Pengalaman Praktek
Selamat Jalan Seorang Ibu Muda
Pagi itu, belum selesai saya meletakkan tas di meja kantor,seorang staf senior memberi
laporan bahwa pagi itu ada lagi seorang ibu melahirkan yang meninggal dunia.Saya terdiam
sejenak, kemudian saya kumpulkan beberapa orang staf puskesmas.Ibu bidan yang belum
sempat mandi dengan pakaian lusuh dan wajah kusut, bidan desa muda tampak stress,
seorang perawat yang tak kalah resahnya. Semua tampak berantakan, karena mereka
semalaman begadang di rumah si ibu yang meninggal untuk menolong, membujuk ke
rumah sakit dan memberi semua yang mereka miliki pada si korban. Sayang mereka tidak
berhasil. Wajah stress, gundah, marah dan sedih bercampur aduk. "Coba ceritakan,
bagaimana si ibu yang selesai melahirkan tersebut meninggal dunia".
Kemudian ibu bidan bercerita dengan nada emosi , "dokter, saya dipanggil pukul
03.00 dini hari oleh seorang bapak dan diberitahu bahwa istrinya sakit perut setelah
melahirkan. Saya tidak percaya begitu saja, karena orang sini sering tidak berterus terang
tentang sakit keluarganya. Akhirnya saya bersama bidan desa berangkat berjalan kaki
kerumahnya di kaki bukit, di tengah kebun dan saya dapatkan seorang ibu yang habis
melahirkan dalam keadaan shock, demam, kulit belakang melepuh kehitaman dan
perdarahan. Keluarga si ibu duduk disekitarnya dengan memamah sirih pinang dengan
wajah-wajah tanpa salah. Mengapa sekarang baru saya dipanggil ? tanya saya. Tak
seorangpun menyahut. Siapa yang menolong persalinan ini ? merekapun juga tidak
menyahut. Mereka takut mengakui menolong persalinan karena takut dilaporkan ke pihak
berwajib.Saya lakukan tindakan emergensi,pemasangan infus di dua tempat,kami lakukan
test PPC. Saya bujuk keluarganya untuk membawa ibu yang sakit ini ke puskesmas atau
rumah sakit.Tetapi semua menggelengkan kepala.Saya paksa lagi dengan memberi banyak
alasan, penyuluhan sesuai buku panduan dan berbagai cara lainnya,mereka tetap menolak.
Akhirnya saya suruh membawa orang sakit ini pindah rumah yang di tepi jalan raya
agar mudah mencari alat transportasi. Keluarganya tidak menyahut. Suaminya sudah
menghlang entah ke mana, pergi diam-diam saat saya katakan bahwa ibu ini perlu di
bawa ke rumah sakit. Akhirnya para tetangga, hanya para ibu, yang memikul ibu sakit ke
rumah di tepi jalan raya. Hanya para ibu yang susah payah, ditengah laang, di kaki bukit,
yang bersedia susah payah memikul ibu sakit pindah ke rumah tepi jalan.Mereka terdengar
bergumam sendiri-sendiri, tak jelas nada dan isinya. Rombongan sampai di rumah tepi
jalan raya pukul lima pagi. Saya bujuk lagi ibu dari si sakit agar membawa anaknya yang
sekarat ini ke rumah sakit. Si ibu tua diam seribu bahasa, dan akhirnya dia berucap "dia
bukan anak kandung saya, dia anak pungut. Saya tidak punya uang untuk membayar bila
harus ke rumah sakit. Suaminya saja sudah lari ke kampung nun jauh di sana. Kalau dia
mati biar saja, biar saya yang pelihara anaknya. Ke rumah sakit membuat kami repot"
kata ibu si korban dengan nada tak berdosa. Saya marah sekali dokter, hampir saja saya
tempeleng. Kalau tidak punya uang, pakai dulu uang saya, dan kambing ini saya bawa
sebagai jaminan, nanti ibu kembalikan uang saya dan kambing saya kembalikan ke ibu
lagi. "Jangaaan" ibu tua itu berteriak," itu milik saya satu-satunya". Akhirnya saya sudah
putus asa, saya suruh seorang perawat memanggil Pastor agar dapat mendoakan si ibu
muda ini bila memang sudah saatnya meninggal dunia. Setelah Pastor datang, Pastor
memberi nasehat agar membawa si sakit ke puskesmas atau rumah sakit, tetapi tetap
mendapatkan jawaban yang sama. Pastor dengan disertai ibu bidan, bidan desa, perawat
dan frater berdoa bersama-sama dan selesai berdoa, selesai sudah riwayat si ibu muda".
