TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Eosinofilia Paru Tropik
Agustina Syamsiah
Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
RSUP Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Eosinofilia paru tropik adalah suatu penyakit sistemik pada
orang-orang yang tinggal di daerah endemik Wuchereria ban-
crofti dan Brugia ma1ayi
(1,2)
. Penyakit ini dapat timbul sebagai
penyakit paru akut atau kronik
(2)
. Namun definisi eosinofilia
paru tropik masih belum je1as
(2,3)
.
Eosinofilia paru tropik dapat dijumpai di seluruh dunia pada
daerah endemik terutama India, Asia Tenggara, Pasifik Selatan,
Afrika Utara dan Amerika Selatan. Umumnya terdapat pada
penduduk ash (khususnya India) dan sangat jarang di kalangan
pendatang, kecuali bila menetap di daerah endemik tersebut
untuk beberapa bulan. Pada daerah nonendemik penyakit ini
dijumpai pada imigran, karena parasit ini dapat menetap dalam
tubuh selama 3 tahun setelah kembali dan daerah endemik
(4)
.
Hubungan hipereosinofilia dengan gejala paru dan kelainan
gambaran foto toraks yang menetap pertama kali dilaporkan
pada tahun 1940 dan sanatorium tuberkulosis di India Selatan
oleh Fnmodt Möller dan Barton
(3,5,6)
. Tahun 1943 Weingarten
di India memberi gambaran sindrom eosinofilia paru tropik
dengan tanda khas bronkitis asmatis dan hipereosinofilia
(6)
.
Penyakit ini harus dicurigai pada orang-orang yang me-
lakukan perjalanan ke atau dan daerah endemik yang mengeluh
asma untuk pertama kahi yang memburuk pada malam hari
(7)
,
lebih banyak dijumpai pada pria dibandingkan dengan wanita
(4,8)
.
Faktor ras, ekonomi dan sosial tidak mempengaruhi distribusi
penyakit
(6)
. Insiden tertinggi pada usia 20 40 tahun
(1)
.
Penelitian di Singapura menemukan di kalangan orang
India eosinofilia paru tropik 79,3%, orang Cina sedikit dan orang
Eropa sangat jarang, walaupun populasi orang Cina (77,6%)
adalah yang terbanyak
(5)
.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai etiologi, pato-
genesis, gejala klinik, laboratorium, foto toraks, diagnosis ban-
ding dan terapi.
ETIOLOGI
Eosinofilia paru tropik disebabkan oleh infeksi cacing filaria
terutama W. bancrofti atau B. malayi. Infeksi ini ditularkan
melalui gigitan nyamuk sebagai vektor yang mengandung larva.
Dalam tubuh manusia bentuk larva ini berkembang menjadi
cacing dewasa jantan dan betina, yang biasanya terdapat dalam
saluran kelenjar getah bening dan kelenjar getah bening. Cacing
dewasa ini kemudian kawin dan cacing dewasa betina mengeluar-
kan mibofilaria. Mikrofilaria ini bermigrasi ke dalam darah tepi
pada saat-saat tertentu (periodik) misalnya malam hari, karena
itu pengambilan sampel darah harus pada saat yang tepat. Namun
hal ini sulit dilakukan karena tidak tahu kapan mikrofilaria ada
dalam darah tepi. Mikrofilariajuga dapat dijumpai dalam cairan
pleura, asites, cairan hidrokel dan cairan getah bening
(1,2,9)
.
Mikrofilaria dalam darah tepi ini berpindah ke dalam tubuh
nyamuk ketika menggigit manusia yang terinfeksi, kemudian
mikrofilaria ini berkembang menjadi larva dalam tubuh
nyamuk
(1,2,9)
.
PATOGENESIS DAN PATOLOGI
Patogenesis Eosinofilia paru tropik yang pasti belum di-
ketahui, mungkin suatu reaksi hipersensitifitas terhadap mikro-
filaria
(10)
. Penderita eosinofilia paru tropik menunjukkan hi-
pereaktifitas humoral, dengan meningkatnya kadar IgE total dan
antifilaria IgE dan IgG
(2)
. Mungkin meningkatnya antibodi ini
penyebab timbulnya gejala-gejala kelainan di paru. Respon akut
melalui IgE timbul seperti asma
(2)
.
