ILMU GIZI
ILMU PENYAKIT
DALAM
GINEKOLOGI
ABSTRAK
-ABSTRAK
KELAINAN OTOT PADA MALNUTRISI
Sudah diketahui bahwa malnutrisi pada anak menimbulkan kelainan pada alat-alat
tubuh seperti hepar, kulit, mata, gangguan inteligensia, gangguan penyerapan makanan
diusus dan lain sebagainya.
HAUSEN--SMITH
et al melaporkan bahwa pada penderita malnutrisi ditemukan
sejenis sel yang dinamakan
sel satelit
pada biopsi otot anak-anak tersebut baik pada ma-
sa rehabilitasi maupun sesudah sembuh. Akan tetapi proporsi sel satelit tersebut adalah
rendah pada waktu
"catch up growth "
dan meningkat pada waktu stadium recovery.
Bentuk sel satelit ini kecil dan mempunyai nukleus yang heterokhromatik pada sediaan
biopsi.
HAUSEN--SMITH et al. JNeurological Sciences 41 : 207-221, 1979.
PERUBAHAN METABOLIK PADA ASTHMA
Asthma merupakan penyakit kronik dari saluran pernapasan yang hilang timbul dan
diduga mempunyai hubungan yang erat dengan sistem imun dari tubuh. Hal ini dapat
dibuktikan dengan peningkatan imunoglobulin E dalam darah. Perubahan imunologik
ini mungkin pula diikuti oleh perubahan metabolik dalam tubuh. Untuk mengetahui
hal ini, R.
SHIRES
et al telah meneliti sembilan penderita yang mendapat serangan
asthma dari yang ringan sampai berat sebelum mendapat pengobatan dan sepuluh me-
nit sesudah pemberian aminophyllin intra vena (250 mg) atau selektip beta adrenergik
stimulant, hexoprenaline ( 5 mikro gram ) intra vena.
Pada penderita yang belum diobati didapatkan kenaikan glucagon, free fatty acid dan
glucosa darah. Sedang insulin, growth hormon, cortisol, thyrotropin dan keton body
adalah normal.
Sesudah pengobatan, yang nyata menurun adalah kalium dalam plasma pada penderita
yang mendapat hexoprenaline dan peningkatan lactat dari kedua golongan penderita
yang diobati.
R. SHIRES et al. British J Chest 73 : 66-69, 1979.
MALFORMASI FOETUS vs KELAINAN BENTUK UTERUS
Diduga beberapa prosen dari bayi yang lahir dewasa ini mengal2mi malformasi,
angka yang pasti belum dipublikasikan. Berbagai macam obat terbukti dapat menye-
babkan hal ini akan tetapi satu lagi sebab malformasi ini dilaporkan oleh
MARVIN
E.
MILLER
et al dimana pada 14 anak malformasi yang diteliti ternyata sekunder
disebabkan oleh kelainan uterus. Diantara 14 anak tersebut satu diantaranya mengalami
hypoplasi paru, tetapi semua anak yang hidup menunjukan pertumbuhan ke arah
normal.
Ditemukannya kelainan dasar, memungkinkan pembedahan untuk rekonstruksi uterus
yang dapat mencegah malformasi pada kehamilan yang berikutnya.
MARVIN. E. MILLER. J Pediatrics 94 (3) : 387-390, 1979.
Cermin Dunia Kedokteran No 15, 1979
45
KARDIOLOGI
KB
PENGARUH ROKOK PADA MORBIDITAS DAN MORTALITAS PENYAKIT JAN-
TUNG KORONER
Penyakit jantung koroner merupakan penyakit yang banyak dijumpai pada masya-
rakat modern. Berbagai hal dinyatakan sebagai penyebab timbulnya keadaan ini. Disam-
ping itu rokok dikatakan mempunyai pengaruh terhadap penyakit ini. Sejauh mana
pengaruh rokok terhadap morbiditas dan mortalitas para penderita penyakit jantung
koroner telah diteliti oleh R. MULCAHY et al. Dia meneliti 589 penderita laki-laki
yang berumur kurang dari 60 tahun yang masih hidup sesudah serangan infark miokard
(lM) 28 hari. Dan penelitiannya dilanjutkan selama satu sampai 15 tahun kemudian.
Pengobatan yang diberikan berdasarkan mobilisasi dini dan kembali bekerja seperti
biasa, rentetan latihan aktip serta long term risk factor intervention.
MULCAHY
mendapatkan pada penelitiannya bahwa : five years survival adalah 80%
dan ten years survival adalah 61%. Umur, beratnya serangan pertama dan hypertensi
mempengaruhi prognosis.
Kebiasaan merokok sebelum serangan tidak mempengaruhi survival. Dari 446 penderita
perokok yang menghentikan kebiasaan merokoknya, angka kematian adalah lebih ren-
dah dibanding penderita yang meneruskan kebiasaan merokoknya. Mereka yang mengu-
rangi rokoknya lebih dari setengah dari jumlah yang biasa dihisap sebelumnya, mem-
punyai prognosis yang lebih baik dibanding yang melanjutkan kebiasaan merokoknya
sama seperti sebelum serangan. Akan tetapi kedua-duanya mempunyai survival rate
yang rendah.
