background image
Sensitivitas Plasmodium falciparum
terhadap Beberapa Obat Anti Malaria
di desa Pekandangan, Jawa Tengah
Emiliana T*, Sekar Tuti*, M Renny*, PR Arbani**,
dan Harijani AM* *
*Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
**Sub Direktorat Malaria, Direktorat Jenderal PPM & PLP, Jakarta
ABSTRAK
Sensitivitas P. falciparum terhadap obat antimalaria mempengaruhi keberhasilan
program pemberantasan malaria. Untuk itu dilakukan tes sensitivitas P. falciparum
terhadap klorokuin secara in vivo; terhadap klorokuin, kina, sulfadoxin-pirimetamin,
dan meflokuin secara in vitro; di desa Pekandangan, pada bulan November 1989,
karena sampai saat ini kasus malaria di Pekandangan masih cukup banyak.
Sensitivitas in vivo dilakukan dengan tes 7 hari yang disederhanakan, sensitivitas
in vitro dengan tes mikro, dan menurut standar teknik dari WHO.
Ternyata Parasite Rate : 5,4%, dan seluruhnya adalah P. falciparum Dari pen-
derita tersangka malaria secara klinis dengan demam, hanya 53,5% positif malaria;
dengan splenomegali, 90% positif malaria; dengan panas dan splenomegali, hanya 57,1%
positif malaria. Karakteristik klinis dari 20 penderita malaria adalah 45% dengan
splenomegali, 40% dengan demam, dan 20% dengan demam dan splenomegali. P.
falciparum di Pekandangan ternyata telah resisten secara in vivo terhad`ap klorokuin
dengan derajat R. II dan R. III, sedangkan secara in vitro masih sensitif. Resistensi secara
in vitro juga ditemukan terhadap sulfadoxin-pirimetamin, sedangkan terhadap kina dan
meflokuin masih sensitif.
Dengan demikian desa Pekandangan merupakan daerah malaria P. falciparum
dominan, resisten multidrugs yaitu terhadap klorokuin secara in vivo dan sulfadoxin-
pirimetamin secara in vitro; splenomegali dapat merupakan petunjuk penderita dengan
kemungkinan besar sedang menderita malaria.
PENDAHULUAN
Plasmodium falciparum merupakan salah satu dari 4 jenis
Plasmodium manusia yang telah banyak menimbulkan ke-
matian. Sampai saat ini hanya P. falciparum yang dilaporkan
tidak sensitif atau telah resisten dengan beberapa obat anti-
malaria.
Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan malaria,
sensitivitas P. falciparum terhadap obat-obat antimalaria
sangat penting untuk diketahui. Sensitivitas ini sangat ber-
variasi dari suatu daerah ke daerah yang lain. Penilaian sen-
sitivitas ini dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro yang
54
Dibacakan di Seminar Parasitologi Nasional VI dan Kongres P4I V,
Surabaya, 23­25 Juni 1990.
telah disederhanakan tehnik pelaksanaannya
1
.
Jawa Tengah mula-mula dilaporkan resisten terhadap
klorokuin pada tahun 1981 secara in vivo dan in vitro
2­4
.
Resistensi terhadap sulfadoxin-pirimetamin secara in vivo
juga telah ditemukan
5
. Bahkan terhadap obat antimalaria
lain yaitu meflokuin yang belum beredar dan belum dipakai
secara resmi di Indonesia, ternyata juga telah resisten secara
in vitro di Jateng
6
. Oleh sebab itu perlu diketahui status
sensitivitas obat-obat antimalaria saat ini di Jateng. Banjar-
negara merupakan salah satu kabupaten di Jateng dengan
Slide Positivity Rate 20,7%
'
dan sampai saat ini masih tetap
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
background image
tinggi kasus malarianya, serta merupakan salah satu daerah
yang masih sensitif klorokuin
3
. Desa yang dilaporkan cukup
banyak kasus melarianya antara lain Pekandangan, desa yang
dikelilingi oleh hutan salak dan sawah. Untuk itu penelitian ini
dilakukan di Pekandangan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status
sensitivitas P. falciparum terhadap klorokuin secara in vivo;
dan terhadap klorokuin, sulfadoxin-pirimetamin, kina dan
meflokuin secara in vitra..
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan pada bulan November 1989 di desa
Pekandangan, kecamatan Banjarmangu, kabupaten Banjar-
negara, Jateng.