Gambaran histopatologi lesi awal adalah infiltrat histiositik
dalam jaringan interstisial dan alveol. Pada kasus yang lanjut,
sel infiltrat terutama terdiri dan eosinofil, limfosit dan histiosit
yang berbentuk noduler
(2)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
56
GEJALA KLINIS
Serangan penyakit sering tersembunyi, dengan periode
malaise, demam ringan atau sedang, lelah, tidak napsu makan,
kadang-kadang timbul keluhan ringan da saluran napas bagian
atas. Fase ini berlangsung 14 minggu, dan kadang-kadang ada
pembesaran limpa. Banyak penderita tidak memperhatikan gejala-
gejala tersebut. Kemudian diikuti serangan batuk atau sesak
mendadak, dan penderita masuk dalam keadaan kronik, ditandai
dengan serangan batuk hebat yang tidak produktif. Serangan
tersebut berulang setiap malam sering disertai keringat, mengi
dan rasa sesak di dada. Pada beberapa penderita, periode ini
diikuti fase akhir yang ditandai dengan serangan seperti asma
sedang atau berat, misalnya batuk berulang setiap malam
(3,6,11-15)
.
Bila tidak diobati, batuk, mengi dan sesak napas dapat ber-
langsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dilaporkan ada
yang mencapai 20 tahun
(9)
. Kadang-kadang ada keluhan
sputum yang produktif dan batuk darah
(6)
.
Pemeriksaan fisik tidak khas. Kelainan umum di paru ada-
lah mengi dan ronki, kadang-kadang krepitasi. Pembesaran
kelenjar getah bening dapat ditemukan terutama pada anak-
anak
(6,11)
.
Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium akan didapatkan eosinofil
darah lebih dan 2000/ml
(1-3,5,6,12,14,16)
, IgE total meningkat, biasa-
nya lebih dan 5000 U/ml
(1,2)
, titer antibodi spesifik terhadap
filaria tinggi
(1-3,14)
, mikrofilaria dalam darah sulit ditemukan
(1-3,13)
,
laju endap darah meningkat
(6,7,14)
.
Foto Toraks
Gambaran foto toraks bisa dijumpai normal. Tapi biasa-
nya tampak suatu gambaran lesi interstisial yang luas se-
perti
(2,3,6,7,11,13,14)
:
·
bercak-bercak milier difus terutama di daerah hilus dan
basal kedua paru (pada minggu pertama)
·
pada keadaan kronik lebih sering tampak gambaran pem-
besaran hilus atau corakan bronkovaskular meningkat
·
pernah pula didapatkan pneumotoraks & kavitasi
(2)
.
Biopsi Kelenjar Getah Bening
Pada biopsi dapat tampak degenerasi cacing dan mikro-
filaria yang dikelilingi jaringan gsanulomatosa dan respon
eosinofilik. Akan tetapi biopsi kelenjar getah bening tidak biasa
dilakukan pada pasien-pasien yang dicurigai eosinofilia paru
tropik, karena histologi bisa tidak spesifik dan terapi percobaan
dengan dietilkarbamazin lebih dapat dipercaya dan tidak
invasif
(1)
.
DIAGNOSIS
Diagnosis eosinofilia paru tropik ditegakkan berdasarkan
anamnesis, gejala klinik, laboratorium dan fototoraks
(2,6)
.
Diagnosis definitif adalah ditemukan parasit. Cacing dewasa
dapat ditemukan pada biopsi kelenjar getah bening, namun cara
ini tidak dianjurkan karena dapat mengganggu saluran kelenjar
getah bening. Mikrofilaria dijumpai dalam darah selama fase
intermediate. Namun mikrofilaria muncul dalam darah tepi secara
periodik, sehingga pengambilan darah harus pada saat yang
tepat. Jika pembuktian ini sulit, pemberian dietilkarbamazin
100 mg secara oral biasanya akan memberikan hasil positif
pada pemeriksaan darah tepi setelah 3060 menit
(9)
.
Dibuat kriteria untuk memudahkan diagnosis eosinofilia
paru tropik
(14)
:
·
Kriteria mayor
1) Gejala paru : batuk kering diurnal intermiten. Setelah bebe-
rapa hari kemudian timbul batuk malam hari yang mengganggu
tidur dengan sesak hebat seperti asma.
2) Eosinofil darah> 2000/ml.
3) Titer antibodi filaria meningkat.
4) Terapi dietilkarbamazin 6 mg/kgbb/hari, 3 kali/hari se-
lama 6 hari memberikan respon klinik yang baik seperti:
gejala hilang dalam 2 minggu
eosinofil kurang dan 2000/ml dalam 4 minggu
antibodi filaria negatif dalam 4 bulan Kriteria minor
·
Kriteria minor
1) Tinggal di daerah endemik untuk beberapa bulan
2) Pria dewasa muda
3) Terdengar ronki pada pemeriksaan fisik
4) Foto toraks : bercak milier difus terutama di hilus dan basal
kedua paru
5) LED meningkat
6) Gejala nonspesifik : lemah, cepat lelah, anoreksia berat
badan menurun.
