background image
Pola Pembiayaan Penderita Rawat Inap
di Paviliun RSUD Pamekasan
IN. Dana Susadi
UPF Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Pamekasan
PENDAHULUAN
Pola pembiayaan pcmakai jasa rumah sakit pada umumnya
terbagi atas 4 kategori, yaitu : penderita yang membayar sendiri,
penderita yang ditanggung oleh asuransi kesehatan pemerintah,
penderita yang ditanggung oleh asuransi kesehatan swasta, dan
penderita yang ditanggung oleh perusahaan tempat dia bekerja.
Penderita yang membayar sendiri ditandai dengan tingkat keti-
dak pastian pembayaran yang relatif lebih tinggi dari ketiga
golongan lainnya. Ini berarti bahwa secara ekonomis kelompok
ini sebetulnya tergolong kelompok yang memiliki risiko tinggi
untuk menyebabkan bad debt. Dcngan demikian, rumah sakit
yang memiliki pola pembiayaan penderita dengan dominasi
kelompok pembayar sendiri tersebut sccara teoritis akan
cenderung untuk mempunyai rnasalah dalam pembiayaan ke-
giatan operasionalnya.
Di negara maju yang pembiayaan keschatannya didasarkan
alas penggantian pihak ketiga, ternyata kelompok pembayar
sendiri ini memang merupakan masalah dalam pembiayaannya.
Oleh karena iiu, Rumah Sakit di negara maju tersebut akan ber-
usaha sebanyak mungkin menjaring penderita yang memiliki
asuransi kesehatan
(1)
. Di Indonesia khususnya, dan di Asia
umumnya (selain Jepang), perkembangan asuransi kesehatan le-
bih lambat dibandingkan dengan negara-negara Amerika Latin.
Hal ini tidak lepas dari faktor sosial ekonomi masyarakat. Dalam
keadaan sosial ekonomi yang masih lemah, kesehatan belum
merupakan kebutuhan pokok mereka
(2)
.
ABSTRAK
Pola pembiayaan pemakai jasa rumah sakit pada umumnya terbagi atas 4 kategori,
yaitu : penderita yang membayar sendiri, penderita yang ditanggung olch asuransi
kesehatan pemerintah, penderita yang ditanggung oleh asuransi kesehatan swasta, dan
penderita yang ditanggung olch perusahaan tempat dia bckcrja.
Penelitian terhadap 1098 penderita yang dirawat inap di Paviliun RSUD Pamekasan
pada periode 1 tahun, antara 1 April 1991 sampai dengan 31 Maret 1992, menunjukkan
bahwa pola pembayaran masih didominasi oleh kelompok penderita yang membayar
sendiri, yaitu 903 penderita (82,24%). Secara ekonomis kelompok ini tergolong kelom-
pok yang memiliki risiko tinggi untuk menyebabkan bad debt. Sedangkan 2 kelompok
lainnya, kelompok penderita yang dibayar PHB dan kelompok dibayar perusahaan,
jumlahnya masih jauh lebih sedikit, yaitu masing-masing 187 penderita (17,03%) dan 8
penderita (0,72%).
Masih belum jelas sebabnya mengapa penderita yang pembiayaannya ditanggung oleh
asuransi PHB punya rata-ratahari rawat lebih tinggi, yaitu 7,17 hari, dibandingkan dengan
rata-rata hari rawat penderita yang membayar sendiri (4,33 hari) dan pendcrita yang
ditanggung perusahaan (4,1 hari).
background image
TUJUAN PENFLITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui
pola pcmbiayaan penderita yang menjalani rawat inap di Pa-
viliun RSUD Pamckasan sclama kurun waktu satu tahun, antara
1 April 1991 sampai dengan 31 Maret 1992.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Penclitian dilakukan secara retrospektif, dan bahan peneli-
tian diambil dari arsip rincian pembayaran pcndcrita-pcndcrita
yang menjalani rawat inap di Paviliun RSUD Pamekasan antara
1 April 1991 sampai dengan 31 Maret 1992.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Selama kurun waktu saw tahun, antara 1 April sampai
dengan 31 Marct 1992, telah dirawat 1098 pcndcrita di Paviliun
RSUD Pamckasan, yang mencakup pcnderita-pcndcrita yang
mendapat layanan bidang bedah, penyakit dalam, anak, mata,
saw kebidanan dan pcnyakit kandungan.
