Basil Tahan Asam
dan Limfadenitis Tuberkulosis
M isnadiarly
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI., Jakarta
PENDAHULUAN
Kelenjar getah bening merupakan organ kecil terletak ber-
deret-deret sepanjang pembuluh limfe. Jaringan parenkimnya
merupakan kumpulan jaringan limfoid yang dapat mengenal
antigen yang masuk ke dalam nodus dan membenkan reaksi
imunologik secara spesifik. Dinding pembuluh limfe yang tipis
mudah ditembus oleh makromolekul dan sel-sel yang berkelana
dad jaringanpengikat. Di samping itu bakteri dengan mudah
dapat melintasi epidermis dan epitel membran mukosa. Apabila
mereka luput dari pengrusakan oleh fagosit dalam darah, maka
bakteri akan berprolifersi dan menghasilkan toksin yang
mudah masuk ke dalam pembuluh limfe
l
.
Kelenjar getah bening yang terdapat sepanjang pembuluh
limfe akan mencegah pengaruh merugikan dari bakteri tersebut.
Kelanjar getah bening bertindak sebagai saringan terhadap
cairan limfe yang masuk. Dalam fungsinya itu ia sering terlibat
secara tak langsung dalam suatu penyakit infeksi, termasuk
infeksi oleh kuman tbc pada kelenjar getah bening yang disebut
limfadenitis tbc
r
.
Limfadenitis tuberkulosa merupakan salah satu penyebab
pembesaran kelenjar getah bening yang paling sering ditemu-
kan dan banyak mengenai kelanjar daerah leher. Penampang
kelenjar mula-mula tampak berwarna abu-abu dan jernih, ke-
mudian pada stadium yang lebih lanjut berwarna kuning karena
terjadi perkijuan
2
.
Tulisan ini akan membahas Hasil Tahan Asam (BTA),
masuknya kuman BTA sampai ke kelenjar getah bening, lokasi
BTA di dalam jaringan kelenjar getah bening yang terinfeksi,
pengaruhnya terhadap struktur jaringan.
BAHAN DAN CARA
Kelenjar-kelenjar getah bening hasil biopsi atau operasi
dari penderita tersangka limfadenitis tbc yang dikirim ke
bagian Patologi Anatomi F.K UNPAD, R.S. Hasan Sadikin
Bandung, diproses untuk mendapatkan sediaan mikroskopis
histopatologis permanen
r
. Pemrosesan jaringan secara metoda
Parafin yang lazim dilakukan di Lab. PA RSHS Bandung,
penyayatan dengan mikrotom putar dengan tebal sayatan 4 5
mikron. Sayatan diambil dan ditempel pada kaca objek setiap
jarak 50 mikron (10 sayatan), diambil 3 6 sayatan masing-
masing 1 2 sayatan untuk tiap pewarnaan Hematoxylin eosin
= HE, Carbol fuchsin methylene blue = pewarna Hasil
Tahan Asam dan pewarnaan Retikulin. Penempelan sayatan
parafin pada kaca objek dilakukan dengan larutan albumin
(putih telur), dilakukan di atas plat pemanas untuk
mengembangkan sayatan. Sebagai kontrol (+) BTA diambil
jaringan paru, dan sebagai kontrol () BTA adalah jaringan
limfoma malignum.
HASIL
Dengan pewarnaan HE, pada limfadenitis tbc stadium awal
tampak tuberkel yang terdiri dari anyaman sel epitelium dan di
sebelah luarnya sel radang limfosit. Tuberkel berisi pula sel-sel
eosinofil yang sebagian rnasih baik dan sebagian sudah
menunjukkan nekrosis ringan yang masih terbatas pada taraf
perusakan inti, sedangkan bagian-bagian sel lainnya dinding
sel dan sitoplasma masih baik. Di dalam tuberkel dapat di-
temukan beberapa buah sel datia jenis Langhans, dengan
sitoplasma merah dan berinti banyak. Struktur folikel kelenjar
getah bening masih jelas, sel limfoid masih banyak mengisi ke-
lenjar getah bening, tidak tampak nekrosis yang luas.
