Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 57
HASIL PENELITIAN
Evaluasi Klinis
Perawatan Hipersensitivitas Dentin
dengan Potasium Nitrat
Prijantojo
Laboratorium Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Salah satu masalah yang sering dijumpai dalam dunia ke-
dokteran gigi adalah hipersensitivitas dentin dengan keluhan
sakit pada giginya pada saat-saat tertentu. Rasa sakit biasanya
dialami oleh pasien pada waktu makan/minum panas atau dingin
atau karena hembusan udara
(1,2,3)
.
Hipersensitivitas dentin terjadi karena terbukanya dentin
yang pada umumnya disebabkan karena resesi gingiva akibat
kesalahan menyikat gigi sehingga terjadi abrasi dan erosi.
Pada umumnya terjadi di bagian servikal gigi dengan gejala sakit
atau ngilu apabila terjadi kontak dengan rangsangan dan luar
seperti panas dingin dehidrasi (hembusan udara) asam mau-
pun alat alat kedokteran gigi misalnya sonde pinset dan lain-
lain. Bagi penderita rasa ngilu itu merupakan suatu gangguan
dan secara tidak langsung akan menimbulkan masalah lain se-
perti terganggunya pembersihan gigi dan mulut sehingga ke-
bersihan mulut kurang sempurna yang akhirnya akan menye-
babkan kelainan periodontal Untuk mencegah terjadinya
kelainan lebih lanjut mak hipersensitivitas dentin perlu dirawat.
Dalam upaya perawatan, beberapa uji coba klinis telali di-
lakukan dengan menggunakan bahan-bahan baik berupa pasta
gigi maupun berupa cairan. Beberapa bahan yang telah dicoba
untuk perawatan hipersensitivitas dentin dalam bentuk pasta yaitu
strontium chiorida, sodium monoflurofosfat, formaldehida dan
potasium nitrat
(4,5)
.
Pada penelitian ini akan dibuktikan pengaruh potasium
nitrat 5% dalam bentuk pasta gigi pada hipersensitivitas dentin.
TINJAUAN PUSTAKA
Hipersensitivitas dentin adalah rasa sakit (dentinalgia)
terjadi pada dentin akar gigi yang terbuka karena adanya rang-
sangan dan luar seperti taktil, panas, dingin, kimiawi serta
osmotik
(2,6)
. Hipersensitivitas dentin dapat terjadi spontan bila
akar gigi terbuka karena resesi gingiva dan dapat lebih parah
setelah tindakan bedah periodontal tertentu
(7,8)
.
Resesi gingiva dapat terjadi secara fisiologis karena ber-
ABSTRAK
Efektivitas potasium nitrat 5% dalam bentuk pasta gigi sebagai bahan desensitisasi
di rumah oleh penderita telah dinilai melalui uji coba klinis secara tersamar ganda
(double blind) yang melibatkan 79 gigi dan 27 penderita dengan hipersensitivitas dentin.
Subyek dibagi menjadi 2 kelompok terdiri dan 17 penderita yang melibatkan 39 gigi
diberi pasta gigi yang mengandung potasium nitrat 5% dan 10 penderita yang melibatkan
40 gigi diberi pasta gigi plasebo sebagai kelompok kontrol. Kedua kelom pok dianjurkan
untuk menggosok gigi 2 kali sehari menggunakan pasta gigi yang telah diberikan.
Hipersensitivitas dentin diukur dengan menggunakan rangsangan dan alat penguji
vitalitas pulpa elektris Dentotest T.B.-09.
Dan penelitian ini terbukti bahwa potasium nitrat dapat menurunkan hipersensi-
tivitas dentin secara bermakna baik pada hari ke-7 maupun pada hari ke-14 setelah
pemakaian pasta gigi.
tambahnya umur, tetapi sering pula terjadi secara patologis ka-
rena terjadinya abrasi gingiva akibat kesalahan penyikatan gigi
atau karena terjadinya kelainan periodontal
(8,9)
.
