HASIL PENELITIAN
Pengaruh Pengabutan
Alpha cypermethrin 30 EC
dan Lambda sihalothrin 25 EC
terhadap Larva Aedes aegypti
Hasan Boesri, Hadi Suwasono, Damar Tri Boewono, Raharjo
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Salatiga
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengabutan insektisida
alphacypermethrin 30 EC dan lambda sihalothrin 25 EC terhadap larva Aedes aegypti
di dalam dan luar rumah. Pengabutan dilakukan pagi hari di daerah pemukiman desa
Tegalrejo Permai dan Karangalit, Kodya Salatiga dengan menggunakan alat Swing Fog
SN 50 dengan nozzle 0,8 mm.
Berdasarkan uji hayati diketahui dosis 70 ml/ha Alphacypermethrin 30 EC dapat
membunuh larva Aedes aegypti di dalam rumah sebanyak 34% dan di luar rumah
sebanyak 3%. Pada dosis 75 ml/ha Lambda sihalothrin 25 EC dapat membunuh larva
Aedes aegypti di dalam rumah sebanyak 69% dan di luar rumah sebanyak 14,2%.
PENDAHULUAN
Pengabutan di pemukiman telah lama dilakukan oleh
Departemen Kesehatan dalam pemberantasan vektor Demam
Berdarah Dengue. Mengingat insektisida yang dikabutkan
dapat memenuhi ruangan, maka ada kemungkinan partikel-
partikel insektisida mencemari air dan berpengaruh terhadap
larva yang mungkin ada di tempat tersebut. Pemberantasan
larva Aedes aegypti dengan Temephos (Abate®) yang dita-
burkan ke tempat penampungan air seperti tempayan, bak
mandi, bak WC, dan drum belum menjangkau tempat-tempat
perindukan nyamuk yang sulit diketahui, misalnya air perang-
kap semut yang berada di bawah meja dan lain-lain.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeiahui pengaruh
pengabutan insektisida bahan aktif Alphacypermethrin 30 EC
dosis 70 ml/ha dan Lambda sihalothrin 25 EC dosis 75 ml/ha
terhadap larva Aedes aegypti pada kontainer di dalam dan luar
rumah.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan pada pagi hari pukul 08.00-09.00 di
perumahan Tegalrejo Permai dan Karangalit, Kodya Salatiga
pada bulan September 1997. Penelitian dilakukan terhadap
larva Aedes aegypti yang ada di dalam kontainer dan diletak-
kan di dalam dan luar rumah. Kontainer yang digunakan ber-
diameter 12 cm dan setiap pengabutan diperlukan 20 kontainer
(satu rumah satu kontainer). Setiap kontainer diisi air sebanyak
200 ml dengan kedalaman 3 cm dan dimasukkan larva Aedes
aegypti instar III/VI sebanyak 25 ekor. Pengabutan dilakukan
menggunakan alat Swing Fog SN.50, merk Motan dengan
ukuran nozzle 0,8 mm. Untuk setiap rumah dilakukan penga-
butan selama 1 menit di dalam dan luar rumah. Setelah 30
menit pasca pengabutan, larva diambil dan dibawa ke
laboratorium.
Parameter yang diamati adalah angka kelumpuhan dan
angka kematian setelah 24 jam pasca pengabutan. Apabila ang-
ka kelumpuhan atau kematian larva Aedes aegypti pada setiap
kelompok kontrol antara 5-20%, maka dilakukan koreksi
menurut Abbot yaitu
(1)
:
(A C) X 100
AI =
100 - C
Keterangan :
AI = angka kematian atau kelumpuhan (%) setelah dikoreksi
A = angka kelumpuhan atau kematian (%) pada kelompok perlakuan
C = angka kelumpuhan atau kematian (%) pada kelompok kontrol
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 41
Uji Statistik
Data diolah dengan Analisis Varians dalam Rancangan
Acak Kelompok dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata
Terkecil (BNT)
(2)
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Alphacypermethrin dan Lambda sihalothrin adalah insek-
tisida golongan piretroid sintetik yang bekerja terhadap sistem
saraf pusat serangga yang dapat menyebabkan kelumpuhan
atau kematian
(3)
. Pada penelitian ini pengaruh insektisida
terhadap larva Aedes aegypti yang diuji ditentukan oleh angka
kematian 24 jam pasca pengabutan
(3)
. Dalam uji efikasi insek-
tisida Alphacypermethrin 30 EC dosis 70 ml/ha, setelah 24 jam
pasca pengabutan pada kontainer di dalam rumah diperoleh
rata-rata kematian larva Aedes aegypti sebanyak 34% dan di
luar rumah 3%. Pada perlakuan dengan insektisida Lambda
sihalothrin 25 EC dosis 75 ml/ha di dalam rumah diperoleh
rata-rata kematian larva Aedes aegypti sebanyak 69% dan di
luar rumah sebanyak 14,2% (Tabel 1 dan 2).
