HASIL PENELITIAN
Gambaran Perilaku Penduduk
Mengenai Kesehatan Lingkungan
di Daerah Pedesaan Subang
Jawa Barat
Kasnodihardjo, Siti Sapardiyah S, Sunanti Zalbawi, D. Anwar Musadad, Sri Soewasti Soesanto
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Secara umum dapat dikatakan bahwa terwujudnya derajat
kesehatan masyarakat secara optimal yang merupakan salah satu
unsur kesejahteraan umum dan tujuan nasional adalah tercapai
nya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk. Namun perlu
disadari bahwa derajat kesehatan sangat dipengaruhi oleh ling-
kungannya, dalam hal ini lingkungan yang kurang atau sama
sekali tidak menguntungkan ditinjau dari segi kesehatan.
Menurut Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 1991
(1)
, angka kematian bayi di Jawa Barat masih tinggi
yaitu 116,9 perseribu kelahiran hidup. Penyebab tingginya angka
kematian bayi tersebut ialah karena penyakit-penyakit infeksi
seperti diare, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), TBC dan
malaria. Penyakit-penyakit tersebut sangat erat kaitannya de-
ngan kondisi lingkungan yang kurang sehat dan diare menempati
urutan pertama penyebab kematian pada bayi.
Sebagai gambaran, berdasarkan hasil Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) 1992 di Jawa Barat angka kesakitan
karena diare pada bayi 11,0%. Sedangkan prevalensi diare pada
anak usia balita di propinsi tersebut berdasarkan SDKI 1991
sebesar 17,9%
(2)
.
Derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu lingkung-
an, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Ke empat
faktor tersebut saling terkait dan faktor lingkungan dan perilaku
adalah yang paling besar pengaruhnya terhadap derajat kese-
hatan
(3)
. Ada tiga macam lingkungan yaitu lingkungan fisik,
lingkungan biologi dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik ter-
masuk di dalamnya tanah, air dan udara serta interaksi satu sama
lain di antara faktor-faktor tersebut. Lingkungan biologi terma-
suk dalam hal ini semua organisme hidup baik binatang, tumbuh-
tumbuhan maupun mikroorganisme kecuali manusia itu sendiri.
Sedangkan lingkungan sosial termasuk semua interaksi antara
manusia dengan makhluk sesamanya yang meliputi faktor sosial,
ekonomi, kebudayaan, psikososial dan lain-lain
(4)
. Pembahasan
ini lebih menekankan keterkaitan antar lingkungan fisik dan
perilaku manusia.
Dewasa ini masalah utama yang menyangkut hubungan
antara lingkungan dan kesehatan manusia adalah masalah pen-
cemaran lingkungan. Kejadian pencemaran lingkungan karena
kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat, di samping
berbagai kondisi sosial ekonomi yang ada serta kurangnya fasili-
tas kesehatan yang memadai. Kondisi demikian mempengaruhi
keadaan kesehatan lingkungan dan status kesehatan masyarakat.
Sejak adanya manusia, lingkungan fisik menerima bahan
buangan dan menderita akibat samping dan kegiatan manusia.
Sampai batas tertentu lingkungan fisik dapat menerima segala
macam buangan dan akibat samping kegiatan manusia. Apabila
batas tersebut dilampaui, daya dukung tingkungan terhadap
manusia yang ada kurang sehingga terjadi apa yang dinamakan
pencemaran lingkungan dengan segala akibat negatif terhadap
keadaan kesehatan lingkungan dan kesehatan manusia. Yang
dimaksud kesehatan lingkungan ialah "suatu keseimbangan
ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungannya agar
dapat menjamin keadaan sehat dan manusia". Keadaan sehat
mencakup manusia seutuhnya (the whole man) dan tidak hanya
sehat fisik saja, tetapi juga sehat mental dan hubungan sosial
yang optimal di dalam lingkungannya
(5)
. Dalam buku Pedoman
Hidup Sehat (Depkes RI, 1993), kesehatan lingkungan meliputi
penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia, pembuang-
an sampah dan pembuangan air limbah rumah tangga
(6)
. Dalam
penelitian ini, kesehatan lingkungan selain menyangkut empat
komponen tersebut juga menyangkut pengurasan tempat penam-
pungan air.
