Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 53
ku
c
Keracunan A
Pada Kera (Maca
t Kliokinol
a Fascicularis)
Iwan T. Budiarso, Frans Sukar
Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedok
d
teran
i, Hoedyanto Tjokrosapoetro
Universitas Tarumanagara, Jakarta
PENDAHULUAN
Di Jepang antara tahun 1956 dan 1970, terjadi suatu wabah
penyakit baru yang telah menelan korban tidak kurang dari
1,0.000 jiwa. Gejala-ge
ules, sakit perut yang
h
lebi
nya buta sama sekali. Hal ini diakibatkan oleh karena saraf
mata mengalami perubahan demielinisasi dan/atau atrofi.
Penyakit ini telah dianggap menjadi satu golongan penyakit
baru yang disebut Subacute Myelo Optic Neuro pathy (SMON)
(Tsubek, Dkk, 1971, Schultz, 1972, Oakly, 1973).
Selain di Jepang, beberapa kasus SMON pernah ditemukan
juga secara sporadik di negara-negara: Australia (Selby, 1971),
Denmark (Kjaergaard, 1971), Inggris (Mc Ewen dan Cons-
stantinopoulos, 1970, Mc Ewen, 1971, Spillane, 1971, 1972),
Negeri Belanda (Van Balen, 1971), dan Amerika Serikat
(Cholz dan Arons, 1964, Etheridge dan Stewart, 1966).
Sekalipun wabah SMON dapat dikenal dengan segera oleh
para ahli peneliti kesehatan di Jepang, ternyata mereka masih
memerlukan waktu tidak kurang dari 10 tahun penelitian untuk
akhirnya dapat menghubungkan wabah penyakit tersebut
dengan keracunan obat anti diare kliokinol.
Pemerintah Jepang pada tanggal 7 Agustus 1970, meng-
umumkan hasil penelitian epidemiologi yang gemilang ini dan
satu bulan kemudian, pada tanggal 8 September 1970, disusul
dengan pengumuman pemeriotah tentang larangan semua pen-
jualan dan penggunaan kliokinol untuk pengobatan (Oably,
1973).
Pada tahun 1971, KO
wa sejak peng-
umuman larangan penggu
aku, maka wabah
SMON di Jepang segera
nyolok sekali, dan
akhirnya sampai sekarang
agi. Dengan
Ind
74, Chandra dkk (1974) melaporkan
sek
Wi
Berhubung obat anti diare yang mengandung kliokinol
yang dijual secara bebas banyak sekali jumlahnya, tidak kurang
dari 10 merk dagang (Wilmana dan Darmansjah, 1979, Japan
Times, 1980), dan harganya murah sekali, maka banyak di
-
pergunakan oleh masyarakat ramai sebagai pengobatan ber-
bagai jenis diare. Sehubungan dengan hal ini, serta laporan-
laporan dari hasil penelitian dari berbagai negara yang me-
nyatakan bahwa kliokinol dapat mengakibatkan gangguan
fungsi alat pencernaan, gangguan saraf dan kebutaan, maka
penjualan dan penggunaan obat ini secara bebas perlu men-
dapat perhatian serta penelitian mengenai hal keamanannya.
Di Indonesia penelitian klinik dan laboratorik tentang
penggunaan kliokinol belum pernah dilakukan. Dalam pe-
nelitian ini dilaporkan mengenai sifat efek samping dari peng-
gunaan kliokinol pada hewan kera. Hewan kera adalah hewan
percobaan laboratorium yang paling mendekati sifat-sifat
fisiologi manusiawi, sehingga hasil penelitian percobaan ini
dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan dan kesehatan manjsia
pada umumnya dan untuk menambah ilmu pengetahuan dan
kepustakaan dalam bidang kedokteran khususnya.
BAHAN DAN METODA
·
Hewan Percobaan : Delapan ekor kera (Macaca fascicularis)
kira-kira umur 3 tahun dengan berat badan rata-rata 2 kg di-
pergunakan untuk percobaan i. Setiap ekor ditempatkan di
jalanya ialah m
melilit, mencret dan muntah-muntah, lalu diikuti oleh ganggu-
an saraf seperti kesemutan dan perasaan baal yang dimulai dari
ujung kaki lalu merambat sampai kelutut. Gangguan ini di-
iri dengan kelumpu
ak
kan dari pada bagian kaki. Disamping
gejala-gejala tersebut diatas, ditemukan pula kelainan yang
h muskil dan menjadi ciri khas dari penyakit ini, ialah
penglihatan yang secara lambat laun menjadi kabur dan akhir-
demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa kiokinol dapat
diduga sebagai penyebab SMON.