Berdasarkan uji statistik ditemukan perbedaan bermakna
(p < 0,05) antara kematian larva Aedes aegypti pada kontainer
di dalam dengan di luar rumah; demikian juga antar jenis
insektisida yang diuji. Berbedanya angka kematian larva Aedes
aegypti di dalam dan luar rumah dapat disebabkan oleh faktor
lingkungan yaitu angin. Di dalam rumah tidak ada angin
(kecepatan angin 0 km/jam) sehingga kabut mengumpul agak
lama di dalam rumah
Tabel 1. Persentase kematian larva Aedes aegypti akibat pengabutan insektisida di dalam rumah.
Jumlah dan ulangan
Waktu pengamatan pasca pengabutan
No. Insektisida
Kurungan Larva
2
jam
4
jam
8
jam
12
jam
24
jam
1
Alphacypermethrin
I
1
25 ekor
16
20
20
24
44
30 EC, dosis 70 m1/ha
2
25 ekor
32
48
48
48
48
11
1
25
ekor 0 0 0 0 4
2 25
ekor 32 40 44 60 64
III
1
25
ekor 0 0 0 8 8
2
25
ekor 8 8 8 8 44
IV
1
25
ekor 0 0 0 8 8
2 25
ekor 8 8 8 12 24
V 1 25
ekor 72 72 72 80 88
2 25
ekor 8 8 8 12 32
VI 1 25
ekor 16 80 80 80 80
2 25
ekor 4 12 12 12 28
VII
1 25
ekor 16 20 20 20 40
2 25
ekor 8 20 20 20 36
VIII
1
25
ekor 0 0 0 0 0
2
25
ekor 0 0 0 0 4
IX 1 25
ekor 16 16 16 60 72
2
25
ekor 0 0 0 0 0
X 1 25
ekor 0 0 12 12 12
2 25
ekor 8 16 24 28 44
Rata-rata persentase kematian larva Ae. aegypti 12,2 18,4 19,6 24,6 34,0
2 Lambda sihalothrin
I
1
25 ekor
96
100
100
100
100
25 EC, dosis 75 ml/ha
2
25 ekor
20
20
44
76
28
11 1 25
ekor 96 100 100 100 100
2 25
ekor 8 16 28 32 60
111
1 25
ekor 24 24 24 88 88
2
25
ekor 0 4 4 4 12
IV 1 25
ekor 32 32 72 72 84
2 25
ekor 8 8 12 32 76
V 1 25
ekor 4 4 12 20 40
2 25
ekor 4 4 4 12 24
VI 1 25
ekor 100 100 100 100 100
2 25
ekor 24 28 28 36 76
VIl
1 25
ekor 92 96 96 96 100
2 25
ekor 20 24 28 32 40
VIII 1 25
ekor 100 100 100 100 100
2 25
ekor 32 32 36 40 52
IX 1 25
ekor 96 100 100 100 100
2 25
ekor 16 16 40 40 52
X 1 25
ekor 88 88 88 96 96
2 25
ekor 24 28 36 44 52
Rata-rata persentase kematian larva Ae. aegypti 44,2 46,2 52,6 61,0 69,0
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
42
Tabel 2. Persentase kematian larva Aedes aegypti akibat pengabutan insektisida diluar rumah.
