background image
ABSTRAK
PENGOBATAN COMMUNITY-
ACQUIRED PNEUMONIA
CAP merupakan kasus yang sering
terjadi dalam masyarakat, yang di-
sebabkan terutama oleh Streptococcus
pneumoniae.
Pengobatan yang direkomendasikan
pada saat ini ialah:
Amoksisilin 3 dd 500 mg/l g. per
oral atau eritromisin 4 dd 350 mg. per
oral untuk kasus sederhana dan
amoksisilin/klavulanat 3 dd 625 mg.
per oral atau 2 dd 250-500 mg.
klaritromisin per oral untuk kasus
dengan ko morbiditas.
Untuk kasus di rumah sakit dianjur-
kan menggunakan amoksisilin 3 dd
500 mg./l g. per oral atau ampisilin 4
dd 500 mg. iv, atau 4 dd 1,2 g.
penisilin G iv, atau eritromisin 4 dd
250-500 mg. per oral/iv.
Sedangkan bila ada ko morbiditas di-
gunakan amoksisilin/klavulanat 3 dd
625 mg. per oral atau 3 dd 1,2 g. iv.
dengan alternatif klaritromisin 250-500
mg. 2 dd per oral, atau sparfloksasin
200-400 mg. sekali sehari per oral, atau
sefuroksim 3 dd 750 mg. iv.
Untuk kasus rumah sakit yang
berat/di ICU tanpa ko morbiditas di-
gunakan amoksisilin/klavulanat 3 dd
1,2 g. iv + eritromisin 4 dd 0,5-1 g. iv
atau klaritromisin 2 dd 500 mg iv.;
dapat ditambah dengan rifampisin 2 dd
600 mg. per oral/iv. Alternatif lain
ialah sefuroksim 3 dd 1,5 g. iv +
eritromisin 4 dd 0,5-1 g. iv/klaritro-
misin 2 dd 500 mg. iv.; dapat ditambah
dengan rifampisin 2 dd 600 mg.
oral/iv.
Bila ada ko morbiditas, digunakan
sefotaksim 3 dd 1 g. iv, atau seftriak-
son 2 g. iv + eritromisin 4 dd 0,5-1 g.
iv/klaritromisin 2 dd 0,5 g. iv. dapat
ditambah dengan rifampisin 2 dd 600
oral/iv. Alternatifnya ialah imipenem/
meropenem 3 dd 0,5 g. iv + eritromisin
4 dd 0,5-1 g. iv/klaritromisin 2 dd 0,5
g. iv
± rifampisin 2 dd 600 mg.
Drugs 1998; 55(1): 39
Hk
NITRIT UNTUK PENYAKIT RAY-
NAUD
Vasokonstriksi ujung-ujung jari
seperti yang terjadi pada penyakit Ray-
naud dapat diatasi dengan penggunaan
gel topikal yang mengandung oksida
nitrit.
Duapuluh pasien penyakit Raynaud
mengikuti percobaan menggunakan gel
5% Na-nitrit dalam KL jelly yang di-
campur dengan larutan campuran KL
jelly + 5% asam askorbat; 0,5 ml dari
masing-masing larutan tersebut dioles-
kan di permukaan kulit, lalu dicampur
menggunakan lidi kapas; efeknya di-
bandingkan dengan penggunaan gel
plasebo.
Ternyata aplikasi gel nitrit meningkat-
kan mikrosirkulasi ujung-ujung jari,
baik di kalangan penderita Raynaud
maupun di kalangan kontrol yang
sehat.
Lancet 1999; 354: 1670-75
Brw
KANABIS UNTUK NYERI ?
Cannabinoid-zat aktif yang terdapat
dalam cannabis/ganja-telah lama di-
duga bisa mengatasi rasa nyeri.
Tinjauan sistematik dilakukan atas
9 percobaan acak terkontrol yang me-
libatkan 222 pasien; 5 percobaan ber-
kaitan dengan nyeri kanker, 2 berkaitan
dengan nyeri khronik bukan kanker, 2
lainnya berkaitan dengan nyeri akut
pasca bedah.
Zat yang digunakan pada percobaan
di atas ialah 5-10 mg. tablet THC, atau
4 mg. THC suntikan sintetik oral (NIB)
atau 2-4 mg. benzopiranopiridin oral,
atau injeksi levonantradol 1½ - 3 mg;
tidak ada percobaan yang mengguna-
kan cannabis dengan cara diisap (se-
perti rokok) seperti yang umum dilaku-
kan oleh para penyalahguna.