Sampel
Untuk mendapatkan kasus yang memenuhi persyaratan tes
sensitivitas yang sesuai dengan kriteria WHO
8
dilakukan
pemeriksaan klinis dan parasitologis darah tetes tebal dengan
pewarnaan Giemsa dari penduduk yang menderita demam
maupun tidak. Adapun persyaratan untuk tes sensitivitas in
vivo adalah :
1)
hanya terinfeksi oleh P. falciparum.
2)
kepadatan parasit aseksual antara 1.000­10.000 per mm
3
darah.
3)
tidak minum obat antimalaria selama 14 hari yang lalu
terhadap golongan 4-aminokuinolin, kina dan tetrasiklin, 4
minggu untuk sulfadoxin-pirimetamin; dan 6 minggu untuk
meflokuin.
4)
tes urin Dill Glazko untuk obat golongan 4-aminokuinolin
dan Lignin untuk sulfonamid, harus negatif.
Persyaratan untuk tes in vitro adalah sama dengan tes
sensitivitas in vivo kecuali kepadatan parasit aseksual yaitu
antara 1.000­80.000 per min' darah.
Tes sensitivitas in vivo
Kasus-kasus yang akan di tes sensitivitas in vivo, diobati
dengan klorokuin dosis total 25 mg/kgbb, selama 3 hari: hari I
dan II 10 mg/kgbb/hari, dan hari ke III 5 mg/kgbb/hari. secara
oral, dosis tunggal. Setiap kasus diikuti selama 7 hari dan
diperiksa ulang parasitologis darah tetes tebal dengan
pewarnaan Giemsa, pada saat pengobatan akan dimulai: DO,
hari ke III : D2, dan hari ke VIII : D7
1
. Penelitian sensitivitas
berdasarkan kriteria WHO hanya dapat menilai R. III, R. II, R.
I dini, sedangkan S dan R. I kasep tak dapat dibedakan.
Tes sensitivitas in vitro
Penderita-penderita yang diambil darahnya untuk tes
sensitivitas in vitro diobati radikal dengan klorokuin dan
primakuin dengan dosis sesuai petunjuk Depkes
9
. Tes sen-
sitivitas in vitro dilakukan dengan tes mikro sesuai petunjuk
WHO
10
, dan memakai kit WHO. Adapun batas konsentrasi
obat antimalaria dinyatakan resisten adalah :
1.
klorokuin : 8 pmol.
2.
meflokuin : 64 pmol.
3.
kina : 256 pmol.
4.
sulfadoxin-pirimetamin : 1.000 pmol ­> 12,5 pmol.
HASIL
Dari 1.000 penduduk yang tercatat, 139 diperiksa limpa-
nya, 12 orang membesar antara H1­113, sehingga Spleen Rate
(2-9 tahun) adalah 18,5% .dan Average Enlarged Spleen 1,75
(tabel 1).
Tabel 1. Hasil pemeriksaan limps menurut golongan umur dari pen
duduk
desa
Pekandangan,
Jawa
Tengah,
1989.
Pembesaran limpa ( Hackett )
Gol umur
Jumlah
diperisa
0
1 2 3
4
5
Jumlah SR (% )
0­11 bl
12­23 b1
2­4 th
5­9 th
10­14 th
> 15 th
6
1
12
15
4
101
4
0
9
13
4
97
2
0
1
1
0
1
0
0
1
1
0
3
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2
1
3
2
0
4
33,3
100
25
13,3
0
4
Total 139 127 5
5
2
0
0 12 8,6
Keterangan:
SR (Spleen Rate) 2 ­ 9 tahun : 18,5%.
Average Enlarged Spleen = 1,75.
Pada pemeriksaan parasitologis darah terhadap 368 pen-
duduk, ditemukan 20 kasus malaria. Parasite Rate 5,4%, dan
semuanya adalah P. falciparum; Slide Falciparum Rate 5,4%
(tabel 2).
Tabel 2. Hasil pemeriksaan parasitologis darah menurut golongan umur
dari
penduduk
desa
Pekandangan,
Jawa
Tengah,
1989.
Species
Gol umur
Jumlah
diperiksa
Jumlah
positif
PR
(%)
Pf Pv Pm Pmix
0­11 bl
12­23 bl
2­ 4 th
5­ 9 th
10­14 th
> 15 th
6
1
15
94
48
204
0
1
2
4
1
12
0
100
13,3
4,3
2,1
5,9
0
1
2
4
1
12
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Total 368 20 5,4 20 0 0 0
Keterangan:
PR : Parasite Rate.
Pf
: P.
falciparum.
