Infeksi, Perdarahan dan Hipertensi pada
Obstetri Ginekologi
Infeksi dalam Kehamilan dan
Persalinan
Rusli P. Barus
Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr Pirngadi, Medan
PENDAHULUAN
Infeksi merupakan penyakit yang sering menyerang ibu,
baik pads masa kehamilan maupun pada saat persalinan. Infeksi
ini dapat terjadi oleh karena faktor penanganan persalinan yang
kurang adekuat dan kurang bebas hama. Dilaporkan bahwa
infeksi merupakan salah satu dari tiga penyebab kematian pads
ibu hamil dan bersalin, selain perdarahan dan tekanan darah
tinggi.
Pada makalah ini dibatasi pembicaraan mengenai ketuban
pecah dini dan partus terlantar yang sering di jumpai pada bagian
Kebidanan RS Dr. Pirngadi Medan.
KETUBAN PECAH DINI
Definisi
Ketuban Pecah Dini (KPD; Premature Rupture of the
Membrane = PROM; Amniorrhexis) ialah robeknya selaput
ketuban pads setiap saat sebelum persalinan mulai atau sebelum
in
partu.
Insidens
-
RS Dr. Pirngadi Medan (1982) : 2,27% dari seluruh persa-
linan.
RS Hasan Sadikin Bandung (1979) : 5,05%.
RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta (1988) : 11,22%.
Etiologi/Faktor Predisposisi
Sampai saat ini penyebab KPD belum diketahui secara pasti,
tetapi berbagai penulis menyebutkan beberapa faktor predis-
posisi, antara lain :
1) Faktor selaput ketuban.
2) Faktor infeksi.
3) Faktor perubahan tekanan intrauterin yang mendadak.
4)
Faktor yang berhubungan dengan kebidanan dan gineko-
logi, seperti : multigravida, pernah mengalami KPD pada per-
salinan yang lalu, perdarahan antepartum, hamil ganda, hi-
dramnion, malposisi, disproporsi sefalo-pelvik, umur lebih dari
35 tahun, trauma vagina, dan lain-lain.
5)
Faktor sosio ekonomi yang rendah, seperti : defisiensi gizi,
vitamin C.
6)
Faktor antagonismus golongan darah A, B, O.
7)
Faktor merokok.
8)
Faktor keturunan.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan :
1)
Anamnesis : keluar air dari vagina.
2)
Pemeriksaan klinis, antara lain :
-
Pemeriksaan klinis langsung yaitu melihat air ketuban ke-
luar.
-
Pemeriksaan inspekulo, air ketuban mengalir keluar dari
kanalis servikalis (bila perlu dengan tekanan ringan pada fundus
uteri).
-
Periksa dalam, secara asepsis meraba tidak adanya selaput
ketuban.
3)
Pemeriksaan laboratorium :
-
Tes kristalisasi/tes arborisasi air ketuban.
-
Tes pH air ketuban dengan kertas indikator (air ketuban
bersifat alkalis dengan pH 7,0 - 7,5).
-
Suntikan zat warna intraamnion, pengecatan lemak, lanugo,
pengukuran kadar glukosa dan fruktosa, pemeriksaan sitologi sel
skuamosa janin).
4)
Pemeriksaan dengan ultrasonografi, menilai banyaknya air
ketuban, umur kehamilan, dan posisi janin.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80,
1992
57
Penanganan
Prosedur penanganan KPD :
1)
Penderitadirawat dirumahsakit,istirahatmutlakdanbokong
ditinggikan,
sedapat mungkin hindari periksa dalam.
2)
Diberikan antibiotika profilaksis atau terapi sedini mungkin
(suntikan PP 1,2 juta IU).
3)
Pemantauan denyut
jantung janin, pengamatan tanda-tanda
infeksi dan tanda-tanda mulainya persalinan.
4)
Pemeriksaan USG untuk konfirmasi diagnostik.