Dari percobaan-percobaan di atas
tidak ada satupun yang terbukti lebih
efektif dibandingkan dengan peng-
gunaan 60-120 mg. kodein. Pengguna-
an cannabis menyebabkan efek sam-
ping depresi susunan saraf pusat.
BMJ 2001; 323: 13-6
Brw
RISIKO TRANSMISI HIV
Telah dilakukan penelitian atas 174
pasangan monogami yang salah satu-
nya HIV(+) di Uganda, untuk mem-
perkirakan risiko penularannya.
Rata-rata mereka melakukan hu-
bungan seksual 8,8 kali/bulan; risiko
penularan HIV-1 pada tiap kali me-
lakukan hubungan seksual ialah sebe-
sar 0,0011 (95%CI : 0,0008 ­ 0,0015).
Kemungkinan transmisi virus tersebut
meningkat dari 0,0001 per kali jika
kadar virusnya kurang dari 1700
copies/ml, menjadi 0,0023 per kali jika
kadar virusnya 38500 copies/ml. atau
lebih (p=0,002).
Jika terdapat luka di genital, risikonya
meningkat dari 0,0011 menjadi 0,0041
per kali (p=0,002).
Risiko transmisi ini tidak dipeng-
aruhi oleh jenis subtipe HIV, jenis
kelamin, adanya STD (sexually trans-
mitted diseases), gejala sekret vagina
ataupun disuri pada partner yang HIV
positif.
Lancet 2001; 357: 1149-53
Brw
ENDARTEREKTOMI UNTUK
MENCEGAH STROKE
Analisis lanjutan atas data
NASCET menunjukkan bahwa tindak-
an endarterektomi karotis terutama ber-
manfaat untuk orang-orang berusia
lanjut.
Di kalangan pasien dengan 70-99%
stenosis, pengurangan risiko stroke
ipsilateral setelah endarterektomi
adalah sebesar 28,9% (95%CI: 12,9-
44,9) untuk usia 75 tahun ke atas
(n=71), 15,1% (7,2-23,0) untuk usia
65-74 tahun (n-285) dan 9,7% (1,5-
17,9) untuk usia kurang dari 64 tahun
(n-303). Sedangkan di kalangan pasien
dengan stenosis 50-69%, pengurangan
risiko hanya bermakna di kalangan
Cermin Dunia Kedokteran No. 138, 2003
54
background image
ABSTRAK
usia 75 tahun ke atas (n-145, 17,3%,
95%CI: 6,6-28,0).
Risiko morbiditas dan mortalitas
operasi secara keseluruhan ialah se-
besar 5,2% di kalangan usia tertua,
5,55% di kalangan usia 65-74 tahun
dan 7,9% untuk kalangan usia 64 tahun
ke bawah.
Lancet 2001; 357: 1154-60
Brw
PREDIKSI AIDS
Penelitian prospektif atas 139
pasien menunjukkan bahwa pe-
ningkatan HIV-RNA di cairan otak
dapat memprediksi perburukan neuro-
psikologik pada pasien-pasien HIV
positif.
Penelitian atas fungsi neuro-
psikologik, neurologik dan laboratorik
dilakukan pada awal percobaan dan 6
bulan kemudian; ternyata kadar HIV-
RNA cairan otak
200 copies/ml
berkaitan dengan perburukan neuro-
psikologik setelah 6 bulan.
Acrh. Neurol. 2002; 59 : 923-8.
EFEK ANTIINFLAMASI TER-
HADAP RISIKO PJK
Obat-obat antiinflamasi non aspirin
non steroid dapat mempengaruhi ke-
jadian penyakit jantung koroner; untuk
mengetahui lebih lanjut hal tersebut,
data Tennessee Medicaid Program
antara Jan 1, 1987 sampai dengan Des
31, 1998 diteliti; kelompok pengguna
obat tersebut (n=18; 441) dibandingkan
dengan kelompok bukan pengguna
selama follow up tercatat 6362 ke-
jadian serangan penyakit jantung
koroner serius ­ angka ini sesuai
dengan kejadian 11,9 per 1000 person-
years.
