Pengalaman Praktek
SUNTIKAN ANTI KB
Suatu sore datang seorang ibu muda di tempat praktek. Ibu muda ini rumahnya nun
jauh di udik, dia berumur 25 tahun. Setelah saya persilahkan duduk, belum mulai
anamnesa ibu tersebut berkata "saya tidak sakit dokter, saya hanya minta suntik anti KB".
Sejenak saya heran, "mengapa" tanya saya. "Saya telah ikut KB suntik selama 2 tahun,
kemudian karena ingin punya anak lagi, saya berhenti ikut KB tiga tahun yang lalu, tetapi
sampai sekarang saya belum punya anak lagi. Saya yakin ini akibat KB 4 tahun yang lalu.
Oleh karena itu sekarang saya minta suntik penangkal pengaruh KB, agar saya bisa punya
anak lagi". Saya tercenung, ibu ini yakin bahwa logikanya telah betul, ikut KB maka agar
efek KB hilang harus diberi suntik penangkalnya.
Kemudian penjelasan panjang lebar saya berikan, bahwa permasalahan sekarang
tidak ada kaitannya dengan KB 4 tahun yang lalu. Banyak faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya kehamilan. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan yang memadai
dan perlu waktu. Ibu muda tersebut tetap bersikukuh, dan takut pulang bila tidak disuntik
obat penangkal KB, karena suaminya bersikeras harus segera punya anak lagi.
Akhirnya dengan berat hati, dengan berdoa pada Tuhan Yang Maha Esa, ibu tersebut
saya suntik Vitamin B complek dan pulang membawa Vitamin tablet untuk diminum.
Tiga bulan kemudian ibu tersebut datang lagi dan minta disuntik obat penguat kandungan
karena dia telah hamil 3 bulan. Saya terhenyak, sambil berkata dalam hati, "syukurlah,
Tuhan mengabulkan permintaan ibu".
Dr. Sutrisno
Puskesmas Maubesi, Kafemenanu, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara
Timur
TERLALU SAYANG
Pada suatu hari saya dimintai oleh salah seorang keluarga pasien untuk mengobati
ibunya di desa tetangga. Mulanya saya enggan memenuhi permintaannya karena sudah
mendekati saat berangkat kerja. Akhirnya saya penuhi juga setelah mengetahui ibunya
sudah setengah umur. Pasalnya walau di desa, kasus-kasus stroke cukup banyak dijum-
pai. Seringkali saya menjumpai keadaan pasien yang sudah dalam keadaan koma disertai
kelumpuhan anggota gerak.
Dengan diantar menggunakan sepeda motor tua, akhirnya saya sampai di rumah
pasien. Beberapa orang tampak berkerumun di halaman muka dan sebagian lagi di ruang
tamu.
"Maaf, kami merepotkan dokter. Untung saja pak dokter belum berangkat kerja,"
sambut salah seorang dari mereka.
Saya lalu mengikutinya ke ruang tidur pasien. Wanita setengah umur itu tidur dengan
tenang. Ternyata ia masih sadar dan saya segera melakukan pemeriksaan.
"Alhamdulillah keadaan ibu cukup baik. Ia hanya perlu istirahat untuk sementara
ini."
"Tidak gegar otak `kan pak dokter?"
"Insya-Allah tidak pak."
Kekhawatiran saya tentang stroke atau patah tulang yang sering dialami oleh lansia
yang terjatuh, hilang sudah. Rupanya si Mbah itu terjatuh sewaktu mencoba memanjat
pohon jambu batu buat cucunya. Pastilah itu karena ia terlalu sayang pada cucunya.
Susetyo P. Hadi
Kudus
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 61