Pengalaman Praktek
Membanggakan Dosa
Pada suatu senja yang mendung sepasang merpati (dua remaja) yang nampaknya
tengah dimabuk kepayang dating ke tempat praktek saya. Keduanya adalah siswa pada
sebuah Sekolah Lanjutan Atas (SLA) Negeri di kota setempat.
Mereka memang mengaku sedang ngebet-ngebetnya berpacaran. Akibat hubungannya
yang terlalu intim maka sang putri kini terlambat haid 2 bulan. Dari hasil pemeriksaari
sementara dapat disimpulkan penderita sedang hmmil. Namun untuk memastikan
diagnosis, saya menganjurkan supaya penderita melakukan tes kehamilan.
Saya sudah menduganya, penderita akan menolak melakukan tes kehamilan bahkan
secara belak-belakan dia minta agar langsung disedot (istilah untuk MR). Walaupun
demikian, saya masih berusaha memberikan pengertian bahwa tindakan itu tidak
dibenarkan dari segi etika kedokteran ...
Belum selesai saya berbicara, penderita sudah menjegalnya.
"Rupanya dokter belum tahu bahwa saya sudah biasa melakukan hal seperti ini. Saya
pernah melakukan MR tiga kali. Yang mengerjakan adalah dokter 'X' langganan saya.
Sekarang beliau sedang cuti. Biasa-biasa saja, tidak ada apa-apanya, kok. Janganlah dokter
membesar-besarkan masalah yang sebenarnya kecil!
"
Demikian gencarnya pasien menceracau kata-katanya meluncur seperti peluru meriam
menuju sasaran. Saya betul-betul merasa terpojok, .... dan belum sempat saya mengatur
napas untuk berbicara, penderita sudah memberondong lagi dengan pertanyaan.
"Apakah dokter tidak bisa membantu kami. Kalau memang tidak bisa, kami akan
mencari dokter lain yang dapat menolong kami !?"
"Saya bisa dan senang menolong orang .... tetapi maaf, kalau untuk urusan sedot-
menyedot ataupun isap-mengisap saya tidak bisa melayaninya!
"
kata saya rada berkelakar.
"Wah, jika begitu kami salah alamat" gerutunya sambil berdiri lalu ngeloyor keluar. Di
ambang pintu mereka masih sempat menoleh kepada saya serta mengucapkan permisi dan
selamat sore. Di wajahnya tidak terbayang rasa penyesalan sama sekali, tetapi justeru rasa
banggalah yang terlihat. Ya, barangkali mereka bangga dengan dosadosanya.
Dr. Ketut Ngurah
Laboratorium Parasitologi FK-Unud, Denpasar
Sehidup Semati
Malam tak berbintang disertai dingin yang mencekam, karena akan turun hujan
pada malam itu, tak ketinggalan pula kesunyiin yang sepi, begitulah malam tersebut di
komplek Puskesmas Taktakan yang kami tempati, mungkin hal ini juga dialami di
Puskesmas yang ada di Pedesaan di seluruh Indonesia dengan waktu yang berbeda.
Malam itu membuat kita tidur nyenyak, ditambah lagi kecapekan oleh karena
siangnya kita met bina Pos Yandu. Pada saat titik kulminasi nyenyaknya tidur, rumah
kita diketok beberapa kali dari luar disertai ucapan "Assalamu'alaikum" kita terjaga
sambil membalasnya dengan ucapan
"
Alaikum salam Warohmatullohi Wabarokatuh"
terlihat saat itu jam menunjukkan pukul 4,00 pagi, tepatnya pada tanggal 11 Desember
1985. Pintu biasanya tidak terus kita bukakan, tapi dibangunkan dulu isteri tersayang,
setelah diperhatika.n situasi di luar dari jendela, lalu kita bukakan pintu dan ada
beberapa orang yang mengharapkan bantuan dokter. Kita lakukan anamnesa tentang
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
56
penderita dan kita dapati 2 hal yang meragukan dari mereka :
Menyatakan perlunya bantuan, akibat terjadinya keracunan suami isteri yang sudah
sangat krisis.
Menyatakan ingin mengetahui atau ingin diperiksa apakah keracunan suami isteri itu
sudah meninggal atau belum.
Dari hasil Anamnesa singkat itu, mereka sangat mengharapkan bantuan dokter, lalu kita
persiapkan alat-alat untuk bantuan tersebut. Kampung Bojong desa Sayar yang letaknya
kira-kira 25 Km dari Komplek Puskesmas menjadi Tujuan kita, yang dapat dicapai kira-
kira 1 jam dengan kendaraan sepeda motor.
Sesampainya di desa tersebut masyarakat telah berkumpul menantikan kedatangan
dokter, lalu kita lakukan Anamnesa singkat dengan keluarga terdekat, kemudian kita
lakukan pula pemeriksaan, ternyata penderita telah meninggal dunia.
Kita kumpulkan keluarga terdekat almarhum, tokoh masyarakat, dan kepala desa serta
aparatnya dan kita jelaskan tentang mayat tersebut serta langkah-langkah yang akan
dijalankan :
Pada pemeriksaan kedua penderita, kita jelaskan, bahwa penderita sudah meninggal
dunia.
Kasus ini harus segera dilaporkan kepada Polisi setempat.
Mayat sementara tidak boleh dirubah posisinya serta barang-barang yang ada di
sekitarnya, karena perlu untuk pemeriksaan polisi dan Visum Et Repertum.
Sekitar jam 8.00 pagi hadir Tripida dan Polies dari Serang, terus dilakukan pemeriksaan
Intensif dan Visum Et Repertum lebih kita lengkapi, setelah selesai semuanya dianjurkan
segera dikubur.
Proses kejadian ini dapat kita simpulkan, yang kita perkirakan kemungkinan besar
bahwa adanya sosial ekonomi yang membuat resah keluarga tersebut, yang akhirnya
memilih jalan yang tidak baik..
Pada malam kejadian tersebut suami isteri berangkat ke kota sekitar jam 20.00 wib dan
membeli susu dan i iangkok plastik, setelah mereka kembali dan di rumah mereka minum
susu yang telah bercampur racun, seberapa banyak yang diminum, tidak dapat ditentukan,
tapi jelas adalah susu yang dicampur dengan racun serangga, hal ini kita perkirakan dari
hasil pemeriksaan di lapangan.
Akhirnya kita terkesima buat kasus ini apakah mereka berdua dengan rencana sehidup
semati dengan pengertian mati bersama atau apakah yang satu ingin mati dan sekaligus
sebagai si pembunuh. Kasus ini tidak terungkap secara tuntas, karena proses kejadian ini
tidak sampai ke pengadilan, di mana pihak keluarga suami isteri tidak ada tuntutan di
belakang hari tentang kasus ini, sehingga Allah Subahan Wata' ala yang maha mengetahui.
(Wallohu 'aklam bissowab).
Dr. A.M. Hasibuan
Taktakan, Serang