Malaria pada Kehamilan
Emi liana Tjitra
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Angka kematian ibu karena kehamilan dan persalinan,
dan angka kematian bayi di Indonesia masih jauh lebih tinggi
dibandingkan di negara maju. Oleh sebab itu kesehatan ibu
dan anak menjadi prioritas pada Repelita V. Hal ini sangat
tepat, karena di tangan ibu terdapat kesejahteraan keluarga
dan negara, sedangkan anak adalah penerus pembangunan
bangsa.
Dalam Sistim Kesehatan Nasional, malaria merupakan
penyakit menular yang perlu diperhitungkan karena selain
menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi, juga
sewaklu-waktu dapat menimbulkan wabah dan menyerang
semua golongan umur (Depkes RI, 1984).
Malaria pada wanita hamil ternyata ditemukan lebih
banyak dibandingkan pada wanita yang tidak hamil
l
. Sedang-
kan pada kehamilan, malaria berat lebih sering dijumpai dan
angka kematiannya lebih tinggi dibandingkan dengan ibu ibu
yang tidak hamil
2
, selain itu selama kehamilan juga terjadi
peningkatan prevalensi dan kepadatan parasit falsiparum
3
.
Sedangkan di daerah tropis, malaria falsiparum pada kehamilan
merupakan penyebab terbesar kesakitan dan kematian janin dan
ibu
4
7
.
Dari hal-hal tersebut di atas terlihat bahwa malaria pada
kehamilan perlu mendapat perhatian khusus.
BATASAN
Malaria pada kehamilan adalah malaria yang timbul
selama kehamilan, yang dibuktikan dengan adanya parasit
Plasmodium dalam darah, atau pada plasenta yang dilahir-
kan
8
.
INSIDENS
Prevalensi malaria pada wanita hamil paling tinggi di-
temukan pada umur kehamilan 13 16 minggu
8
, sedang-
kan menurut McGregor dkk (1983) pada umur kehamilan
4 dan 5 bulan
6
. Dari hasil penelitian McGregor (1984) pada
wanita hamil (15 45 tahun) di Gambia, diketemukan bahwa
prevalensi dan kepadatan parasit paling tinggi pada primipara,
kemudian menurun sesuai dengan bertambahnya paritas
l
.
Sedangkan dari hasil penelitian prospektif terhadap 60 wanita
primipara di Afrika, prevalensi dan kepadatan parasit juga lebih
tinggi pada wanita hamil dibandingkan baik terhadap wanita
tersebut sebelum hamil atau wanita tidak hamil sebagai
kelompok kontrol, yang tinggal dalam jangka waktu dan
lingkungan yang sama
9
.
KEKEBALAN
Malaria sendiri bersifat imunosupresif
10
, dan banyak faktor
yang berperan dalam terjadinya imunosupresi pada kehamilan,
antara lain tingginya kadar steroid adrenal, korionik
gonadotropin dari plasenta, alpha fetoprotein, dan penekanan
fungsi limfosit yang ditemui pada wanita hamil. Adanya
imunosupresi ini diperkuat dengan menurunnya nilai rata-rata
dari IgG dan IgA pada masa kehamilan
u
McGregor (1984) juga membuktikan bahwa antibodi
spesifik malaria dari wanita hamil dengan parasitemia, lebih
rendah dibandingkan dengan wanita hamil sehat
l
. Hilangnya
kekebalan pada hamil muda sama dengan menurunnya 11
(sebeias) kali lipat dari kekebalan pada saat sembuh dari infeksi
malaria
.8
.
KEADAAN PLASENTA
Pada intervilli plasenta terdapat banyak eritrosit yang
berisi parasit, dan monosit yang memakan pigmen. Juga di-
temukan nekrosis fokal dari sinsitia, hilangnya mikrovilli
sinsitial, proliferasi sel sitotrofoblas, penebalan yang tak teratur
dan nyata dari dasar membran trofoblas, dan penonjolan seperti
lidah dari sinsitiotrofoblast ke dalam dasar membran i2 .