BAHAN DAN CARA
Pemilihan daerah penelitian di Subang Jawa Barat didasar-
kan pada pertimbangan logis bahwa Jawa Barat angka kematian
Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian tentang
Perilaku Hidup Sehat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan
dan Kesehatan Pada Tingkat Keluarga.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
58
bayinya masih cukup tinggi. Berdasarkan perkiraan prevalensi
penyakit yang ada hubungan dengan lingkungan terutama diare
berkisar antara 8%12%, dengan probabilitas 95% maka besar
sampel ditetapkan 1000 orang. Mengingat relevansinya dengan
angka kematian bayi, maka ditetapkan untuk memfokuskan
kelompok sasaran pada ibu rumah tangga terutama yang mem-
punyai bayi/anak usia balita. Ibu dalam keluarga adalah orang
yang paling tahu tentang keadaan dan kebiasaan keluarganya,
dan bertanggung jawab terhadap kesehatan anaknya. Dengan
demikian ibu rumah tangga diharapkan dapat memberikan
informasi atau menjawab secara benar atas pertanyaan-pertanya-
an yang diajukan.
HASIL
Ibu rumah tangga yang berhasil diwawancarai 97 orang atau
99,7% dari jumlah sampel yang diharapkan. Hasil perhitungan
rata-rata dan penjumlahan beberapa komponen perilaku kese-
hatan lingkungan menunjukkan, bahwa perilaku penduduk yang
dapat dikatakan positif dalam arti benar sebesar 53,7%. Perilaku
benar tersebut tercermin pertama pada penyediaan air bersih un-
tuk kebutuhan keluarga. Dalam hal ini perilaku dikatakan benar,
jika penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan keluarga, air
diambil dari sumur gali, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM),
sumur pompa tangan (SPT) atau sumur artesis (Tabel 1).
Pengumpulan data melalui wawancara menggunakan
kuesioner disertai pengamatan yang dilakukan dengan cara
mengunjungi rumah responden. Perekaman data menggunakan
komputer menggunakan paket program dBase III dan analisis
data menggunakan paket program SPSS.
Tabel 1. Persentase perilaku benar dalam kaitannya dengan kesehatan
lingkungan
(n
=
997)
Komponen perilaku
Jumlah
%
Penyediaan air bersih
927
93,0
Pengurasan tempat penampungan air
503
50,5
Pembuangan kotoran manusia
334
33,5
Pengelolaan sampah
656
65,8
Cam penyaluran air limbah rurhah tangga
257
25,8
Rata-rata 535,4
53,7
Selanjutnya perilaku sehubungan dengan kebersihan tempat
penampungan air dapat dikatakan benar, jika frekuensi pengu-
rasan dilakukan setiap hari atau paling sedikit 2 kali dalam se-
minggu. Sedangkan perilaku pembuangan kotoran manusia di-
katakan benar jika melakukannya tidak di kali/sungai dan atau
tidak di halaman rumah. Adapun perilaku benar dalam pem-
buangan sampah, jika cara pengelolaannya dengan cara ditam-
pung pada suatu wadah yang telah disediakan seperti keranjang,
plastik, tong atau berupa bak sebelum dibuang di tempat pem-
buangan akhir. Demikian pula perilaku pembuangan air limbah
dikatakan benar, jika disalurkan melalui got atau lubang khusus
yang jaraknya relatifjauh > 15 meter dari sumber air minum.
Gambaran tentang perilaku benar dalam kesehatan lingkungan
tertera pada Tabel 1.
PEMBAHASAN
Sebagaimana telah dicanangkan dalam Sistem Kesehatan
Nasional (SKN), masyarakat mempunyai peranan penting di
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan diri sendiri dan
lingkungannya, karena kesehatan merupakan kewajiban dan
tanggungjawab setiap orang
(7)
. SKN tersebut mengandung suatu
pengertian bahwa, dalam penyelenggaraan upaya kesehatan,
peranserta masyarakat dinyatakan ikut menentukan keadaan
kesehatan, baik pada masa sekarang atau masa yang akan datang.
