background image
ABSTRAK
TERAPI ALZHEIMER
Penyakit Alzheimer merupakan pe-
nyakit yang makin perlu diperhatikan
karena kejadiannya akan makin me-
ningkat sesuai dengan bertambah pan-
jangnya harapan hidup.
Sampai saat ini belum ditemukan
terapi definitif. Beberapa strategi telah
dicoba, secara klinis telah digunakan
obat-obat penghambat kholinesterase ­
15­40% pasien Alzheimer menunjuk-
kan perbaikan kognitif, meskipun harus
diwaspadai kemungkinan efek samping
berupa agranulositosis/netropeni dan
hepatotoksisitas. Penggunaan nootropik
juga dapat memperbaiki fungsi kognitif,
saat ini sedang diselidiki kemungkinan
pemberian secara intraventrikuler. Cara
lain yang sedang diselidiki ialah usaha
menghambat pembentukan beta-amiloid
dan/atau menghambat agregasinya; se-
lain itu juga usaha menghambat terben-
tuknya PHF (paired helical filaments)
melalui modulasi aktivitas enzim-en-
zim protein fosfatase dan kinase. Anti
oksidan, idebenone, lazaroids (21-ami-
nosteroids), pirolopirimidin, pengham-
bat NO, selegilin dan beberapa vitamin
diduga mempunyai aktivitas serupa.
EFEK SAMPING FOSAMAX
Fosamax® (Na-alendronat) merupa-
kan obat baru non hormon untuk meng-
atasi osteoporosis; tetapi penggunaan-
nya dikaitkan dengan risiko ulkus
esofagus.
Permixon ­ ekstrak heksan dan ta-
naman palein Serenoa repens ­ telah di-
cobakan pada pasien hipertrofi prostat;
1098 pria dengan hipertrofi prostat ri-
ngan/sedang mendapat 2 dd 160 mg.
Permixon atau 5 mg. finasterid per hari
selama 26 minggu.
Pada akhir percobaan, kedua cara
tersebut meningkatkan kualitas hidup
pada 53% di kelompok Permixon dan
pada 55% di kelompok finasterid; per-
baikan dirasakan oleh 37% di kelompok
Permixon dan pada 39% di kelompok
finastenid, sedangkan aliran urine mem-
baik di kedua kelompok tanpa perbeda-
an bermakna.
Volume prostat lebih banyak ber-
kurang di kelompok finasterid (­16%)
dibandingkan dengan di kelompok
Permoxon (-7%).
Finansterid lebih mengganggu fungsi
seksual, yang masih dirasakan sampai
akhir percobaan.
Spermatogenesis normal turun dari
56,4% di tahun 1981 menjadi 26,9% di
tahun 1991 (odds ratio 3,5; 85%CI:
2,5­5,1), sedangkan terhentinya sperma-
togenesis naik dan 83 (3 1%) menjadi
128(49%) (odds ratio 2,1; 95%CI: 1,4­
2,9) untuk partial arrest dan dari 21
(8%) menjadi 53 (20%) (odds ratio 2,9;
95%CI: 1,7­5,0) untuk complete arrest.
Selain itu juga diamati adanya pengecil-
an tubuli seminiferi, peningkatan ja-
ringan fibrotik dan penurunan berat
testis.
ALKOHOL MENGURANGI RI-
SIKO PENYAKIT JANTUNG
Sejumlah 18.244 pria berusia 45­64
tahun di Shanghai, Cina telah dilibatkan
dalam stiidi prospektif mengenai diet
dan kanker sejak Januari 1986 sampai
dengan September 1989. Sampai akhir
Pebruari 1995, telah terjadi 1.198 ke-
matian; 498 di antaranya akibat kanker,
269 karena stroke dan 104 karena pe-
nyakit jantung iskhemik.
Dibandingkan dengan pria yang tidak
minum alkohol (non drinkers), orang-
orang yang minum alkohol 1­14 kali
seminggu mempunyai angka kematian
19% lebih rendah (RR: 0,81, 95%CI:
0,70­0,94). Para peminum alkohol ri-
ngan sampai sedang (28 kali seminggu)
18% lebih sedikit yang meninggal akibat
penyakit jantung iskhemik (RR 0,64;
95%CI: 0,41­0,998), tetapi angka ke-
matian akibat stroke tidak terpengaruh.