Terbukanya permukaan akar gigi memungkinkan terbuka-
nya lapisan dentin akar gigi. Terbukanya dentin dapat terjadi
tanpa terkikisnya lapisan semen, karena pada sekitar 5-10%
gigi yang erupsi, dentin terbuka pada daerah cemento enamel
junction
(10)
. Semen yang menutupi dentin akar gigi sangat tipis
yaitu sekitar 16-60 u. Lapisan semen yang tipis akan mudah
terkikis karena prosedur penyikatan gigi yang salah. Pada
kelainan periodontal yang lanjut sering permukaan akar gigi
terbuka namun masih ditutupi/dilindungi oleh dinding lunak dari
saku gusi. Setelah perawatan kelainan periodontal, dinding
saku gusi yang melindungi akar akan hilang, karena terjadi
pengerutan gingiva
(9)
. Terbukanya akar gigi setelah perawatan
kelainan periodontal sering menyebabkan terjadinya rasa ngilu
pada gigi.
Mekanisme transmisi rangsangan pada hipersensitivitas
dentin
Beberapa teori telah dikemukakan untuk menjelaskan me-
kanisme transmisi rangsangan, hipersensitivitas dentin; ternyata
teori hidrodinamika lebih dapat diterima untuk menjelaskan
transmisi rangsangan terhadap hipersensitivitas dentin
(6,7,11,12)
.
Berdasarkan teori hidrodinamika dikemukakan bahwa rang-
sangan yang menyebabkan rasa sakit diteruskan ke pulpa
dalam suatu mekanisme hidrodinamik yaitu pergerakan cairan
secara cepat pada tubulus dentin. Gerakan cairan ini akan
mengubah bentuk odontoblas atau prosesusnya sehingga me-
nimbulkan rasa sakit
(6)
.
Berbagai keadaan dapat merangsang terjadinya hipersen-
sitivitas dentin misalnya dehidrasi dentin, panas, dingin serta
larutan hiperosmotik
(13,14)
. Rangsangan yang ditimbulkan ber-
beda bergantung dan kepekaannya namun reaksi yang ditimbul-
kan adalah sama yaitu rasa sakit
(13)
.
Penjelasan yang hainpir sama tentang teori hidrodinamika
juga dikemukakan oleh Markowitz dan Syngcuk
(3)
. Dikemuka-
kan bahwa melalui dentin yang terbuka tekanan hidrodinamika
akan menyebabkan kerusakan dan odontoblas. Adanya hem-
busan udara atau karena perbedaan tekanan maka sel-sel
odontoblas yang rusak atau mediator lain seperti prostaglandin
masuk ke dalam tubulus dentin bersama-sama dengan cairan
tubulus dentin yang berasal dan cairan pulpa. Sel-sel ini akan
merangsang ujung saraf yang terletak dekat dengan pulpa dan
akan menimbulkan rasa sakit atau ngilu (Gambar 1).
Desensitisasi hipersensitivitas dentin
Desensitisasi hipersensitivitas dentin merupakan suatu usaha
untuk menghilangkan atau mengurangi terjadinya rasa sakit
akibat adanya rangsangan. Desensitisasi didasarkan atas teori
yang menyatakan bahwa rangsangan melalui dentin yang
terbuka, yang metebihi daya tahan fisiologis akan menimbul-
kan rasa sakit. Salah satu pertahanan fisiologis terhadap iritasi
pulpa adalah terbentuknya dentin sekunder
(13)
. Di samping
embentukan dentin sekunder, kalsifikasi dentin peritubuler juga
meningkat sehingga terjadi penyumbatan dentin peritubuler.
