background image
ABSTRAK
KANKER PAYUDARA REKUREN
Diketahui bahwa pasien kanker
payudara mempunyai risiko tiga kali
lebih besar untuk mendapatkan kanker
payudara yang ke dua; untuk menge-
tahui besarnya pengaruh radioterapi ter-
hadap kemungkinan timbulnya kanker
yang kedua,
,
dilakukan case-control
study terhadap 41109 wanita yang
menderita kanker payudara di antara
tahun 1935-4982 di Connecticut,
Amerika Serikat.
Sebanyak 655 wanita diketahui men-
dapatkan kanker payudara yang ke dua
setelah lima tahun; dan dosis radioterapi
yang telah diterimanya dibandingkan
dengan 1189 wanita kontrol yang kan-
kernya tidak rekuren.
Ternyata 23% wanita dengan kanker
payudara yang ke dua dan 20% wanita
kontrol pernah mendapatkan radiotera-
pi (relative risk ­ 1,19); dan di antara
yang masih hidup setelah 10 tahun,
radioterapi dikaitkan dengan sedikit
peningkatan risiko (relative risk­1,33);
peningkatan ini terutama terdapat pada
wanita di bawah usia 45 tahun (relative
risk ­ 1,59).
Dari penelitian ini disimpulkan
bahwa radioterapi berperanan kecil
dalam timbulnya kanker yang ke dua;
hanya kurang dari 3% yang dikaitkan
dengan radioterapi. Meskipun demiki-
an, risiko tersebut terutama harus di-
perhatikan pada wanita di bawah usia
45 tahun.
N. Engl. J. Med. 1992; 326: 781-5
Brw
MANFAAT TAMBAHAN TA-
MOXIFEN
Tamoxifen adalah suatu antiestrogen
sintetik yang digunakan sebagai terapi
adjuvan kanker payudara. Ternyata ta-
moxifen mempunyai efek lain yang
mungkin menguntungkan, yaitu me-
nambah densitas tulang lumbal.
Penelitian dilakukan atas 140 wanita
menopause dengan kanker payudara
dengan memberikan 10 mg. tamoxifen
atau plasebo dua kali sehari secara acak,
buta ganda.
Ternyata densitas tulang lumbal me-
ningkat 0,61% pertahun pada wanita
yang mendapatkan tamoxifen, seba-
liknya turun 1% pertahun pada wanita
yang mendapat plasebo (p < 0.001);
sedangkan densitas tulang radial turun
sama besarnya pada kedua kelompok.
Pemeriksaan laboratorik menunjuk-
kan bahwa osteokalsin dan fosfatase
alkali dalam serum turun di kelompok
tamoxifen (p < 0,001), sedangkan kadar
paratiroid turun dan kadar 1,25-OH vi-
tamin D tidal( berbeda bermakna.
Penggunaan tamoxifen pada wanita
pascamenopause dikaitkan dengan per-
baikan densitas mineral tulang lumbal,
meskipun peranannya dalam pencegah-
an fraktur masih harus diteliti.
N. Engl. J. Med. 1992; 326: 852-6
Brw
EFEK TERATOGEMK ZIDOVU-
DIN
Meluasnya penggunaan zidovudin
memerlukan penilaian keamanannya
pada wanita hamil dan janin yang di-
kandungnya. Untuk itu informasi di-
peroleh dari 43 wanita hamil yang di-
obati di 17 institusi di Amerika Serikat.
Mereka mendapatkan zidovudin
dengan dosis antara 30 ­ 1200 mg. per-
hari, dan 24 wanita di antaranya meng-
gunakan obat tersebut selama sedikit-
nya dua trimester.
Dilaporkan ada dua kasus toksisitas
maternal ­ satu kasus gastrointestinal
dan satu kasus hematologik; efek tera-
togenik tidak didapatkan pada 12 bayi
yang terpapar zidovudin selama keha-
milan trimester pertama. Semua bayi,
termasuk dua pasang kembar, lahir hi
dup; rata-rata berat badan lahir 38 janin
yang lahir tunggal ialah 3287 ± 670 g.;
terdapat 2 janin dengan intrauterine
growth retardation. Nilai Hb pada 31
bayi yang dapat diukur berkisar antara
11,2 ­ 20 g%; tiga bayi dengan Hb
13,5 g% lahir prematur.
Data di atas menunjukkan bahwa
zidovudin ditoleransi dengan baik oleh
wanita hamil dan tidak menyebabkan
kelainan janin maupun gangguan proses
persalinan.
N. Engl. J. Med. 1992; 326: 857-62
Brw
TERAPI BEDAH KANKER PAYU-
DARA
Akhir-akhir ini pengobatan kanker
payudara cenderung lebih memperhati-
kan/mempertahankan sedapat mungkin
jaringan payudara yang normal; dari
36928 wanita usia 65 ­ 79 tahun yang
menderita kanker payudara lokal atas
regional, 12,1% dioperasi secara ter-
batas (breast conserving surgery) dan
87,9% menjalani mastektomi.
Operasi terbatas lebih sering di-
lakukan di daerah urban, di pusat pen-
didikan, di rumahsakit besar dan di
rumahsakit yang mempunyai fasilitas
radioterapi atau geriatri.
N. Engl. J. Med. 1992; 326: 1102-7
Brw
TERAZOSIN UNTUK HIPER-
TROFI PROSTAT
Terazosin ­ suatu penyekat alfa yang
selama ini digunakan untuk pengobatan
hipertensi, telah didaftarkan kembali un-
tuk indikasi tambahan, yaitu untuk pen-
gobatan simptomatik hipertrofi prostat.
Penyekat alfa diketahui merelaksasi
otot polos, termasuk yang terdapat di
kelenjar prostat dan saluran kemih, se-
hingga mencegah kemungkinan retensi
urin.