Umumnya infeksi pada plasenta lebih berat daripada di
darah tepi
13
. Plasenta dapat mengandung banyak eritrosit
yang terinfeksi parasit (sampai 65%), meskipun pada darah
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
48
tepi dapat tidak ditemukan parasit
14
. Jadi tidak ada korelasi
antara kepadatan parasit pada darah tepi dan plasenta dari
wanita hamil yang baik perkembangan kekebalannya'
s
Pada
imigran yang datang dari daerah non endemis ke daerah
endemis, dapat terjadi keadaan yang berlawanan yaitu sering
menunjukkan parasitemia tinggi tanpa infeksi plasenta yang
berat
16
Plasenta yang banyak mengandung pigmen tetapi tak ada
parasitnya, menunjukkan adanya infeksi lama atau infeksi yang
tak aktif. Demikian pula tidak tampak kumpulan monosit, atau
kelainan trofoblas, tetapi terdapat penebalan dasar membran.
Secara imunohistologis tak ada perbedaan bermakna antara
plasenta yang positip parasit dengan plasenta yang hanya
berpigmen
12
.
KOMPLIKASI
Abortus, prematuritas, kematian janin, dan bayi lahir mati.
Hal ini terjadi karena adanya gangguan atau mikrosirkulasi
yang berhenti pada plasenta
1638
Demam yang tinggi pada penderita malaria, mengaktifkan
uterus sehingga dapat menyebabkan pengeluaran hasil
pembuahan
9
. Pada daerah yang rendah endemisitasnya, diduga
ada hubungan antara terjadinya abortus dengan infeksi malaria.
Sedangkan di daerah yang holoendemis tidak ada hubungan
nyata antarainfeksi malaria dan terjadinya abortus
16
Mengenai bayi lahir mati, McGregor (1983) berpendapat
bahwa tidak ada hubungan antara bayi lahir mati dengan
infeksi plasenta. Ternyata bayi lahir mati di daerah urban
tertinggi pada paritas yang tertinggi pula, sedangkan di daerah
lain tertinggi pada primigravida
l,b
label 1. Angka bayi lahir mati per 1.000 kelahiran menurut tempat
tinggal, jenis kelamin bayi, status infeksi malaria pada plasenta,
dan paritas
'
.
Tempat Janis
kelamin Status
malaria
Paritas
tinggal
bayi
plasenta
0
1 dan 2
> 2
Urban laki-laki
negatif 31,9 64,4 91,1
positif
48,1
37,0
71,4
wanita negatif
21,8
17,9
39,4
positif
59,4
111,1
81,1
Daerah laki-laki
negatif 111,6
62,3 84,4
lain
positif
118,2
93,0
86,3
wanita negatif
101,1
35,8
79,8
positif
112,2
34,5
51,7
Berat badan lahir rendah.
Insidens tertinggi berat badan lahir rendah diketemukan
pada primigravida'
s,isao
Dalam hal ini berat badan lahir
rendah ( < 2.500 g ) diduga akibat gangguan sirkulasi darah
plasenta sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan.
Beberapa peneliti di Afrika (Nigeria dan Uganda) men-
dapatkan adanya hubungan antara berat badan lahir bayi
dengan infeksi malaria plasenta
17-21
. Hubungan ini jelas
terlihat pada primigravida; berat badan bayi waktu lahir dari
ibu primigravida dengan malaria, lebih rendah dibandingkan
ibu multigravida, dan tak tergantung dari jenis kelamin bayi
22
.
McGregor tidak menemukan adanya kecenderungan penurun-
an berat badan lahir bayi dengan meningkatnya kepadatan
parasit ibu, dan bayi berat badan lahir rendah tidak selalu
dilahirkan oleh ibu dengan plasenta yang terinfeksi berat"
Malaria kongenital.