Gambar 1. Mekanisme pergerakan cairan dalam tubulus dentin
Penyumbatan dentin peritubuler secara alamiah oleh kristal-
kristal kalsium inerupakan pertahanan fisiologis gigi untuk
mengurangi hipersensitivitas dentin
(6)
. Hal ini karena penyum-
batan akan menghambat pergerakan cairan dalam tubulus
dentin; dan sesuai dengan teori hidrodinamika, berkurangnya
pergerakan cairan dalam tubulus dentin akan mengurangi rasa
sakit yang akibat adanya rangsangan
(6)
. Jadi tujuan dari
desensitisasi adalah untuk menghambat pergerakan cairan da-
lam tubulus dentin Salah satu cara untuk menghambat per-
gerakan cairan dalam tubulus dentin adalah dengan cara me-
rangsang mineralisasi dentin peritubuler sehingga saluran da-
lam tubulus dentin mengecil dan aliran cairan dalam tubulus
dentin menjadi berkurang
(6)
. Cara lain untuk menghambat per-
gerakan cairan dentin yaitu dengan menutup orifice pembuluh
dentin
(6)
.
Berdasarkan pemikiran di atas, beberapa bahan desensiti-
sasi telah diuji coba, baik secara Idinis maupun secara laborato-
ns dengan hasil yang baik, sehingga dapat digunakan sebagai
bahan untuk menghilangkanlmengurangi hipersensitivitas den-
tin
(4)
. Bahan-bahan desensitisasi tersebut biasanya dikemas dalam
bentuk pasta gigi atau dalam bentuk cairan. Di klinik biasanya
digunakan dalam bentuk cairan yang dioleskan pada gigi yang
hipersensitif misalnya natrium fluorida, perak nitrat, kalium
nitrat
(6,16,17,18)
. Sedangkan bahan desensitisasi yang digunakan
oleh pasien tanpa bantuan dokter biasanya dalam bentuk pasta
gigi misalnya natrium nitrat, kalium nitrat, strontium chlorida,
sodium monofluorophosphat, potasium nitrat
(19,20,21)
.
Potasium nitrat
Potasium nitrat (KNO
3
) merupakan salah satu bahan untuk
mengurangi atau menghilangkan terjadinya hipersensitivitas
dentin. Dalam uji coba klinis yang menggunakan potasium
nitrat dalam bentuk larutan dengan konsentrasi 15%, 10%, 5%,
2% dan 1% serta dalam bentuk pasta dengan konsentrasi 10%,
ternyata semuanya efektif menghilangkan hipersensitivitas
dentin
(22)
. Dan uji coba tersebut ternyata potasium nitrat tidak
mengiritasi gingiva, tidak menyebabkan perubahan warna
gigi
(4,23,24)
. Di samping itu setelah dilakukan uji coba dengan
berbagai konsentrasi terbukti bahwa potasium nitrat masih
efektif untuk perawatan hipersensitivitas dentin walaupun
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
58
konsentrasinya rendah (1 %)
(22)
.
Penelitian terhadap 27 subyek hipersensitivitas dentin
menggunakan potasium nitrat 5% dalam bentuk pasta terbukti
dapat menghilangkan hipersensitivitas dentin setelah 2 (dua)
minggu dan selanjutnya menunjukkan peningkatan
(4)
. Setelah 4
(empat) minggu dilaporkan bahwa 92% gejala hipersensitivitas
dentin hi1ang
(4)
. Penelitian diulangi untuk membandingkan efek
potasium nitrat dengan bahan lain yaitu strontium chiorida 10%,
sodium nitrat 2% serta fonnaldehid 1,4% dalam bentuk pasta
gigi. Dan penelitian ini didapatkan hasil, bahwa semua bahan
tersebut dapat menurunkan hipersensitivitas dentin namun
potasium nitrat lebih efektif dibandingkan dengan bahan lain.
Penelitian yang dilakukan oleh Silverman terhadap 68
subyek selama 12 minggu menggunakan potasium nitrat 2%
dalam bentuk pasta ditambah dengan monofluorfosfat dan
dibandingkan dengan plasebo ternyata potasium nitrat dapat
menurunkan hipersensitivitas terhadap rangsangan panas dan
taktil
(25)
.