R. MULCAHY et al. British heart J41
(3) :
365, 1979.
ORAL KONTRASEPSI UNTUK PRIA.
Dewasa ini, masalah kepadatan penduduk terutama di negara-negara Asia merupakan
masalah yang cukup serius. Sampai-sampai beberapa negara memasukan program keluar-
ga berencana menjadi program nasional seperti lndonesia, RRC dan beberapa negara
lainnya. Di RRC bahkan diberikan tunjangan untuk keluarga dengan anak satu dan bila
mempunyai anaklagi maka tunjangan tersebut dihapus bahkan keluarga tersebut diden-
da dan berbagai peraturan lain diadakan dengan maksud agar setiap keluarga sebaiknya
mempunyai anak satu saja.
Disamping peraturan yang ketat seperti diatas Pemerintah RRC juga mencari jalan
lain dan salah satu hal yang cukup mengagetkan adalah diadakannya penelitian pemakai-
an GOSSYPOL sebagai kontrasepsi pada pria. Pada 10.000 sukarelawan yang mendapat
gossypol ternyata
efektifitasnya sebagai alat.kontrasepsi adalah 99,89 %sedangefek
sampingnya dikatakan sangat minimal. Obat tersebut cukup banyak terdapat di RRC
dan berasal dari biji pohon kapas.Dikabarkan dalam waktu dekat obat tersebut akan
diproduksi secara besar-besaran untuk dipergunakan sebagai kontrasepsi padapria.Ka
rena murah dan mudah penggunaannya.
Zat kimia yang berwarna kuning dan tak mempunyai rasa tersebut dapat diektraksi
dari akar, batang maupun dari biji pohon kapas. Dan sebenarnya sudah lama dipakai da-
lam proses industri. Akan tetapi khasiat antifertilitasnya ditemukan secara kebetulan.
Pada percobaan tersebut diatas sukarelawan yang berumur antara 30--40 tahun
yang mempunyai anak minimal satu, diberikan 20 mg gossypol dosis tunggal setiap hari
dan mereka menjadi infertil sesudah 50--70 hari. Sperma para sukarelawan tersebut ma-
ti, kalaupun hidup jumlahnya tidak melebihi empat juta per cc. Dan fertilitas kembali
normal sesudah tiga bulan penghentian pengobatan.
Update 1(1) : May, 1979.
46
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
KARDIOLOGI
GASTROLOGI
TOKSIKOLOGI
DIAGNOSA DINI INFARK MIOKARD
Infark Miokard
(IM)
merupakan penyakit jantung yang cukup banyak terjadi dewasa
ini dan cukup banyak menyebabkan kematian, apalagi di negara-negara maju. Segala
daya dikerahkan untuk mencari jalan agar morbiditas dan mortalitas penyakit ini dapat
dikurangi. Juga di lndonesia kegiatan kearah itu sudah dirintis sejak beberapa tahun
yang lalu, seperti berdirinya Lembaga Kardiologi, lntensive coronary care unit dan seba-
gainya.
MADDISON
bersama kawan-kawannya mencoba meneliti kadar myoglobine pada pen-
derita IM. Dia memeriksa darah 49 penderita yang mendapat serangan IM, 72 jam se-
sudah serangan dengan methoda immunoassay. Juga dia memeriksa creatinin kinase,
myocardial isoenzym, SGOT dan alfa hydroxy butyrate dehydrogenase.
Ternyata dari hasil pemeriksaannya didapatkan korelasi yang significant antara besar
infark pada pemeriksaan myocardial isoenzym dan myoglobine dalam semua group.
MADDISON
et al berkesimpulan bahwa pemeriksaan myoglobine adalah lebih sensitif
untuk diagnosa dini lM dan total myoglobine release mempunyai korelasi yang signi-
ficant dengan myocardial isoenzym dan perkiraan besar infark.
MADDISON et al.
British heart J
41
(3) : 370,
1979.
KHASlAT ANTASIDA PROFILAKSlS
Di dalam klinik sering dijumpai terjadinya perdarahan gastro intestinal pada penderi-
ta-penderita dengan trauma yang multiple, penderita yang mengalami operasi besar, sep-
sis, kegagalan ginjal, luka bakar luas dan sebagainya. Hashing et al mencoba memberi-
kan antasida pada penderita-penderita tersebut sebagai profilaksis. Ternyata pada seba-
gian penderitayangmendapat antasida (51 orang)
hanya 4 % yang menderita perda-
rahan gastrointestinal dan golongan penderita yang tidak mendapat antasida, 25 % men
derita perdarahan gastrointestinal. Sedangkan komplikasi pemberian antasida dikatakan
ringan dan dijumpai pada 25 % dari penderita. Komplikasi tersebut berupa : diarrhea,
regurgitasi dan kenaikan serum magnesium.
Hashing et al
N Engl J Med 298 :
1041 1045, 1978
ALKOHOLISMA vs KELAINAN FOETUS
Banyak obat telah diketahui bersifat teratogenik, juga alkohol dikatakan dapat
menimbulkan kelainan pada bayi bila ibu yang mengandung bayi tersebut adalah pemi-
num alkohol.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh J.