Plasenta merupakan barier utama dari parasit malaria, dan
status kekebalan ibu berperan menghambat transmisi
tersebut
"
'
23
Oleh sebab itu pada banyak ibu-ibu yang non imun
dan semi imun terjadi transmisi malaria intra-uterin ke janin,
walaupun mekanisme transplasental dari parasit ini masih
belum diketahui. Pada ibu ibu yang berasal dari daerah
endemis, meskipun infeksi plasenta sering terjadi, insidens
malaria kongenital sangat rendah
24
. Insidens malaria plasenta di
daerah endemis sangat bervariasi, rata-rata 30%. Insidens
malaria kongenital pada ibu-ibu semi-imun 03%, dan tertinggi
pada ibu-ibu non imun : l0%
23,25
.
Mekanisme transplasental ini
dapat disebabkan karena penetrasi langsung melalui villi
chorion, separasi plasenta yang prematur, dan transfusi
fisiologis darah ibu ke sirkulasi darah janin di dalam uterus
atau pada saat melahirkan
26
. Rupanya kekebalan pasif dari ibu
(IgG) dapat melindungi janin dalam uterus sampai beberapa
minggu setelah dilahirkan
27
.
Gejala klinis malaria kongenital umumnya ditemui pada
bayi umur 38 minggu, sesuai dengan umur paruh IgG ibu
26
.
Selain IgG ibu, HbF (hemoglobin fetal), HbS, Thalasemia,
defisiensi G6PD, sekresi limfokin, makrofag, atau pengobatan
malaria selama kehamilan, dapat mencegah transmisi dari
plasenta ke sirkulasi janin
23,28
-
3
°
.
Partus sulit.
Pembesaran limpa yang dapat mencapai pelvis, dan
pembesaran hati merupakan faktor mekanis yang mendesak
diafragma dan menyulitkan persalinan
31
Anemia.
Anemia pada kehamilan dengan malaria sering dijumpai,
biasanya merupakan anemia hemolitik, dan umumnya pada
umur kehamilan 1624 minggu
9,32,33
.
Patogenesis anemia
hemolitik ini masih belum jelas, mungkin merupakan akibat
nutrisi dan parasitnya sendiri. Perrin (1982) mengatakan bahwa
faktor kekebalan memegang peranan panting dalam
menentukan penyebab anemia yang berhubungan dengan
malaria
m
. Anemia juga dapat disebabkan karena umur eritrosit
yang lebih pendek; sifat itu bertahan sampai beberapa minggi
setelah infeksi
9,35
Adanya eritrofagositosis terhadap eritrosit
yang tidak mengandung dan yang mengandung parasit di dalam
organ dalam, juga menyebabkan timbulnya anemia
36
Hematokrit tak berkorelasi dengan parasitemia atau infeksi
plasenta atau plasenta dengan pigmen
37
. McGregor (1984)
mendapatkan data bahwa penurunan kadar hemoglobin dalam
hubungannya dengan parasitemia, terbesar terjadi pada
primigravida, kemudian berkurang sesuai dengan peningkatan
paritas
'
(tabel 2).
Gangguan ginjal.
Hal ini jarang terjadi, biasanya disebabkan oleh Plasmo-
dium malariae. Dapat juga akibat penyakit lain, misalnya
keracunan kehamilan
24
. Seringkali penderita dengan gangguan
ginjal disertai dengan malaria otak, sehingga sukar dibedakan
dengan keracunan kehamilan
3a
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991 49
Tabel 2. Kadar Hb (g%) dari wanita Kaneba berdasarkan status para-
sitemia, kehamilan, dan paritas
r
.