Penelitian lain membuktikan bahwa potasium nitrat tidak
menyebabkan iritasi terhadap pulpa, serta pewarnaan gigi. Di-
samping itu secara histologis tidak menunjukkan perubahan
permukaan gigi dan jaringan pulpa
(24,26)
.
Markowitz dkk. melakukan penelitian dengan mengguna-
kan beberapa bahan kimia terhadap hipersensitivitas dentin
untuk menguji efektivitas unsur potasium
(3)
. Penelitian ini di-
dasarkan atas hasil uji coba klinis bahwa larutan perak nitrat
(HgNO
3
) dan potasium nitrat (KNO
3
) efektif sebagai bahan
desensitisasi walaupun dengan konsentrasi NO
3
-
yang berbeda-
beda. Penelitian menggunakan NO
3
sebagai kation dikom-
binasikan dengan unsur Na
+
, Li
+
K
+
dan Sr
+
untuk menguji
sensitivitas saraf sensorik. Dan penelitian ini terbukti bahwa
NaNO
3
dan LiNO
3
tidak menimbulkan rangsangan terhadap
saraf sensoris, sedangkan SrNO
3
harus menggunakan konsen-
trasi yang tinggi untuk dapat merangsang saraf sensoris
(26)
.
Larutan lain yang terdiri dari ion K dikombinasikan de-
ngan unsur lain yaitu KCI, KNCO
3
potasium oksalat (K
2
C
2
O
4
)
serta potasium florida (KF) ternyata semua efektif untuk me-
nurunkan hipersensitivitās dentin
(4)
.
Penelitian menggunakan CaC1
2
, MgC1
2
, SrC1
2
semuanya
dapat mengurangi hipersensitivitas dentin, namun kurang efektif
bila dibandingkan dengan lanutan yang berisi potasium (K
+
)
(27)
.
Dari penelitian-penelitian di atas dapat disimpulkan
bahwa
(4)
:
·
Ion NO
3
-
tidak efektif untuk digunakan sebagai desensitisasi.
·
K
+
eefektif sebagai bahan desensitisasi walaupun dikom-
binasikan dengan unsur lain.
·
Kation valensi 2 efektif untuk menurunkan hipersensitivi-
tas dentin namun kurang efektif bila dibandingkan dengan ion
K
+
.
Larutan potasium merupakan larutan yang reversibel karena itu
tidak merusak dentin sehingga dapat digunakan untuk
desensitisasi kavitas yang dalam dan tidak mempunyai penga-
ruh terhadap aktivitas saraf interdental
(4,27)
.
Penelitian yang dilakukan terhadap masyarakat di Jepang
menunjukkan bahwa potasium nitrat dalam bentuk pasta ternyata
efektif untuk mengurangi hipersensitivitas dentin. Dilaporkan
bahwa efek dan potasium nitrat nampak setelah 4-6 minggu
(28)
.
Penelitian ini dilakukan secara tersamar ganda (double blind
menggunakan 5% potasium nitrat dalam bentuk pasta gigi dan
pasta gigi lain yang mengandung fluor. Dilaporkan bahwa fluor
juga mempunyai efek terhadap hipersensitivitas dentin namun
kurang efektif dibandingkan dengan potasium nitrat
(29)
. Penelitian
Clark dkk. menunjukkan penurunan hipersensitivitas dentin.
Penurunan ini sebanyak 75% terhadap udara dingin. dan 80%
terhadap reaksi taktil selama 8-12 minggu
(25,30,31)
.
Dari apa yang dikemukakan di atas didapat teori-teori yang
mendasari penelitian ini yaitu:
·
Hipersensitivitas dentin merupakan suatu gangguan yang
secara tidak langsung dapat menyebabkan terjadinya kelainan
periodontal.