Ini berarti setiap orang selaku warga masyarakat diharapkan
mendukung dan ikut serta dalam menciptakan kehidupan yang
sehat. Untuk mencapai keadaan demikian, perlu adanya sikap
dan atau perilaku yang positif di bidang kesehatan.
Berbagai teori kesehatan masyarakat menggambarkan be-
tapa pentingnya keseimbangan antara penyebab penyakit, manusia
dan lingkungan. Pada faktor manusia itu sendiri ada suatu hal
yang sangat berpengaruh, yaitu perilaku. Perilaku manusia dapat
mempengaruhi dua faktor yang lain tersebut, yaitu lingkungan
dan penyebab penyakit. Perilaku manusia yang positif akan da-
pat menjadikan lingkungan yang baik, serta memperkecil ke-
mampuan kuman dan penyebab penyakit lainnya.
Keluarga sebagai unit terkecil di dalam masyarakat sangat
berperan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Di dalam
keluarga, terdapat individu-individu yang dapat ikut berperan:
namun di antara individu-individu tersebut, yang paling po-
tensial adalah ibu rumah tangga. Wanita/ibu rumah tangga pada
umumnya sangat dominan dalam mengurus keluarga. Keba-
nyakan wanita tidak bekerja dan hanya berperan sebagai ibu
rumah tangga saja; seandainya bekerja, ia akan tetap mengurus
keluarga yaitu suami dan anak-anaknya. Dalam kaitannya de-
ngan masalah rumah tangga, wanita (ibu) adalah orang yang
paling dekat dengan anak dan paling bertanggung jawab ter-
hadap kesehatan keluarga terutama anak-anaknya. Dalam pada
itu, ibu rumah tangga diharapkan dapat lebih berperan di dalam
menjaga kesehatan keluarga terutama anak-anaknya melalui
perilaku positif dalam kesehatan lingkungan.
Pada hasil dikemukakan bahwa tindakan ibu-ibu yang dapat
dikatakan benar dalam kesehatan lingkungan hanya 53,7%. Bila
dikaji pada tiap komponen perilaku benar dalam kesehatan ling-
kungan terutama yang paling menonjol rnenyangkut penyediaan
air bersih sebesar 93,0%. Disusul kemudian kebiasaan atau cara
pengelolaan sampah sebesar 65,8% dan frekuensi pengurasan
tempat penampungan air sebesar 50,5%. Hal ini tentunya me-
rupakan perilaku yang menjurus pada suatu kebiasaan masyara-
kat yang positif.
Dipandang dan aspek sosial, perilaku penduduk pada umum-
nya dalam penyediaan air bersih pada penel itian ini dapat dikata-
kan benar dan sebagian besar memanfaatkan air sumur gali,
boleh jadi air sumur dianggap cukup bersih sehingga dapat diper-
gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Air yang me-
menuhi syarat untuk kebutuhan rumah tangga terutama untuk
minum dan masak harus memenuhi tiga persyaratan, yaitu syarat
fisik, kimiawi dan bakteriologis. Memenuhi persyaratan fisik
jika air tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Air me-
menuhi persyaratan kimiawi jika berdasarkan pemeriksaan labo-
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 59
ratorium tidak mengandung bahan kimia yang membahayakan
kesehatan. Air memenuhi persyaratan secara bakteriologis jika
berdasarkan pemeriksaan laboratorium tidak mengandung mikro-
organisme yang dapat menyebabkan penyakit
(8)
. Jika mengacu
pada persyaratan tersebut, tentunya air sumur gali kurang me-
menuhi persyaratan karena tidak terlindung dari pencemaran dari
tanah sekitar maupun dari atas.
