
3. Rumah sakit sebaiknya menaruh perhatian utama dalam usaha
peningkatan pelayanan kesehatan pada medical care dan
bukan pada hotel care.
4.
Dalam usaha peningkatan mutu pelayanan farmasi
di
rumah
sakit maka fungsi apoteker harus ditingkatkan dalam bidang:
a. Manajemen umum
b. Manajemen keuangan
c. Manajemen fungsional
d. Peningkatan Total Customer Satisfaction
5.
Dalam usaha mempercepat alih ilmu dan teknologi dunia
pelayanan kesehatan harus lebih membuka diri dan lebih
banyak mengundang ahli-ahli kedokteran untuk bekerja
di
rumah sakit untuk waktu tertentu.
6.
Untuk merangsang industri peralatan kedokteran sebaiknya
semua rumah sakit pemerintah/swasta dianjurkan memakai
peralatan produksi dalam negeri.
KEPUSTAKAAN
1. Iglehart JK. Health Policy Report, Germany s health care system. N Engl J
Med, June 13, 1991; p. 1750-1756.
2. Source. International Monetary Fund, Government Finance Statistics Year-
book 1987 and World Bank Staff Estimates.
3. World Almanac and Book of Facts 1991. U.S. Health Expenditures 1960-
1988, 200 Park Avenue, New York, NY 10166. A Scrippes Howard
Company, p. 844.
4. Smith, Lee. A cure for what asks medical care. Fortune July 1, 1991; p. 36-
39.
5. Smith MC, Knapp DA. Pharmacy, Drugs and Medical Care, 428 E. Preston
Street, Baltimore, Md 21202, USA. The Williams Wilterms Company,
1976; p 51.
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 71, 1991
133