ABSTRAK
CIMETIDINE MENGURANGI BE-
RAT BADAN ?
Menurut penelitian orang Norwegia,
cimetidine membantu pasien mengu-
rangi berat badan. Baik resipien cime-
tidine maupun plasebo diminta meng-
ikuti diet rendah kalori. Berat badan
resipien cimetidine rata-rata berkurang
lebih banyak 7,3 kg daripada resipien
plasebo setelah 8 minggu.
Dr Stoa - Birketvedt memberi postu-
lat bahwa cimetidine dapat mengurangi
rasa lapar sehingga pasien-pasien
menjadi lebih ketat terhadap dietnya.
Mekanismenya belum diketahui tapi
mungkin karena hambatan sekresi asam
lambung yang berperan terhadap nafsu
makan. Namun menurut penelitian orang
Denmark, yang mengulangi penelitian
orang Norwegia tidak ada efek cimeti-
dine terhadap berat·badan atau rasa la-
par, sehingga basil penelitian menyim-
pulkan cimetidine tidak efisien dalam
pengobatan kegemukan.
Prof. John Garrow, St. Bartho-
lemew's Hospital Medical College,
London, UK menentang penemuan Dr.
Stoa - Birketvedt. Beliau menyatakan,
beberapa hal yang perlu diperhatikan
pada pola penurunan berat badan de-
ngan cimetidine adalah :
-
Penurunan berat badan adalah tetap
setelah 8 minggu. Umumnya, penurun-
an berat badan pada orang-orang gemuk
lebih besar pada minggu-minggu per-
tama diet, kemudian berkurang.
-
Laju penurunan berat badan adalah
sama pada individu-individu dengan
berat badan awal yang lebih tinggi
ataupun yang lebih rendah.
Kedua hal tersebut masih sulit dije-
laskan dan belum diteliti.
Kesimpulannya adalah tetap "meng-
herankan" bahwa cimetidine dan plasebo
memberi efek yang berbeda di Norwe-
gia dan Denmark.
Inpharma 1993; 885: 15
Id
EFEK SAMPING KLOZAPIN
Klozapin merupakan antipsikotik
yang efektif terutama untuk kasus-kasus
skizofreniarefrakter; tetapipenggunaan-
nya menyebabkan risiko agranulosito-
sis.
Analisis data mengenai penggunaan
klozapin atas 11.555 pasien menunjuk-
kanbahwa agranulositosis dideteksi pada
73 pasien, 2 pasien di antaranya me-
ninggal dunia akibat komplikasi infeksi.
Sebanyak 61 pasien di antaranya telah
dapat dideteksi dalam 3 bulan pertama.
Analisis statistik menunjukkan bahwa
angka kejadian kumulatif adalah sebesar
0,80% (95%CI: 0,61-0,99) pada satu
tahun dan 0,91% (95%CI: 0,621,20)
pada satu setengah tahun. Risiko ini
lebih besar pada wanita dan meningkat
sesuai dengan bertambahnya usia.
N. Engl. J. Med. 1993; 329: 1627
Hk
PEMBASMIAN H. PYLORI
Menurut Prof. James Freston, Uni-
versity of Connecticut, US, adalah
tindakan gegabah kalau pasien-pasien
yang menderita ulkus duodeni hanya
diobati dengan pembasmian Helico-
bacter pylori karena pembasmian He-
licobacter pylori bukan merupakan
jawaban terhadap penyembuhan tapi
hanya merupakan
"
strategi dominan
"
.
Menurut Prof. H Festen dari Groot
Hospital, Netherlands, regimen stan-
dard yang digunakan saat ini adalah
metronidazol, bismuth, dan amoksisilin
mempunyai efek merugikan yang tidak
dapat diterima pada 40% pasien. Prof.
Freston menambahkan lagi bahwa te-
rapi kombinasi omeprazole dan amoksi-
silin mempunyai efek merugikan yang
lebih kecil dan basil yang lebih baik
daripada regimen triple tersebut.
Inpharma 1993; 885: 7
Id
SALBUTAMOL UNTUK HIPER-
KALEMIA
Menurut peneliti-peneliti Turki, in-
halasi salbutamol dosis rendah efektif
dalam mengobati hiperkalemia pada
penderita dengan gangguan fungsi gin-
jal dan karena itu mungkin juga bisa
digunakan secara intravena.
Konsentrasi Kalium plasma turun
secara bermakna pada kedua kelompok
pasien setelah 30 menit mendapat salbu-
tamo10,18 mg (n=50) atau glukosa IV +
insulin IV (n=20). Sebaliknya, kelom-
pok kontrol yang sehat (n=20) tidak
menunjukkan efek hipokalemia secara
bermakna setelah menghirup salbuta-
mol.
Inpharma 1993; 893: 15
Id
BLOKADE ANDROGEN PADA
KANKER PROSTAT
Terapi kombinasi gonadorelin dan
antiandrogen dapat memperpanjang
masa hidup penderita kanker prostat.
Pengobatan dengan gonadorelin saja
hanya menurunkan 50 60% level
hormon prostat (karena tidak terjadi
blokade androgen yang dilepas dari
kelenjar adrenal). Dengan penambahan
antiandrogen, terjadi hambatan uptake
androgen dan ikatan pada jaringan tar-
get mengakibatkan blokade androgen
secara sempurna.
