background image
ABSTRAK
PENATALAKSANAAN NYERI
PINGGANG BAWAH
Nyeri pinggang bawah merupakan
masalah yang sering dijumpai dalam
praktek, dan cara menanganinya bisa
bervariasi. Para peneliti di Helsinki,
Finlandia membandingkan tiga cara
pengobatan para pasien dengan keluhan
nyeri pinggang bawah akut dan non-
spesifik: istirahat baring selama dua hari
(67 pasien), latihan mobilisasi punggung/
exercise (52 pasien) dan tanpa pena-
nganan khusus-pasien tetap dibiarkan
aktif selamadapatditoleransi (67 pasien).
Ternyata evaluasi setelah 3 minggu
dan 12 minggu menunjukkan bahwa
kelompok kontrol (tanpa penanganan
khusus) iebih cepat pulih dibandingkan
dengan dua kelompok lainnya (dengan
intervensi). Setelah 1 minggu, 41% di
kelompok istirahat baring, 36% di ke-
lompok exercise dan 20% di kelompok
kontrol masih beluin dapat kembali
bekerja; . setelah dua minggu angka
-
angka tersebut menjadi masing-masing.
19%, 11% dan 2%; dan setelah tiga
minggu menjadi masing-masing 5%, 6%
dan. 2%. Setelah- 12 minggu, angka
median lima tidak bisa bekerja untuk
kelompok istirahat baring ialah 6 hari,
untuk kelompok exercise 5 hari dan untuk
kelompok kontrol hanya 4 hari.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa . memelihara aktivitas selama ma-
sih dapat ditoleransi merupakan cara
terbaik dan sekaligus dapat menghemat
biaya perawatan.
N. Engl. J. Med. 1995; 332: 351­5
Hk
ATEROSKLEROSIS DAN STROKE
Lesi aterosklerotik diduga merupa-
kan salah satu faktor penyebab stroke
emboli. Di Italia, telah diteliti secara
prospektif frekuensi dan ketebalan plak
aterosklerotik di aorta asendens dan di
arkus aorta proksima1250 pasien stroke
iskemik, dibandingkan dengan 250
kontrol menggunakan ekokardiografi
transesofagus; semua pasien berusia
lebih dari 60 tahun.
Ternyata plak aterosklerotik yang
tebalnya 4 mm ditemukan pada 14,4%
pasien dan hanya pada 2% kontrol. Se-
'
telah dikoreksi dengan faktor-faktor
risiko, odds ratio di kalangan pasien
yang mempunyai plak ialah sebesar 9,1
(95%CI:3,3­25,2. p < 0,001). Di antara
78 pasien yang menderita infark serebri
dengan sebab tak jelas, 28,2% mem-
punyai plak yang tebalnya 4 mm. di-
bandingkan dengan hanya 8,1% di an-
tara 172 pasien yang penyebab infark-
nya dapat diduga/diketahui (odds ratio
4,7, 95%CI: 2,2 ­ 10,1, p < 0,001).
Plak di arkus aorta yang tebalnya 4
mm tidak berhubungan dengan adanya
fibrilasi atrium atau stenosis arteri ka-
rotis interna ekstrakranial; sedangkan
plak yang tebalnya 1 ­ 3,9 mm sering
dihubungkan dengan stenosis karotis
70%.
Studi ini menunjukkan adanyakaitan
yang kuat antara lesi aterosklerotik arkus
aorta dengan risiko stroke iskemik, ter-
utama bila plaknya tebal.
N. Engl. J. Med 1994; 331: 1474­9
Hk
PENGOBATAN MANIK-DEPRE-
SIF
American Psychiatric Association
telah mengeluarkan pedoman peng-
obatan pasien manik-depresif. Walaupun
sampai saat ini belum ditemukan peng-
obatan kausal, 80% pasien mengalami
perbaikan menggunakan obat-obat yang
ada.