Jumlah dan ulangan
Waktu pengamatan pasta Pengabutan
No. Insektisida
Kuruagan Larva
2
jam
4
jam
8
jam
12
jam
24
jam
1
Alphacypermethrin
I
1
25 ekor
4
4
4
4
8
30 EC, dosis 70 ml/ha
2
25 ekor
0
0
0
0
0
II 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 0 0
III 1 25
ekor 0 0 0 0 4
2 25
ekor 0 0 0 0 0
IV 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 0 0
V I 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 0 0
VI 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 0 0
VII 1 25
ekor 0 0 0 4 8
2 25
ekor 0 0 0 0 0
VIII 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 12 36
IX 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 0 0
X 1 25
ekor 0 0 0 0 4
2 25
ekor 0 0 0 0 0
Rata-rata persentase kematian larva Ae. aegypti 0,2
0,2
0,2
1,0
3,0
2 Lambda sihalothrin
I
1
25 ekor
92
100
100
100
100
25 EC, dosis 75 ml/ha
2
25 ekor
0
0
0
8
8
II 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 4 4
III 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 0 0
IV 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 4 4 4 4 12
V 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 0 0
VI 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 4 12 20
VII 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 24 28
VIII 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 4 8
IX 1 25
ekor 0 0 0 12 16
2 25
ekor 20 20 20 76 80
X 1 25
ekor 0 0 0 0 0
2 25
ekor 0 0 0 4 8
Rata-rata persentase kematian larva Ae. aegypti 5,8
6,2
6,4
12,4
14,2
dan kontaminasi dengan kontainer yang berada di lokasi pene-
litian berlangsung lama pula, akibatnya tingkat kematian larva
dalam kontainer tinggi. Di luar rumah angin bertiup dengan
kecepatan 0-0,48 km/jam (Skala Beaufort), ini menyebabkan
insektisida menyebar sehingga tingkat kontaminasi kontainer
dan kematian larva rendah. Hasil pengujian dianggap baik
apabila nilai kematian antara 98-100%; kurang dari nilai
tersebut dinyatakan tidak baik atau tidak efektif
(3)
. Pada
penelitian ini insektisida berbahan aktif Alphacypermethrin 30
EC dosis 70 ml/ha dan Lambda sihalothrin 25 EC dosis 75
ml/ha tidak efektif membunuh larva Aedes aegypti yang berada
di kontainer berdiameter 12 cm dengan kedalaman air 3 cm
(volume air 200 ml).
Menurut WHO kondisi lingkungan berupa suhu udara,
kelembaban dan kecepatan angin dapat mempengaruhi hasil
pengabutan dengan insektisida. Kondisi yang dianggap baik
untuk pengabutan adalah suhu 18°C-28°C, kelembaban
60%-80% dan kecepatan angin kurang dari 9 km/jam
(1)
. Pada
awal pengabutan suhu udara dalam rumah berkisar
20,5°C-26°C dan kelembaban berkisar 58%-64%; di luar
rumah berkisar 21°C-26,5°C dan kelembaban berkisar
62%-68%. Pada akhir pengabutan suhu udara dalam rumah
berkisar 20°C-27°C dan kelembaban 50%-62%; di luar rumah
suhu udara berkisar 22°C-28°C dan kelembaban berkisar
60%-62%. Kondisi lingkungan ini masih sesuai dengan
ketentuan yang berlaku untuk uji pengabutan insektisida.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 43
Tabel 3. Persentase kematian larva Aedes aegypti di daerah kontrol.
Jumlah dan ulangan
Waktu pengamatan pasca pengabutan
No. Kontrol
Kurungan
Larva
2
jam
4
jam
8
jam
12
jam
24
jam
1 Dalam rumah
I
1
25 ekor
0
0
0
0
0
2 25
ekor 0 0
0
0
0
II
0 0
1
25
ekor 0 0
0
2
25
ekor 0 0 0 0 0
Rata-rata
0
0
0
0
0
2 Luar rumah
I
1
25 ekor
0
0
0
0
0
2
25
ekor
0 0
0
0
0
1
25
ekor 0 0 0 0
II
0
2
25
ekor 0 0 0 0 0
Rata-rata
0
0
0
0
0
KESIMPULAN
Pengabutan dengan Lambda sihalothrin 25 EC dosis 75
ml/ha dan Alphacypermethrin 30 EC dosis 70 ml/ha tidak
efektif membunuh larva Aedes aegypti yang berada pada
kontainer berdiameter 12 cm di lingkungan rumah, karena pada
uji efikasi ini rata-rata kematian larva Aedes aegypti kurang
dari 98%.
2. Robert GD Steel, James H. Torrie. Prinsip dan Potensial Statistika.
Cetakan ketiga. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, 1993.
KEPUSTAKAAN
1. WHO. Chemical methods for the control of arthropod vector and pest of
public health importance, 1983.
3.
Tarumengkeng RC. Penggantian Toksikologi Insektisida. Fakultas Pasca
Sadana IPB. Bogor, 1989.
4. WHO. Instruction for the bio-assay of insecticidal deposits on wall
surface. Seventeenth report of the WHO Expert Committee on
insecticides, Geneva, 1970.
5. Departemen Pertanian. Metode Standar Pengujian Efikasi Pestisida.
Kornisi Pestisida. Deptan. Jakarta, 1995.
6.
Departemen Kesehatan. Pemberantasan Vektor dan cara evaluasinya. Dit.
Jen. PPM & PLP. Dep. Kes. Jakarta, 1987.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
44