Diagnosis diduga positif eosinofilia paru tropik bila
ditemukan seluruh kriteria mayor atau bila salah satu kriteria
mayor tidak ada paling tidak harus disertai dengan 3 gejala
minor
(14)
.
Diakui kriteria di atas sering tidak memuaskan pada kasus-
kasus yang ringan atau atipik, sehingga masih perlu untuk
diteliti kembali
(14)
.
DIAGNOSIS BANDING
Ada dua kategori klinik yang penting dalam diagnosis ban-
ding eosinofilia paru tropik, yaitu manifestasi gejala di paru
dan sistemik (tabel 1)
(3)
.
TERAPI
Wildenvanch dkk pada tahun 1953, melaporkan pertama kali
kemanjuran obat antifilaria dietilkarbamazin untuk pengobatan
eosinofilia paru tropik, yang pada saat itu memberikan kesem-
buhan pada keduanya. Ganatra dan Danaraj menggunakan obat
tersebut secara rasional berdasarkan pada reaksi obat yang (efek
samping) sedikit dan responnya sangat baik, sehingga dietilkar-
bamazin dipakai sebagai obat pilihan untuk eosinofilia paru
tropik
(14)
. Obat ini dengan cepat membunuh mikrofilaria dalam
darah dan juga membunuh atau mensterilkan cacing dewasa se-
hingga mengganggu kemampuan reproduksi
(9)
.
Terapi dengan dietilkarbamazin secara oral dengan dosis 6
mg/kgbb/hari, 3 kali/hari selama 3 minggu menupakan peng-
obatan baku untuk eosinofilia paru tropik berdasarkan rekomen-
dasi WHO. Tapi ada yang mengatakan bahwa terapi baku ter-
sebut tidak kuratif. Sehubungan dengan hal tersebut, Kamat dkk.
melakukan penelitian terapi eosinofiliaparu tropik akut di Bombay
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 57
Tabel 1. Gambaran untuk membedakan eosinofilia paru tropik dan sindroma eosinofilik lain dengan kelainan di paru
(3)
.
Feature
Tropical
Eosinophilia
Loffler's
Syndrome
Chronic
Eosinophillc
Pneumonia
Allergic
Aspergillosis
Vasculitis
Syndromes
Idiopadaic
Hyper-
Eosinophilia
Drug
Allergies
Other
Helminthic
Infections
Wheezing
Systemic
symptoms
Eosinophil
level
IgE level
Filarial
antibodies
Diethylcarbamazine
response
Often
Often
High
High
High
Present
Rare
Rare
Moderate
Moderate
?
?
Often
Often
Moderate
to
high
?
Absent
Absent
Often
Often
High
High
Absent
Absent
Absent
Often
Low
Low to
moderate
Absent
Absent
Absent
Often
High
Low to
moderate
Absent
Absent
Absent
Often
Moderate
to high
Moderate
Absent
Absent
Possible
Variable
Variable
Moderate
to high
Possible
Possible
(Dikutip
dan
3)
dengan dietilkarbamazin selama 3 minggu. Ternyata respon
klinik terhadap pengobatan buruk dengan kerusakan paru me-
netap 1 tahun kemudian.Demikian pula penelitian oleh Rom WN
dkk di Madras, terapi baku dietilkarbamazin selama 3 minggu
menunjukkan perbaikan pada Eosinofilia paru tropik tapi tidak
ada penyembuhan sempurna. Beberapa menjadi radang saluran
napas kronik dan interstitial lung disease. Oleh sebab itu peng-
obatan Eosinofilia paru tropik harus dievaluasi kembali dan di-
perlukan suatu penelitian cara terapi lain seperti penambahan
steroid untuk regimen dietilkarbamazin atau mengganti dietil-
karbamazin dengan ivermectin
(12)
. Ivermectin adalah suatu anti-
biotika makrolid yang efektif membunuh mikrofilaria dalam
darah karena infeksi W. bancrofti atau filaria 1ain
(12,17)
.
