Pengalaman Praktek
LINTAH DALAM HIDUNG
Kejadian ini didapat dari hasil perjalanan Puskesmas keliling ke daerah terpencil dan
terjauh di wilayah kerja Puskesmas Tentena yaitu Desa Panjoka dan Uelincu berjarak ±30
Km dari jalan pusat Kecamatan. Jalan setengah menyusuri sungai di tengah hutan dan
melintasi padang.
Waktu itu musim hujan, lintah-lintah daun banyak bertebaran di daun pohon-pohon.
Tiba-tiba seorang anggota Puskel menjerit karena merasa ada sesuatu yang dingin masuk
ke lubang hidungnya, dan diterka lintah daun. Diusahakan mengeluarkannya dengan
pinset tapi tidak berhasil, dicoba berulang-ulang tapi tak berhasil juga. Akhirnya hidung
luar yang kemasukan lintah dibubuhi tembakau rokok, dan disiapkan dekat lubang hidung
mangkuk air bercampur tembakau. Tak lama kemudian lintah itu merosot keluar dan jatuh
di mangkuk air.
Semuanya menarik nafas lega karena kegaduhan ini bisa teratasi.
Dr. Aryawan Wichaksana
Puskesmas Tentena Kab. Poso - Sulteng
OPERASI KATARAK
Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satu upaya Pemerintah adalah
mengurangi kebutaan akibat katarak melalui Upaya Kesehatan Mata. Sejalan dengan 1tu,
di Kecamatan kami atas kerjasama Perdami-Dharmais diadakan operasi katarak cuma-
cuma yang tahun 1992 merupakan operasi yang kedua.
Ada satu pengalaman unik saat dokter ahli mata hendak melakukan anestesi parabul-
bar. Waktu itu seorang penderita telah siap untuk disuntik. Dokter tersebut memeriksa
kembali mata yang ditandai plester di atas alisnya tanda siap dioperasi. Mata telah diberi
midriatik dan telah dipotong bulu matanya. Lihat-lihat mats ini kan sudah afaki,
katanya sambil memanggil kami. Coba lihat pantulan cahayanya, sambungnya lagi.
Kemudian dokter ahli mata bertanya kepada penderita, "Ibu, mata kanan ini dulu
sudah pernah dioperasi ?"
"
Bukan hanya dikupas saja," jawab si ibu. Memang di
daerah kami, agar orang tak takut operasi katarak dikatakan kupas saja.
"
Jadi sekarang yang dioperasi mats kiri," kata dokter tersebut sambil memindahkan
plester yang rupanya telah dipindahkan oleh si penderita.
Penderita dipindahkan ke paramedis untuk dipersiapkan mata kirinya. Namun
sejenak kemudian, penderita bangun - turun dari tempat tidur. "Saya tak mau kalau
mata kanan saya mau. Mata kiri masih bisa melihat. Sedang yang kanan kabur," katanya
sambil keluar. Ada-ada saja !
dr. Betty Rossihermiatie
Puskesmas Saparua
Kecamatan Saparua
Maluku Tengah
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
60