Pada limfadenitis tuberkulosa kaseosa, folikel sudah sangat
jarang tampak karena terdesak ke tepi oleh tuberkel yang telah
semakin meluas. Tuberkel bersatu membentuk tuberkel
konglomerat dengan sarang perkijuan. Daerah nekrosis ter-
sebut tampak sangat amorf (tak berbentuk), dan kurang
mengikat zat warna. Sel datia tampak dalam tuberkel ber-
warnamerah dengan inti berwarna ungu, pipih lonjong, bulat
dan berjumlah banyak. Pada stadium yang lebih lanjut lagi,
hampir seluruh daerah kelenjar getah bening telah diisi oleh
tuberkel, dan sarang perkijuan tampak telah berlubang. Jaring-
an limfoid yang masih tinggal sangat sedikit dan hanya tampak
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 53
pada tepi-tepi kelenjar di bawah kapsula kelenjar getah bening
tersebut.
Dengan pewarnaan carbol fuchsin methylene blue, tampak
hasil tuberkulosis (BTA) berwarna merah berkelompok be-
berapa buah, sehingga tampak terang, ditemukan pada jaringan
nekrotik paru. Hasil pewarnaan cara ini terhadap sediaan, dapat
dilihat pada tabel 1 dan 2. Bakteri tersebut berwarna merah
terang, tampak kontras dengan inti sel yang berwarna biru,
berukuran 4-5 mikron dan berlokasi dalam sel datia, pada tepi
jaringan nekrotik, dan di antara sel epiteloid, umumnya
ditemukan dalam sel datia. Bakteri tersebut ada yang
mengelompok, ada yang terpisah, sehingga tampak jelas sekali
merah berbentuk batang dalam sel datia yang bersitoplasma
merah - ungu muda (violet). Dari pemeriksaan 300 sediaan dari
30 kasus, limfadenitis tbc kaseosa tidak ada satupun yang (+)
BTA/hasil' tbc. Pemeriksaan jaringan limfoma malignum
sebagai kontrol BTA (-) juga tidak menemukan BTA.
Tabel 1. Hasil pemeriksaan jaringan tuberkulosa paru -
Pewarnaan Carbol Fuchsin - Methylene Blue.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Keterangan:
+
Ditemukan bakteri tuberkulosa
- Tidak
ditemukan
bakteri
tuberkulosa
No. umt adalah no sediaan yang random tiap 10 sayatan
Tabel 2a. Hasil pemeriksaan preparat limfadenitis tuberkulosa
Pewarnaan Carbon Fuchsin Methylene Blue.
No.
Pasien
1 2 3 4 5 6 7 8 9
10
1.
2.
3.
4.
5.
+
+
+
+
+
+
+
Keterangan: + Ditemukan bakteri tuberkulosa
- Tidak
ditemukan
bakteri
tersebut.
Tabel 2b. Hasil pemeriksaan preparat Limfoma Malignum (sebagai
kontrol - BTA) dengan pewarnaan Carbol Fuchsin Methylene
blue.
No.
Pasien
1 2 3 4 5 6 7 8 9
10
1.
2.
3.
4.
5.
Keterangan: tidak ditemukan BTA
Pengamatan jaringan limfadenitis tuberkulosa dengan pe-
warnaan Retikulin dapat memperlihatkan kerusakan/destruksi
jaringan. Serabut retikulin berwarna hitam, menganyam sel
yang intinya berwarna merah, sehingga tampak kontras. Selsel
retikulum tampak berisi sisa jaringan seluler. Pada jaringan
tersebut, terutama pada limfadenitis tuberkulosis kaseosa,
daerah tuberkel tampak coklat sampai abu-abu putih, inti sel
dan sel telah nekrotik, tampak amorf dan tidak ada serabut
retikulin yang utuh. Sel datia tampak masih jelas. Serabut
retikulin yang tersusun baik ditemukan pada bagian tepi
kelenjar yang merupakan sisa kelenjar getah bening yang masih
utuh.