·
Untuk mencegah terjadinya kelainan yang lebih lanjut,
hipersensitivitas dentin perlu dirawat.
·
Desensitisasi merupakan upaya untuk menghilangkan atau
mengurangi rasa sakit pada hipersensitivitas dentin.
·
Potasium nitrat 5% dapat menghilangkanlmenguragi rasa
sakit pada hipersensitivitas dentin.
Dari teori-teori di atas dapat diturunkan suatu hipotesis
sebagai berikut:
Hipotesis:
Potasium nitrat dapat menghilangkan atau mengurangi
hipersensitivitas dentin.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan penelitian ini untuk membuktikan pengaruh
potasium nitrat 5% terhadap hipersensitivitas dentin. Sedang
manfaat penelitian ini diharapkan bahwa potasium nitrat 5%
yang dipasarkan dalam bentuk pasta gigi dapat diperoleh
dengan mudah dan dapat membantu penderita inenanggulangi
terjadinya hipersensitivitas dentin, sehingga terjadinya kelain-
an periodontal dapat dicegah.
METODA DAN CARA KERJA
Penelitian dilakukan secara tersaman ganda (double blind)
terhadap 28 penderita yang melibatkan 79 gigi yang hipersen-
sitif di klinik bagian Periodontologi FKGUI. Penderita dibagi
menjadi 2 kelompok masing-masing terdiri dan 17 penderita
yang mehbatkan 39 gigi dan diberi pasta gigi yang mengandung
potasium nitrat 5%(EmoformŪ) sebagai obyek penelitian, serta
10 penderita melibatkan 40 gigi diberi pasta gigi plasebo sebagai
kelompok kontrol.
Pengukuran ambang rangsang dilakukan dengan meng-
gunakan penguji vitalitas pulpa dentin Dentotest T.B. 0,9 dengan
bagian-bagian sebagai berikut:
1.
Elektroda
karet
konduktif
5.
Baterai
2. Dental probe 6. Penutup
3. Silinder
4. Tangkai dengan regulator (A) dan lampu (B)
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 59
Semua bagian ini dipasang dalam satu unit sehingga me-
rupakan suatu kesatuan. Pada regulator terdapat angka 0-10.
Angka 0 merupakan petunjuk bahwa alat belum bekerja.
Sedangkan angka I menunjukkan bahwa alat sudah mulai be-
kerja dengan rangsangan yang terkecil. Rangsangan bertambah
besar sesuai dengan angka yaitu 2, 3, 4 dan seterusnya sampai
angka 10 yang merupakan rangsangan terbesar. Lampu (B)
memberikan petunjuk bahwa alat dapat berfungsi. Apabila alat
tidak berfungsi lampu padam dan skala menunjukkan angka 0
dan jika lampu menyala alat dapat berfungsi mulai angka 1.
Cara pengukuran
Sebelum pengukuran dimulai, kepada penderita dijelaskan
bahwa alat ini tidak menimbulkan rasa sakit tetapi mungkin
2 akan terjadi rasa ngilu. Apabila terjadi rasa ngilu diminta untuk
memberi isyarat dengan mengangkat tangan agar pengukuran
dapat dihentikan.
Pengukuran dilakukan sebagai berikut: Daerah yang akan
diukur diblokir dengan kapas dan dikeningkan dengan hembus-
an udara dari dental unit. Ujung elektroda diletakkan pada
permukaan gigi yang diperkirakan hipersensitif. Perlu diper-
hatikan bahwa ujung elektroda tidak boleh mengenai gingiva.
Hal ini karena ambang rangsang gingiva/jaringan periodonsium
5-6 kali lebih besar danipada ambang rangsang pu1pa
(32)
. Lampu
kontrol dihidupkan dengan memutar regulator. Lampu kontrol
hidup berarti alat sudah mulai bekerja dan menunjukkan angka
1. Kemudian regulator diputar perlahan-lahan sampai pende-
rita memberi isyarat dan dicatat sesuai dengan angka pada regu-
lator.
