background image
ABSTRAK
ANTIMALARIA
Arthemeter - suatu derivat artemis-
inin (qinghaosu) telah digunakan untuk
menanggulangi malaria di Cina.
Peneliti di Gambia telah menyelidiki
efektivitasnya pada anak-anak. Sejum-
lah 30 anak Gambia secara acak diberi
arthemeter intramuskular (4mg./kgbb.
dosis awal diikuti dengan 2 mg./kg/bb/
hari) atau klorokuin intramuskular (3,5
mg. basa/kg.bb tiap 6 jam). Kedua obat
tersebut ditoleransi dengan baik dan
cukup efektif.
Parasite clearance ternyata lebih
cepat tercapai di kalangan yang diterapi
dengan arthemeter (36,7 ± 16,8 jam,
p < 0.05).
Penelitian kemudian dilanjutkan pada
43 anak dengan malaria berat. Pada
penelitian ini tidak ditemukan perbe-
daan yang bermakna dalam hal respons
klinis, hematologis, biokimiawi maupun
parasitologis; demikian juga dalam hal
toksisitasnya.
Arthemeter merupakan salah satu
alternatif pengobatan malaria, terutama
di daerah-daerah yang telah resisten
terhadap klorokuin.
Lancet 1992; 339 : 317-21
Brw
PIRIMETAMIN UNTUK ENSE-
FALITIS TOKSOPLASMA
Suatu penelitian buta-ganda telah
dilakukan untuk menilai efektivitas
profilaksis ldindamisin dan pirimetamin
terhadap ensefalitis toksoplasma di
kalangan pasien HIV positif.
Hasil awal menunjukkan bahwa
kelompok klindamisin mempunyai
risiko 4,4 kali (95% CI-1, 3-15, 2) lebih
besar untuk mengalami efek samping
dibandingkan dengan kelompok plasebo.
Diare dan rash dilaporkan pada ma-
sing-masing 16 (31%) dan 11 (21%)
penderita di antara 52 pasien yang
mendapat 2 dd 300 mg. klindamisin,
dibandingkan dengan 2 (6%) kasus di-
are dan tidak ada kasus rash di antara
32 pasien yang menerima plasebo.
Karena hasil di atas, penggunaan
klindamisin untuk sementara dihenti-
kan, sementara penggunaan pirimetamin
masih terus dievaluasi.
Lancet 1992; 319 : 333-4
Brw
RISIKO ULTRASONOGRAFI
PADA WANITA HAMIL
Dengan meluasnya penggunaan ul-
trasonografi sebagai prosedur diagnos-
tik di kalangan ibu hamil, muncul
kekuatiran mengenai pengaruhnya
terhadap janin, apalagi prosedur terse-
but kebanyakan dilakukan pada usia
kehamilan 16 - 22 minggu, pada saat
perkembangan susunan saraf pusat janin
mencapai puncaknya.
Di Norwegia telah dilakukan pe-
nelitian was 2448 anak yang pada saat
di dalam kandungan (pada tahun 1979 -
1982), ibunya menjalani pemeriksaan
ultrasonografi. Anak-anak tersebut di-
nilai oleh para gurunya dalam hal
kemampuan membaca, mengeja, arit-
metik dan penampilan umumnya.
Ternyata 21 di antara 309 anak yang
diteliti menderita disleksi, dibandingkan
dengan 26 di antara 294 anak kontrol;
hasil ini secara stastistik tidak bermakna.
Pada peneliti menyimpulkan bahwa
ultrasonografi tidak memperbesar
risiko bayi dalam hal gangguan ke-
mampuan membaca dan menulis.
Lancet 1992; 339 : 385-9
Brw
MANFAAT ASI
Penelitian ini merupakan lanjutan
penelitian yang menghasilkan ke-
simpulan bahwa di kalangan bayi pre
matur, pemberian air susu ibu (ASI)
menghasilkan perkembangan yang
lebih baik pada usia 18 bulan.
Anak-anak yang sama saat ini telah
berusia 71/2 - 8 tahun; dan setelah di-
nilai dengan WIS-C, anak-anak yang
menerima ASI rata-rata nilai IQ-nya 8,3
lebih tinggi daripada anak-anak yang
tidal( diberi ASI; bahkan setelah diko-
reksi menurut tingkat pendidikan dan
tingkat sosial ibunya.
Meskipun mungkindipengaruhi oleh
perbedaan potensi genetik dan pola
pendidikan keluarga, hasil penelitian ini
menunjukkan pentingnya ASI terhadap
perkembangan saraf anak.
Lancet 1992; 339 : 261-4
Brw
INDOMETASIN UNTUK BATU
EMPEDU
Pasien dengan batu empedu umum-
nya mempunyai gangguan/kelambatan
pengosongan kandung empedu. Untuk
memperbaikinya, telah dicoba pem-
berian indometasin 3 dd. 25 mg./hari
selama seminggu, disusul dengan pem-
berian plasebopada minggu berikutnya.
Percobaan ini melibatkan 7 pasien batu
empedu dan 7 orang sehat.
Ternyata kecepatan pengosongan
kandung empedu meningkat pada
orang-orang yang menerima indo-
metasin; penemuan ini mungkin dise-
babkan oleh efek prokinetik NSAID,
karena sampai saat ini NSAID tidak
diketahui mempunyai efek pada me-
kanisme pembentukan kristal kolesterol.
Lancet 1992; 339 : 269-71
Brw
EFEK TERATOGEMK LITHIUM
KARBONAT
Lithium karbonat diketahui efektif
terhadap gangguan afektif. Untuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
62
background image
ABSTRAK
mengetahui efek teratogeniknya, 148
wanita yang rata-rata berusia 30 tahun,
yang menggunakan lithium pada
kehamilan trimester pertamanya, dite-
liti dan diwawancarai dan dievaluasi.