Parasi-
Wanita tak hamil
Wanita hamil
temia
(1544 tahun)
PO
P1 dan P2
P3
Negatip 12,18+1,67 11,73+1,92
11,05+1,74
10,92+1,80
( 1.672 )*
(27)
(83)
(253)
Positip 11,62+1,84 10,55+1,74 10,58+1,71 10,79+1,64
(586) (48)
(53)
(68)
Perbedaar
x
0,56 1,18
0,47
d;13
Keterangan: * jumlah yang diperiksa.
P = paritas.
Hipoglikemia
Pada wanita hamil dengan infeksi berat sering dijumpai
hipoglikemia
39,4o
Hipoglikemia ini adalah sebagai akibat
berkurangnya suplai glukosa karena terjadinya hiperin-
sulinemia, asidemia dan disfungsi hati, yang semuanya meng-
hambat proses glukoneogenesis. Di samping itu kebutuhan
glukosa meningkat karena adanya hiperinsulinemia, demam,
infeksi, dan kehamilan
40,41
PENCEGAHAN
Malaria falsiparum sangat berbahaya terutama pada
trimester terakhir kehamilan, dan angka kematiannya sepuluh
kali lebih tinggi dibandingkan penderita lain. Seringkali janin-
nya juga meninggal seperti ibunya
42
. Oleh sebab itu pen-
cegahan perlu dilakukan sedini mungkin.
Kemoprofilaksis
Kemoprofilaksis dianjurkan di daerah endemis tinggi,
terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita, dengan
maksud mengurangi komplikasi pada kehamilan, agar ibu dapat
menyusui bayi-bayi yang baru dilahirkan, bayi lahir sehat, dan
mengurangi kematian neonatal dari bayi-bayi yang lahir
sehat
33
. Kemoprofilaksis tidak mencegah terjadinya infeksi,
tetapi dapat menekan dan membatasi konsentrasi parasit di
dalam darah (sison) sehingga tak dijumpai gejala klinis
43
.
Klorokuin, amodiakuin, dan obat-obatan inhibitor dihi-
drofolat reduktase (perimetamin, proguanil dan klorproguanil)
cukup aman untuk kemoprofilaksis ibu hamil. Pemberian obat-
obatan tersebut harus disertai dengan asam folat terutama pada
trimester I. Pada kehamilan lanjut, bila diberikan obat
antimalaria yang mengandung sulfonamid, teoritis dapat
menyebabkan kernikterus; tetapi ternyata tak ada data kuat-
yang melarang menggunakan Fansidar
®
atau Maloprim
®
untuk
ibu hamil. Wanita menyusui tidak dapat diberi obat, tersebut
karena diekskresi melalui air susu ibu sehingga sangat
berbahaya untuk bayi berumur kurang dari 6 minggu karena
beberapa sistem ensim bayi tersebut belum berkembang;
sedangkan penggunaan tetrasiklin harus dihindarkan
4
.
Vaksinasi
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang aman dan
efektif.
PENGOBATAN
Di daerah yang sensitif klorokuin digunakan klorokuin 1,5
g, atau dengan amodiakuin 1,2 g, selama 3 hari.
Tabel 3. Obat-obatan kemoprofilaksis malaria untuk ibu hami1
'
43,44
Daerah
Obat
Dosis oral
Efek samping Nama dagang
Sensitif
klorokuin
Resisten
Klorokuin
klorokuin
amodiakuin
klorokuin+
proguanil
SP (sulfa-
doksin/sul-
falen+piri
metamin
klorokuin+
dapsone+
pirimetamin
300 mg/mgg
300 mg/mgg
300 mg/mgg
200 mg/hr
1 tab/mgg
(S
=
500 mg
P = 25 mg)
300 mg/mgg
100 mg/mgg
12,5 mg/mgg
neuroretinitis
gangguan
penglihatan
neutropenia
def.as.folat
neutropenia
reaksi kulit
agranulosi-
tosis
hemolisis
def.as.folat
Nivaquine
®
Resochine
®
Camoquine
®
Paludrine
®
Fansidar
®
Maloprim
®
Tabel 4. Pengobatan oral malaria akut pada kehamilan
33
'
44
.