Pv : P. vivax
Pm : P. malariae
Pmix : Pf + Pv atau Pf + pm atau Pv + Pm
Pada pemeriksaan klinis dan parasitologis darah, dari
15 penderita demam hanya 8 (53,3%) yang positif malaria;
dari 12 penderita dengan splenomegali (termasuk 2 bayi)
hanya 9 (90%) yang positif malaria; dari 7 penderita dengan
demam dan splenomegali hanya 4 (57,1%) yang positif malaria
(tabel 3).
Karakteristik klinis dari 20 penderita malaria adalah 40%
dengan demam, 45% dengan splenomegali, 20% dengan
demam dan splenomegali (tabe1 3)
Hasil tes sensitivitas in vivo P. falciparum terhadap kloro-
kuin menunjukkan bahwa tak ada kasus yang sensitif (S) dan
R. I, 4 kasus R. II, 1 kasus R. III, dan 2 kasus gagal karena
muntah-muntah (tabel 4).
Hasil tes sensitivitas in vitro P. falciparum terhadap kloro-
kuin, kina, dan meflokuin, semuanya menunjukkan hasil
sensitif. Terhadap sulfadoxin-pirimetamin, 2 dad 6 spesimen
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 55
background image
menunjukkan hasil resisten (tabel 5).
Tabel 3. Karakteristik klinis penderita tersangka dan penderita malaria
P. falciparum Pekandangan, Jawa Tengah, 1989.
Karakteristik
Jumlah tersangka Jumlah positif
% kuakteristik
ldinis
malaria
malaria (%)
dari 20 penderita
Demam
Splenomegali
Demam+spleno-
megali
15
12 *
7
8 (53,3%)
9 (90 %)
4 (57,1%)
40 %
45 %
20 %
Keterangan:
* termasuk bayi 2 orang dan tidak menderita malaria.
Tabe1 4. Hasil tea sensitivitas P. falciparum seam in vivo terhadap
klorokuin
di
Pekandangan,
Jawa
Tengah,
1989.
Hasil Jumlah
Keterangan
Sensitif (S) atau RI kasep
Resisten I (R I) dini
Resisten II (R II)
Resisten III (R III)
Gage
0
0
4
1
2
muntah-muntah
Total 7
Tabe1 5. Hasil tes sensitivitas P. fakiparum secara in vitro terhadap
beberapa obat antimalaria di Pekandangan, Jawa Tengah,
1989.
Innis obat
Jumlah yang
diperikaa
Sensitif Resisten
Klorokuin
Sulfadoxin-pirimetamin
Kina
Meflokuin
5
6
3
2
5
4
3
2
0
2
0
0
PEMBAHASAN
Walaupun Spleen Rate (2­9 tahun) adalah 18,5%, Pekan-
dangan tak dapat disebut sebagai daerah mesoendemis, karena
jumlah anak 0­9 tahun yang diperiksa terlalu sedikit yaitu
hanya 34 orang. Berdasarkan perkiraan PR Banjarnegara
adalah 20,7%
7
, seharusnya jumlah anak 0­9 tahun yang
diperiksa minimal adalah 168 orang
11
.
Ditemukannya P. falciparum yang dominan (100%) di
Pekandangan, menunjukkan indikasi bahwa di daerah itu
sedang terjadi transmisi
l
' . Hal ini juga diperkuat dengan
adanya kasus malaria pada anak-anak balita. Jadi walaupun PR
yang didapat hanya 5,4%g, suatu saat dapat terjadi ledakan·
sehingga perlu segera diambil tindakan pengobatan sedini
mungkin, pencegahan dan pemberantasan, serta pengamatan
penyakit malaria yang lebih ketat.
Ternyata hanya 53,3% penderita demam yang menderita
malaria; yang lain ternyata menderita penyakit infeksi lain,
antara lain ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) yang
banyak ditemui pada pemeriksaan klinis.
Sebenarnya hanya 1 dari 12 penderita splenomegali yang
tidak menderita malaria, karena 2 bayi yang splenomegali
dengan HI dianggap normal
ll
. Dengan demikian splenomegali
di Pekandangan dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa pen-
derita sedang menderita penyakit malaria.