Perilaku benar dalam kesehatan lingkungan tercermin pula
pada pengelolaan sampah, dan ini akan memberikan pengaruh
positif terhadap kesehatan manusia dan lingkungannya. Dengan
pengelolaan sampah yang baik, tidak menjadikan atau menyedia-
kan tempat bagi vektor penyakit sejenis serangga dan binatang
pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit
tertentu seperti tipus, diare, demam berdarah dan lain-lain. Tam-
paknya pola pembuangan sampah tidak jauh berbeda antara
daerah yang satu dengan yang lain. Sebagian besar responden
(65,8%) menyatakan membuang sampah dengan cara mewadahi
di tempat yang telah disediakan seperti kantong plastik atau
keranjang sebelum dibuang di halaman dengan cara membuat
lubang atau dibakar di halaman. Hasil penelitian di daerah pe-
desaan Ciletes, Tanggerang Jawa Barat, menggambarkan pola
perilaku/kebiasaan yang lebih kurang sama, bahwa 96% pen-
duduk membuang sampah dengan cara mengumpulkan di suatu
tempat di halaman, kemudian dibakar
(9)
. Perilaku demikian me-
nunjang kebersihan lingkungan. Hanya saja proses pembakaran
sampah akan mengganggu pernafasan, menyebabkan polusi udara
serta penurunan kualitas udara.
Seringnya penduduk membersihkan tempat penampung-
an air mencerminkan perilaku positif yang menunjang upaya
pencegahan penyakit dernam berdarah, karena tidak akan mem-
berikan kesempatan kepada nyamuk Aedes aegypti untuk ber-
kembang biak. Pada penelitian in perilaku pengurasan tempat
penampungan air yang dapat dikatakan benar sebesar 50,5%.
Mereka menyatakan selalu membersihkan tempat penampungan
air paling sedi kit dua kali dalam seminggu
(10)
.
Di sisi lain,tampaknya perilaku pembuangan kotoran manusia
masih merupakan suatu kebiasaan yang kurang menunjang upaya
peningkatan kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Di daerah penelitian di Subang baru 33,5% penduduk membuang
kotoran manusia di jamban. Dengan perkataan lain, sebagian be-
sar (66,5%) masih berperilaku kurang positif, karena membuang
kotoran di sungai atau di daerah persawahan atau di kebun.
Pembuangan kotoran manusia (tinja), merupakan bagian
yang penting dari kesehatan lingkungan. Di hampir sebagian
besar negara-negara, pembuangan kotoran manusia yang layak
merupakan kebutuhan kesehatan masyarakat yang paling men-
desak. Pembuangan yang tidak adekuat dan tidak saniter, ber-
peran dalam pencemaran tanah dan sumber air bersih yang di-
butuhkan manusia untuk minum, masak, mandi dan mencuci.
Akibat langsung, yaitu meningkatnya insiden penyakit-penyakit
tertentu seperti diare, kolera, amuba serta tipus yang ditularkan
melalui air yang terkontaminasi. Selain itu kotoran manusia di
permukaan tanah lama-kelamaan menjadi kering; setelah kering
terbawa tiupan angin bersama-sama debu dan menyebar ke-
mana-mana sambil membawa kuman penyakit seperti bakteri,
telur cacing, kista amuba dan lain-lain. Di samping itu lalat dan
insekta lainnya bisa hinggap di atas tinja dan selanjutnya hinggap
di atas makanan sambil membawa kuman penyakit seperti ter-
sebut di atas.
Penurunan kondisi higiene lingkungan akan menyebabkan
menurunnya kesejahteraan masyarakat. Peningkatan insiden pe-
nyakit yang ditularkan melalui air akan disertai dengan mening-
katnya morbiditas penyakit lain yang penyebabnya tidak langsung
berhubungan dengan kotoran manusia.
Gambaran tentang perilaku pembuangan kotoran manusia
di daerah pedesaan Subang tersebut kurang lebih hampir sama
dengan gambaran secara nasional. Berdasarkan SKRT 1986,
penduduk pedesaan yang menggunakan jamban sewaktu buang
air besar baru mencapai 37,5%. Tampaknya pembuangan kotor-
an manusia masih merupakan masalah dalam kesehatan ling-
kungan dan erat kaitannya dengan aspek sosial budaya.
Dari suatu studi kualitatif yang dilakukan di daerah pedesa-
an Jawa Barat dan Sumatera Barat terungkap bahwa jamban
belum dirasakan oleh sebagian penduduk pada umumnya se-
bagai kebutuhan yang mendesak. Untuk mengubah kebiasaan
penduduk tersebut dibutuhkan waktu yang cukup lama. Suatu
kebiasaan baru akan diterima oleh masyarakat apabila kebiasaan
tersebut dirasakan lebih bermanfaat dibandingkan dengan yang
lama
(11)
. Suatu kebiasaan baru untuk dapat diterima masyarakat
memerlukan suatu proses yang lama dan panjang, karena me-
nyangkut berbagai faktor antara lain nilai, pensepsi, pengetahu-
an, sikap dan tradisi.