Agar hasil pengukuran lebih akurat maka pengukuran di-
lakukan dua kali dan diambil rata-ratanya. Perbedaan peng-
ukuran tidak boleh terlalu besar. Kepada penderita diberikan
pasta gigi yang mengandung potasium nitrat atau plasebo.
Diinstruksikan kepada penderita untuk nielakukan penyikatan
gigi menggunakan pasta gigi yang telah diberikan 2 kali sehari
pagi dan malam hari sebelum tidur. Pada hari ke-7 dilakukan
kontrol pada gigi yang telah dirawat dengan cara yang sama
dengan waktu permulaan diperiksa dan dicatat sesuai dengan
skala dan regulator. Kontrol diulangi pada hari ke-14 dan di-
catat.
HASIL
Setelah dilakukan analisis sampel masing-masing kelom-
pok didapat hasil sebagai berikut (Tabel 1 & Grafik 1).
Tabel 1. Rata-rata rasa ngilu menurut waktu dan kelompok
Plasebo
Potasium Nitrat 5%
Waktu
N Mean SD N Mean SD
z p
0
40
1 38
0.54
39
1 45
0 60 0.55 > 0.05
7 40
1.70
0.61
39
3
85
1.34
9.21
<0.01**
14
40
1.75
0.98
39
6 87
1 61 17,13 < 0.01 **
Tabel 1 menunjukkan terjadinya penurunan hipersensitivi-
tas dentin pada masing-masing kelompok baik pada kelompok
plasebo maupun pada kelompok potasium nitrat pada hari ke-7
maupun pada hari ke-14.
Secara statistik tidak ada perbedaan bermakna pada data
awal sampel masing-masing kelompok. Pada hari ke-7 didapat
perbedaan yang sangat bermakna (t = 9,1; p 0,01) dengan ke-
lompok potasium nitrat menunjukkan hasil yang lebih baik.
Perbandingan dan kelompok plasebo dengan kelompok
potasium nitratpada hari ke-14 menunjukkan adanya perbedaan
yang sangat bermakna (t = 17,13; p < 0,01) dengan kelompok
potasium nitrat menunjukkan hasil yang lebih baik.
Grafik penurunan hipersensitivitas dentin rata-rata hari ke-7, 14 dari
kelompok plasebo dan kelompok potasium nitrat
DISKUSI
Pada penelitian ini terbukti ada penurunan hipersensitivitas
dentin baik pada kelompok plasebo maupun kelompok potasium
nitrat. Penurunan hipersensitivitas dentin pada kelompok plasebo
telah membuktikan bahwa pemeriksaan saja sudah cukup untuk
meningkatkan motivasi penderita untuk melakukan kontrol plak
dengan baik sehingga bahan-bahan yang menangsang terjadi-
nya hipersensitivitas dentin menjadi berkurang. Hasil ini men-
dukung penelitian beberapa peneliti sebe1umnya
(8,31,33,34)
. Pe-
nurunan hipersensitivitas dentin pada kelompok potasium nitrat
pada hari ke-7 dan hari ke-14 secara statistik sangat bermakna.
Hasil ini mendukung penelitian sebelumnya. Tarbet dkk.
menunjukkan bahwa potasium nitnat 5% dapat menurunkan
hipersensitivmtas dentin pada minggu kedua dan selanjutnya efek
ini akan meningkat; setelah 4 minggu efek ini akan mencapai
92% dan akhirnya hipersensitivitas dentin hilang
(4)
. Penelitian
lain yang membandingkan efek dan potasium nitrat dengan
pasta gigi lain berisi strontium chlorida 10%, sodium sitrat 2%
dan formaldehid 1,4% menyatakan bahwa semua bahan ter-
sebut dapat menurunkan hipersensitivitas dentin namun pota-
sium nitrat lebih baik dibandingkan dengan ketiga pasta gigi
yang lain
(4,8)
.