Peminum berat ( 29 kali seminggu)
lebih banyak yang berisiko meninggal
dunia akibat kanker saluran cerna, siro-
sis hati dan stroke.
Menghambat penyerapan alumi-
nium menggunakan chelating agent ­
desferroxamine­juga sedang dicoba; di
samping itu obat-obat antiinflamasi ­
steroid maupun non steroid ­ juga
mungkin efektif.
Drugs 1997: 53(5): 752­68
Hk
Efek samping ini berkaitan dengan
lamanya obat tertahan di esofagus, se-
hingga dapat dihindari bila obat ini di-
minum bersama air yang cukup banyak
di pagi hari dan tetap duduk/berdiri
selama sekurang-kurangnya 30 menit
sesudahnya, dan segera disusul dengan
makan pagi.
MCHL 1997; 15(2): 4
Hk.
FITOTERAPI UNTUK HIPER-
TROFI PROSTAT
Inpharma 1997: 1074: 8
Brw
PENURUNAN SPERMATOGENE-
SIS
Data nekropsi yang berasal dan 264
pria berusia 35­69 tahun di Finlandia
menunjukkan bahwa kualitas sperma-
togenesis telah menurun selama tahun
1981 sampai dengan tahun 1991.
Perubahan-perubahan di atas tidak
dipengaruhi oleh body mass index,
kebiasaan merokok alkohol ataupun
penggunaan obat-obatan.
BMJ 1997: 314: 13­8
Hk
Satu dosis alkohol dalam penelitian
ini ialah 360 g. bir atau 103 g. anggur
(wine) atau 30 g. spirit.
BMJ 1997: 314: 18­23
Hk.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
62
background image
ABSTRAK
PENGARUH MEROKOK TER-
HADAP HARAPAN HIDUP
Di Inggris dilakukan studi selama 15
tahun atas 7735 pria yang berusia 40 -
59 tahun pada saat studi dimulai untuk
meneliti pengaruh merokok terhadap
harapan hidup.
Sejumlah 1624 pria yang tidak
pernah merokok, baik sebelum maupun
selama penelitian ; 127 di antaranya
meninggal dunia selama jangka waktu
penelitian. Sedangkan 3151 pria mulai
merokok sebelum usia 20 tahun dan
masih merokok saat penelitian dimulai;
di antara mereka, 751 berhenti merokok
5 tahun setelah penelitian sehingga
dikeluarkan dari analisis; 560 pria
merokok meninggal dunia selama
penelitian berlangsung.
Sebagai bagian dari Myocardial
Infarction Triage and Intervention
Project, 1050 pasien infark miokard
akut yang menjalani angioplasti primer
dibandingkan dengan 2095 pasien yang
mendapat terapi trombolitik berupa
alteplase (65%), atau streptokinase
(32%) atau prourokinase (3%).
Kematian di rumahsakit adalah
sebesar 5,6% di kelompok trombolitik
dan 5,5% di kelompok angioplasti (p =
0,93, 95%CI: 0,8­1,2).Analisis atas ke-
lompok berisiko tinggi juga tidak meng-
hasilkan perbedaan yang bermakna.
Jumlah prosedur dan biaya rumah-
sakit lebih rendah di kalangan trombo-
litik, baik saat dirawat maupun sampai
3 tahun kemudian ­ angiogram 30%
lebih sedikit, angioplasti 15% lebih
sedikit dan biaya pengobatan 13% lebih
rendah.
DEPRESI DAN DENSITAS TU-
LANG
Para peneliti di AS membandingkan
densitas tulang pada wanita yang meng-
alami depresi dengan wanita normal.
Pengukuran di beberapa lokasi tu-
lang menunjukkan bahwa penderita
depresi mempunyai densitas tulang yang
lebih rendah: di daerah tulang belakang
6,5% lebih rendah (1,00 ± 0,15 vs.