Penelitian Institut Kanker Nasional,
US pada 603 penderita kanker prostat
lanjut, menemukan bahwa pengobatan
dengan gonadorelin, leuprorelin, anti-
androgen, flutamide meningkatkan
masa hidup 6 bulan dan pada salah satu
kelompok terjadi perpanjangan 2 tahun.
Pada penelitian lain, 23% pasien yang
mendapat regimen kombinasi keadaan-
nya membaik dibanding dengan kelom-
pok kontrol, 54% bertambah parah.
Inpharma 1993; 885: 18
Id
ABSTRAK
DEBAT KOLESTEROL
Tingginya kadar kolesterol dalam
darah sampai saat ini dianggap sebagai
biang keladi berbagai penyakit, seperti
aterosklerosis dan penyakit-penyakit
kardiovaskular. Tetapi apakah menu-
runkan kadar kolesterol betul berman-
faat menurunkan mortalitas ?
Akhir-akhir ini antusiasme terhadap
penurunan kadar kolesterol darah agak
berkurang karena adanya data yang
menunjukkan kemungkinan kenaikan
mortalitas akibat sebab-sebab non
kardiovaskular. Beberapa penelitian
yang membandingkan obat penurun
kolesterol dengan plasebo menjumpai
kenaikan angka kematian akibat trauma
(kecelakaan atau bunuh diri) dan akibat
kanker di kelompok yang mendapat obat.
Masalah ini agaknya bukan sekedar
kebetulan, dan studi epidemiologik me-
nunjukkan kemungkinan adanya kaitan
antara rendahnyakadarkolesterol darah
(kurang dari 4 mmol/1) dengan me-
ningkatnya risiko kanker, kecelakaan
dan infeksi.
Beberapa peneliti mengkhawatirkan
pengaruh kadar kolesterol yang rendah
terhadap integritas membran sel, se-
hingga mempengaruhi kemampuannya
untuk beradaptasi pada keadaan infeksi,
defisiensi imun atau perubahan-per-
ubahan prekanker. Prof. Oliver dari
Wynn Institute, London mengamati
rendahnya kadar serotonin dalam otak
pada keadaan tersebut; padahal seroto-
nin merupakan salah satu neurotrans-
miter otak yang penting.
Penelitian masih terus berlanjut,
sementara itu British Hyperlipidemia
Association telah mengeluarkan pedo-
man sebagai berikut (tabel) :
Langkah pertama ialah modifikasi
diet; pemberian obat dipertimbangkan
bila usaha diet tidak berhasil.
Scrip 1993 (April); 13: 67
Brw
Tabel
SUPLEMENTASI VITAMIN A
Health Study yang melibatkan 1455
anak usia 6-59 bulan telah dilakukan di
Ghana untuk melihat pengaruh suple-
mentasi vitamin A atas morbiditas dan
mortalitas.
Anak-anak tersebut dibagi menjadi
dua kelompok, masing-masing mene-
rima 200.000 IU retinol (100.000 U un-
tuk anak usia kurang dari 12 bulan) atau
plasebo setiap 4 bulan selama 26 bulan;
percobaan ini merupakan bagian dari
Survival Study yang melibatkan 21.906
anak usia 6-90 bulan yang diamati
sampai 26 bulan.
Ternyata tidak ada perbedaan ber-
makna dalam hal pievalensi diare atau-
pun infeksi saluran napas bagian atas;
meskipun demikian, kelompok vitamin
A lebih jarang mengunjungi klinik
(rate ratio 0,88, 95%CI: 0,81 - 0,95, p =
0,001), lebih jarang dirawat di rumah
sakit (rate ratio 0,62, 95%CI: 0,42
0,93, p = 0,02), lebih sedikit yang
meninggal dunia (rate ratio 0,81, 95%CI:
0,68 - 0,98, p = 0,03) dibandingkan de-
ngan kelompok plasebo. Angka mor-
talitas akibat gastroenteritis akut juga
lebih rendah di kalangan vitamin A
(0,66, 95%CI: 0,47 - 0,92, p = 0,02),
juga akibat penyakit lain, kecuali akibat
infeksi saluran nafas bawah dan ma-
laria, meskipun tidak bermakna secara
statistik.
Lancet 1993; 342: 712
Hk
PEDOMAN PENGOBATAN. HI-
PERTENSI
Pedoman pengobatan hipertensi edisi
terbaru yang dikeluarkan oleh British
Hypertension Society untuk pertama
kalinya mencantumkan obat anti hi-
pertensi baru - penyekat ACE, antagonis
kalsium dan penyekat alfa - sebagai
obat-obat yang dapatdigunakan sebagai
pilihan pertama pada pasien-pasien yang
tidak dapat menggunakan penyekat beta
atau diuretik akibat kemungkinan efek
samping, seperti pasien-pasien dengan
diabetes melitus, asma atau impotensi.
Selain itu pedoman tersebut meng-
anjurkan pengobatan atas orang-orang
dengan tekanan diastolik90-100 mmHg
yang juga mempunyai faktor risiko
seperti penyakit jantung koroner, diabe-
tes, pria usia lanjut, perokok dan hiper-
lipidemi.
Tiazid masih dianjurkan sebagai
pilihan pertama pada pasien usia lanjut
(lebih dari 60 tahun) dan pada pasien
hipertensi sistolik.
Scrip 1993; 1812: 34
Brw