Penelitian tensamar ganda (double blind) menggunakan
potasium nitrat 5% dan plasebo selama 12 minggu, menghasil-
kan penurunan hipersensitivitas dentin setelah 2 minggu
(25)
. Pada
penelitian ini terjadi penurunan terhadap rangsangan dingin
sebanyak 75% setelah 12 minggu, sedangkan terhadap reaksi
taktil kurang lebih sebanyak 80% setelah 8-12 minggu pemakaian
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
60
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 61
pasta gigi. Penelitian ini didukung oleh penelitian terhadap
masyarakat Jepang
(31)
. Pada penelitian ini rangsangan dingin
akan menurun pada minggu 4-6 setelah pemakaian pasta gigi
yang berisi potaslum nitrat
KESIMPULAN
Terbukanya dentin akar gigi karena resesi gingiva dapat
menimbulkan keluhan hipersensitivitas dentin. Keluhan terjadi
karena adanya rangsangan yang berkontak dengan permukaan
dentin, selanjutnya menyebabkan timbulnya pergerakan cairan
dalam tubulus dentin dan merangsang sarafsensoris.
Sebagai upaya untuk mengurangi hipersensitivitas dentin
dapat dilakukan cara desensitisasi yang dapat dilakukan di klinik
maupun oleh penderita sendiri di rumah dengan menggunakan
pasta gigi.
Uji coba klinis menunjukkan bahwa pasta gigi yang me-
ngandung potasium nitrat 5% terbukti sangat efektif untuk
menurunkan hipersensitivitas dentin. Efektivitas potasium nitrat
tampak sangat bermakna pada hari ke-7 setelah pemakaian dan
selanjutnya akan menunjukkan peningkatan.
KEPUSTAKAAN
1. Graf H, Calasse R. Morbidity, prevalence and intra oral distribution of
hypersensitive teeth. J Dent Res (Spec Iss) 1977; A. 162.2.
2. Addy M, Absi EG, Adams D. Dentin hypersensitivity : The effects in
vitro of acids and dietary subtances on toothplaned and burred dentin. J
Clin Periodontal 1987; 274-79.
3. Markowitz K, Syngcuk K. Hypersensitive teeth : experimental studies of
desensitizing agents. Dent Clin N Am 1990; 34: 491-514.
4. TarbetWi, Silverman G, Stolmen JM, Fratarcanglo PA. Clinical evalua-
lion of a new treatment for dentinal hypersentivity. J Penodont. (Sept)
1980; 535-40.
5. Greenhill JD, Pashley DH. The effects of desensitizing agents on the
hydraulic conductance of human dentin in vitro. J Dent Res 1981; 686 -
98.
6. Berman LH. Dentinal sensation on hypersensitivity. J Periodontal 1984;
5(56): 2 16-22.
7. Dowell P, Addy M, Dummer P. Dentin hypersensitivity : Aetiology,
differential diagnosis and management. J Br Dent 1985; 158: 92-6.
8. Tarbet WJ, Silverman G, Fatracangelo PA, Kanapka JA. Home treatment
for dentinal hypersensitivity : A comparative study. J Am Dent Assoc
1982; 195: 227-30.
9.
Uchida A, Wakano J, Fukuyama 0, Miki T, lwayama J, Okada H.
Controlled clinical evaluation of 10% Strontium chlorida dentifrice in
treatment of dentin hypersensitivity following periodontal surgery. J
Periodontal 1980; 51: 578-81.
10. Carranza FA. Jr. Glikman's Clinical Periodontology 6th ed. Igaku-Shoin/
Saunders Tokyo 1984; 42-44, 114-115, 117, 196, 217, 500, 767, 770.
11. Minkoff S, Alexelrod S. Efficacy of strontium chloride in dental hyper-
sensitivity. J Periodontal 1987; 7(58): 470-74.
