UNIVERSITARIA
SEMINAR ALAT HIGH PERFORMANCE LIQUID
CHROMATOGRAPHY ( H. P. L. C. )
Pada tanggal 4--5 Juni 1979 di Lembaga Kimia Nasional di
Bandung telah dilangsungkan Seminar tentang alat High Per-
formance Liquid Chromatography ( H.P.L.C. )yang disponsor-
ri oleh P.T. Sixant. Pada Seminar itu terdaftar 118 peserta,
yang mewakili instansi-instansi pemerintah maupun swasta.
Ceramah dalam Seminar tersebut dibawakan oleh dua orang
ahli dari Waters Associates Australia. Topik-topik yang diba-
has meliputi : lntroduksi terhadap HPLC; Sejarah danteorinya
Pengenalan alat ; Pemilihan kolom yang tepat untuk pro-
ses pemisahan; serta penggunaannya antara lain : Penetapan
obat-obatan dalam sediaan farmasi atau dalam cairan tubuh.
Memonitor kadar obat dalam cairan tubuh untuk tujuan terapi
/ therapeutic drug monitoring , untuk preparasi zat murni dan
setelah selesai seminar diberikan juga demonstrasi pemakaian
alat.
Nampaknya alat HPLC akan sangat dibutuhkan pada tahun-ta-
hun mendatang, baik dibidang penelitian maupun untuk peker-
jaan rutin. Hal ini mengingat alat tersebut sangat peka, efisein
serta serba guna. Walaupun waktu yang tersedia untuk penge-
nalan lebih jauh terhadap alat tersebut sangat terbatas, namun
untuk taraf pengenalan kami rasa sudah cukup memadai.
KONGRES OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
INDONESIA ke IV
Pada tanggal 10--15 Juni 1979 di Yogyakarta telah ber-
langsung Kongres Obstetri Ginekologi Indonesia ( KOGI )ke
lV. Kongres yang dibuka serta dihadiri oleh Menteri Kesehat-
an, dr Suwardjono ini diikuti oleh lebih dari 600 peserta dari
seluruh penjuru tanah air dan diselenggarakan oleh POGl Ca-
bang Yogyakarta/Bagian Kebidanan -- Penyakit kandungan FK
UGM. Disamping itu nampak juga cukup banyak peserta tamu
dan pembicara tamu baik dari Asia, Amerika, Australia mau-
pun Eropa. Beberapa ahli Obstetri dan Ginekologi terkenal se-
perti Prof. Janssens dari negeri Belanda, Peter M. Elliot dari
Australia, Neil B. Rosenshein dari Amerika, Donald Woodruff
dari Amerika, Heinz Palla dari Thailand, Hanish E. Mc Glashan
dari Australia, Prof J.G. Stolk dari negeri Belanda, Schinnen
dari Jerman Barat dan banyak lagi deretan ahli Obstetri gine-
kologi nampak ikut berpartisipasi secara aktip dalam KOGI
ke IV tersebut.
Pidato Orasi dibawakan oleh Prof H.M. Judono dengan ju-
dul "Pelayanan kebidanan bagi masyarakat pedesaan".
Pada Kongres tersebut, selain sidang organisasi juga diadakan
session-session ilmiah yang sekaligus diadakan dalam beberapa
ruang yang terpisah. Lebih dari 300 judul naskah dibawakan
oleh pembicara baik dari dalam maupun dari luar negeri. To-
pik-topik yang dibawakan antara lain tentang : Penyakit Tro-
foblas, Obstetri patologi, Perkembangan terakhir keluarga be-
rencana,Sterilisasi wanita, lnfertilitas pria, Infertilitas wanita,
Kematian Maternal, Pelayanan kebidanan di pedesaan, Abor-
tus, Perinatologi, Tumor-tumor Ginekologi, Pendidikan Obste-
tri Ginekologi dan berbagai topik lain yang merupakan pembe-
ritaan bebas ( kurang lebih 60 topik ). Topik terbanyak adalah
mengenai " Perkembangan terakhir keluarga berencana " meli-
puti 119 topik.