Kerusakan jaringan pada limfadenitis tuberkulosa (tbc)
stadium awal, menurut tingkat destruksinya dinyatakan dengan
(+), tampak pada 5 sediaan yang diperiksa, tingkat destruksi
jaringan limfadenitis tbc bervariasi antara 1+ dan 2+ (Tabel
3a). Sedangkan pada limfadenitis tbc kaseosa, antara 3+, 4+
dan 5+, (Tabel 3b).
Tabel 3a. asil pemeriksaan preparat limfadenitis tuberkulosa dengan
pewarnaan Retikulin.
No.
Pasien
1 2 3 4 5 6 7 8 9
10
1.
2.
3.
4.
5.
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
2+
2+
2+
2+
+
Keterangan: 1+ kerusakan jaringan 1020%
2+
kenusakan
jaringan
2040%
3+
kerusakan
jaringan
4060%
4+
kerusakan
jaringan
6070%
5+
kerusakan jaringan di atas 70%, kadangkadang
tampak kaverne.
DISKUSI
Pada sediaan mikroskopis pewarnaan HE, limfadenitis tbc
tahap awal dapat dibedakan dari limfadenitis tbc kaseosa (tahap
lebih lanjut) berdasarkan tuberkel yang masih sedikit, struktur
klenjar getah bening yang masih jelas, folikel, sel datia
Langhans, perusakan sel-sel eosinfil masih terbatas pada
perusakan inti; sedangkan pada limfadenitis tbc kaseosa
tuberkel sudah semakin meluas, terdiri dari tuberkel induk,
tuberkel satelit yang membentuk tuberkel konglomerat
3
.
Limfadenitis tbc adalah suatu bentuk radang khronik yang
spesifik. Pada umumnya terdapat proses yang disertai oleh
proliferasi berbagai unsur jaringan, terutama jaringan ikat dan
elemen selular seperti histiosit dan limfosit. Proses semacam
ini merupakan ciri sebagian besar proses yang menahun. Pada
proses proliferatif, maka setelah timbulnya reaksi yang
pertama, berangsur-angsur terbentuk tuberkel, yang merupakan
ciri khas setiap infeksi oleh hasil tbc.
Tuberkel terdiri dari beberapa unsur; unsur pertama adalah
sel epiteloid yang berinti lonjong dengan batas sel yang tidak
jelas. Sel ini tak ada sangkutpautnya dengan sel epitel,
menyerupai jaringan epitel. Unsur ke dua ialah sel datia
Langhans, sebuah sel besar dan berinti banyak, kadang-kadang
berupuluh-puluh jumlahnya.
Pada individu yang resistensinya rendah, tuberkel akan
bertambah besar disertai oleh nekrosis pada bagian tengahnya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
54
Tabel 3b. Hail pemeriksaan preparat limfadenitis tuberkulosis kaseosa
dengan Pewarnaan Retikulin.
No.
Paden
1 2 3 4 5 6 7
-
8
9 10
01. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
02. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
03. 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+
4+
4+
04. 5+ 5+ 5+ 5+ 5+ 5+ 5+ 5+
5+
5+
05. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
06. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
07. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
08. 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+
4+
4+
,
09. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
10. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
11. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
12. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
13. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
14. 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+
4+
4+
15. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
16. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
17. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
18. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
19. 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+
4+
4+
20. 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+
4+
4+
21. 5+ 5+ 5+ 5+ 5+ 5+ 5+ 5+
5+
5+
22. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3..
23. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
24. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
25. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
26. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
27. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
28. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
3+
29. 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+ 3+
3+
.
3+
30. 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+ 4+
Keterangan: idem no. 3a.
Sarang nekrosis ini lambat laun membesar sesuai dengan
pembesaran tuberkel dan seringkali disebut 'sarang perkijuan
oleh karena bagian ini dalam warna dan konsistensinya mirip
dengan kiju.