Dosis rata-rata lithium yang digunakan
ialah 927 mg./hari.
Ternyata tidak didapatkan perbedaan
bermakna dalam hal kejadian malfor-
masi kongenital di kalangan bayi yang
dilahirkan (2,8% di kalangan kelompok
lithium, 2,4% di kelompok kontrol). Satu
pasien di kelompok lithium, janinnya
menderita anomali Ebstein, sedangkan
defek septum ventrikel dideteksi pada
janin satu pasien kelompok kontrol).
Berat badan lahir janin di kelompok
lithium secara bermakna lebih besar
(3475±660g. vs. 3383 ± 566g. p=0,02),
padahal di kelompok lithium diketahui
lebih banyakyang jugamerokok (31,8%
vs. 15,5%, p=0,002); sehingga mungkin
hasil yang sebenarnya dapat lebih ber-
makna.
Penelitian ini tidak menemukan efek
teratogen lithium pada manusia.
Lancet 1992; 339 : 530-3
Brw
EFEK SAMPING PIMOZIDE
Semenjak tahun 1971, di Inggris te-
lah tercatat 29 kasus. aritmi jantung
yang dihubungkan dengan penggunaan
Orap® (pimozide) ­ suatu obat antipsi-
kotik; dan 14 di antaranya fatal. Untuk
mencegah kasus berikutnya, pihak pem-
buat obat telafi memberi pemberitahuan
kepada para dokter agar berhati-hati dan
sebaiknya jangan diberikan lebih dari
20 mg/hari.
Scrip 1991; 1679/80: 26
Brw
ANTIHEMOFILI
US FDA telah menyetujui peng-
gunaan rekombinan factor VIII ­
Kogenate ­ untuk pengobatan dan pro-
filaksis hemofili A, baik untuk pasien
baru maupun yang telah pernah me-
nerima produk darah lain.
Pada suatu penelitian, dosis tunggal
obat ini sudah cukup untuk mencegah
399 (73,9%) dari 540 perdarahan yang
terjadi pada 56 pasien hemofili.
Produk ini memberikan alternatif baru
bagi para pasien hemofili, dan praktis
tidak mengandung risiko transmisi
penyakit seperti pada penggunaan pro-
duk plasma.
Scrip 1991; 1679/80: 25
Brw
FAKTOR RISIKO GOUT
Sejumlah 1337 mahasiswa ke-
dokteran kulit putih di Johns Hopkins
telah diikutsertakan dalam penelitian
longitudinal untuk mengetahui faktor-
faktor risiko dari gout.
Dari kelompok mahasiswa tersebut,
1271 (95%) dapat diperiksa dan men-
jawab kuesioner yang dibagikan; dari.
responden tersebut, 91% pria, 97% ber-
kulit putih dan muda usia (median 22
tahun). Kelompok ini diamati selama
rata-rata (median) 29 tahun).
Selama masa tersebut ditemukan 60
kasus gout (47 kasus primer, 13 kasus
sekunder) di kalangan pria dan tidak
ditemukan kasus gout di kalangan wa-
nita; angkakejadian untuk kalanganpria
ialah 8,6% (96% CI: 5,9 ­ 11,3%).
Penelitian atas faktor risiko menun-
jukkan adanya kaitan dengan body mass
index pada usia 35 tahun (p = 0,01);
kelebihan berat badan (> 1,88 km/m2 ­
p = 0,007) dan adanya hipertensi (p =
0,004). Relative risk pada body mass
index ialah sebesar 1,12 (p = 0,02);
untuk kelebihan berat badan adalah se-
besar 2,07 (p = 0,02) dan untuk hiper-
tensi adalah sebesar 3,26 (p = 0,002).
Pencegahan obesitas dan hipertensi
sejak usia muda dapat mengurangi risiko
gout.
JAMA 1991; 266: 3004-7
Hk
RISIKO DIURETIK PADA DIABE-
TES MELLITUS
Pengobatan hipertensi pada pasien
diabetes mellitus merupakan problem
yang tersendiri.
Suatu penelitian dilakukan atas 759
pasien kulit putih berusia 35 ­ 69 tahun
dengan kadar kneatinin serum normal;
pasien tersebut dibagi atas lima go-
longan: normotensif (tekanan diastolik
90 mmHg), hipertensif tidak diobati,
hipertensif diobati hanya dengan diure-
tik, hipertedsif diobati dengan antihi-
pertensif lain, dan hipertensif yang di-
obati dengan diuretik + antihipertensif
lain.
Kematian akibat kardiovaskuler lebih
sering dijumpai di kalangan hipertensif
yang diobati daripada di kalangan hi-
pertensif yang tidak diobati; peninggian
mortalitas ini terutama dijumpai di ka-
langan yang diobati hanya dengan
diuretik, meskipun tekanan darah rata-
ratanya paling rendah (relative risk 3,8;
p < 0,001).
Para peneliti menganjurkan agar
penggunaan diuretik pada pasien diabe-
tes yang disertai hipertensi hendaknya
dipertimbangkan kembali.
Arch. Intern. Med. 1991; 151: 1350-6
Hk
NSAID TOPIKAL
UK Drug and Therapeutics Bulletin
baru-baru ini memuat artikel yang me-
ragukan efektivitas NSAID topikal;
sampai saat ini belum ada penelitian
klinis yang membandingkan efektivi-
tasnya dengan parasetamol pada kasus
nyeri, ataupun dengan NSAID oral pada
kasus yang lebih berat.
Lagipula, biaya pengobatan NSAID
topikal ternyata lebih mahal bila di-
bandingkan dengan penggunaan ibu-
profen oral atau dikiofenak oral selama
7 hari.
Scrip 1991; 1679/80: 24
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992 63