Lithium efektif untuk mencegah
episode manik-depresif dan labilitas
emosi pada 80% pasien, valproat dan
karbamazepin dapat sama efektif se-
hingga boleh dipertimbangkan untuk
terapi awal. Mania akut dapat diatasi
dengan neuroleptik atau benzodiazepin;
neuroleptik lebih dianjurkan karena efek
sampingnya lebih sedikit.
Di samping pengobatan, perawatan
psikiatrik jangka panjang tetap diper-
lukan untuk mengetahui perubahan-
perubahan dini dan membantu meng-
atasi stres dalam kehidupan dan dalam
pekerjaan.
Market Letter 1994; Dec. 12: 12
Brw
PENURUNAN KUALITAS
SPERMA
Beberapa penelitian menunjukkan
adanya penurunan kualitas sperma se-
cara menyeluruh dalam 50 tahun ter-
akhir; para peneliti di Perancis telah
meneliti 1351 contoh sperma berasal
dari pria sehat dan fertil yang disimpan
di bank sperma di Paris; contoh sperma
itu diambil antara tahun 1973 ­ 1992.
Hasilnya menunjukkan tidak ada
perubahan volume rata-rata; konsentrasi
sperma turun 2,1% pertahun, dari 89 x
10
6
/ml di tahun 1973 menjadi 60 x 10
6
/
ml di tahun 1992 (p < 0,001). Dalam
periode yang sama persentase sperma
motil turun 0,6%/tahun (p < 0,001) dan
persentase sperma normal turun 0,5%/
tahun (p < 0,001).
Setelandikoreksi terhadap faktorusia
dan lamanya abstinensi seksual, setiap
penambahan usia satu tahun diikuti
dengan penurunan konsentrasi sperma
sebesar 2,6%, dan penurunan sperma
motil dan sperma normal, masing-ma-
sing sebesar 0,3% dan 0,7% (p<0,001).
Selama 20 tahun telah terjadi penu-
runan konsentrasi dan motilitas sperma
dan penurunan persentase sperma nor-
mal di kalangan pria Perancis, yang ti-
dak dipengaruhi usia.
N. Engl. J. Med. 1995; 332: 281­5
Hk
62
Cermin Dunia Kedokteran
No. 100, .1995
background image
ABSTRAK
KERACUNAN OBAT
Laporan dari Inggris menyebutkan
bahwa selama tahun 1983­1992 di
Inggris dan Wales 18.641 orang telah
meninggal dunia akibat keracunan obat
atau preparat biologik yang kebanyakan
diperoleh melalui resep; angka ini ter-
masuk usaha bunuh diri menggunakan
obat.
Di tahun 1992, 1.971 orang mening-
gal dunia karena keracunan obat, 875 di
antaranya akibat analgetik/antipiretik/
antirematik, sedangkan di tahun 1991,
1.791 orang meninggal dan 753 di an-
taranya akibat obat golongan tersebut
di atas.
Scrip 1995; 1999: 6
Brw
DOXAZOSIN UNTUK HIPER-
PLASI PROSTAT
Menyusul terazosin, suatu antagonis
alfa-adrenoreseptor lain yaitu doxazosin,
juga telah disetujui oleh US FDA untuk
digunakan pada pengobatan hiperplasi
prostat.
Tiga percobaan dengan kontrol
plasebo (n = 609) menunjukkan bahwa
doxazosin 4 mg. dan 8 mg. selama 14­16
minggu berhasil meringankan gejala-
gejala obstruksi daniritasi saluran kemih;
dan meskipun obat ini menurunkan
tekanan darah pada orang hipertensi,
pasien-pasien normotensif tidak ter-
pengaruh tekanan darahnya. Dosis awal
yang dianjurkan sebesar 1 mg/hari dapat
dinaikkan sampai 8 mg./hari. Tekanan
darah harus dievaluasi terus menerus
dan sebelumnya harus disingkirkan ke-
mungkinan karsinoma prostat.
Efek samping yang ditemukan di
antaranya pusing, rasa lelah, hipotensi,
edema dan dispnoe; dalam frekuensi
yang lebih kecil juga ditemukan adanya
angina pektoris, hipotensi postural,
sinkoR,taltikardi, disuri dan penurunan
libido.
