background image
ABSTRAK
MENGATASI KEJANG EKLAMSI
Sampai saat ini eklamsi merupakan
kegawatan persalinan yang masih me-
nonjol, dan belum ada cara/obat yang
diketahui paling efektif untuk meng-
atasinya.
Penelitian multisenterdilakukan atas
1687 wanita eklamsi di Eropa;data yang
dapat diolah berasal dari 1680 (99,6%)
wanita;453 orang mendapat MgSO
4
vs.
452 orang mendapat diazepam;dan 388
orang mendapat MgSO
4
vs. 387 orang
mendapat fenitoin.
Ibuprofen ­ obat yang telah lama di-
gunakan sebagai anti inflamasi ­ dapat
bermanfaat untuk nyeri kepala akibat
ketinggian (high-altitude headache).
Peneliti di Austria membawa 33
orang sukarelawan ke ketinggian antara
200­3480 m selama 18 jam; 13 di
antaranya mengeluh nyeri kepala. Dari
13 orang tersebut 7 orang menerima 600
mg. ibuprofen dan 6 lainnya mendapat
100mg.sumatriptan.Dalam 2 jam, nyeri
kepala praktis hilang di kalangan ibu-
profen, selain itu mountain sicknessnya
juga berkurang, sebaliknya keluhanan
di kalangan sumatriptan.
Para peneliti di India menyatakan
bahwa fenitoin depat bermanfaat bagi
para pasien artritis rematoid; mereka
mengobati para pasiennya secara acak
buta-ganda dengan 200 mg. fenitoin/
hari (n = 40), klorokuin 150 mg./hari
(n = 32) atau auranofin 6 mg./hari
(n = 36) selama 6 bulan.
Ketiga cara tersebut sama efektifnya,
demikian juga dengan efek samping
yang timbul; sedangkan analisis meng-
gunakan Global Improvement Rate
menunjukkan keunggulan fenitoin di-
bandingkan dengan dua cara lainnya.
Sejumlah 345 pasien nyeri kepala
tipe-tegang mendapatkan salah satu
pengobatan oral dosis tunggal sebagai
berikut: 12,5 mg. ketoprofen, 25 mg.
ketoprofen,200 mg. ibuprofen atau 275
mg. Na-naproksen.
Ternyata keempat cara tersebut sama
efektifnya dalam menghilangkan nyeri,
yaitu sebesar masing-masing 42%,
38% dan 40%, sedangkan kegagalan
terapi (nyeri menetap) dirasakan oleh
masing-masingl2%, 13%, 11% dan 7%
pasien dan masing-masing kelompok.
CARA NON OBAT UNTUK
RISIKO GANGGUAN KORONER
Para ahli dari Harvard Medical School
di Massachusetts General Hospital
menganjurkan beberapa cara non obat
untuk mengurangi risiko kelainan ko-
roner; mereka menekankan pentingnya
olahraga (exercise) yang teratur, meng-
hindari merokok/asap rokok, mengu-
rangi stres dan mempertahankan berat
badan ideal. Selain itu dianjurkan ma-
kan makanan rendah lemak dan rendah
kolesterol serta tinggi serat, makan ikan
(bukan kapsul minyak ikan), juga sayur/
buah yang banyak mengandung vitamin
anti oksidan.
Para wanita yang mendapat MgSO
4
mempunyai 52% lebih kecil risiko ke-
jang berulang dibandingkan dengan yang
mendapatdiazepam (95%CI: 64%­37%
reduksi) yang berarti 11,4 ± 2,2 wanita
lebih sedikit per 100 wanita.
Para wanita yang mendapat MgSO
4
lebih sedikit yang harus mendapat ven-
tilasi, yang menderita pneumoni atau
pun yang harus dirawat intensif diban-
dingkan dengan kalangan yang men-
dapat fenitoin, sedangkan para bayinya
juga lebih sedikit yang harus diintubasi
ataupun yang dirawat khusus.
Lancet 1995; 345: 1455­63
hk
IBUPROFEN UNTUK NYERI KE-
PALA
Hasil ini bertentangan dengan pene-
litian sebelumnya yang menyatakan
bahwa sumatriptan efektif pada situasi
di atas.
Lancet 1995; 346: 254­55
hk
BAHAYA AKUPUNKTUR
Seorang wanita 40 tahun telah me-
ninggal dunia setelah menjalani peng-
obatan akupunktur. Dia menderita
fibromialgia dan diterapi dengan pe-
nusukan di titik Ren 17­ di sternum se-
tinggi celah iga IV. Segera setelah di-
tusuk, pasien mengeluh nyeri dada dan
meninggal 2jam sesudahnya.
Analisis postmortem menunjukkan
adanya foramen kongenital di tulang
sternum yang menyebabkan terteiubus
nya perikardium oleh jarum akupunk-
tur.
Kejadian ini harus mendapat per-
hatian mengingat 9,6% pria dan 4,3%
wanita diketahui mempunyai kelainan
bawaan serupa.
Lancet 1995; 345: 1175
hk
FENITOIN UNTUK ARTRITIS
J. Rheumatol. 1995; 22: 1235­40
hk
NSAID UNTUK NYERI KEPALA
Inpharma 1995; 996: 16
brw
Suplementasi anti oksidan dapat
diberikan pada orang-orang dengan
risiko tinggi. Niasin dan suplemen lain
seperti khrom masih belum pasti man-
faatnya. Beberapa orang dapat meng-
ambil manfaatdari minum alkohol
dosis rendah dan profilaksis aspirin.