Hari pengobatan
Klorokuin
Amodiakuin
Hari I
6
jam
kemudian
Hari II
Hari III
600 mg
300 mg
300 mg
300 mg
600 mg
300 mg
300 mg
Di daerah yang resisten klorokuin digunakan SP (Fan-
sidar
®
), 3 tablet, dosis tungga1
44
. Menurut Mashaal (1986)
kerja Fansidar lambat, sehingga perlu didahului pemberian kina
3 tablet/hari (1 tablet = 600 mg) selama 2 hari dan kemudian
diikuti 2 tablet Fansidar
33
. Penggunaan Fansidar selama
kehamilan harus di bawah pengawasan ketat dokter karena efek
sampingnya yang teratogenik. Mengingat komplikasi bila tidak
diobati, maka pada kasus-kasus yang akut dapat diberikan kina
3 tablet/hari selama 7 hari
44
.
Pada dosis terapeutik kina sangat cepat mengendalikan
infeksi malaria, demam tinggi, mencegah terjadinya kelahiran
prematur, dan kematian janin. Kina sendiri dapat merangsang
kontraksi otot-otot uterus yang dapat menyebabkan abortus,
tetapi hal ini sangat jarang. Kina lebih sering menyebabkan
anemia hemolitik akut atau trombositopenia
45
.
Dari hal-hal yang telah dikemukakan di atas, dapat di-
ambil kesimpulan bahwa kina merupakan obat yang efektif
dan cepat untuk pengobatan malaria berat pada wanita hamil,
dan kehamilan bukan merupakan kontra indikasi penggunaan
kina.
Pengobatan tambahan
Bila terjadi hipoglikemia, berikan glukosa 50% intravena,
dilanjutkan dengan infus 510% glukosa44 .
Bila terjadi anemia besi diberikan preparat besi sebagai
berikut (tabel 5)
Bila terjadi anemia megaloblastik, diberikan asam folat 5
mg/hari. Asam folat ini sebaiknya diberikan secara rutin untuk
profilaksis
33
'
44
Bila terjadi defisiensi vitamin B12, diberikan vitamin B12
dengan dosis 1001.000 mikrogram sehari46 .
Bila terjadi anemia berat, dikoreksi dengan pemberian
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
50
transfusi darah.
Tabel 5 Pemberian oral preparat besi untuk wanita hamil.
Preparat
Kadar Fe (mg/tablet) Dosis (tablet/hari)
Fesulfat. 7 H20
Fesulfat, desiccated
Feglukonat
Fefumarat
Feglisin sulfat
64
58
39
66
105
40
2
2
23
2
1
2
KESIMPULAN
1)
Wanita hamil terutama primipara mudah mendapat infeksi
malaria, lebih tinggi kepadatan parasitnya, dan lebih berat
manifestasi klinisnya karena adanya imunosupresi selama
kehamilan.
2)
Parasit malaria dapat ditemukan dalam darah wanita hamil,
placenta atau keduanya.
3)
Abortus, prematuritas, kematian janin, bayi lahir mati, berat
badan lahir rendah, malaria kongenital, partus sulit, anemia,
gangguan ginjal, dan hipoglikemia merupakan komplikasi
malaria pada kehamilan.
4)
Pencegahan dengan kemoprofilaksis harus dimulai sedini
umur kehamilan, sebelum ditemukan vaksin malaria yang
memenuhi syarat.
5)
Pengobatan diutamakan pada keselamatan ibu dan anak,
dan tampaknya kina aman untuk pengobatan malaria pada
kehamilan.
KEPUSTAKAAN
1.
McGregor IA. Epidemiology, Malaria and Pregnancy. Am J Trop Med &
Hyg 1984; 33 (4) :. 51725.
2.
