Pengalaman Praktek
KOK PASIENNYA GEDE BANGET
Pada suatu malam hari datang kepada saya seorang bapak, sebut saja Pak Marto
minta tolong kepada saya untuk mengobati pasien di rumahnya. Tanpa banyak komentar
saya lalu menyiapkan peralatan komplit menuju ke lokasi.
Sesampainya di rumah Pak Manto ketika saya ingin masuk, tiba-tiba beliau berkata:
"Pak dokter lewat sisi rumah saja, wong yang diobati ada di belakang Pak".
Setelah lewati sisi rumah sampailah pada suatu tempat yang dituju.
"Lho Ia mana pak pasiennya 7" tanya saya.
`Ya ini pak yang sakit sudah satu hari ngorok terus" kata Pak Manto sambil menunjuk
seekor kerbau jantan yang kelihatan teler.
Heran, tertegun, kecewa, geli, termangu-mangujadi satu perasaan saat itu. Mungkin
saja anggapan si bapak tersebut saya ini dokter komplit, yang bisa menyembuhkan semua
mahluk Tuhan. Karena sudah jauh-jauh datang serta tidak mengecewakan sang bapak,
dengan pandangan yang mantap kusiapkan segala peralatan. Jarum punksi saya pasang-
kan ke sempnt 10 ml lalu diisi dengan I flakon prokain penisilin, saya suntikkan ke kerbau
tadi. Kemudian 10 butir (@ 1 g) ampisilin saya masukkan ke mulut kerbau yang kemudian
diberi minum oleh siempunya kerbau. Semua tindakan tadi saya lakukan secara ngawur
karena belum pernah mendapat pedoman pengobatan hewan. Untuk mencegah timbulnya
hal-hal yang tidak diinginkan, saya bilang pada Pak Manto:
"Pak, kalau sampai besok sore kerbau ini tetap ngorok dan nggak mau makan, maka pagi
harinya bawa saja ke pelelangan ya?" "Siap Pak dokter" jawab Pak Marto.
Dua hari setelah kejadian tersebut datang utusan Pak Marto dua rantang penuh opor/
rendang kerbau. Ragu-ragu saya menerima pemberiannya,jangan-jangan rendang kerbau
kemarin. Khawatir kalau terjadi apa-apa maka saya putuskan daging rendang tadi saya
berikan pada tetangga di sebelah rumah saya dengan pesan supaya rendang tadi dimasak
lagi. Seperti menerima durian runtuh, begitu suasana di rumah tetangga tadi karena
menurut ceritanya, mereka itu baru dapat menikmati daging hanya pada waktu ada hari
raya Qur'ban.
Satu minggu kemudian Pak Marto datang ke tempat praktek untuk berobat. "Maaf ya
pak dokter, saya dulu hanya dapat memberikan sedikit lauk buat pak dokter karena rasa
senang sehubungan kerbau saya sembuh".
"Jadi rendang yang bapak berikan itu bukan dari kerbau bapak yang dulu ?" kata saya
terheran-heran.
"Bukan Pak daging untuk bapak dulu saya belikan di pasan Comal kok",jawab Pak Marto
mantap.
"Oooo begitu," sahut saya lirih.
Pratomo
Pemalang
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 61