background image
ABSTRAK
ESPS-2
ESPS-2 yang melibatkan 6602 pa-
sien selama 2 tahun membandingkan
efektivitas 50 mg. aspirin, 400 mg. dipiri-
damol dan kombinasi keduanya.
Pada akhir studi, risiko stroke di
kalangan pengguna aspirin berkurang
17,7%, di kalangan pengguna dipirida-
mol turun 15,8%, sedangkan di kalang-
an yang menggunakan keduanya turun
36,7% - ini menunjukkan adanya efek
aditif dan kombinasi dua zat tersebut.
Angka kematian juga turun sebesar
15,7% di kelompok dipiridamol, turun
13,5% di kelompok aspirin dan turun
24,3% di kelompok yang menggunakan
keduanya.
Efek samping perdarahan saluran
cerna tetap terjadi meskipun dosis aspi-
rin telah diturunkan; efek samping ini
terjadi pada 74 pasien plasebo, 73 pasien
dipinidamol, l36pasien aspirin dan pada
137 pasien yang mendapatkan kedua-
nya.
Scrip 1995; 2061: 22
Brw
RILUZOLE UNTUK ALS
Riluzole - suatu obat baru yang be-
kerja menghambat efek toksik akibat
pelepasan glutamat yang berlebihan -
telah dicoba untuk mengatasi ALS
(amyotrophic lateral sclerosis) - suatu
penyakit akibat kerusakan sel-sel saraf;
biasanya pasien meninggal karena tidak
mampu bernapas.
Obat ini telah dicobakan pada 959
pasien, ternyata meningkatkan survival
setelah 18 bulan menjadi 55,3% pada
dosis 50 mg./hari, 56,8%padadosis 100
mg./hari dan 57,8%pada dosis 200 mg/
hari; pasien yang mendapat plasebo
survival ratenya 50,4%.
Efek samping yang ditemukan be-
rupa mual, muntah, vertigo, parestesi
dan somnolen; hepatotoksisitas juga
sering ditemukan dan menyebabkan
penghentian pengobatan pada 4% pa-
sien; 12% mengalami peningkatan ka-
dar SGOT dan SGPT serum lebih dari 3
kali nilai normal, umumnya reversibel
bila terapi dihentikan.
Rekomendasi/persetujuan FDA
Amerika Serikat mendapat tantangan
dan beberapa ahli yang masih meragu-
kan efektivitasnya, terutama karena ha-
sil yang berbeda antara percobaan di
Perancis dan Belgia - menghasilkan
survival rate 49% dibandingkan dengan
37% di kalangan plasebo; dengan yang
dilakukan di negara Eropa lain - meng-
hasilkan survival rate 58% dibanding-
kan dengan 57% pada plasebo, sedang-
kan yang dilakukan di Amerika Utara
menghasilkan survival rate 55% di-
bandingkan dengan 65% di kalangan
plasebo.
Scrip 1995; 2063. 23
Brw
STRES MENGHAMBAT PENYEM-
BUHAN LUKA
Stres psikologik dapat memperlam-
bat penyembuhan luka; hal ini diamati
oleh para peneliti di Ohio, AS.
Mereka mempelajani 13 wanita yang
mengurus keluarganya yang menderita
demensia (usia rata-rata 62,3 [SE 2,3]
tahun) dan 13 wanita lain sebagai kon-
trol (usia rata-rata 60,4 SE 2,81 tahun).
Semuanya menjalani punch biopsy 3,5
mm. Penyembuhan dinilai melalui foto
dan responsnya terhadap H - luka di-
anggap sembuh bila tidak ada busa lagi:
Ternyata penyembuhan luka me-
merlukan waktu yang lebih lama di ka-
langan pengasuh pasien demensia bila
dibandingkan dengan kontrol, yaitu
rata-rata 48,7 (SE 2,9) hari vs. rata-rata
39,3 (SE 3,0) hari (p <0,05).
Leeukosit dan kalangan pengasuh
penderita demensia memproduksi lebih
sedikit intenleukin 1 beta mRNA.