Demikian pula menyangkut perilaku pembuangan air lim-
bah rumah tangga, hasil wawancara yang disertai pengamatan
menunjukkan bahwa sebagian besar responden membuang air
limbah rumah tangga di halaman tanpa dibuatkan saluran khusus
untuk dialirkan ke selokan atau ke sungai; hanya sekitar 25,8%
rumah tangga membuang air limbah dengan cara membuat sa-
luran khusus untuk dialirkan ke suatu lubang penampungan di
halaman atau menuju ke selokan. Keadaan demikian menggam-
barkan bahwa penduduk pada umumnya belum menunjukkan
perilaku positif di bidang kesehatan lingkungan. Air limbah
rumah tangga yang dibuang di halaman akan kembali meresap ke
dalam tanah dan mungkin akan mencemari sumber air di
sekitarnya.
KESIMPULAN
Sebagian penduduk belum berperilaku positif dalam ke-
sehatan lingkungan, sehingga masih kurang mendukung upaya
perbaikan kesehatan masyarakat umumnya dan lingkungan yang
sehat khususnya. Pada umumnya penduduk masih berperilaku
kurang benar seperti membuang kotoran manusia di sungai atau
di persawahan, penyaluran air limbah numah tangga di halaman
dan baru sebagian yang membersihkan tempat penampungan air
secara teratur yaitu 2 kali dalam seminggu. Walaupun demikian
dalam pengelolaan menunjukkan perilaku yang positif, karena
sebagian besar penduduk menampung sampah di kantong plastik
atau bak, sebelum dibuang di halaman untuk ditanam atau di-
bakar.
Perilaku sebagian penduduk yang belum mendukung upaya
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
60
peningkatan kesehatan lingkungan khususnya dan kesehatan
masyarakat pada umumnya, merupakan kebiasaan masyarakat
yang dianut secara turun-temurun. Untuk mengubah kebiasaan
tersebut membutuhkan waktu yang lama dan melalui proses
panjang karena akan menyangkut nilai, persepsi, pengetahuan,
sikap dan juga tradisi yang selama ini melekat dalam kehidupan
masyarakat.
4. Kusnoputranto H. Kesehatan Lingkungan, Departremen PD & K, FKM UI,
Jakarta.
5. World Health Organization. National Environmental Health Programmes.
Their Planning Organization. Techn Rep Ser, No. 439, WHO, Geneva,
1970.
6. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Hidup Sehat, Pesan Singkat Tentang
Kesehatan, AD-LIBS, PKM, 1993.
7. Departemen Kesehatan RI, Sistem Kesehatan Nasional, 1981.
8. Sutomo S. Air Bersih dan Penyakit, Maj Kes Masy Indon, 1988; XII(a).
9. Wibowo AH. Proyek Peningkatan Rumah Sehat Melalui Penyediaan
Sarana Air Bersih (Sumur Pompa Tangan Dalam) di Desa Ciletes Tengah, Ka-
bupaten Tangerang, Jawa Barat, FKM UI, Jakartra, 1984.
KEPUSTAKAAN
10. Suroso T. Demam Berdarah, Pencegahan dan Pemberantasannya. Maj Kes
Masy Indon. 1976; V(1).
1. Biro Pusat Statistik, BKKBN, Depkes RI dan DHS. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia, 1991.
11. Murdock GP. Bagaimana Kebudayaan Berubah, Terjemahan oleh Na-
sikun, UGM.
2. Departemen Kesehatan RI. Survei Kesehatan Rumah Tangga, 1992.
3. Slum HL. Planning for Health Development and Application of Social
Change Theory. Human Science. Press, New York, 1974.
12. Muzaham F. Asaad. Pola Pembuangan Kotoran Manusia di Daerah Pe-
desaan, Badan Litbang Kesehatan, Depkes RI, 1982.
He who says what he likes will hear what he does not like
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 61