background image
ABSTRAK
PENGARUH ANTAGONIS H2
TERHADAP KADAR ALKOHOL
SERUM
Pada percobaan laboratorium, anta-
gonis H2 juga menghambat aktivitas
gastric alcohol
dehydrogenase ­
enzim
yang memetabolisme alkohol, sehingga
alkohol dapat lebih lama ada di dalam
darah.
Untuk melihat pengaruhnya dalam
klinik, 8 pria sehat berusia 24-46 tahun
diberi ranitidin 300 mg./hari selama
seminggu, dan masing-masing 6 pria
sehat berusia 24­46 tahun diberi
simetidin 1000 mg./hari dan famotidin
40 mg./hari, juga selama seminggu.
Ternyata, setelah pemberian etanol
0,3 g./kg.bb., terdapat perbedaan ber-
makna dalam konsentrasi puncak dan
AUC (area under curve) etanol dalam
darah di kalangan pengguna simetidin
dan ranitidin, sedangkanpadapengguna
famotidin, tidak terdapatperbedaan ber-
makna.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa pengguna alkohol harus diper-
ingatkan mengenai kebiasaannya bila
pada saat yang sarna sedang menjalani
pengobatan dengan H2 bloker
JAMA 1992; 267: 83­6
Brw
RISIKO PEROKOK PASIF
Analisis dilakukan terhadap 9 studi
epidemiologik yang meneliti hubungan
merokok pasif dengan penyakit jantung.
Relative-risk berkisar antara 0,9 ­
3,0; tujuh studi hasilnya positif, satu
studi hasilnya positif di kalangan wa-
nita, dan satu studi lainnya negatif.
Beberapa studi juga menunjukkan ada-
nya dose-response relationship.
Analisis ini menyimpulkan bahwa
pria yang tinggal di lingkungan pero-
kok mempunyai risiko sebesar 9,6%
untuk meninggal akibat penyakit jan-
tung iskemik pada usia 74 tahun, diban-
dingkan dengan sebesar 7,4% bila ia
tinggal bersama bukan perokok. Se-
dangkan untuk wanita, risiko tersebut
adalah sebesar 6,1% bila tinggal ber-
sama perokok dan 4,9% bila tinggal
bersama bukan perokok.
JAMA 1992; 267: 94­9
Brw
SILENT ISCHEMIA PADA PRIA
DIABETIK DENGAN NEUROPATI
OTONOM
Penelitian melalui pengamatan EKG
ambulatoir selama 24 jam telah di-
lakukan untuk mengetahui prevalensi
silent ischemia pada 17 pria diabetik
dengan neuropati otonom (grup A),
dibandingkan dengan 24 pria diabetik
tanpa neuropati otonom (grup B).
Diagnosis neuropati otonom dite-
gakkan berdasarkan 5 test, yaitu per-
ubahan tekanan darah pada perubahan
posisi tubuh dan pada tindakan meng-
genggam,perubahan frekuensi nadi pada
perubahan posisi tubuh, pada pernafas-
an dalam dan pada tindakan Valsava.
Pada kedua kelompok tersebut tidak ada
perbedaan bermakna dalam hal faktor
risiko terhadap kelainan koroner atau-
pun riwayat angina pektoris.
Ternyata prevalensi silent
ischemia
adalah sebesar 64,7% di grup A
(95%CI:38,33­85,79%) dan 4,1% di
grup B (95%CI:0,11­21,12%). Ini me-
nunjukkan bahwa neuropati otonom
dapat mencegah timbulnya rasa nyeri
angina, sehingga menyulitkan diagno-
sis penyakit jantung iskemik.
Br. Heart J. 1991; 66: 313­5
Hk
KORELASI KADAR KOLESTE-
ROL SERUM DENGAN PRE-
VALENSI PENYAKIT JANTUNG
KORONER
Penelitian yang dilakukan atas 9021
penduduk Shanghai, Cina yang berusia
35­64 tahun, menunjukkan bahwa se-
kalipun kadar kolesterol serum masih
berada dalam batas normal, terdapat ke-
cenderungan meningkatnya kematian
akibat penyakit jantung koroner sesuai
dengan makin tingginya kadar koleste-
rol serum. Populasi tersebut di tas di-
teliti selama 8--13 tahun; dalam waktu
tersebut terdapat 43 (7%) kematian yang
berhubungan dengan penyakit jantung
koroner. Kadar kolesterol rata-rata ialah
3,8­4,7 mmol/l.
Dari analisis regresi terlihat bahwa
4 ± 1% perbedaan kadar kolesterol
serum berkaitan dengan 21 ± 6% per-
bedaan kematian akibat penyakit jan-
tung koroner (90%CI:9--35%). Tidak
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
62
background image
ABSTRAK
ada perbedaan bermakna dalam hal
kematian akibat stroke.