Lancet 1995; 346: 1194-96
Hk
SUMATRIPTAN UNTUK MIGREN
Obat yang baru diperkenalkan -
sumatriptan - dibandingkan efektivi-
tasnya dengan lisin asetilsalisilat - se-
nyawa asam salisilat - yang dikombi-
nasi dengan metokiopramid.
Sebanyak 385 pasien dengan serangan-
an migren awal mendapat plasebo (n =
126), atau 1620 mg. lisin asetilsalisilat
(ekivalen dengan 900 mg. aspirin) ÷ 10
mg. metokiopramid (LAS ÷ MTC) (n =
137) atau 100 mg. sumatriptan (n = 122).
Pengurangan nyeri kepala dan se-
dang/berat menjadi sembuh/ringan ter-
jadi pada 57% pasien kelompok LAS +
MTC dan pada 53% pasien kelompok
sumatriptan; keduanya secara bermakna
lebih efektif dibandingkan dengan
plasebo (p 0,0001).
Efek samping ditemukan pada 28%
di kalangan sumtratiptan, 18% di kalang-
an LAS ÷ MTC, dan 13% di kalangan
plasebo, umumnya ringan, berupa mual/
muntah, rasa lelah (fatigue), nyeri abdo-
men, vertigo dan parestesi.
Lancet 1995; 346: 923-26
Hk
HEPARIN UNTUK TROMBOSIS
VENA DALAM
Trombosis vena dalam yang umum
dijumpai pada imobilisasi mengguna-
kan gips setelah trauma tungkai, dapat
dicegahdengan pemberian low-molecu-
lar weight heparin.
Sebanyak 176 pasien mendapat 32
mg. LM heparin subkutan tiap hari
sampai gips dibuka, sedangkan 163
pasien Iainnya tidak mendapat apa-apa.
Ternyata kejadian trombosis vena da-
lam di kalangan penerima hepanin se-
besar 0%, sedangkan di kalangan kon-
trol sebesar 4,3% (p 0,006).
Tidak ditemukan efek samping
berupa perdarahan ataupun trombosi-
topeni.
Lancet 1995; 346: 459-61
Hk
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
62
background image
ABSTRAK
NIFEDIPIN MENINGKATKAN
MORTALITAS?
Para peneliti di Italia dan di AS
mengamati 906 pasien berusia 71-96
tahun yang menggunakan obat penye-
kat beta (n=515), verapamil (n=77),
diltiazem (n=92), nifedipin short-acting
(n=74) atau penyekat ACE (n=148)
sebagai obat antihipertensinya selama
periode 3538 pewrson-years.
Ternyata, dibandingkan dengan
pengguna penyekat beta, paru peng-
guna nifedipin short-acting mempunyai
risiko kematian Iebih tinggi (relative
risk/RR- 1,7). Perbedaan ini juga dite-
mukan pada risiko kematian akibat
penyakit jantung koroner (RR-1,9),
kejadian payah jantung kongestif
(RR-3,5), penyakit jantung koroner
(RR-3,5) dan kejadian serangan infark
miokard akut (RR-5,6). Makin tinggi
dosis nifedipin, makin besam pening-
katan risikonya; dosis < 20 mg/hari
menyebabkan kenaikan mortalitas
dengan RR 1,4, sedangkan dosis > 20
mg/hari relative risknya menjadi 3,1.
Hasil penelitian ini menyebabkan
beberapa ahli menganjurkan agar
diuretik dan penyekat beta tetap di-
pertimbangkan sebagai pilihan per-
tama sesuai dengan anjuran JNC
(Joint National Committee) dan AS.
Inpharma 1995; 1015: 21
Brw
DIABETES WANITA HAMIL
Para peneliti di AS menganjurkan
agar kontrol diabetes pada wanita ha-
mil lebih baik menggunakan hasil
pemeriksaan glukosa postprandial,
daripada menggunakan hasil peme-
riksaan glukosa preprandial.