Scrip 1995; 2000: 22
Brw
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
Suatu survai di Spanyol yang meli-
batkan 1500 dokter, apoteker dan pasien
menunjukkan banyaknya penggunaan
antibiotik yang tidak adekuat. Para dokter
yang disurvai memperkirakan hanya
6,5% dewasa dan 30,3% anak-anak yang
benar-benar mentaati peraturan peng-
gunaan antibiotik secara benar; meski-
pun demikian hanya 58% pasien yang
mengaku berhenti makan obat setelah
merasa sembuh, sedangkan 32,4% lain-
nya mengatakan mentaati anjuran
dokter.
Survai ini juga menunjukkan bahwa
81% dokter meresepkan antibiotik se-
tiap hari, dan 56,3% apoteker memberi
nasehat penggunaannya kepada para
pasien.
Scrip 1995; 2000: 4
Brw
PENGHENTIAN VENTILASI ME-
KANIS
Mengakhiri tindakan bantuan venti-
lasi mekanis (weaning) di Unit Perawat-
an Intensif selalu merupakan masalah
karena belum ada standar prosedurnya.
,
.Sekelompok peneliti di Spanyol
mencoba membandingkan empat cara
weaning: pertama: intermittent manda-
tory ventilation dengan cara menurunkan
frekuensi ventilator dari rata-rata 10,0±
2,2 kali/menit dengan 2-4 kali/menit
sedikitnya dua kali sehari (29 pasien);
ke dua pressure support ventilation
dengan cara menurunkan tekanan dari
rata-rata 18,0 ± 6,1 cmH
2
O, diturunkan
2­4 cmH
2
O sedikitnya 2 ­ 4 kali sehari
(37 pasien); ke tiga percobaan napas
spontan dua kali sehari atau lebih se-
lama keadaan pasien memungkinkan,
dan ke empat dengan cara percobaan
napas spontan sekali sehari (31 pasien).
Ternyata ventilasi berhasil dihenti-
kan(weaned) dalam rata-rata (median)
5 hari untuk cara intermiten, 4 hari untuk
cara pressure support, 3 hari untuk per-
cobaan napas spontan berulang dan 3
hari untuk percobaan napas spontan
sekali sehari.
Analisis menunjukkan bahwa keber-
hasilan cara percobaan napas spontan
sekali sehari (cara ke empat) tidak ber-
beda bermakna dengan cara ke tiga, te-
tapi berbeda bermakna dengan cara per-
tama (rate ratio:2,83,95 %CI:1,36­5,89,
p < 0,006), juga berbeda bermakna de-
ngan cara ke dua (rate ratio 2,05, 95%CI:
1,04­4,04). Tidak ada perbedaan ber-
makna antara cara ke tiga (percobaan
beberapa kali sehari) dengan cara ke
empat (percobaan sekali sehari).
N. Engl. J. Med. 1995; 332: 345­50
Hk
SERTRALIN UNTUK ITP
Penggunaan sertralin ­ suatu anti-
depresan ­ ternyata dapat meningkat-
kan jumlah trombosit; demikian laporan
dari Canada.
Pasien pria 38 tahun dengan riwayat
idiopathic thrombocytopeitic purpura
(ITP) mendapat sertralin karena mende-
rita depresi. Hitung trombositnya me-
ningkat dari 53-76x10
9
/1 menjadi 132x
10
9
/l setelah 17 minggu; dua minggu se-
telah sertralin dihentikan, hitung trom-
bositnya turun kembali menjadi 62 x
10
9
/I. Lima bulan kemudian, pasien ter-
sebut kembali menggunakan sertralin
dan hitung trombositnya kembali me-
ningkat dari 60-63 x 10
9
/1 menjadi 92-
106 x 10
9
/1 dalam 4-12 minggu peng-
obatan, dan turun kembali menjadi 60x
10
9
/1 empat minggu setelah pengobatan
dihentikan.
Selama pengobatan pasien merasakan
efek samping berupa nyeri epigastrik
yang diatasi dengan ranitidin atau
omeprazol.
Lancet 1995: 345: 132
Hk