CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
425
BERITA TERKINI
Menurut studi pada orang Amerika tua tanpa ada masalah kesehatan mayor, kemungkinan
mengalami stroke sekitar 1 dari 10 orang dan mereka tidak menyadarinya. Kemungkinan tidak
cukup parah untuk menyebabkan gejala yang dapat diamati seperti masalah penglihatan,
masalah wajah atau gangguan berjalan, tapi tetap ada blokade arteri otak dan sedikit penurunan
kemampuan berpikir. Studi ini dilaporkan di dalam jurnal Stroke edisi online.
P
erkiraan ini muncul dari sebuah studi baru Framingham
Offspring atas 2.040 orang, rata-rata berumur 62 tahun yang
sedang berjalan. Citra MRI menunjukkan bahwa 10,7% dari
mereka mengalami apa yang disebut oleh penulis studi, Dr. Sudha
Seshadari, asisten profesor neurologi di Universitas Boston
disebut a silent brain infarct, yaitu blokade pembuluh darah
yang menyebabkan kerusakan jaringan. Pada kasus silent stroke,
blokade dan kerusakan terjadi di dalam otak tanpa gejala.
Menurut Seshadari, silent stroke berbeda dari transient ischemic
attack (TIA), suatu kehilangan fungsi otak sesaat. TIA menyebab-
kan beberapa gejala, sementara silent stroke tidak, seperti
definisinya. Keduanya merupakan tanda bahaya yang perlu
diperhatikan sama seperti faktor-faktor risiko kadar kolesterol,
tekanan darah, obesitas dan merokok.
Insiden yang ditemukan dalam studi Framingham Offspring
tidak jauh berbeda dengan studi sebelumnya, tapi kelompok
orang dalam studi ini lebih muda dibandingkan kebanyakan
studi sebelumnya. Fakta bahwa 1 dari 10 orang mengalami
serangan tiba-tiba yang berdampak pada otak merupakan hal
yang harus kita pedulikan dan harus diantisipasi.
Silent brain infarct ditunjukkan pada pencitraan MRI sebagai
'lesi kecil di berbagai bagian otak', kata Seshadari. Pencitraan
MRI tidak dapat memberikan petunjuk apakah telah terjadi silent
stroke.Pengujian menunjukkan bahwa rata-rata mereka dengan
lesi menunjukkan tanda-tanda seperti kehilangan fleksibilitas
berbicara dibandingkan kontrol dengan umur yang sama.
Insiden dalam studi ini tidak mengejutkan Dr. Claudette
Brooks, direktur laboratorium neurovaskular di West Virginia
Health Sciences Center. Ketika mengamati penyebab nyeri kepala
dan masalah yang mirip, dia juga menemukan lesi ini. Angka
silent stroke lebih tinggi di antara orang Amerika keturunan
Afrika. Mereka mempunyai insiden hipertensi, aterosklerosis
dan hiperlipidemi lebih tinggi.
Tidak perlu tindakan khusus untuk menurunkan risiko silent
stroke, kata Seshadari dan Brooks. Seshadari tidak merekomen-
dasikan agar orang-orang segera melakukan pengecekan
dengan MRI.
Terserah komunitas kesehatan masyarakat dan medis untuk
menekankan pentingnya mengontrol faktor-faktor risiko. Jika
Anda tidak mempunyai faktor risiko seperti kadar kolesterol
tinggi, obesitas dan diabetes, cobalah menjaga diri Anda
tetap di luar kelompok ini. Jika Anda termasuk di dalamnya,
cobalah modifikasi faktor risiko dengan menjaga tekanan
darah dan menurunkan kolesterol.
(NFA)
Referensi: MedlinePlus
Silent stroke
menyerang 1 dari 10 orang sehat
Hasil suatu studi kohort retrospektif (diterbitkan dalam the American Journal of Gastroenterology,
Agustus 2008) menemukan bahwa obesitas berhubungan dengan peningkatan risiko adenoma
kolorektal (suatu jenis kanker usus besar), dan penurunan berat badan diharapkan dapat me-
nurunkan risiko tersebut.
BERITA TERKINI
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
424
S
tudi yang dilakukan di Jepang ini melibatkan 7.963 pasien
kolonoskopi asimtomatik risiko sedang, dan 2.568 menjalani
kolonoskopi kedua 1 tahun kemudian. Dinilai hubungan insiden
adenoma kolorektal pada kolonoskopi kedua tersebut dengan
Indeks Massa Tubuh (IMT) awal dan juga perubahan berat badan.
Hasilnya, terlihat peningkatan prevalensi adenoma kolorektal
yang dinilai dari 4 kelompok (quartile) IMT : 1 < 21,35 kg/m
2
;
2 21,35 - 23,199 kg/m
2
; 3 23,199 - 25,156 kg/m
2
; 4 25,156
kg/m
2
. Prevalensi adenoma kolorektal (berturut-turut) pada
kelompok tersebut sebesar : 15,4%; 20,6%; 22,7%; dan 24,2%.
Analisis statistik adjusted Odds Ratio perbandingan kelompok
pertama (IMT < 21,35 kg/m
2
) dengan kelompok ke dua : 1,15
(95% Confidence Interval [CI] 0,97 - 1,37; p=0,10), dengan
kelompok ke tiga : 1,19 (95% CI 1,01 - 1,41; p=0,04); dan
dengan kelompok ke empat : 1,32 (95% CI 1,12 - 1,56;
p=0,001); dengan kata lain, insiden adenoma kolorektal me-
ningkat secara proporsional pada kelompok Quartile (Q) 1
(12,9%), Q2 (15,7%), Q3 (18,3%), dan Q4 (19,0%). Analisis
ini menunjukkan peningkatan bermakna secara proporsional
insiden adenoma kolorektal setelah 1 tahun.
Selain itu, pada pasien dengan IMT awal tertinggi yang
mengalami penurunan berat badan selama setahun, ternyata
insiden adenoma menurun hingga di bawah insiden kelompok
pasien dengan IMT terendah tanpa penurunan berat badan
(9,3% vs 17,1%). Kesimpulannya, obesitas berhubungan
dengan peningkatan adenoma kolorektal, dan penurunan
berat badan diharapkan dapat menurunkan risiko.
Selain studi di atas, studi lain (Y. Wang et al, 2008) juga me-
nemukan hasil serupa, yaitu lingkar pinggang yang besar
berhubungan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal
(adjusted Rate Ratio : 1,68; 95% CI 1,12 - 2,53; p=0,006
untuk lingkar pinggang 120 cm vs < 95 cm).
(LHS)
Referensi
1. Barclay, Laurie.Obesity Linked to Risk for Colorectal Adenoma. 2008.
Medscape.www.medscape.com
2. Yamaji, Yutakal et al.The Effect of Body Weight Reduction on the Incidence
of Colorectal Adenoma. Abstract. Am. J. Gastroenterol. 2008;103 (8).
3. Reuters.Weight Loss May Reduce Risk of Colorectal Adenoma.2008.
4. Wang Y et al.A Prospective Study of Waist Circumference and Body Mass
Index in Relation to Colorectal Cancer Incidence. Cancer Causes Control
2008;
19(7).Abstract
Obesitas
Obesitas
Meningkatkan
Meningkatkan
Risiko Adenoma
Risiko Adenoma
Kolorektal
Kolorektal
Obesitas
Meningkatkan
Risiko Adenoma
Kolorektal