background image
Pengalaman Praktek
Stetoskop
Penataran, lokakarya dan lain-lain bagi dokter-dokter Puskesmas merupakan saat yang
menyenangkan terlebih bila dilaksanakan di kota propinsi. Hal ini merupakan "liburan
gratis", kesempatan mengurus surat-surat dan nasib, berkumpul dengan teman-teman, dapat
menikmati makanan kegemaran yang tak ada di tempat tugas, dengan perkataan lain "bebas
dari kehidupan desa" untuk sementara waktu.
Biasanya kami "diasramakan" disuatu tempat, sehingga dapat saling melepas kangen,
membagi dan mendengar pengalaman sesama teman sejawat. Pada zaman tersebut belum
dikenal Posyandu, tetapi ada kegiatan yang hampir serupa itu yaitu turne. Turne ini
dilakukan oleh dokter Puskesmas bersama stafnya setiap bulan untuk turun kelapangan,
desa-desa, untuk melaksanakan program-program kesehatan selama beberapa hari. Pada
saat turne umumnya masyarakat menggunakan jasa pengobatan, semuanya lebih senang
berobat dari pada mendengarkan penyuluhan kesehatan. Dapat dibayangkan bila dalam
satu desa yang dikunjungi jumlah masyarakat yang mau berobat mencapai 300 - 400
Orang/ hari. Hal ini bukan karena semua sakit, tetapi mereka benar-benar memanfaatkan
jasa dokter untuk dapat diperiksa. Oleh sebab itu salah satu teman mengeluh : "Gawat,
lecet,
ang
can, kalau stetoskop belum diletakkan
rt
mud
eriku
engan
t
ak
mi
seb
dianggap dukun terus anda akan pakai
galaman saya mengenai
Kurang lebih 6 bulan y
ng t
ang sudah 3 minggu mende
h
g apabila
a
ah pembaringan si pasien, terdapat satu
tempayan (tampah) penuh
g
a hanya
a
n
h
si
Di
da
p
i tidak disepakati oleh sang ayah.
Jelas masalah dana. Betul dia punya seekor kambing, tapi kambing gaduhan (meme-
setiap turne kuping saya
hari". Sedangkan teman y
di bagian yang sakit sepe
mereka belum puas ". Ke
jalan keluarnya sebagai b
di telinga, dan diagnosa d
bayangkan stetoskop nempel-lepas selama 300 - 400 kali /
lain mengatakan : "he
daerah persendian lutut
anak tersebut. Lalu ... ?
ke RSU. Tapi pendapat
i di kepala (untuk sakit kepala) atau di lutut (untuk sakit encok)
ian salah satu teman yang terkenal paling kocak memberi
t : "begini saja, stetoskop tetap tergantung di leher, walkman
see-test , asyiiiikk !
Dr. Emiliana Tjitra
Jakarta
"Terkun"
Kalau anda jadi dok
hubungan dengan peny
hubungkannya dengan
Tetapi kalau anda selain di
jurus apa ?.
er
"dokter", maka hal-hal yang ber-
it, masyarakat desa masih ada saja yang menghubung-
puskesmas katakanlah
stik. Hal ini tentunya tak lepas dari ... dukun. Ini wajar.
ut dokter tapi juga
Pen
hal ini membuat perut saya jadi pusing. Ceritanya begini.
ang lalu menjelang praktek sore saya selesai datang seorang
etangganya untuk "manggil
guru. Beliau dimintai tolo
y
"
saya guna mengobati anaknya
ta sakit parah. Singkat cerita se
ri
telah kami sampai ditempat
dan lesu. Terharu karena rumah penderita hanya berupa gubug
direferal apa mam
?
tujuan, hati terasa trenyu
bodol, lesu karena terbayan
Mengenai mistik dug
pu
an saya benar. Di baw
dengan sesajian dilengkapi dengan kemenyan yang asapnya
an. Persis masuk rumah demit (setan). Saya berkata pada sang
mau memeriksa si anak bila segala, "tetek bengek
mengepul memenuhi ruan
ayah bahwa say
"
tadi
disingkirkan dari pandang
tadi dilaksankan.' "Duku
membuang sesajen tadi ke
Sambil memeriks
n saya. Eeeee
.
