background image
Pengalaman Praktek
EMBRIOTOMY DAN "PONTIANAK"
pada suatu kunjungan di desa Molore, saya dijemput perahu motor tempel untuk
menolong seorang ibu di desa yang telah dilewati kunjungan 4 hari lalu. Setelah tiba,
ibu (G3PsHO) ..... tersebut kesulitan melahirkan bayinya sejak 2 hari lalu, bayi sudah
meninggal, dengan keadaan satu kakinya ada di luar. Keadaan ibu terbaring lemah, tensi
100/70 mmHg, nadi 80 x/menit, lemah teratur, tanpa perdarahan. Dikelilingi dukun
kampung pengusir "pontianak" (kuntilanak ?) dengan perlengkapannya, sedangkan
dukun beranak terlatih duduk jauh disudut. Sedikit informasi bahwa, cara dukun beranak
disini menolong persalinan adalah memberi komando dari jauh tanpa memegangi
penderita, bagian bawah tubuh penderita dibungkus sarung, sehingga suing bayi keluar
sendiri dan jatuh (brojol), lalu tali pusat tak segera dipotong, meninggu seluruh placenta
keluar. Hal ini kadang juga dilakukan dukun terlatih, masih sulit mengubah kebiasaan ini.
Melihat keadaan ini, saya sarankan keluarga untuk dikirim ke RSU Kendari (Sulawesi
Tenggara) sedangkan desa ini wilayah Sulawesi Tengah, mereka keberatan karena
jaraknya jauh (8 jam ngebut dengan motor tempel 25 PK). Keluarga menyerahkan kepada
saya untuk bertindak atau tidak bertindak.
Saya menduga jalan lahir sudah kembali menyempit, sehingga tidak mudah me-
ngeluarkan bayinya. Apa boleh buat, setelah berdoa dalam hati, ambil posisi berlutut
sesuai keadaan penderita terbaring dilantai papan beralaskan tikar. Sedikit menarik
bertenaga, rumah bergoyang (rumah panggung tua diatas pantai). Mulai keluar keringat
sebesar biji jagung, apalagi bila penderita berteriak kesakitan. Tensi dan nadi diawasi
seorang staf saya. Setelah basah kuyup, dan lutut lecet (karena bergesek papan) bagian
badan berhasil ditarik keluar. Sekarang tinggal kepala, bagaimana caranya ? bila di-
lakukan embriotomi apa reaksi keluarga dan masyarakat ?? belum tentu mereka pereaya
bahwa bayi sudah meninggal didalam, bisa-bisa dituduh membunuh! Saya pilih cara biasa
tanpa embriotomy, dan berkat kuasaNYA jua, kepala dapat ditarik keluar. Periksa jalan
lahir, tidak ada robekan dan tiada perdarahan.
Seluruh penunggu di dalam dan di luar rumah menarik nafas panjang, lega dan sudah
akan berani tidur di dalam rumah kembali, karena sejak kejadian tersebut mereka tidur di
luar rumah atau di kolong rumah, dengan menyalakan api unggun karena takut didatangi
"pontianak". Langka tapi ada.
Dr. Aryawan Wichaksana
Puskesmas Ulunambo-Poso
Sulawesi Tengah
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 61