12. Dalimunthe SH. Penanggulangan hipersensitivitas dentin yang disebab-
kan oleh telanjangnya akar gigi. Naskah Lengkap KPPIKG VIII 1986;
37987. .
13. Branstrom M, AstromA. The hydrodynamics of the dentine, its possible
relationship to dentinal pain. mt Dent J 1972; 22: 219-77.
14.
Branstrom M. The cause of part restorative sensitivity and its
prevention. J Endodont 1986; 12: 475-81.
15. Baskhar SN.Synopsis of Oral Pathology. 6th ed. St. Louis: C.V. Mosby
& CO 1981; 143-44.
16. Clement AJ. Sodium fluoride as desensitizing agent for hypersensitive
dentin. Br Dent J 1945; 82: 168.
17. Sorrin S. Sodium fluoride method for desensitizing erosion areas. NY J
Dent 1947; 13: 399.
18. Jensen JR, Serene TP. Fundamental of Clinical Endodontics 8th. Kendall/
Hunt Publishing Co. Dubuque 1984; 40-1.
19. Shapiro WB, Kaslick RS, Chasens A. The effects of strontium chloride
toothpaste on root hypersensitivity in controlled chemical study. J
Periodontal 1970; 4 1-2.
20.
Kanouse MC, Ash MM. The effectiveness of a sodium monofluro-
phosphate dentifrice on dentinal hypersensitivity. J Periodontol 1979;
40: 38.
21. Bolden TE, Volpe AR, King WJ. The densensitizing effect of a sodium
monoflurophosphate dentifrice./ Periodontics 1968, 6: 112.
22. Hodash M. A superior desensitizer potassium nitrate. JADA 1974; 88:
831-32.
23. Green. BL, Mc.Fall WT. Jr. Calcium Hydroxide and Potassium Nitrate as
Desensitizing Agents for Hypersensitive Root Surface. J Periodontol 1977;
48: 667-72.
24. Tarbet W, Buckner A, Startk MM, Fratarcangelo, Augsburger R. The Pulpal
effects of brushing with a 5% potassium nitrate paste used for desensiti-
zation. Oral Surg 1981; 5 1(6): 600-602.
25. Silverman 0. The sensitivity reducing effect of brushing with a potassium
nitrate-sodium monoflurophosphate dentifrice. The Compendium of
Continuing Education in Dentistry 1985; 6: 131-36.
26. Kim S. Hypersensitive teeth. Desensitization of pulpal sensory nerves. J
Endodont 1986; 12: 482-85.
27. Billoto G, Markowitz K, Kim S. Effects of ionic and non ionic solution
on interdental nenve-activity in the cat. Pain 1988; 32: 23 1-38.
28. Ciancio SG. Medications used for pain and anxiety controlled and tooth
sensitivity, and prophylactic antibiotics. In Genco Ri, Golman HM &
Cohen DW : Contemporary periodonties. St. Louis: Mosby 1990; 375-
81.
29. Trowbridge HO, Silver DR. A review of current approaches loin office
management of tooth hypersensitivity. Dental Clin North Am 1990; 34:
561-81.
30. Clark GE, Troullos ES. Designing hypersensitivity clinical studies. Dental
Clin North Am 1990; 34: 531-44.
31. Ishida NT, Shinohara M, Nishikawa 5, Kasahara 5, Wakano J, Daigen S,
Tronlias ES. Clinical evaluation of potassium nitrate dentifrice for treat-
ment of dentinal hypersensitivity. J Clin Periodontal 1994; 21: 217-21.
32. Lukomsky EH. Fluorine therapy for exposed dentin and alveolar atropy.
J Dent Res 1941; 20: 649-58.
33. Prijantojo. Pemeriksaan oral hygiene di bagian Periadontologi FKGUI
I. 1978 (Uji Klinis).
34. Prijantojo. Pemeriksaan oral hygiene di bagian Periodontologi FKGUI
II. 1980 (Uji Klinis).
Where the love is great, the pain is great