tanpa menunggu satu dua menit, perintah saya
gombal" demikian umpat sang ayah agak demonstratip
alaman muka.
anak saya geleng-geleng kepala. Sudah berapa lama pen-
a
deritaan si anak ini ?. sana sini terdapat abses. Di lengan, di paha, di punggung,
n lain lain. Betul-betul sang penyakit menjadi raja di tubuh
asti anda sependapat dengan kami bila si anak musti dikirim
aya tersebut sama sekal
s
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
56
background image
lihara saja) Surat miskin ? pak kepala desa bilang familinya mampu-mampu, sokonganan
angnya untuk bayar SPP. Judeg tidak ? ....
a kira langka dalam kamus dokter praktek di kota. Sambil
di, serta mencari jalan keluar yang paling balk dari sekian jalan
yang'tidak balk, kami berdiri sambil memandang pasien sambil menghadap ke Barat.
a di Barat). Terasa berat memikirkan masalah Mi. Kami
ngan di dada kemudian tangan kiri mengusap usap muka yang
an menurut ceri
ketika bapak di panggil juga suka begitu dan pasiennya sembuh. Teta
am, biasanya kok mati". Eeeee jadi saya pusing dan berpik
mbaca mantera "jopa japu" seperti dukun ? Ya ampun pak MENKES
famili ? Enggan karena u
Hal seperti ini say
merenungkan masalah ta
(karena ambennya ad
menopangkan kedua le
memang tidak gatal. Sambil menutup mata pekerjaan tersebut saya lakukan berulang-ulang
tanpa sadar. Masalahnya memang judeg mencari pemecahannya. "Alhamdullilah anakku
hidup" "Alhamdullilah anakku hidup". Demikian terdengar gumam beberapa orang yang
ada di bilik. (Saya tidak tahu maksudnya, belakangan baru saya ketahui).
Sesaat kemudian saya mendapatkan jalan keluar. Sang ayah saya sarankan pagi
harinya saya suruh ke Puskesmas untuk "membeli" obat dengan memakai resep yang saya
buat (dengan sendirinya melalui prosedur yang berlaku).
Tentunya anda sependapat dengan saya bahwa di Puskesmas banyak obat-obat bagus
serta cocok untuk penyakit tersebut kan ? Dan murah.
Mungkin karena sudah ada sambung rasa antara saya dan si ayah, masalah obat
Puskesmas tidak menjadi niasalah.
" Sampai berapa lama pak dokter ?"
" Sampai sembuh, .. kata saya mantap.
" Ya, saya sanggup," tukas sang ayah dengan kepercayaan 100%.
Nah setelah kami dalam perjalanan pulang berkatalah pak guru tadi. " Pak dokter,
sebenarnya sanak keluarga mereka mampu dan mau seandainya si anak tadi. diopnamkan.
Tapi kalau bisa tentunya tidak usah buka ? Lalu usaha pertama adalah menolak saran pak
dokter. Kemudian mereka melihat bagaimana sikap dan gerak gerik pak dokter. Menurut
kepercayaan di sini pak dokter ini punya "mukjizat" yaitu bila pak dokter berdiri kemudian
menghadap ke barat, tengadah ke atas sambil mengusap-usap muka lebih dari3 x berarti si
pasien akan sembuh. Makanya tadi setelah bapak melakukan hal-hal tadi banyak di antara
mereka bergumam "Alhamdullilah anakku hidup". D
tanya, di tempat lain
pi kalau bapak nekad
ir tujuh
memaksa pasier opn
keliling tad dikira me
"
dalem nyadong duko sing katah"
Dr. Pratomo
Ulujami,Pemalang
RALAT:
Dalam CDK Nomor 49/1988, hala
cetak pada judul tulisan yang berbu
Aktivitas Iodium Sebagai Germis
seharusnya berbunyi :
Aktivitas Iodium Sebagai Germis
Dengan demikian kesalahan kami b
man 30 terdapat kesalahan
nyi :
ida Sarkoidosis
ida
etulkan.
Redaksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 57