WHO. The Clinical Management of Acute Malaria. WHO Regional
Publ South East Asia Series no. 9. Thomas Press (India) Ltd, 1980.
3.
Bray RS, Anderson MJ. Falciparum malaria in pregnancy. Trans
Roy Soc Trop Med and Hyg 1979; 73 (4) : 42731.
4.
Wickramasuriya GAW. Clinical features of malaria in pregnancy. In:
Wickramasuriya GAW ed. Malaria and Ankylostomiasis in the pregnant
women. London: Oxford University Press, 1937: 590.
5.
Khanavongs M. Maternal mortality rate at Phaholpolpayuhasuna from
19771979. Thai Medical Council Bull 1980; 9 : 87781.
6.
McGregor IA, Wilson ME, Billewicz WZ. Malaria infection of the
placenta in the Gambia, West Africa; its incidence and relation-ship to
stillbirth, birth weight and placental weight. Trans Roy Soc Trop Med &
Hyg 1983; 77 (2) : 23244.
7.
Kietinun S, Somlaw S, Samlaw S. Outcome of pregnancy related in
malaria P. falciparum treated with quinine. 27th Siriraj Annual
Symposium, March 2529, 1985: 6872.
8.
Brabin BJ. An analysis of malaria in pregnancy in Africa. Bull WHO
1983; 61 (6) : 100516.
9.
Gilles HM, Lawson JB, Sibelas M, Voller A, Allan N. Malaria, Anaemia
and Pregnancy. Ann Trop Med &Parasitol 1969; 63 (2) : 245 -63.
10.
Weidanz WP. Malaria and alterations in immune reactivity. Br Med Bull
1982; 38 : 16772.
11.
McGregor IA, Rowe DS, Wilson ME, Billewicz WZ. Plasma immu-
noglobulin concentrations in a African (Gambian) community in relation
to season, malaria and other infections and pregnancy. Clin & Experiment
Immunol 1970; 7 : 5174.
12.
Galbraith RM, Faulk WP, Galbraith GMP, Holbrook TW. The
human maternofoetal relationship in malaria : 1. Identification of
pigment and parasites in the placenta. Trans Roy Soc Trop
Med Hyg 1980; 74 (1) : 5272.
13.
McGregor IA. Tropical aspects of the epidemiology of malaria. Israel J
Med Sci 1978a; 14 : 52333.
14.
Blacklock DB, Gordon RM. Malaria infection as it occurs in late
pregnancy; its relation to labour and early infancy. Ann Trop Med
Parasitol 1925; 19 : 32763.
15.
Kortmann HFCM. Malaria and pregnancy. MD thesis. University of
Amsterdam, Utrecht, Drukkerij Elinkwijk 1972.
16.
Lowson JB. Malaria in pregnancy. In: Lawson JB and Stewart DB. (eds).
Obstetrics and Gynaecology in the Tropics and Developing Countries.
London: E Arnold, 1967 : 5972.
17.
Archibald HM. The influence of malaria infection of the placenta
on the indicence of prematurity. Bull WHO 1956; 15 : 8425.
18.
Cannon DSH. Malaria and prematurity in the Western Region of
Nigeria. BMJ 1958; 2 : 8778.
19.
Spitz AJW. Malaria infection of the placenta and its influence on the
incidence of prematurity in Eastern Nigeria. Bull WHO 1959; 21 : 2424.
20.
Jelliffe EFP. Low birthweight and malarial infection of the placenta. Bull
WHO 1968; 38 : 6978.
21.
Archibald HM. Influence of maternal malaria on newborn infants. BMJ
1958; 2 : 15124.
22.
McGregor IA. Placental malaria. In: Sterky G, Mellander L (eds). Birth
weight distribution an indicator of social development. Uppsala: Swedish
agency' for research cooperation with developing countries 1978b : 178.
23.
BruceChwatt LJ. Acute malaria in newborn infants. BMJ 1970;
3 : 283.
24.