1,07 ± 0,09 g/cm2, p = 0,02), di collum
femoris 13,6% lebih rendah (0,76 ±
11 vs. 0,88 ± 0,11 g/cm2, p<0,001),
Ward's triangle 13,6% lebih rendah
(0,70±0,14 vs. 0,81 ±0,13g/cm2,p<
0,001)dan 10,8% lebih rendah di daerah
trochanter (0,66 ± 0,11 vs. 0,74 ± 0,08
g/cm2, p <0,001).
Selain itu mereka yang depresi
mengekskresi kortisol lebih banyak
(71 ± 29 vs. 51 ± 19 ug/hari, p = 0,006),
konsentrasi osteokal sin lebih rendah
(p = 0,04) dan ekskresi deoksipirido-
noun lebih rendah (p = 0,0 1).
RISIKO STROKE ISKEMIK DI KA-
LANGAN PENGGUNA KONTRA-
SEPSI ORAL
WHO telah melakukan studi multi-
senter yang melibatkan 21 pusat di 17
negara di Eropa, Asia, Afrika dan Ame-
rika Latin, termasuk Indonesia. Studi
tersebut bertujuan untuk meneliti pe-
ngaruh penggunaan kontrasepsi oral
terhadap kejadian stroke.
MIGREN DAN KONTRASEPSI
ORAL
Studi di Italia menunjukkan bahwa
pengobatan migren yang kurang ber-
hasil dikaitkan dengan riwayat
penggunaan kontrasepsi oral jangka
lama, riwayat keluarga penyakit kardio-
vaskular, riwayat trauma kepala dan
serangan migren saat bangun tidur.
Brw
Bila dikombinasi dengan data
statistik mortalitas nasional,
diperkirakan hanya 42% (95% C': 36 -
50%) perokok pada usia 20 tahun yang
masih hidup pada usia 73 tahun,
dibandingkan dengan 78% (74 - 82%)
di kalangan bukan perokok.
0,
di
BMJ 1996;313:907-8
TROMBOLITIK VS. ANGlO-
PLASTI
N. Engl. J. Med. 1996; 335: 1253­60
Brw
N. Engl J. Med. 1996; 335: 1176­RI
Brw
Analisis risiko terhadap stroke
iskemk melibatkan 697 kasus berusia
20­44 tahun, dibandingkan dengan 962
kontrol; diagnosis ditegakkan ber-
dasarkan pemeriksaan CT, atau MRI,
tau angiograti serebral yang dilaksana-
kan dalam 3 minggu setelah diagnosis.
Odds-ratio untuk stroke iskemik di
kalangan pengguna kontrasepsi oral
ialah sebesar 2,99 (95%CI: 1,65­5,40)
di Eropa dan sebesar 2,93 (2,15­4,00)
di negara non Eropa. Rasio ini lebih
rendah di kalangan wanita yang lebih
muda, yang tidak merokok dan kurang
dari 2 pada wanita yang tekanan darah-
nya normal, yang diperiksa sebelum
penggunaan kontrasepsi oral. Di lain
pihak, dikalangan yang menderita hi-
pertensi, odds-rationya sebesar 10,7
(2,04-56,6) di Eropa dan 14,5 (5,36-
39,0) di negara lain.
Bila dibedakan menurutjenis kontra-
sepsinya, kontrasepsi oral estrogen
rendah (kurang dari 50 ug) mempunyai
odds ratio sebesar 1,53 (0,71­3,31) di
Eropa dan 3,26 (2,19-4,86) di negara
lain; sedangkan dosis tinggi (lebih dari
50 ug) odds rationya sebesar 5,30(2,56­
11,00) di Eropa dan 2,71 (l,75­4,19)di
negara lain; perbedaan ini mungkin
disebabkan oleh adanya faktor risiko
lain.
Risiko tersebut tidak dipengaruhi
oleh lamanya penggunaan, dan juga
tidak meningkat setelah penggunaan
dihentikan.
Lancet 1996; 276: 906­8
Brw
Inpharma 1996: 1057: 15
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 63