POLA PEMBAYARAN
Masalah biaya senantiasa menjadi penghalang bagi pen-
derita untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan di Rumah
Sakit. Bagi penderita yang dibiayai oleh pihak ketiga, tentunya
halangan di was kurang dirasakan bila dibandingkan dengan
mereka yang harus membiayai sendiri biaya Rumah Sakit. Pihak
ketiga yang dimaksud di atas dapat berupa majikan atau per-
usahaan tempatpenderitabekerja, atau berupa asuransi atau dana
upaya pemeliharaan kesehatan.
Tabel 1. Pola Pembiayaan Penderita Rawat Inap di Paviliun RSUD
Pamekasan
Penanggung Biaya
Sendiri PHB
Perusahaan
Bulan
Jumlah % Jumlah % Jumlah
%
Jumlah
April '91
58
78,37
14
18,91
2
2,70
74
Mei'91 64
77,10
18
21,68
1
1,20
83
Juni '91
69
83,13
13
15,66
1
1,20
83
Juli'91 61
85,91
10
14,08
­
­
71
Agustus '91
55
77,46
14
19,71
2
2,81
71
September'91 63
81,81
14
18,18
­ ­ 77
Oktober '91
76
80,85
17
18,08
1
1,06
94
November'91 84
86,59
13
13,40
­ ­ 97
Desember'91 94
93,06
7
6,93
­ ­
101
Januari '92
122
85,91
20
14,08
­
­
142
Februari '92
91
73,98
31
25,20
1
0,81
123
Maret '92
66
80,48
16
19,51
­
­
82
Jumlah
903 82,24 187 17,03 8 0,72 1098
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola pembayaran
penderita yang dirawat inap di Paviliun RSUD Pamekasan dapat
dibagi atas 3 kelompok, yaitu kelompok pertama : penderita yang
membayar sendiri, kelompok kedua : penderita yang ditanggung
asuransi Per= Husada Bakti (PHB) dan kelompok ketiga :
penderita yang ditanggung perusahaan.
Dari kctiga kclompok ini, kclompok yang mcmbayar sendiri
merupakan jumlah yang tcrbesar, yaitu sebanyak 903 pcndcrita
(82.24%). Sedangkan 2 kelompok lainnya, kelompok dibayar
PHB dan kelompok dibayar perusahaan, jumlahnya masih jauh
lcbih sedikit, yaitu masing-masing 187 pcndcrita (17.03%) dan 8
pcndcrita (0.72%). (lihat tabel 1). Data ini tampaknya tidak
berbeda jauh dengan data terbatas di Jakarta yang juga menun-
jukkan bahwa polapembiayaan penderita masih didominasi oleh
kelompok pembayar scndiri (Tabel 2). Pola pembayaran scperti
ini tentunya menimbulkan risiko terjadinya bad debt. Di Jakarta,
bad debt tersebut sekitar 5-20%
(2)
.
Tabel 2. Pola Pembiayaan Penderita di Beberapa Rumah Sakit di Jakarta
Tahun
1990
Cara Pembayaran
RS A
RS B
RS C
A. Bayar sendiri
43%
83%
71%
B. Dibayar perusahaan
40%
109'0
14%
C. Dibayar Askes/PIIB
7%
­
6%
D. Dibayar Askes swasta
10%
7%
9%
Keterangan :
a. Tingkat akurasi data masih perlu dipertajam akibat lerbatasnya data ke-
uangan yang tersedia.
b. RS A, RS B, dan RS C adalah rumah sakit swasta.
(Dikutip dari : 2).
Dengan belum berkembangnya asuransi keschatan (swasta)
maka dapat dipahami kalau pembiayaan pcnderita dengan cara
ini masih relatif kecil. Meskipun demikian, pembayaran olch
pihak ketiga ternyata tidak lepas dari kelemahan. Tagihan yang
diajukan ke perusahaan rata-rata dilunasi dalam waktu cukup
lama, yaitu dua bulan, sedangkan PHB rata-rata melunasi sekitar
2-4 bulan. Adanya kesenjangan waktu pelunasan tersebut me-
rupakan suatu hal yang patut diperhatikan oleh manager ke-
uangan rumah sakit
(2)
.