BMJ 1991; 303: 276-82
Brw
IBUPROFEN SEBAGAI ANTI-
PIRETIK
Ibuprofen dalam bentuk suspensi
telah dicoba untuk khasiat antipiretik-
nya pada 93 anak di Inggris. Dari empat
dosis yang dicoba (0,625mg./kgbb.,1,25
mg./kgbb., 2,5 mg./kgbb. dan 5 mg./
kgbb.), semuanya dapat menurunkan
suhu tubuh, meskipun pada dosis ter-
kecil tidak memenuhi standar efikasi.
Penurunan suhu tubuh tersebut cukup
bermakna, dan pada dosis 5 mg./kgbb.
didapatkan penurunan suhu terbesar,
yaitu 2°C. Ibuprofen merupakan alter-
natif parasetamol dalam hal khasiat
antipiretik.
Areh. Div. Child. 1991; 66: 1037-42
Hk
BIAYA ADVERTENSI OBAT DI
INDONESIA
Biaya advertensi obat-obatan di
Indonesia pada tahun 1991 mencapai
Rp. 34,8 milyar (US $ 17,4 million).
Biaya advertensi obat-obatan pada
tahun 1990 diperkirakan sama dengan
1991, sedangkan pada tahun 1989 se-
besar Rp. 28,8 milyar.
SCRIP 1992 ;1695 p.5.
vso
PREVALENSI MIGREN DI AS
Pada tahun 1989 telah dilakukan
penelitian prevalensi migren melalui
pengiriman kuesioner ke 15.000 ru-
mahtangga sampel di Amerika Serikat;
pengiriman hanya dilakukan satu kali.
Temyata 20.468 penduduk menjawab
(response rate -63;4%); tidak di temukan
perbedaan bermakna antara penduduk
yang menjawab (responder) dengan
yang tidak menjawab (non responder)
dalam hal: jenis kelamin, penghasilan
dan tempat tinggal (urban vs. rural).
Sebaliknya orang kulit putih dan usia
lanjut cenderung lebih banyak menja-
wab (responding).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
17,6% wanita dan 5,7% pria pernah
mengalami sedikitnya sekali serangan
migren dalam setahun; prevalensi ter-
tinggi didapatkan di kalangan usia 35­45
tahun. Prevalensi di kalangan penduduk
berpendapatan rendah (<$10.000) 60%
lebih tinggi daripada di kalangan pen-
duduk berpendapatan tinggi (>$30.000);
dan di kalangan berpendapatan tinggi
tersebut, frekuensi serangannya lebih
rendah. Beratnya serangan tidak ber-
hubungan dengan usia, jenis kelamin,
tempat tinggal ataupun penghasilan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa
risiko migren terutama ada di kalangan
wanita bbrusia 30­49 tahun dengan
pendapatan rendah.
JAMA 1992; 267: 64-9
Hk
ASIKLOVIR UNTUK CHICKEN-
PDX
Setelah mempelajari tiga studi acak
tersamar ganda dengan plasebo di
Amerika Serikat, US FDA telah
menyetujui penggunaan Zovirax®
(asiklovir) untuk indikasi pengobatan
chickenpox pada anak-anak dan remaja
berusia 2 ­ 18 tahun.
Studi yang melibatkan hampir 1000
anak tersebut menunjukkan bahwa
anak-anak yang diobati menunjukkan
penyembuhan lesi kulit yang lebih ce-
pat, gejalanya mereda lebih cepat dan
meninggalkan lebih sedikit gejala sisa;
sementara efek samping yang dilapor-
kan tidak berbeda bermakna diban-
dingkan dengan plasebo.
Serip 1991; 1671: 24
Brw
DOSIS ASPIRIN
Ternyata aspirin dalam dosis 30 mg./
hari sudah cukup untuk mencegah
gangguan vaskular pada pasien-pasien
yang pernah mengalami transient
isehemic attack (TIA) atau stroke
ringan. Penelitian atas 3131 pasien yang
menerima 31 mg. atau 283 mg. aspirin
secara acak,menunjukkan bahwa setelah
follow-up selama rata-rata 2,6 tahun,
frekuensi kematian akibat gangguan
vaskular atau infark miokard/stroke non
fatal adalah sebesar 14,7%, sedangkan
di kelompok 283 mg. adalah sebesar
15,2%.
Penggunaan dosis kecil mempunyai
keuntungan tambahan berupa berku-
rangnya komplikasi perdarahan,
gangguan gastrointestinal dan efek
samping lainnya.
Serip 1991; 1671: 27
Brw
BAKTERURIA ASIMTOMATIK
Penelusuran atas 93 literatur yang
ada menunjukkan bahwa bakteruria
asimtomatik tidak selalu hams diobati.
Pengobatan dianjurkan pada anak-
anak balita dan bayi, wanita hamil dan
pada penderita bemsia > 60 tahun; se-
lain itu jga bila pasien tersebut mem-
punyai kelainan traktus urinarius,
mengalami kateterisasi atau manipulasi
saluran kencing lainnya.
Pengobatan tidak dianjurkan pada
anak-anak usia sekolah, wanita dewasa,
pria dan wanita tua dengan traktus
urinarius normal.
Acrh. Intern. Med 1990; 150: 1389-96
Hk
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 63