Scrip 1992; 1689: 23
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
62
background image
ABSTRAK
ASPIRIN UNTUK KARSINOMA
KOLON
Aspirin mungkin dapat digunakan
untuk indikasi barn, yaitu pencegahan
karsinoma kolon.
Dalam studi yang melibatkan 662424
orang dewasa sejak tahun 1982 ­ 1988,
temyata baik pada pria maupun wanita,
penggunaan aspirin dikaitkan dengan
penurunan kejadian karsinoma kolon;
relative risk di antara orang yang
menggunakan aspirin 16 kali/lebih dalam
sebulan selama sedikitnya satu tahun,
adalah sebesar 0,60 di kalangan pria dan
0,58 di kalangan wanita.
Data ini masih harus diperkuat den-
gan penelitian yang lebih terkontrol.
Scrip 1991; 1677: 25
Brw
STROKE PADA USIA MUDA
Stroke umumnya diderita pada usia
lanjut; bila terjadi pada usia muda, etio-
logi harus dicari agar serangan berikut-
nya dapat dicegah.
Para peneliti di Perancis mempela-
jari 148 pasien (75 pria dan 73 wanita)
berusia 5­40 tahun yang mengalami
stroke iskemik; semuanya menjalani
arteriografi serebral.
Ternyata 38,4% disebabkan oleh
emboli; 10,1% disebabkan oleh diseksi
arteri, dan aterosklerosis dideteksi pada
32 kasus. Pada seperlima kasus tidak
berhasil diketahui penyebabnya.
Faktor-faktor penyebabnya antara
lain penggunaan kontrasepsi (11,5%),
penyakit/kelainan jantung (12,8%) dan
gangguan hematologik (8,1%); faktor-
faktor lain yang juga diduga berperan
ialah migren, penyakit inflamasi, ke-
hamilan dan lakuna.
J. Neurol. Neurosurg. Psychiatr.1991; 54: 264­7
Hk
IBUPROFEN UNTUK NYERI PAS-
CABEDAH
Teknik pembedahan laparoskopik
akhir-akhir ini makin berkembang
karena dipandang lebih nyaman bagi
pasien. Untuk menilai efektivitas anal-
getik pasca bedah laparoskopik, 30 wa-
nita menerima 800 mg. ibuprofen oral
atau 75 ug. fentanil iv. yang masing-
masing disertai dengan injeksi plasebo
atau tablet plasebo secara acak dan buta
ganda.
Ternyata pasien yang mendapat ibu-
profen merasa lebih nyaman (p < 0,05)
baik di ruang pemulihan maupun sete-
lah tiba di rumah (p < 0,05); lagipula
mereka lebih sedikit merasa mual (p <
0,05).
Agaknya ibuprofen dapat digunakan
sebagai altematif dalam mengatasi nyeri
pascabedah.
Anesth. Analg. 1991; 73: 255-9
Hk
CEFTRIAXONE UNTUK ENDO-
KARDITIS
Ceftriaxone telah dicoba untuk
mengobati endokarditis streptokokus.
Percobaan itu dilakukan di beberapa
klinik di Swiss, Perancis dan Belgia ter-
hadap 59 pasien; mereka mendapatkan
2 g. ceftriaxone melalui infus singkat
(2 g. dalam 50 ml. glukosa 5%) atau
intramuskular perhari selama 4 minggu.
Lima puluh lima pasien berhasil
menyelesaikan terapi dan diamati selama
4 bulan sampai 5 tahun; ternyata tidak
seorangpun mengalami relaps. Efek
samping sama sekali tidak ditemui pada
42 (71%) pasien; 2 pasien mengalami
netropeni.
Ceftriaxone merupakan alternatif
bagi penisilin G pada endokarditis
streptokokus.
JAMA 1992; 267: 264­7
Hk
MEROKOK DAN PLASENTA PRE-
VIA
Case-control analysis atas 69 kasus
plasenta previa dan 12351 pasien kon-
trol menunjukkan bahwa merokok dapat
merupakan faktor risiko plasenta previa.
Relative-risk dari wanita yang pernah
merokok selama hamil ialah 1,9(95%CI:
1,2­3,0).
Diduga peninggian kadar CO yang
menyebabkan hipoksemi dapat meng-
akibatkan hipertrofi plasenta kompen-
satorik, sehingga memperbesar ke-
mungkinan terjadinya plasenta previa.
Am. J. Obstet. Gynecol. 1991; 165: 28-32
Hk
PENGGUNAAN FENOBARBITAL
Fenobarbital telah lama digunakan,
dan para dokter akhir-akhir ini makin
memperhatikan efek sampingnya.
Kuesioner telah diedarkan ke para
ahli saraf anak di Amerika Serikat
untuk mengetahui frekuensi pengguna-
an fenobarbital pada kasus kejang
demam.
Dari 869 kuesioner , yang dikirim,
574 (66%) kembali; dari data tersebut,
rata-rata kasus kejang demam yang di-
tangani oleh para responden tersebut
ialah sebanyak 42 ± 58 kasus/dokter;
22 ± 36 kasus di antaranya kejang
demam sederhana dan 19 ± 31 kasus
kejang kompleks.
Obat-obat yang digunakan para ahli
sataf anak tersebut pada fase akut ialah
fenobarbital intravena, lorazepam dan
diazepam; sedangkan diazepam rektal
diberikan untuk pencegahan (20%) dan
untuk mencegah kejang berulang (31 %).
Fenobarbital profilaksis diberikan
pada 89% kasus kejang demam kom-
pleks dan pada 43% kasus kejang de-
mam sederhana.
Pediatr, Neural, 1991; 7(4): 243­8
Hk
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 63