Rate-ratio sebesar 1.05 (95%CI:
0,97 ­ 1,14) di kalangan pengguna dan
1,02 (0,97 ­ 1,08) di kalangan yang
pernah menggunakan obat tersebut.
Rate-ratio untuk pengguna
naproxen sebesar 0.95 (0,82 ­ 1,09),
ibuprofen sebesar 1,15 (1,02 ­ 1,28)
dan obat lain sebesar 1,02 (0,92 ­
1,16).
Selain itu rate-ratio untuk
pengguna selama lebih dari 60 hari
sebesar 1.05 (0,91 ­ 1,21), jika
ibuprofen di-bandingkan dengan
naproxen, rate rationya sebesar 0,83
(0,69 ­ 0,98).
Dari hasil tersebut, para peneliti
menyimpulkan bahwa naproxen dan
antiinflamasi nonsteroid nonaspirin
lainnya tidak mempunyai efek kardio-
protektif.
Lancet 2002; 359 : 118-23
Brw
GALANTAMIN UNTUK DEMEN-
SIA
Obat-obat untuk mengatasi demen-
sia masih terus diteliti, salah satunya
ialah galantamin; obat ini dicobakan di
kalangan demensia vaskuler: 396
pasien diberi galantamin 24 mg/hari
dan 196 lainnya diberi plasebo selama
6 bulan secara butaganda.
Setelah 6 bulan, galantamin secara
bermakna memperbaiki ADAS-Cog
(-1,7; SE 0,4) dibandingkan dengan
pengguna plasebo (+1.0; SE 0.5)
dengan efek terapi sebesar 2,7 points
(p 0.0001). Penilaian dengan CIBIC
plus juga berbeda bermakna (213 ­
74% vs. 95 ­ 39%) dengan tetap stabil
atau membaik (p=0,001). Selain itu
aktivitas sehari-hari dan gejala tingkah
laku juga membaik (p=0,002 dan
p=0,016). Tidak ada efek samping
yang bermakna selama percobaan ber-
langsung.
Lancet 2002; 359 : 1283-90
Brw
ANGIOPLASTI VS. FIBRINO-
LISIS
Studi atas 840 pasien infark mio-
kard akut dengan ST elevation me-
nunjukkan bahwa angioplasti dini tidak
lebih unggul daripada pemberian obat
fibrinolisis dini (prehospital) dalam 6
jam setelah serangan.
Semua (840) pasien mendapat 5000
U heparin iv bolus dan 250-500 mg.
aspirin oral/iv, setelah itu 419 pasien
mendapat terapi fibrinolisis segera
(prehospital) berupa 15 mg. alteplase
disusul dengan 0,75 mg./kg.bb (max.
50 mg.) dalam 30 menit, kemudian 0,5
mg/kg.bb (max. 35 mg.) dalam 60
menit berikutnya dengan dosis mak-
simum 100 mg.; sedangkan 421 lain-
nya langsung menjalani angiografi, di-
susul angioplasti jika ada indikasi.
Selang waktu antara kejadian dan tin-
dakan adalah 130 menit di kalangan
fibrinolisis dan 190 menit di kalangan
angioplasti; 26% kelompok fibrinolisis
akhirnya memerlukan angioplasti.
Kematian atau reinfark atau stroke
dalam 30 hari terjadi pada 34 (8,2%)
pasien fibrinolisis dan pada 26 (6,2%)
pasien angioplasti (RR 1,96; 95%CI -
1,53 ­ +5,46). Kematian terjadi pada 6
(3,8%) pasien fibrinolisis dan pada 20
(4,8%) pasien angioplasti (p=0,61).
Ternyata angioplasti dini tidak
lebih baik daripada fibrinolisis dini
(prehospital).
Lancet 2002; 360: 825-9
Brw
KONSULTASI PSIKOLOGIK
Meta analisis dilakukan untuk me-
nilai efektivitas konsultasi psikologik
terhadap pasien pasca trauma psiko-
logik; didapatkan 7 penelitian yang
memenuhi syarat dengan berbagai pe-
nyebab trauma: luka bakar, kecelakaan
lalu lintas, abortus, kejahatan, pe-
perangan dan lain-lain. Konsultasi di-
lakukan satu kali dengan metode
Mitchell.
Ternyata intervensi tersebut secara
statistik tidak bermanfaat, tidak mem-
perbaiki gejala stres.
Lancet 2002; 360: 766-71
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
55