JUMLAH HARI PERAWATAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata hari perawatan
penderita yang pembiayaannya ditanggung oleh asuransi PHB
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penderita yang membayar
sendiri maupun penderita yang ditanggung oleh perusahaan.
Rata-rata hari rawat penderita PHB adalah 7,17 hari, sedangkan
rata-rata hari rawat pendcrita yang membayar sendiri dan pen-
derita yang ditanggung perusahaan masing-masing 4,33 hari dan
4,1 hari (Tabel 3).
Tabel 3. Jumlah Hari Perawatan dan Rata-rata Hari Perawatan Pen-
derita Rawat Inap di Paviliun RSUD Pamekasan
Penanggung
Biaya
Jumlah
Penderita
Jumlah
Hari Rawat
Rata-rata
Hari Rawat
Sendiri
PHB
Perusahaan
903
187
8
3914
1342
33
4,33
7,17
4,1
Jumlah
1098 5289 4,81
Masih belum jelas kenapa hari rawat rata-rata penderita pe-
background image
serta PHB tersebut begitu tinggi dibandingkan dengan penderita
yang membayar sendiri maupun penderita yang dibayar perusa-
haan. Kemungkinan bahwa penderita peserta PHB lebih merasa
terlindungi oleh PHB dalam pembayaran biaya Rumah Sakit,
sehingga mercka lebih siap meskipun terpaksa harus dirawat
lebih lama di Rumah Sakit, yang tentunya akan menyebabkan
membengkaknya biaya perawatan. Tapi kemungkinan ini me-
ngandung kelemahan, sebab kelompok penderita yang biayanya
ditanggung oleh perusahaan ternyata rata-rata hari perawatannya
jauh lebih rendah dibandingkan dengan peserta PHB.
Di Amerika Serikat, rata-rata hari perawatan penderita yang
dirawat di Rumah Sakit swasta adalah 6,6 hari, sedangkan di
Rumah Sakit Pemerintah Lokal (District) adalah 7,8 hari
(4)
. Di
RSI Surabaya, Abdul Mukty
(1)
, mendapatkan bahwa rata-rata
lamanya dirawat di Unit Paviliun adalah 4 hari untuk Penyakit
Anak, 7 hari untuk Penyakit Dalam, 8 hari untuk Penyakit Bedah
dan 7 hari untuk Penyakit Kandungan.
KESIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola pembayaran
penderita yang dirawat imp di Paviliun RSUD Pamekasan ma-
sih didominasi oleh kelompok penderita yang membayar sendiri
(82.24%). Sedangkan dua kelompok lainnya, kelompok pen-
derita yang dibayar PHB dan kelompok dibayar perusahaan,
jumlahnya masih jauh lebih sedikit, yaitu masing-masing 187
penderita (17.03%) dan 8 penderita (0.72%).
Dilihat dari rata-rata hari rawat, kelompok penderita yang
pembiayaannya ditanggung olch asuransi PHB punya rata-rata
hari rawat lebih tinggi, yaitu 7,17 hari, sedangkan rata-rata hari
rawat penderita yang membayar sendiri dan penderita yang di-
tanggung perusahaan masing-masing 4,33 hari dan 4,1 hari.
KEPUSTAKAAN
1. Amal C. Sjaaf. Struktur Pembiayaan Rumah Sakit. Cermin Dunia Kedokt
(Edisi khusus), 1991; 71: 80.
2. Sulastomo. Upayit-upaya pengembangan jaminan kesehatan di berbagai
negara Asia. Bungs Rampai beberapa masalah Kesehatan. Badan Penye-
lenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan Pusat. Jakarta, 1984, hal. 33.
3. Abdul Mukty. Biaya perawatan di Rumah Sakit swasta. Bull Persi 1991;
32: 42.
4. Sulastomo. Klinik spesialis, permasalahan dan masa depannya. Bungs
Rampai beberapa masalah Keschatan. Badan Penyelenggara Dana Peme-
liharaan Kesehatan Pusat. Jakarta, 1984, hal. 119.