KESIMPULAN
1) Eosinofilia paru tropik dapat dijumpai di seluruh dunia pada
daerah endemik terutama India, Asia Tenggara, Pasifik Selatan,
Afrika Utara dan Amerika Selatan. Penyakit ini dapat dicurigai
pada orang-orang yang melakukan perjalanan ke atau dari daerah
endemik dengan keluhan seperti asma untuk pertama kali yang
memburuk pada malam hari.
2) Lebih sering pada pria dibandingkan dengan wanita, insiden
tertinggi pada usia 2040 tahun. Faktor ras, ekonomi dan sosial
tidak mempengaruhi distribusi penyakit.
3) Penularan eosinofilia paru tropik memerlukan vektor
nyamuk dan manusia merupakan hospes definitif.
4) Terapi baku menurut WHO adalah pemberian dietilkarba-
mazin secara oral dengan dosis 6 mg/kgbb/hari selama 3 minggu.
Bila respon terapi baku menurut WHO tidak berhasil dapat
ditambah dengan steroid atau diganti dengan ivermectin. Selain
itu dietilkarbamazin dapat digunakan sebagai terapi percobaan
untuk mendiagnosis eosinofilia paru tropik.
KEPUSTAKAAN
1. Petersen C, Nutkin G, Mills J. Parasitic infection. Dalam: Murray JF,
Nadel JA. Textbook of Respiratory Medicine. Tokyo: WB Saunders
Company, 1988: 95085.
2. Mahmoud AAF. Helmintic diseases of the lung. Dalam: Fishman AP, eds.
Pulmonary diseases and disorders. 2nd ed. Toronto: Mc Graw-Hill Book
Co, 1988: 171933.
3. Neva FA, Ottesen EA. Current Concepts in parasitology : Tropical
(filarial) Eosinophilia. N EngI J Med 1978; 298: 112931.
4. Armstrong P, Wilson AG, Dee P. Imaging of diseases of the chest.
Chicago: Year Book Medical Publishers. Inc, 1990: 464650.
5. Khoo FY, Danaraj TJ. The roentgenographic appearance of eosinophilic
lung (Tropical eosinophilia). AJR 1960; 83: 2519.
6. Coutinho A. Tropical eosinophilia. Clinical, Therapeutic and etiologic
considerations. Experimental Work. Ann md Med 1956; 47: 88104.
7. Watters LC. Chronic alveolar filling disease Dalam: Schwarz MI, King TE
(eds). Intertitial Lung Disease. Philadelphia: B.C Decker Inc, 1988:23991.
8. Weller PF. Parasitic Pneumonias. Dalam: Pennington JE, eds. Respiratory
Infections: Diagnosis and Management. New York: Raven Press, 1983:
43953.
9. Plorde DJJ. Filariasis. Dalam: Isselbacher KJ, Adams RD, Braunwald E,
Petersdorf RG, Wilson JD, (eds). Harrison's Principles of Internal Medi
cine. 9th ed. Tokyo: Mc Graw-Hill Book Company, 1981: 8959.
10. Chhabra SK, Gauk SN. Airway Hiperreactivity in Tropical Pulmonary
Eosinophilia. Chest 1993; 5: 11056.
11. Boornazian JS, Fagan MJ. Tropical Pulmonary Eosinophilia associated
with Pleural Effusions. Am J Trop Med Hyg 1985; 34: 4735.
12. Rom WN, Vijayan VK, Cornelius MJ, Kumaraswani V, Prabhakar R,
Ottenssen EA dkk. Persistent lower respiratory tract inflammation asso
ciated with interstitial lung disease in patients with tropical pulmonary
eosinophilia following conventional treatment with diethylcarbamazine.
Am Rev Respir Dis 1990; 142: 108892.
13. Jones DA, Pillai DK, Rathbone BJ, Cookson JB. Persisting "asthma" in
tropical pulmonary eosinophilia. Thorax 1983; 38: 6923.
14. Donohugh DL. Tropical eosinophilia: an etiologic inquiry. N Eng J Med
1963; 19: 135763.
15. Ottesen EA, Neva FA, Paranjape RS, Tripaday SP, Thiruvengadam Ky,
Beaven MA. Spesific allergic sensitisation to filarial antigens in tropical
eosinophilia syndrome. Lancet 1972; 2: 115861.
16. Mann JM, Heurich AE. Response of diffusion capacity in the treatment of
tropical eosinophilia. Chest 1991; 99: 7767.
17. Kumaraswarni V, Ottensen EA, Vijayasekaran V, Devi U, Swaminathan
M, Aziz MA dick. Ivermectin for the treatment of Wuchereria bancrofti
Filariasis: efficacy and adverse reactions. JAMA 1988; 259: 31503.
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
58