Beberapa session yang sempat kami ikuti antara lain :
Diskusi panel keluarga berencana . Beberapa pembicara me-
laporkan pemakaian kontrasepsi suntikan seperti Depotmedro-
xy progesterone acetat ( Depo Provera ) dan Norethisterone
oenanthate( Norigest ),dengan tujuan membandingkan efekti-
fitas dan efek samping
kedua obat tersebut. Juga sekaligus
mengadakan evaluasi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk
kembalinya haid normal dan kesuburan setelah penghentian
suntikan. Rupa-rupanya dari laporan pendahuluan penelitian
beberapa pembicara tidak nampak adanya perbedaan yang
bermakna mengenai efek samping dari kedua jenis obat ter-
sebut. Efek samping yang menonjol adalah gangguan haid be-
rupa haid tidak teratur dan amenorrhoe. Sedang efektifitasnya
dikatakan 100%.
q
Diskusi
panel Penyakit trofoblas . Penyakit yang banyak ter-
dapat di Asia dan menjangkiti wanita pada masa produktip (
kurang dari 35 tahun ) ini mempunyai mortalitas yang cukup
Menteri Kesehatan, dr Suwardjono sedang metnukul gong tanda
pembukaan KOGI--IV.
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
51
tinggi. Beberapa pembicara melaporkan frekwensinya :satu
diantara 564 persalinan pembicaralainmelaporkan satu dianta-
ra 496 persalinan, adapula yang melaporkan satu diantara 332
persalinan dan seterusnya. Sedang mortalitasnya adalah seki-
tar 14,7 % dan metastase terbanyak adalah ke paru. Pengobat-
an merupakan masalah yang besar, sebagian karena penderita
tidak mampu untuk membeli obat sitostatika disamping syarat
syarat untuk pemberian juga sering tidak dipenuhi.
q
Diskusi panel carcinoma ovarii . Sebagian besar pembicara
melaporkan bahwa carcinoma ovarii merupakan urutan ke em-
pat penyebab kematian pada wanita. MalahmenurutProfJans-
sens, Carcinoma Ovarii merupakan "a silent lady killer " kare-
na umumnya sudah stadium lanjut baru menimbulkan gejala.
Pembicara lain mengatakan bahwa carcinoma ovarii bukan me-
rupakan penyakit ovarium saja tetapi merupakan penyakit ab-
domen secara keseluruhan. Sebab pada stadium permulaan se-
ring sudah dijumpai adanya metastase ke dianhragma. Juga disa
rankan oleh pembicara ( dari Amerika.Red !) bila ditemukan
seorang wanita dengan tumor adnexa, setelah semua pemerik-
saan lengkap sebaiknya dilakukan laparotomia dengan incisi
luas dari xyphoid sampai ke symphisis, untuk melihat apakah
sudah terjadi metastase ke kelenjar lymphe para aortal, diap-
hragma dan alat-alat lain. Walaupun nampaknya omentum
normal sebaiknya omentum juga diangkat apalagi bila ternyata tu-
mor ovarium tersebut sudah berada dalam stadium agak lanjut
( ll a keatas). Dikatakan pula bila dijumpai wanita diatas 45
tahun dengan tumor ovarium, sebaiknya dipikirkan pula un-
tuk melakukan pengangkatan kedua ovarium walaupun tumor
hanya unilateral. Pembicara berprinsip suatu hal yang radikal
perlu dilakukan pada seorang wanita dengan tumor ovarium
bila kita mau menolong mereka.
Beberapa pembicara melaporkan juga hasil pengobatan dengan
sitostatika, ada yang memakai cara kombinasi beberapa
ma-
cam sitostatika dan ada pula dengan pengobatan tunggal. Pe-
ngobatan sitostatika terbaru adalah dengan Hexa-caf.
Suatu hal yang lucu dikatakan oleh Prof Janssens tentang
frekwensicarcinoma ovarii : di negeri Belanda diketahui, di
Amerika juga diketahui, di Senegal diketahui tetapi di Indone-
sia tidak diketahui. Sudah beberapa kali beliau menanyakan
Sek Jen POGI, dr Muki Reksoprodjo (kedua dari kanan) bersama
beberapa anggota pengurus POGI, sesaat sebelum peresmian pem
bukaan KOGI oleh Menteri Kesehatan.
mengenai data tersebut tetapi tidak ada jawaban. Beliau me-
ngatakan mungkin anda sekalian ( sambil menunjuk para ha-
dirin ) lebih mengetahui apa sebabnya ( ? ?............! ! ! ).
Hal lain yang juga cukup lucu adalah hal berikut : Pada wak
tu pembukaan, direncanakan sesudah gong dipukul oleh Men-
teri Kesehatan sebagai tanda pembukaan kongres, akan terde-
ngar tangis bayi baru lahir. Tetapi pada saat sesudah gong di-
bunyikan setengah menit........... satu menit...............kok tangis-
an bayi tak kunjung terdengar. Kepala seksi protokol dengan
muka asam menghampiri kepala seksi penata suara dan me-
nanyakan kenapa tangisan bayinya tidak ada ?
