528
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
H
ipertensi emergensi merupa-
kan spektrum klinis hipertensi
berupa kondisi peningkatan
tekanan darah tidak terkontrol yang
mengakibatkan kerusakan organ tar-
get yang progresif. Berbagai sistem
organ yang menjadi organ target
pada hipertensi emergensi ini adalah
sistem saraf yang dapat mengakibat-
kan ensefalopati hipertensi, infark
serebral, perdarahan subarakhnoid,
perdarahan intrakranial; sistem kardio-
vaskular yang dapat mengakibatkan
infark miokard, disfungsi ventrikel kiri
akut, edema paru akut, diseksi aorta;
dan sistem organ lainnya seperti gagal
ginjal akut, retinopati, eklamsia, dan
anemia hemolitik mikroangiopatik.
Dalam kondisi hipertensi emergensi,
tekanan darah harus diturunkan secara
agresif dalam hitungan waktu menit
sampai jam.
Clevidipine merupakan obat anti-
hipertensi intravena golongan peng-
hambat kanal kalsium dihydropyridine
(Calcium channel blocker/CCB). Di
antara 3 golongan obat antihipertensi
golongan CCB (golongan dipheny-
lalkilamines, benzothiazepines dan
dihydropyridine), golongan dihydro-
pyridines adalah yang paling selektif
terhadap otot polos pembuluh darah
dibandingkan golongan CCB lainnya
yang non-selektif (mempunyai afini-
tas juga pada otot jantung). Clevid-
ipine merupakan obat golongan dihy-
dropiridine generasi 3 yang pertama
tersedia dalam bentuk intravena.
Clevidipine bekerja menghambat ka-
nal ion kalsium tipe L sehingga ter-
jadi dilatasi arteriol perifer dan terjadi
penurunan tekanan darah dan tekanan
intraventrikular. Selain itu clevidipine
menurunkan tekanan darah arterial
dengan cara menurunkan resistensi
vaskular sistemik tetapi tidak berefek
pada kapasitas pembuluh darah vena.
Seperti diketahui, kalsium bekerja se-
bagai sinyal penghantar dan berperan
dalam eksitasi dan kontraksi otot jan-
tung dan otot polos pembuluh darah.
Ion kalsium akan berdifusi secara pasif
dari ekstraseluler ke intraseluler mela-
lui kanal kalsium. Sel otot mempunyai
2 tipe kanal kalsium yaitu tipe L dan
tipe T. Kanal kalsium tipe L relatif lebih
banyak di otot polos pembuluh darah
Clevidipine - Piihan Baru Terapi Hipertensi
Emergensi
Gambar 1. Mekanisme Kerja Clevidipine
BERITA
TERKINI
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 528
8/26/2010 3:39:38 PM
529
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
dibandingkan dengan otot jantung.
Penelitian mengenai efikasi dan
keamanan clevidipine pada pasien hip-
ertensi emergensi -(VELOCITY = The
Evaluation of the Effect of Ultra-Short
Acting Clevidipine in the Treatment
of Patients with Severe Hypertension)
diterbitkan dalam jurnal American
Journal of Health-System Pharmacy
bulan Mei 2010. Penelitian dengan di-
sain open-trial, single-group, uji klinis
fase III ini mengambil sampel seban-
yak 126 pasien hipertensi emergensi.
Intervensi yang dilakukan adalah pem-
berian clevidipine butyrate dengan
laju infus 2 mg/jam dengan penamba-
han dosis 2 kali lipatnya setiap 3 menit
sampai target tekanan darah sistolik
tercapai. Target tekanan darah sistolik
dibuat dalam kisaran 20-40 mmHg dari
rata-rata batas atas dan batas bawah
tekanan darah sistolik. Outcome yang
dinilai adalah persentase pasien yang
mencapai target tekanan darah dalam
30 menit setelah pemberian clevid-
ipine inisial, perubahan frekuensi de-
nyut jantung selama 30 menit pembe-
rian clevidipine, dosis clevidipine yang
dibutuhkan, proporsi pasien yang ber-
hasil diganti menjadi terapi oral dan
selang waktu (menit) mencapai target
tekanan darah sistolik dalam kurun
waktu 30 menit tersebut.
Hasil penelitian ini adalah 88,9%
pasien mencapai target tekanan darah
sistolik dengan waktu rata-rata penca-
paian target adalah 10,9 menit. Peng-
gantian terapi menjadi terapi antihip-
ertensi oral dalam waktu maksimal 6
jam pasca penghentian terapi clevid-
ipine tercapai pada 91,3% pasien. Efek
samping pemberian clevidipine yang
ditemukan adalah nyeri kepala (6,3 %),
mual (4,8%), rasa tidak nyaman di dada
(3,2%) dan muntah (3,2%).
SIMPULAN
1. Hipertensi emergensi adalah kon-
disi terjadi peningkatan tekanan
darah tidak terkontrol yang berak-
ibat pada kerusakan organ target
yang progresif.
2. Dalam kondisi hipertensi emer-
gensi, tekanan darah harus ditu-
runkan secara agresif dalam hitun-
gan waktu menit sampai jam.
3. Clevidipine merupakan obat an-
tihipertensi intravena golongan
penghambat kanal kalsium di-
hydropyridine (Calcium channel
blocker/CCB) yang bekerja meng-
hambat kanal kalsium tipe L yang
lebih dominan di arteriol.
4. Clevidipine bekerja mendilatasi
arteriol perifer tanpa dilatasi vena
sehingga curah jantung dapat
dipertahankan,
5. Clevidipine mempunyai efikasi yang
baik untuk terapi hipertensi emer-
gensi dengan profil keamanan yang
dapat ditoleransi dengan baik.
n
(KTW)
REFERENSI
1. Ndefo UA, Erowele GI, Ebiasah R, et al. Clevidipine: A New Intravenous Option for The Management of
Acute Hypertension. Am. J. Health-System Pharmacy 2010;67(5):351-360
2. Varon J. Treatment of acute severe hypertension: current and newer agents. Drugs. 2008; 68:28397.
3. Singla N, Warltier DC. Treatment of acute postoperative hypertension in cardiac surgery patients: an
Efficacy Study of Clevidipine Assessing its Postoperative Anti-hypertensive Effect in Cardiac Sugery-2
(ESCAPE-2), a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. Anesth Analg. 2008; 107:5967.
BERITA
TERKINI
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 529
8/26/2010 3:39:40 PM