Bagaimanakah keadaan sebenarnya mengenai kliokinol di
onesia? Pada tahun 19
kejadian kasus yang menyerupai SMON, akan tetapi sayang
ali para peneliti tersebut tidak memastikan mengenai
hubungan penyakit . tersebut dengan penggunaan kliokinol.
Di Indonesia, pembahasan mengenai sifat-sifat farma-
ogik, farmakodinamik dan
kol
penggunaan kliokinol serta
hubungannya dengan kejadian SMON telah dilaporkan oleh
lmana dan Darmansjah (1979).
NO melaporkan bah
naan kliokinol berl
berhenti secara me
hampir tidak ada kasus l
in
dalam satu kandang individu, berjeruji besi dengan ukuran 5
0 x 90 x 70 cm.
Obat Kliokinol : Obat anti diare dibeli dari pabrik obat
CibaGeigy dengan
bentuk tablet. Setiap t
hydroxyqu
·
Perlaku
pat j
engan 6 tablet Enterovioform/ekor yang dilarutkan dalam 15
l akwades untuk selama 30 hari. Dua ekor kera lainnya' (satu
etina dan satu jantan) diperlakukan sama, akan tetapi hanya
dicekoki 15 ml akwades, dip
hewan diberi makan da
Otopsi Hewan Perc
alam Oadaan in-extrimis dan yang masih hidup pada hari ke-
0 dibunuh untuk diperiksa terhadap kelainan-kelainan yang
itemukan di dalam alat-alat tubuhnya.
Pemeriksaan Histopatologik : Alat-alat tubuh seperti saraf
ptik, mata, otak,
'
sumsum tulang belakang dan saraf-saraf
ngkai dikumpulkan dan diawetkan di dalam larutan formalin
ng jaringan tersebut diproses menurut
war
kan
a percobaan adalah
eriksaan histologik dari mata, saraf, otak, meculla
tungkai tampak normal pada penelitian histologik.
DISKUSI
Gejala keracunan akut kliokinol pada kera dapat ditimbul-
aan memperlihatkan
, mencret-mencret,
dengan
an pada
eishi dan
Otsuki, 1975).
Penglihatan yang makin lama makin kabur seperti yang
akibat keracunan kliokinol
ditemukan pada kera-kera
kera-kera mati terlalu
cepat (16 hari) dan pengamatannya terlalu singkat (30 had).
Atau memang hewan kera itu tidak terlalu peka. Karena dari 4
laporan keracunan kliokinol (Tateishi, dkk, 1971, Takahashi,
1971, Kuroiwa dkk, 1972, Kodama dkk, 1973) pada kera yang
terdahulu, hanya satu laporan yang menyatakan ada kerusakan
pada saraf optik (Kodama, dkk 1973). Dan untuk
mengakibatkan kerusakan inipun dibutuhkan waktu 477 had
n, ada tiga ekor yang meng-
alam
kin
seka
d dan ternyata memerlukan
tiga
hu
keti
yelo Optic
europathy) pada manusia. Wama hijau ini adalah hasil
ndapan dari persenyawaan ion besi dengan 5 kloro 7 iodo
Demikian pula kera-kera yang
Pada pemeriksaan histologik dari saraf mata, otak, sumsum
·
merk dagang EnteroVioform, dalam
ablet mengandung 250 mg iodochlor-
inoline.
an Hewan Percobaan : Enam ekor kera (dua betina
antan) dari grup percobaan, setiap hari dicekoki
kan dengan bukti bahwa kera-kera percob
berat badan, anoreksia, muntah-muntah
parese dan paralisis bagian tungkai. Hal ini sesuai
laporan Takahashi dkk (1971).