Ternyata beberapa hari sebelumnya sudah diusahakan untuk
merekam tangisan bayi waktu partus dan sudah diusahakan
mencari partus tetapi tidak dapat juga. Pada saat terakhir
menjelang persiapan ada partus dan direkam, ternyata Apgar
nya empat sehingga tangisannya nihil........................................
Kepala seksi penata suara menjawab ..................Bayinya dengan
Apgar empat mas, mana bisa terdengar tangisan !!!!"
Dengan perasaan kecewa bercampur geli sang Kepala seksi
protokol ngeluyur kembali ke ruang upacara..................! ! ! ! !
KOGI ke IV ini dilanjutkandenganPUSSI yaitu suatu kon-
perensi Perkumpulan untuk Sterilisasi Sukarela Indonesia pada
tanggal 16--17 Juni.
Selanjutnya tiga tahun yang akan datang KOGI ke V direnca-
nakan akan diadakan di Bandung.
SIMPOSIUM MENOPAUSE
Pada tanggal 19 Juni 1979 di Jakarta telah berlangsung
Simposium Menopause. Simposium.yang diselenggarakan oleh
lkatan Ahli Farmakologi Indonesia Cabang Jakarta ini diikuti
oleh kurang lebih 300 peserta. Pada simposium ini dibicarakan
tujuh kertas kerja dimana satu diantaranya dibawakan oleh
seorang pembicara dari New Jersey, Amerika yang kebetulan
juga mengikuti KOGI IV di Yogyakarta tanggal 10 - 15 Juni
yang baru lalu.
Kertas kerja yang diajukan seluruhnya merupakan masalah Me-
nopause, ditinjau dari segi sosio-budaya masyarakat, aspek
52
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
farmakologi, pengobatan, kelainan kulit, aspek psikiatri dan
aspek biokimia dalam penetapan diagnosanya.
Marcha Flint dari New Jersey, Amerika yang sudah delapan
tahun mengadakan penelitian tentang menopause mengatakan:
dalam penelitiannya di lndia, wanita yang sudah berada dalam
masa menopause tidak mendapat kesulitan apa-apa berhubung
dengan keadaan sosiobudayanya disana. Sedang di Amerika
masalahnya cukup besar dan umumnya gejala timbul pada
golongan masyarakat tingkat menengah ke atas. Berbagai tin-
dakan dilaksanakan untuk mengatasi keadaan ini seperti face
lift, dermabrasi, medikamentosa dan lain sebagainya. Dan tin-
dakan-tindakan ini menimbulkan suatu businessbaru yang ber-
nilai jutaan dolar di Amerika.
Suharti K. Suherman mengatakan : ditinjau dari segi farma
kologi, terapi subsititusi hormonal memang wajar pada mereka
yang benar-benar membutuhkannya. Dan dalam penggunaan
hormon-hormon tersebut antara lain estrogen hendaklah diper-
timbangkan benar-benar "riskand benefit"
nya mengingat
syarat penggunaan,efek samping dan kontraindikasinya.
Ratna Suprapti Samil mengatakan bahwa pendapat yang
terkuat untuk estrogen profilaksis adalah terhadap osteoporo-
sis. Anggapan mengenai hal ini adalah benar karena jika ingin
mendapat efeknya harus dimulai satu-dua tahun setelah meno-
pause dan dilanjutkan sampai usia lanjut. Karena bila osteopo-
rosis sudah terjadi maka sulit untuk mengembalikan keadaan-
nya. Sedangkan pemberian estrogen untuk preservasi kulit,
bentuk payudara, kesiagaan mental dan lain-lain pada penderi-
ta tanpa gejala adalah tidak dibenarkan. Juga dikatakan bahwa
pemberian topikal estrogen dalam bentuk salep pada vagina
mempunyai efek memperbaiki vaginitis atropica tentunya de-
ngan kombinasi terapi oral estrogen. Menurut pengalamannya
penggunaan estrogen lebih baik dengan dosis tinggi dulu dan
perlahan-lahan diturunkan sampai mendapat dosis terkecil
yang masih mempunyai efek dan terapi dihentikan sesudah ge-
jala-gejala hilang.