,
Pada pengamatan pewarnaan HE dari jaringan limfadenitis
tbc kaseosa tampak daerah nekrosis yang sangat amorf.
Dengan pewarnaan carbol fuchsin methylene blue tidak di-
temukan hasil tahan asam (BTA), hasil tbc. Sedangkan pada
jaringan tb paru, hasil ini ditemukan pada tepi-tepi jaringan
nekrotik. Hasil tbc jarang/tidak tumbuh pada bagian tengah
daerah perkijuan/jaringan nekrotik karena daerah ini ke-
kurangan oksigen dan makanan yang diperlukan untuk per-
tumbuhannya
4
. Hasil ini dapat ditemukan di antara sel epi-
teloid dan kadang-kadang dalam sel datia, dan pada awal
infeksi hasil tbc berlokasi dalam makrofag. Sel makrofag
pada satu saat pecah dan hasil tersebut ke luar. Dengan demi
kian hasil tbc justru ditemukan pada jaringan limfadenitis tbc
stadium awal seperti halnya pada penelitian ini.
Di bawah pengaruh sel makrofag, hasil tbc (M
tuberculosis) dapat membelah diri jadi bentuk tahan ,asam (M.
tuberculosis), dan bentuk tidak tahan asam (blue stained
bacteria). Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak
ditemukannya hasil tahan asam dalam makrofag jaringan
sediaan mikroskopis limfadenitis tbc.
Kuman-kuman tbc dapat berkembang biak dan merusak
jaringan kelenjar getah bening setempat, dapat menyebar
melalui pembuluh darah balik ke seluruh tubuh (micro-
haematogenous spread) dan kemudian bersarang di organ-
organ yang disukai seperti bagian puncak paru, korteks ginjal,
epifisis tulang, limpa dan hati. Selama daya tahan tubuh masih
kuat, otang yang bersangkutan tidak akan jatuh sakit.
5
Limfadenitis tbc dapat disebabkan oleh makanan atau
minuman dari penderita itu sendiri yang terkontaminasi dengan
kuman tbc.
Dengan pewarnaan Retikulin dan pewarnaan HE, kita
tidak dapat menemukan kuman tbc ataupun BTA pada umum-
nya. Pewarnaan Retikulin dimaksudkan untuk menentukan
tingkat destruksi jaringan, khususnya kerusakan serabut
retikulin yang menjadi kerangka dasar kelenjar getah bening,
sedangkan pewarnaan HE digunakan untuk melihat dengan
jelas sitoplasma dan inti sel, sel datia dan struktur tuberkel,
dengan kata lain untuk rnelihat secara umum latar belakang
tingkat destruksi jaringan dan perubahan struktur jaringan
semula
l
.
KEPUSTAKAAN
1.
Misnadiarly. Bakteri tahan asam pada lymphadenitis tuberculosa, laporan
kerja praktek (skripsi), Institut Teknologi Bandung, Departethen Biologi,
1978.
2.
Sutisna Himawan (ed). Kumpulan Kuliah Patologi, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Jakarta, 1973.
3.
Simposium Penyakit Tuberkulosa di dalam Masyarakat. Edisi khusus
Majalah Kedokteran Bandung, Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran Bandung, 22-23-24 Pebruari 1968.
4.
Davis BD. Microbiology. International Edition. Boston, Massachusetts;
Harvard Medical School, 1969. p. 1464.
5.
Erwin Peetosutan. Perkembangan alamiah penyakit tuberkulosa paru orang
dewasa dalam masyarakat negara berkembang, Pameran Produksi
Indonesia (PPI) 1985.
UCAPAN TERIMA KASIH.
Terima kasih disampaikan kepada Prof Topo Harsono, dr. Burhanuddin
Sabirin dan Dr. Estiti B. Hidajat yang membimbing penelitian dan penulisan
naskah ini.
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 55