background image
KEGAWATAN DAN KEDARURATAN MEDIK II
Editor: dr. Arjatmo Tjokronegoro PhD, Dr.AH Markum. Jakarta.
Fakultas Kedokteran FKUI, 1982. 94 halaman.
Kegawatan dan kedaruratan medik tampaknya banyak me-
narik perhatian kalangan kedokteran. Buku ini merupakan
kumpulan naskah dari Seminar Kedaruratan Medik ke II, me-
nyusul seminar pertama lima bulan sebelumnya.
Dibahas dalam buku ini : (i) masalah luka bakar, (ii) sum-
batan mendadak pada saluran kemih, (iii) abdomen akut pada
bayi dan anak, (iv) luka kranioserebral, (v) trauma mata,
(vi) trauma larings dan benda asing dalam saluran nafas,
(vii) perdarahan dalam obstetri dan ginekologi, (viii) kompli-
kasi kontrasepsi dalam keluarga berencana.
Secara umum buku ini sangat bermanfaat bagi setiap dok-
ter. Mutu kedelapan naskah yang dibahas dapat dikatakan
sama bagusnya, dan cukup komprehensif. Hanya naskah me-
ngenai komplikasi kontrasepsi terlalu pendek, hanya 4 ha-
laman. Mengingat KB merupakan program nasional, seharus-
nya ada baiknya bila masalah ini dibahas lebih mendalam.
Ataukah dokter-dokter kini telah jenuh oleh masalah ini?
Dicetak di atas kertas HVS tebal, mutu cetakannya bagus.
Para dokter kami anjurkan memilikinya.
KODE ETIK PENELITIAN KEDOKTERAN
Penyusun : Prof Dr Sri Oemijati, Dr Iskandar Wahidiyat,
Dr Arfatmo Tjokronegoro, dr Arif Budianto, dr Tarmizi,
dr Sulistia Gunawan, dr R Suprapti Samil, dr Widodo Talogo
MPH, dr MK Tadjudin.
Jakarta, Fakultas Kedokteran UI, 1982. 17 halaman.
Inti kode etik ini diambil dari Deklarasi Helsinki tahun
1964; saduran beserta penjelasan-penjelasannya, ditambah
dengan sedikit bab mengenai etik penulisan hasil penelitian,
serta contoh surat persetujuan. Itu saja.
Patut disayangkan bahwa para penyusun lupa bahwa
deldarasi Helsinki 1964 telah direvisi pada tahun 1975 oleh
Sidang Kedokteran Dunia (World Medical Assembly) ke 29
di Tokyo. Maka beberapa masalah aktual luput dari pemba-
hasan. Revisi yang dilakukan di Tokyo itu antara lain men-
cakup : penggantian istilah "penelitian klinik" dengan "pene-
litian biomedik". Prinsip dasar diperluas dengan ayat mengenai
perlunya protokol eksperimen dan komite etik
yang inde-
penden, "The design and performance of each experimental
procedure involving human subjects shoud be clearly formu-
lated in an experimental protocol which should be transmitted
to a specially appointed independent committee for conside-
ration, comment and guidance." (I,2) Pentingnya Komite
yang independen untuk mengawasi penelitian biomedik ini
ditegaskan sekali lagi pada pertemuan-pertemuan WHO/CIOMS
tahun 1981 yll. Ini perlu ditegaskan karena pada banyak
negara, etik atau tidaknya suatu penelitian biomedik sering
diserahkan pada si peneliti itu sendiri untuk mempertim-
bangkannya.
Perubahan penting lainnya ialah bahwa bila pada deklarasi
terdahulu hanya disebutkan "Setiap proyek penelitian harus
terlebih dahulu dipertimbangkan dengan seksama untung rugi-
nya bagi orang percobaan atau orang-orang lain," maka pada
revisi ditegaskan bahwa kepentingan subyek percobaan tak
boleh dikorbankan demi kepentingan ilmu atau masyarakat
(1,5).
Mengenai publikasi hasil
penelitian, disebutkan bahwa
penelitian yang tidak sesuai dengan Prinsip-prinsip ini harus
ditolak untuk publikasinya. (I,8). Naskah lengkap Deklarasi
Helsinki yang telah direvisi dapat dibaca pada Cermin Dunia
Kedokteran No. 25 yll.
Namun dengan segala kekurangannya, buku pedoman ini
patut kita sambut, karena merupakan pedoman pertama yang
diterbitkan FKUI.
IMUNOLOGI : Diagnostik dan Terapi
Editor : dr. Arfatmo Tjokronegoro PhD, dr Santoso Cornain
DSc. Jakarta : Fakultas Kedokteran Ul, 1982. 99 halaman.
Bersama dengan
"recombinant DNA" , imunologi merupakan
ilmu yang paling pesat perkembangannya di dunia kedok-
teran. Dalam bidang-bidang itulah diharapkan adanya lon-
catan-loncatan kemajuan ilmu kedokteran. Ironiknya, imuno-
logi belum mendapat perhatian yang luas, masih merupakan
bidang ilmu yang baru di negara kita. Ini dapat dimengerti
kalau diingat teknologi tinggi serta biaya mahal yang dibu-
tuhkannya. Maka buku ini diharapkan akanmerangsang te-
naga-tenaga muda untuk berlomba mengejar keterbelaka-
ngan kita dalam bidang imunologi".
Bab pertama buku ini
"Imunologi dan Penyakit", memba-
has dasar-dasar imunologi.
Bab berikutnya
"Imunoglobulin danGamopati Monoklonal".
Berikutnya
"Beberapa Jenis Protein sebagai Tanda Kegana-
san" membahas AFP, CEA, TAG dsb, yang berguna untuk
mengenal keganasan pada tahap awal. Bab-bab lainnya adalah
"Makna Pemeriksaan
Autoantibodi (ANA)",
"Pedoman
Pemeriksaan Imunologik Selular dan Maknanya dalam Kli-
nik" , "Kegunaan Pemeriksaan HLA dan Klinik", " Pengunaan
Obat Anti-alergi secara Rasional",
"
Mekanisme Kerja Imuno-
supresif", dan akhirnya
"
Penggunaan Sitostatika sebagai
obat Imunosupresif dalam Klinik".
Bagi dokter yang tidak ingin tertinggal jauh ilmu penge-
tahuannya, buku ini akan bermanfaat, karena imunologik
menjangkau hampir semua bidang-bidang lain dalam ilmu
kedokteran.
E.N.
Cermin Dunia Kedokteran No. 26, 1982
47