PEIFFER
et al didapatkan pada ibu-ibu
alkoholisma adanya kelainan pada anak yang dikandung oleh mereka. Tiga anak yang
masing-masing berumur enam bulan, sembilan bulan dan empat setengah tahun serta
tiga foetus yang masing-masing berumur 17 minggu, 18 minggu serta 20 minggu menun-
jukan kelainan yang hebat. Kelainan tersebut berupa : dysraphic state, hydranencepha-
ly, agenesis corpus callosum, archinensephaly, pronencephaly, mikro displasia, gastrichi-
sis, kelainan jantung dan craniofacial dysmorphogenesis. Bentuk dari cerebral malfor-
masi adalah tidak uniform dengan bentuk alkohol embryopathy. Penelitian tersebut ti-
dak menyokong asumsi bahwa adanya hubungan antara lamanya pemakaian dengan
sifat teratogen dari alkohol.
J.
PEIFFER et al.
JNeurological Sciences
41 : 125-137, 1979.
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
49
KB
UROLOGI
SATU HAL LAGI MENGENAI IUD/AKDR
lUD/AKDR merupakan alat kontrasepsi yang murah dan cukup mudah dipakai
untuk KB. Disamping kelebihannya juga dijumpai kekurangan-kekurangannya. Ke-
kurangan-kekurangan tersebut adalah :
· Timbul rasa sakit dan perdarahan sesudah pemakaian
· Terjadinya ekspulsi
· Tidak 100% efektip
Dan incidence dari kekurangan-kekurangan tersebut adalah :
· Kehamilan terjadi pada 1 -- 6/100 wanita per tahun
· Ekspulsi terjadi pada 4 -- 18/100 wanita per tahun
· Pengangkatan kembali 12 -- 16/100 wanita per tahun
· Perforasi 0,5%
· Kematian terjadi pada 1 -- 3/100.000 pemakai.
Bila dihitung 100.000 wanita maka kira-kira 3000 pemakai AKDR akan hamil, 12.000
akan mengalami ekspulsi, 14.000 memerlukan pengangkatan kembali, 500 akan menga-
lami perforasi dan 1 -- 3 mungkin akan mati.
Dari data-data tersebut diatas Prof Ruben mengemukakan alasan-alasan yang dapat
menunjang pemakaian AKDR ketimbang komplikasi-komplikasi tersebut diatas.
Beliau mengatakan dari 3000 wanita yang akan menjadi hamil tersebut 50 -- 60%
akan mengalami abortus yang spontan. Dari 12.000 wanita pemakai AKDR yang menga-
lami ekspulsi mudah dilakukan pemasangan kembali dengan memilih AKDR yang mem-
punyai ukuran yang lebih besar. Dari 14.000 pemakai yang memerlukan pengangkatan
kembali tidak menjadi masalah karena mudah dilakukannya.
Lima ratus perforasi yang terjadi merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dan
perlu pemilihan type AKDR yang lebih aman agar hal ini tidak terjadi.
Lima ratus penderita yang memerlukan perawatan di rumah sakit, umumnya menderita
komplikasi yang ringan dan mudah diatasi dalam beberapa hari.
Kematian yang terjadi pada satu sampai tiga wanita per 100.000 disanggah oleh Prof
Ruben sebagai berikut : bila tidak dilakukan pencegahan kehamilan pada 100.000
wanita tersebut maka akan terjadi mortalitas antara 200 -- 300/100.000 kelahiran.
Dari risk benefit tersebut diatas adalah suatu keputusan yang bijaksana bila AKDR
dipakai sebagai alat kontrasepsi.
RUBEN APELO.
Seminar Lokakarya IUD/AKDR,
11
13
Juli 1979.
CEPHALEXIN DAN CYSTITIS
Cystitis khronik merupakan penyakit yang cukup sering dijumpai dalam praktek
sehari-hari. Pengelolaannya memerlukan perhatian yang lebih banyak serta memakan
waktu yang lebih lama. MULLINGER EILON melaporkan trial yang dilakukannya
pada penderita-penderita cystitis dengan memakai cephalexin.
Empat puluh dua penderita yang berhasil dikumpulkan oleh sepuluh dokter umum
yang menderita paling kurang dua kali serangan cystitis dalam enam bulan terakhir
yang mempunyai kemungkinan besar untuk relaps. Penderita-penderita tersebut diberi-
kan dosis penuh antibiotika sampai gejala dan bakteriuria menghilang. Kemudian di-
berikan 125 mg cephalexin malam hari. Sebagian penderita mendapat plasebo untuk
perbandingan. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : dari 21 penderita yang men-
dapat cephalexin, 18 penderita bebas dari cystitis selama 24 minggu dan sepuluh pende-
rita yang mendapat plasebo mengalami relaps. Trial ini dikatakan
.
cukup dapat diterima
oleh penderita.
Practi tioner
221,
769,
1979.
50
Cermin Dunia Kedokteran
No.
15, 1979