5)
Jika ada tanda-tanda korio-amnionitis dan bila pelvic score
> 5 langsung dilakukan induksi persalinan tanpa memandang
tuanya kehamilan. Jika persalinan belum selesai dalam waktu
6 -- 8 jam sebaiknya dilakukan tindakan operatif. Bila pelvic
score < 5, persalinan diakhiri dengan sectio Caesarea (SC).
Bagan Penanganan KPD
A.
Viable for life : ? 37 minggu/BB
2500 gram
a)
Observasi yang baik selama 8 -- 12 jam.
b)
Lalu dilakukan induksi partus bila belum ada tanda in partu.
c)
Anak letak lintang dan letak sungsang langsung SC.
B.
Non-viable for life : < 37 minggu/BB < 2500 gram
a)
Jika maturitas paru belum matang, dirawat dan diusahakan
agar kehamilan dapat dilanjutkan sampai berumur 37 minggu.
b)
Jika maturitas paru sudah matang, dilakukan induksi partus
setelah observasi 24 jam.
c)
Bila induksi partus gagal, dilakukan SC.
d)
Sementara menunggu, diberikan :
-- Suntikan PP 1,2 juta IU perhari, kalau perlu diberi anti-
biotika oral seperti Amoksisilin 500 mg 3x/hari.
-
Vitamin C dosis tinggi.
--
Spasmolitik/tokolitik, plasento-tropik.
Catalan :
1)
KPD dengan umur kehamilan < 26 minggu (BB 500 gram)
sebaiknya langsung dilakukan induksi/terminasi kehamilan
(survival rate mendekati nol).
2)
Tanda-tanda utama korio-amnionitis adalah : suhu
38°C,
air ketuban purulen dan berbau busuk, lekosit > 15.000/mm
3
.
Tanda-tanda lain adalah : takikardi, nyeri tekan Uterus, dan lain-
lain.
Komplikasi
-
Infeksi/sepsis.
-- Kematian janin karena infeksi dan/atau prematuritas.
PARTUS TERLANTAR
Pendahuluan
Persalinan di Indonesia masih banyak ditolong oleh dukun,
ditolong sendiri, atau oleh suaminya. Telah lama diketahui
bahwa kira-kira 80% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan,
dan kebanyakan dari mereka menerima pelayanan kebidanan/
persalinan dari dukun. Mereka tidak mengetahui mekanisme
persalinan. Pertolongan dilakukan berdasarkan pengalaman yang
didapat turun temurun, dan di samping itu mereka kurang me-
ngetahui keadaan persalinan yang bersifat patologik sehingga
dalam merujukan penderita ke rumah sakit, sudah dalam keadaan
terlantar. Keadaan inilah yang meninggikan angka morbiditas
dan mortal itas ibu dan anak. Hal tersebut di atas dapat juga terjadi
bila persalinan ditolong oleh penolong persalinan lain yang tidak
trampil.
Definisi
Partus terlantar adalah suatu keadaan fase akhir dari suatu
persalinan yang macet dan berlangsung lama, sehingga me-
nimbulkan komplikasi terhadap ibu maupun anak.
Etiologi
Penyebab partus terlantar adalah multikompleks, yang ber-
hubungan dengan pengawasan pada waktu hamil dan penata-
laksanaan pertolongan persalinan. Penatalaksanaan persalinan
yang tidak adekuat bisa disebabkan oleh :
-- ketidaktahuan
-
ketidaksabaran
-
keterlambatan merujuk.
Diagnosis
Gejala klinis, antara lain :
1)
Tanda-tanda kelelahan ibu :
-- dehidrasi dan kadang-kadang sampai syok, gangguan ke-
seimbangan cairan dan elektrolit
-- nadi cepat dan lemah
--
meteorismus
febris
-- his lemah sampai hilang
oliguria.
2)
Tanda-tanda infeksi intrauterin/intrapartum :
-- air ketuban yang keluar berwarna keruh kehijau-hijauan
atau keruh kecoklatan dan berbau.
--
suhu badan naik (>-- 38°C); leukosit > 15.000/mm
3
.
3)
Tanda-tanda gawat janin :
-- denyut jantung janin mula-mula meninggi, lalu menurun
sampai hilang.