Haznil Zainal mengatakan bahwa pada masa menopause se-
ring terjadi osteoporosis dan dasarnya adalah defisiensi estro-
gen. Akan tetapi sering juga terjadinya osteoporosis ini tidak
ada hubungannya dengan estrogen. Oleh sebab itu dalam pen
ngobatan penderita perlu diteliti apakah penderita tidak men-
derita penyakit-penyakit sistemik/metabolik lain yang juga da-
pat menimbulkan kelainan yang sama. Sebaiknya wanita yang
masuk ke dalam masa menopause diperiksa lengkap secara ber-
kala.
Retno Tranggono mengatakan pada masa menjelang, sekitar
dan sesudah menopause terjadi perubahan fisiologik dan pato-
logik tertentu pada kulit. Keadaan ini disebabkan antara lain
oleh pengaruh hormonal. Kelainan kulit yang terjadi jelas akan
menambah beban siwanita. Penangulangan yang baik secara
preventip maupun kuratip sangat dianjurkan.
Soeharto Heerdjan mengatakan bahwa dalam menghadapi
penderita dengan menopause hendaklah kita melihat penderita
.
sebagai seorang manusia
yang
dalam keadaan sehari-harinya
mengadakan relasi dengan sekitarnya yaitu dengan suami, anak
anak dan lain sebagainya. Jadi adanya faktor lingkungandalam
tercetusnya gejala menopause sangat memegang peranan, di-
samping itu juga kepribadian wanita itu sendiri. Untuk itu per-
lu pendekatan secara multi profesional.
Oen Liang Hie mengatakan bahwa untuk menentukan diag-
nose menopause, penetapan estrogen dalam tubuh tidak begi-
tu menentukan dan hanya bersifat menyokong. Oleh karena
jarang sekali ditemukan kadar estrogen yang rendah sekali da-
lam masa menopause dan sering jumIah estrogen yang diekskre
si masih dalam batas-batas normal. Sedangkan kadar FSH da-
lam urine dapat dipakai sebagai kriteria untuk menentukan bah
wa seorang wanita telah masuk dalam masa menopause. Sebab
pada wanita dalam masa produktip kadar FSH dalam urine a-
dalah 2--10 iu/24 jam. Karena adanya efek umpan balik maka
menurunya estrogen dalam darah menimbulan kenaikan FSH.
Adanya peningkatan FSH dalam urine menandakan adanya ke-
munduran fungsi ovarium. Jadi pengukuran FSH dalam urine
24 jam lebih bernilai dari pada penentuan estrogen.
Simposium yang diadakan ini pesertanya lebih dari 60%
adalah wanita. Mungkin mereka ingin mendapat pengetahuan
yang lebih banyak mengenai menopause, untuk dapat berjaga-
jaga bila dikemudian hari keadaan "yang menghantui wanita
"
ini menimpa mereka juga........................! ! ! ! ???
SECOND SOUTHEAST ASIAN WESTERN PASIFIC
REGIONAL
MEETING OF PHARMACOLOGIST
Pada tanggal 24 -- 27 Juni 1979 di Yogyakarta telah ber-
langsung
"
Southeast Asian -- Western Pasific Regional Meeting
of Pharmacologist" ke lI, yang diikuti oleh kurang lebih 250
peserta dari berbagai negara antara lain : Australia, Canada,
Perancis, Jerman, Hongkong, lndia, Iraq, ltali, Jepang, Korea,
Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapore, Spanyol, Taiwan,
Thailand dan Indonesia. Peserta terbanyak berasal dari lndo-
nesia kemudian menyusul Australia dan Jepang.
Upacara pembukaan dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Daoed Joesoef di
Gedung Purna Budaya Kompleks Universitas Gajah Mada
Yogyakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
53
Acara pada pertemuan regional ini terdiri dari acara sosial/
acara wanita dan acara ilmiah. Acara sosial diadakan di gedung
Purna Budaya, kompleks Universitas Gajah Mada yang meli-
puti pameran industri farmasi, kerajianan tangan asal Yogya-
karta serta berbagai acara kesenian pada saat pembukaan dan
penutupan.
Acara ilmiah diadakan di hotel Ambarukmo Sherraton dan
serentak diadakan dalam tiga ruang yang terpisah dan terdiri
dari : kuliah tamu, session ilmiah serta diskusi panel. Pada ku-
liah tamu sempat dibicarakan antara lain :
Traditional medi-
cine Psychological disorders ; The place of clinical Pharma-
cology in modern medicine
dan lain sebagainya.
Masalah-masalah yang dibahas dalam session ilmiah antara
lain :
Basic Pharmacology, Toxicology, Traditional medicine,
Clinical trials dan lain-lain.