JAMA SEA 1995; 11(1): 27­36
brw
HIPERTENSI AKIBAT TUMOR
BATANG OTAK
Para dokter di Italia melaporkan ka-
sus hipertensi yang disebabkan oleh
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
62
background image
ABSTRAK
astrositoma batang otak.
Sejak usia 20 tahun, pasien tersebut
menderita hipertensi; pemeriksaan
tambahan termasuk angiografi renal
semuanya normal. Pada usia 36 tahun
tiba-tiba diserang gagal pernapasan akut
yang memerlukan intubasi;pasien tetap
sadar tetapi menunjukkan sindrom
kelumpuhan nIX, n.X, n.XII dan sere-
belum kiri, sedangkan tekanan darah-
nya 170/110mmHg.Adanya astrositoma
di medulla oblongata diketahui melalui
MRI, dan dilakukan kraniotomi sub-
oksipital untuk reseksi sebagian. Pasca
operasi, sampai 10 bulan tekanan da-
rahnya normal tanpa pengobatan.
KOLITIS ULSERATIF DAN ME-
ROKOk
Kolitis ulseratif diketahui terutama
diderita oleh orang-orang bukan pe-
rokok, dan pasien-pasien tersebut sering
mengalami remisi bila merokok.
Para peneliti di Wales, UK mencoba
menggunakan nikotin transdermal pada
40 pasien kolitis ulseratif dibandingkan
dengan 40 pasien lainnya yang meng-
gunakan plasebo. Ternyata tidak ada
perbedaan bermakna dalam hal frekuensi
relaps; sedangkan efek samping dilapor-
kan berupa mual, rasa `ringan' dan gatal
pada 21 pasien di kelompok nikotin dan
pada 14 pasien di kelompok plasebo.
TUBERKULOSIS DI AS
Kasus-kasus tuberkulosis telah me-
ningkat di Amerika Senikat, sebagian
dipengaruhi oleh makin banyaknya
warga asing yang bermigrasi ke sana;
kasus tuberkulosis di kalangan warga
asing (foreign-born) meningkat dari
21,6% (4925 kasus) di tahun 1986 men-
jadi 29,6% (7346 kasus) di tahun 1993.
Selama periode 8 tahun tersebut 21115
kasus (43,9%) berasal dari Amerika
Latin, 16643 kasus (34,6%) berasal
dari Asia Tenggara.
Angka kejadian rata-rata di kalangan
warga asing (30,6 per 100.000 person-
years) hampir empat kali lipat diban-
dingkan dengan penduduk asli (8,1 per
100.000 person-years). Umumnya
(55%) mereka telah didiagnosis dalam
lima tahun pertama.
EFEK SAMPING PARASETAMOL
Berdasarkan catatan medik 126.779
pasien yang dirawat di University of
Pittsburgh Medical Center selama Ja-
nuari 1987 sampai dengan Juli 1993,
tercatat 49 kasus hepatotoksisitas akibat
parasetamol (asetaminofen) dengan
kadar aspartat aminotnansfenase >1000
U/I. Semua pasien tersebut mengguna-
kan dosis lebih dari 4 gram; 21(43%)
di antaranya memang untuk tujuan
pengobatan.
KEMATIAN AKIBAT KANKER
PAYUDARA
Kematian akibat kanker payudara di
Inggris dan Wales turun 10%;dari 10.538
kasus di tahun 1989 menjadi 9.5l7
kasus di tahun 1993.
Penurunan ini terutama terjadi di
kelompok usia20­49 tahun sebesar 14%,
sedangkan di kelompok usia 50­69 tahun
turun sebesar 11%, dan di kelompok
usia 70­79 tahun turun sebesar 11%.
BUNUH DIRI DAN KADAR
KOLESTEROL
Studi di Italia yang membandingkan
331 orang berkecenderungan bunuh diri
dengan 331 orang normal menunjukkan
adanya perbedaan kadar kolesterol se-
rum yang bermakna; orang-orang yang
dengan kecenderungan bunuh diri kadar
kolesterol rata-ratanya lebih rendah.
Hasil penelitian ini menghidupkan
lagi debat pengaruh kolesterol terhadap
kecenderungan bunuh diri; para peneliti
menduga rendahnya kadar kolesterol
mungkin berkaitan dengan rendahnya
kadar serotonin di janingan otak yang
menyebabkan kecendenungan depresi
dan meningkatkan risiko bunuh diri.
OBAT UNTUK ALS
Gabapentin ­ obat antiepilepsi baru
yang dipasarkan oleh Warner-Lambert­
mungkin juga bermanfaat bagi pasien
pasien ALS (amyotrophic lateral scle
rosis) ­ suatu penyakit degeneratif su-
sunan saraf pusat; efek ini diduga dise-
babkan oleh inhibisi sintesis glutamat,
zat yang dapat bersifat toksik terhadap
motorneuron.
Lancet 1995; 345: 1573
hk
Sejumlah 22 pasien di kelompok
nikotin keluar dan percobaan karena
relaps (14 pasien) dan sebab-sebab lain
(8 pasien); sedangkan di kelompok
plasebo, 17 pasien keluar karena relaps
dan 3 pasien karena sebab lain.
N. Engi. J. Med. 1995; 332: 988­92
hk
N. Engi. J. Med. 1995; 332: 988­92
hk
Kasus-kasus keracunan pada dosis
4­10 g/hari dihubungkan dengan ke-
adaan puasa dan penggunaan alkohol,
sedangkan kasus keracunan dengan do-
sis > 10 g/hari berkaitan dengan peng-
gunaan alkohol.
JAMA 1994; 272: 1845­50
brw
Scrip 1995; 2039: 6
brw
Scrip 1995; 2039: 27
brw
Scrip 1995; 2007: 26
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 63