-- air ketuban bercampur mekonium.
Palpasi :
-
his lemah sampai hilang.
-
gerakan janin lemah sampai hilang.
-
kadang dapat dijumpai tanda-tanda RUI.
Auskultasi :
-
denyut jantung janin melemah sampai hilang.
-
adanya meteorismus.
Periksa dalam :
Dijumpai kaput suksadaneum yang besar dan air ketuban
berwarna keruh kehijau-hijauan sampai kekuning-kuningan
serta berbau (meconium stain).
Komplikasi
1)
Ibu :
-- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
-
Dapat terjadi PPH.
-- Infeksi sampai sepsis.
-
Robekan jalan lahir.
58 Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
Fistula vesikovaginal dan/atau rektovaginal, vesikovaginal,
KEPUSTAKAAN
vesikokel, rektokel, dan prolapsus uteri.
1.
Cunningham FG, Mc Donald PC, Gant NF. Williams Obstetrics, 8th Ed.
2)
Anak :
Anak lahir dalam keadaan asfiksi sehingga menimbulkan
2.
Ch 38. Pretenn and posttemi pregnancy and inappropriate fetal growth.
Harger JH, Hsing AW, Toumola RE et al. Risk factor for preterm rupture
cacat otak yang menetap.
of fetal membranes : A multicenter case-control study. Am J Obstet
Gawat janin sampai meninggal.
Gynecol 1990; 163(1): 130-7.
3.
Larsen JW. Premature amniorrhexis. Obstet Gynecol Ann 1979; 8.
Penatalaksanaan
4.
Medical Committee Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-USU/RS Dr
1)
Perawatan pendahuluan :
Pimgadi Medan. Ketuban Pecah Dini (Premature Rupture of The Mem-
Pemberian infus cairan untuk rehidrasi cepat dalam 1 jam,
5.
branes = PROM).
POGI. Konsep Standar Pelayanan Medis Obsgin, Bagian I, Surakarta, Juni
diberikan larutan dextrose 5% sebanyak 1 liter dan larutan
1991.
Laktat-Ringer sebanyak 500 ml (2 : 1).
6.
Sarkawi
W, Roeshadi RH, Simanjuntak P. Ketuban Pecah Dini (KPD)
Penicillin procain 1,2 juta IU/im.
dengan kehamilan
prematur (Laporan Kasus). Pros Pertemuan Bmiah
Kortison asetat 100200 mg im.
Tahunan Pertama POGI, Jakarta, 26-27 Juni 1981.
7.
Sarkawi
W. Hasil penelitian ketuban pecah dini di RS Dr. Pimgadi Medan.
Dievaluasi kembali setelah rehidrasi 1 jam.
Skripsi Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-USU/RS Dr. Pimgadi Medan,
2)
Mengakhiri persalinan :
1983.
8.
Simanjuntak
P, Hutapea H, Tanjung MT, Roeshadi RH. Antibiotik
Mengakhiri persalinan partus terlantar tergantung kepada :
penyebab kemacetan
pro-
filaksis dalam kebidanan. Naskah Lengkap Simposium Antibiotik, Pang-
kalan Brandan, Makalah 17, 1980.
status presens penderita
9.
Sinaga
B, Reksoprodjo M. Meninjau ketuban pecah dini sebagai kasus
keadaan janin (fetal distress atau tidak).
rujukan di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Kumpulan Makalah
Tindakan yang mungkin dilakukan antara lain adalah
10.
POGI Jaya di PTP-V POGI.
Siregar D,Iskandar FR, Hasan B. Tinjauan penatalaksanaan ketuban pecah
augmentasi partus, ekstraksi vakum, ekstraksi forceps, sectio
dini. Naskah Lengkap Sidang Bmiah KOGI-IV Yogyakarta, 10-15 Juni
caesarea, sectio caesarea-histerektomi, atau operasi Porro.
1979.
Cermin Dunia Kedo/aeran, Edisi Khusus No. 80, 1992
'
59
Document Outline