BruceChwatt LJ. Essential Malariology. Heinemann, 1980.
25.
Quinn TC, Jacobs RF, Mertz GJ dkk. Congenital malaria : a report
of four cases and a review. J Paediatr 1982; 101 : 22932.
26.
Quinn TC. Parasitic diseases during pregnancy. In: Sciarra JW (ed)
Gynaecology and Obstetrics. Philadelphia: Harper and Row, 1985: 127.
27.
Edozien JC, Gilles HM, Udeozo 1OK. Protective malarial immunity in
newborn Nigerian infants. Lancet 1962; ii : 951.
28.
Pasvol G, Weatherall DJ, Wilson RJM. Effects of foetal hemoglobin on
susceptibility of red cells to Plasmodium falciparum. Nature 1977; 270 :
1713.
29.
Friedman MJ. Erythrocytic mechanism of sickle-cell resistance
to malaria. Proc Nat Acad Sci (USA) 1978; 75 : 19947.
30.
Luzzatto L. Genetics of red cells and susceptibility to malaria.
Blood 1979; 54 : 96176.
31.
Maegraith B, Browne SG, Gilles HM, Reid HA, Stamm WP. Adams
& Maegraith : Clinical Tropical Diseases. Oxford Blackwell; 1980.
32.
Fleming AF dkk. Hemolytic anaemia in pregnancy in Nigeria:
recognition by simple laboratory procedures. West African Med J
1969; 18 (3) 828.
33.
Mashaal H. Clinical malariology: Southeast Asian Medical Information
Center. International Medical Foundation of Japan, 1986: 15867.
34.
Perrin LH dkk. The haematology of malaria in man. Seminars in
Haematology, 1982; 19 : 7081.
35.
Woodruff AW dkk. Cause of anaemia in malaria. Lancet 1979;
1 : 10557.
36.
Maegraith BG. Pathological process in malaria and blackwater fever.
Oxford: Blackwell, 1948.
37.
Jilly P. Anaemia in parturient women with special reference to malaria
infection of the placenta. Ann Trop Med & Parasitol 1969; 63 : 10916.
38.
Russell PF, West LS, Manwell RC, MacDonald G. Practical Malariology.
London: Oxford University Press, 1963.
39.
Migasena S. Hypoglycaemia in falciparum malaria. Ann Trop Med &
Parasitol 1983;77 (3) : 3234.
40.
White NJ, Warrel DA, Chathavanich P dkk. Severe hypoglycemia and
hyperinsulinemia in falciparum malaria. New Engl J Med 1983; 309 (2) :
616.
41.
Sherman I W. Biochemistry of Plasmodium (malaria parasites). Microbiol
Rev 1979; 43 : 45395.
42.
Warrell DA. Clinical management of severe falciparum malaria. Acta
Leidensia 1987; 55 : 99113.
43.
Cook GC. Prevention and treatment of malaria. Lancet 1988;
2 (9) : 326.
44.
WHO. The clinical management of acute malaria. WHO Regional Publ.
Southeast Asia Series no 9, 2nd ed, 1986.
45.
WHO. Draft paper by Prof. R. Desjardins on treatment of uncomplicated
falciparum malaria. In: WHO Meeting on Drug Resistant
malaria at Kuala Lumpur 1981
46.
Hudono ST. Penyakit darah. Ilmu Kebidanan, Edisi pertama. Yayasan
Bina Pustaka, Jakarta 1976 : 382-421
47.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Sistim Kesehatan Nasional.
Cetakan ketiga. Jakarta, 1984 : 39
48.
Logie DE, McGregor IA. Acute malaria in newborn infants. BMJ1970; iii :
404-5.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ditujukan pada Bapak Dr. Suriadi Gunawan, DPH, Kepala Puslit
Penyakit Menular dan kepada Ibu Dra. Hariyani AM yang memberikan
saran-saran dalam penulisan ini.
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991
52