Banjarnegara sebenarnya masih merupakan daerah sensitif
terhadap klorokuin secara in vivo
3
. Ternyata dari hasil pe-
nelitian ini telah resisten R. II dan R. III terhadap klorokuin
secara in vivo, sedangkan secara in vitro masih sensitif. Ini bar-
arti Pekandangan telah menjadi daerah P. fakzparum resisten
klorokuin, walaupun secara in vitro masih sensitif. Perbedaan
ini mungkin disebabkan adanya pengaruh faktor penyerapan
dan metabolisme obat dalam tubuh penderita tersebut. Secara
in vitro ternyata P. falciparum juga tersisten terhadap sulfa-
doxin-pirimetamin. Hal ini sesuai dengan yang ditemukan
Harijani AM
S
. Resistensi terhadap obat antimalaria ini
mungkin juga disebabkan karena seringnya pemakaian preparat
sulfa sebagai obat antibiotika di daerah tersebut.
Dalam penelitian ini secara in vitro P. falciparum masih
sensitif terhadap kina dan meflokuin, sedangkan pada tahun
1983, Hoffman dkk telah menemukan P. falciparum resisten
meflokuin di Jateng.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pekandangan merupakan daerah malaria P. falciparum
dominan, resisten multidrugs yaitu terhadap kjorokuin secara in
vivo dan sulfadoxin-pirimetamin secara in vitro; splenomegali
dapat sebagai petunjuk bahwa penderita kemungkinan besar
sedang menderita malaria.
Oleh sebab itu perlu segera diambil tindakan-tindakan
pengobatan sedini mungkin, pencegahan dan pemberantasan,
serta pengamatan penyakit malaria yang lebih ketat. Di
samping itu perlu disiapkan obat alternatif untuk malaria P.
falciparum resisten multidrugs.
Penelitian ini perlu diulang dengan jumlah sampel yang
lebih besar sehingga keadaan malaria di Pekandangan dapat
diketahui secara jelas.
Untuk segala surat-menyurat,
pergunakan Alamat lengkap Anda
dengan mencantumkan Kode Pos
ke alamat kami :
CERMIN DUNIA KEDOKTERAN
P.O. Box 3105, JAKARTA 10002
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
56
background image
KEPUSTAKAAN
1.
WHO Drug resistant malaria. Report of an Intercountry meeting. New
Delhi, 29 September ­ 3 October 1988. SEA/MAL/165, 22 February 1989.
2.
Simanjuntak C, Arbani PR, Kumara Rai N. P. falciparum resisten terhadap
klorokuin di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Bull Health Stud Indon
1981, IX (2) : 1­6.
3.
Kumara Rai N, Arbani PR. Penyebaran dan penanggulangan P. falciparum
yang resisten terhadap klorokuin di Indonesia. Pertemuan Tehnis Malaria,
Jakarta 12 April 1982.
4.
Sub Direktorat P2 Malaria. Laporan tes resistensi P. falciparum terhadap
klorokuin, 1987.
5.
Harijani AM. Penelitian resistensi P. falciparum terhadap Fansidar di
Indonesia. Laporan akhir penelitian tahun 1983­1985.
6.
Hoffman SL dkk. In vitro studies of the sensitivity of Plasmodium
falciparum to mefloquine in Indonesia. Panel diskusi Seminar Parasitologi
Nasional dan Kongres ke 2 P4I. Bandung, Agustus 1983.
7.
Dinas Kesehatan Propinsi Dati I Jawa Tengah, Direktorat Daerah
Pencegahan Pemberantasan Penyakit Malaria. Pemberantasan Penyakit
Malaria Propinsi Jawa Tengah. Laporan tahunan 1977.
8.
Payne D. Practical aspects of the in vivo testing for sensitivity of human
Plasmodium spp to antimalarials. WHO/MAL/82. 988. 1982.
9.
Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Malaria : Pengobatan 3,
1984.
10.
Rooney W. Review of the systems for determining drug sensitivity in
Plasmodium falciparum. Inter-country meeting on drug resistant malaria,
SEARO, 29 September ­ 3 Ocotber 1988.
11.
Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Malaria : Survai
malariometrik 6, 1983.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih ditujukan kepada :
1. Dr. Suriadi Gunawan, DPH, Kepala Puslit Penyakit Menular yang
telah memberi saran-saran dan petunjuk, serta mengijinkan makalah ini
diterbitkan.
2. Dr. P.R. Arbani, MPH, Kasubdit P2 Malaria, PPM & PLP, yang telah
memberi kesempatan mengikuti "Latihan tes sensitivitas obat-obat
antimalaria"; dan meneliti di Pekandangan, serta mengijinkan hasilnya untuk
diterbitkan.
3. Kadinkes Kabupaten Banjarnegara dan stafnya, serta seluruh teman-
teman yang banyak membantu dalam penelitian ini
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 57