Ibu bidan mengakhiri ceritanya dengan nada pilu.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
60
Saya tidak ada kata lagi untuk dikomentarkan. Semuanya sudah jelas. Dan memang
begitu adanya kebanyakan daerah NTT, apalagi yang di daerah di pelosok nun jauh dari
kota. Memang bisa dibilang bahwa hidup, mati itu tidak lebih dari kenyataan biologis
semata seperti halnya makan dan minum. Tetapi tatkala seorang harus meninggal, seperti
ibu muda 24 tahun ini, tentu meninggalkan guratan pedih di hati kita semua, terutama
insan kesehatan. Dia si ibu muda, yang tentunya punya harapan hidup lebih lama, sayang
harus meninggal di tengah-tengah orang yang tidak mencintainya lagi. Ibu angkat yang
menjadi tumpuan harapan, karena kedua orang tua kandungnya sudah tiada entah ke
mengapa, suami yang menjadi tambatan hati satu-satunya, ternyata melarikan diri dari
tanggung jawab saat dia dalam kesengsaraan yang tiada tara. Maka seandainya dia bisa
berkata, hanya kepada Tuha Yang Maha Esa sajalah dia bisa mendapatkan kasih sayang
yang dia rindukan. Maka saat dalam kondisi yang tak tertanggungkan lagi, Tuhan
memanggilnya, dan semoga si ibu muda damai dalam kasih sayang Tuhan Yang Maha
Esa, seirama doa yang dilantunkan bapak Pastor, frater, bidan puskesmas, bidan desa
dan perawat. Maka jelas, bahwa hidup dan mati bukan hanya kenyataan biologi semata,
meainkan suatu rangkaian realitas yang penuh filosofi dan makna, sesuai dengan kodrat
Tuhan Yang Maha Esa.
NTT memang unik. Semakin kita mengerti permasalahan kesehatan, semakin kita
menyadari bahwan kita terbelit dalam tali permasalahan yang tak jelas ujung pangkalnya.
Di saat propinsi lain angka MMRnya sekitar 450 per 100.000 kelahiran hidup, di NTT
MMR nya masih sekitar 1150 per 100.000 kelahiran hidup, di NTT MMR nya masih
sekitar 1150 per 100.000 kelahiran hidup. Di saat propinsi lain mengalami penurunan
MMR secara tajam,perbaikan derajat kesehatan secara menyolok, NTT terjadi sebaliknya.
Semua berjalan secara lamban. Deteksi dini resiko tinggi hanya 2%, sementara angka
komplikasi obstetri sekitar 24% yang berupa pendarahan, prematur, BBLR, cacat
kongenital, retensio plasenta, infeksi dan lain-lainnya. Dan di saat mengawali tahun
baru 1997 ini, bulan Januari di kecamatan kami telah dua ibu meninggal dunia saat
melahirkanSungguh kenyataan yang tragis dan menyedihkan. Keluarga panggil petugas
kesehatan bila ibu sudah sekarat. Mereka lebih senang ke dukun wlaupun 50 meter dari
rumahnya ada polindes yang siap dengan bidan desanya.Hampir semua kejadian kematian
maternal, ibu bidan dan perawat dipanggil datang hanya untuk ikut berdoa saja, karena si
sakit sudah dalam keadaan yang tidak mungkin di tolong lagi dengan fasilitas yang mini-
mal. Maka akhirnya permasalahan kesehatan ibu dan anak di NTT tidak ada habis-
habisnya, entah sampai kapan.
Ibu hamil kebanyakan sudah periksa ke petugas kesehatan. Hampir semua desa ada
bidan desanya. Deteksi resiko tinggi ibu hamil rendah sekali. Namun saat melahirkan
mereka justru pergi ke dukun atau minta pertolongan keluarga sendiri. Mereka datang
lagi ke ibu bidan bila kondisi sudah demikian kritis, maka tentu hasilnya tidak optimal.
Angka kematian maternal, angka kematian bayi tetap tinggi. Sebaliknya para bidan desa
banyak yang frustasi. Maka kejadian akan semakin tidak jelas ujung pangkalnya bak
lingkaran setan. Entah sampai kapan.
Maka tentu ada yang kurang benar. Tetapi siapa dan dimana, ini yang tidak jelas.
Maka barangkali perhatian yang besar beruppa dana, tenaga dan fasilitas merupakan
salah satu kuncinya. Sayangnya NTT bukab tempat yang menarik bagi para profesional
kesehatan, karena NTT jelas-jelas tidak menjanjikan masa depan. Kunci yang lain adalah
pengawasan yang intensif justru titik awal kerawanan. Komitmen yang tinggi dari jajaran
kesehatan, pemerintah daerah dan masyarakat mutlak diperlukan bila kita ingin
membangunkan propinsi kita tercinta ini. Komitmen untuk tidak mentolerir sikap mental
masyarakat yang begitu mudahnya melepas anggota keluarganya untuk pergi tak kembali
menghadap Sang Pencipta.
Sayang, mungkin komitmen ini sering berubah-ubah, naik turun seirama terbit dan
tenggelamnya sang mentari.
Dr.Sutrisno
Puskesmas-Maubesi, Insana
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 61