Dalam diskusi panel terutama dibicarakan tentang "Pharma-
cological Researches relevant to the needs of the community"
oleh delapan panelist dari beberapa negara.
Kami berkesan bahwa secara umum panitia telah berusaha
sekuat tenaga menyelenggarakan pertemuan ini dan ternyata
cukup berhasil. Para peserta asing menyambut baik "hospi-
tality" bangsa Indonesia. Beberapa kekurangan dalam acara
ilmiah yang perlu mendapat perhatian ialah antara lain : ham-
batan-hambatan tehnis "audiovisuil " yang agak mengganggu
kelancaran sidang ilmiah ; jumlah hadirin yang terlalu sedikit
dalam diskusi panel, sehingga para panelist kurang mendapat
tanggapan dari para peserta. Beberapa pembicara yang telah
hadir ternyata "menghilang" pada saat harus mengajukan pa-
pernya, tanpa memberitahu panitia.
Kiranya kekurangan ini akan dapat diperbaiki pada "SEAWP--
meeting" berikutnya yang akan diselenggarakan di Bangkok
pada tahun 1982. Dapat ditambahkan bahwa penyelenggaraan
transportasi dan akomodasi cukup memuaskan para peserta,
walaupun letak beberapa penginapan, tempat acara makan
siang dan acara ilmiah berjauhan.
Pada pertemuan regional ahli farmakologi Asia Tenggara
dan Pasifik Barat di Yogyakarta baru-baru ini banyak hal-
hal lucu yang terjadi. Dibawah ini beberapa diantaranya...........
Pada suatu acara ilmiah, seorang pembicara mendapat giliran
untuk membawakan papernya. Dengan kepala menunduk se-
sudah sampai di podium, pembicara tersebut berkata tanpa
menoleh lagi ke arah meja moderator...........................................
"Terima kasih Bapak Moderator atas kesempatan yang diberi-
kan.............................
hadirin tertawa..........................setelah meno-
leh ke arah moderator si pembicara berkata :
oh, maaf ...
Nyonya moderator.........................oh bukan, bukan Nona mode-
rator.........................."si
pembicara berkata dengan muka merah
sambil tersenyum tersipu-sipu. Dan hadirin
bertambah
geeeeeer........................!!!!
Rupanya di dalam benaknya sudah tertanam bahwa modera-
tor adalah selalu seorang Bapak...................... Demikianlah kalau
mempersiapkan diri untuk tampil di depan forum yang cukup
besar, ngedrekdek .... kata orang Jawa !!!!
q
Pada salah satu acara ilmiah, diadakan pemutaran film
" Man
and
Medicine".Ternyata ruang yang demikian luas hanya di-
duduki oleh 40 dari 250 peserta SEAWP tersebut. Sungguh
sepi..................................................................................................
!!!!!
.........................................
Atau mungkin Panitia perlu mengganti
film tersebut dengan
"Sexual behavior in human female "
barangkali ruang akan penuh sesak................................................!!
q
Pada waktu makan siang, kami sempat memperhatikan
seorang ltalia...................Karena makanan belum tersedia maka
sambil menunggu,para peserta menghampiri tempat dimana
tersedia buah-buahan dan minuman.................................................
Setelah melihat sejenak kepada buah-buahan yang tersedia
rupanya dia tertarik kepada buah salak. Sesudah dipegang,
sambil nengok kanan dan kiri orang tersebut melihat sebentar
kepada salak ditangannya kemudian langsung digigit dengan
kulitnya. Sesudah mengunyah sebentar dia menyeringai sam-
bil berpikir dan melihat lagi kepada salak yang sudah digigit
sebagian tadi.............................!!?? Dikorek-koreknya kulit salak
tersebut ternyata bisa lepas kemudian dia melepaskan kulit
salak tersebut seperti orang mengupas buah apel dengan
pisau, dilihatnya lagi salak yang sudah terkupas dan bekas
gigitannya tadi .........................Digigitnya salak yang sudah diku-
pas itu ehm..................................sekarang baru enak rasanya, tan-
pa kulit............................................................ tetapi dia berpikir lagi
sejenak sambil melihat salak yang sudah tergigit separoh tadi
dan masih menempel satu dengan lainnya. Dia coba melepas-
kannya.................dan berhasil..............dengan rasa puas dimakan-
nya seluruh buah salak tersebut dan tersenyum puas ....!!!!.
Salah seorang pembicara dalam SEAWP -- meeting.
54
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979