Mereka meneliti 66 wanita dengan
gestational diabetes yang memerlu-
kan insulin mulai usia kehamilan < 30
miggu; mereka menggunakan insulin
engan target kadar glukosa preprandial
60-105 mg/dl (3,3-5,9 mmol/l) atau
dengan target kadar glukosa postpran-
dial < 140 mg/dl (7,8 mmolIl).
Ternyata perubahan kadar glyco-
silated Hb Iebih besar di kalangan post-
prandial (-3,0 ± 2,2% vs. -0,6 ± 1,6%,
p > 0,00 1), selain itu berat badan
bayinya saat lahir juga lebih rendah
(3469 ± 668 g. vs. 3848 ± 434 g., p =
0,0 1). Kalangän postprandial juga
mempunyai bayi yang lebih sedikit
menderita hipoglikemi neonatal (3%
vs. 21%, p = 0,05), lebih sedikit yang
berat badan lahirnya terlalu berat (12%
vs. 42%, p = 0,01), dan juga lebih sedikit
yang memerlukan pembedahan caesar
akibat disproporsi sefalopelvik (12%
vs. 36%, p = 0,04).
N. Engl. J. Med. 1995; 333: 1237-41
Hk
ALAT BANTU DENGAR DI KEDUA
TELINGA
Menggunakan dua alat bantu de-
ngar (hearing aid) sekaligus - satu
untuk masing-masing telinga - dapat
dianjurkan untuk mereka yang men-
derita gangguan pendengaran se-
dang sampai berat dan bekerja di ling-
kungan yang memerlukan fungsi pen-
dengaran yang baik, karena dengan
dua alat, efek stereofoniknya lebih
baik sehingga penggunanya dapat
lebih akurat menentukan letak/arah
sumber bunyi
MCHL 1995; 13(12): 8
Hk
ANGIOPLASTI VS. STREPTOK-
INASE
Studi di Belanda membandingkan
metode angioplasti koroner dengan
pemberian 1,5 MU streptokinase iv
dalam satu jam pada 301 pasien infark
miokard akut.
Dalam tahun pertama setelah peng-
obatan, hanya 49 di antara 152 pasien
angioplasti yang memerlukan prosedur
revaskularisasi, dibandingkan dengan
pada 84 di antara 149 pasien yang men-
dapat streptokinase.
Kejadian infark miokard berulang,
kematian atau stroke juga lebih rendah
di kelompok angioplasti (11 vs. 39 pa-
sien) sedangkan biaya obat pada tahun
pertama ialah sebesar $ 659.60 untuk
tiap pasien angioplasti dibandingkan
dengan $ 854.30 untuk tiap pasien
streptokinase.
Am. J. Cardiol. 1995; 830-33.
Brw
BAHAYA HIPERKOLESTERO-
LEMI
Hiperkolesterolemi merupakan fak-
tor penyulit yang sering dijumpai se-
telah transpiantasi jantung.
Pravastatin - suatu penghambat
enzim HMG co-A yang efektif menu-
runkan kadar kolesterol darah dicoba-
kan pada 47 pasien transplantasi jan-
tung, dibandingkan dengan 50 pasien
lainnya yang tidak mendapat obat ter-
sebut.
Setelah l2 bulan, kelompok pravasta-
tin kadar kolesterol darahnya lebih ren-
dah (193 ± 36 vs. 248 ± 49 mg/dl, p <
0,001), lebih sedikit mengalami peno-
lakan yang diikuti perubahan hemodi-
namik (3 vs. 14 pasien, p = 0,005), lebih
survive (94% vs. 78%, p = 0,0025) dan
lebih sedikit yang menderita vaskulo-
pati koroner (3 vs. 10 pasien, p = 0,049);
selain itu juga memperlambat penebal-
an tunika intima (0,11 ± 0,09 mm vs.
0,23 ± 0,16 mm, p =0,002) dan intimal
Index (0,05 ± 0,03 vs. 0,10 ± 0,10, p =
0,03 1).
Pravastatin berguna mengendalikan
kadar kolesterol, memperbaiki one-year
survival dan mengurangi reaksi peno-
lakan dan vaskulopati koroner.
N. Engl. J. Med. 1995; 333: 621-7
Hk
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 63