Gejala-gejala ini juga sama seperti yang ditemuk
anjing dan kucing yang diracuni dengan kliokinol (Tat
+ em
d
m
b
akai sebagai grup kontrol. Semua
ditemukan pada anjing dan kucing
(Tateishi dan Otsuki, 1975), tidak
n minum ad libitum.
obaan : Hewan-hewan yang mati atau
percobaan. Hal ini mungkin sekali karena
·
d
3
d
·
o
tu
10%. Setelah mata
metode standar untuk pembuatan sediaan histologi dan di-
warnai dengan pewarnaan rutin hematoksilin dan eosin.
HAS1L
Gejala klinik yang dijumpai pada kera-kera grup percobaan
terdiri dari anoreksia dan muntah-muntah. Manifestasi itu
timbul antara hari ke-3 dan ke-6, lalu disusul dengan mencret-
mencret, dengan feses berwama normal atau kehijauan antara
hari ke-7 dan ke-9. Gejala lemas atau kelemahan, yang khusus-
nya terlihat Dada bagian tungkai, kemudian menjadi kelum-
puhan. Tanda-tanda kelemahan otot itu mulai .terlihat pada hari
ke-8. Tanda-tanda kelemahan otot itu mulai terlihat pada hari
ke-1 1 sampai ke-16. Reflek-reflek patella kelihatan mulai
menurun pada hari k-l1 dan biasanya disertai pula dengan
penurunan suhu rektal. Pada dua ekor kera, di samping di-
temukan gejala-gejala tersebut diatas, tampak pula perubahan
na kehijauan pada pangkal lidah (Tabel 1). Kera-kera dari
grup kontrol tetap sehat.
Empat dari enam ekor kera dari grup percobaan, seekor
mati pada hari ke-6, dua ekor mati pada hari ke-14 dan seekor
lagi mati pada hari ke-16. Dari keempat ekorini, hanya satu
ekor yang mati secara tiba-tiba pada hari ke-6 tanpa menunjuk-
gejala klinik (Tabel 1).
Semua kera yang mati adalah berkelamin jantan,
sedangkan yang betina masih tetap bertahan hidup sampai
dibunuh pada hari ke-30.
Perubahan makroskopik dari semua ker
tubuh menjadi kurus dan depo-depo lemak tubuh menghilang.
Disamping itu, kera No. 5 menunjukkan kelainan radang
kateral pada ususnya. Kera-kera No. 5, No. 7 dan No. 8
pangkal lidahnya berwarna hijau dan fesesnya berwarna hijau
pula (Tabel 1).
Pem
oblongata, sumsum servikal, sumsum torakal, sumsum lumbal,
kauda ekwina, pleksus iskhiadikus, dan saraf-saraf perifer,
tungkai tidak mengungkapkan adanya perubahan degenerasi
atau peradangan. Demikian juga otot-otot skelet dibagian
dan dosis kliokinol yang cukup tinggi yakni 2000 mg/kg/hari.
Dari enam ekor kera percobaa
i paralisis total dan satu ekor parese dari bagian tungkai.
Hal yang pertama itu tidak sesuai dengan laporan-laporan dari
Takahashi dkk (1971), Tateishi dkk (1971), Kuroiwa dkk
(1972), dan Kodama dkk (1973), dimana inereka hanya me
-
nemukan parese saja dan tidak ada paralisis. Hal ini mung
li karena spesies/strain kera yang digunakan berbeda.
Alasan ini didukung oleh hasil penelitian dari Matsuoka dan
Aoki (1974) dimana mereka menggunakan sejenis mencit yang
berasal dari 3 macam strain-in-bre
macam dosis kliokinol yang sangat berbeda untuk dapat
menimbulkan gejala yang sama. Dengan demikian tampak
bahwa kepekaan terhadap keracunan kliokinol ini di samping
tergantung pada dosisnya, juga tergantung kepada jenis, strain
atau ras hewan yang dipergunakan. Hal ini perlu mendapat
perhatian dan penelitian lebih lanjut.
Suhu rektal kelihatannya dapat dipakai sebagai indikator
apakah kera itu akan mengalami kelemahan pada bagian
tungkai, karena begitu suhu rektal mulai menurun, maka gejala
paresepun nampak. Semua kera yang mengalami paralisis suhu
rektalnya adalah sub-normal (34 35°C), sedangkan su
aknya masih diatas 36°C. Hal ini mungkin sekali akibat
aliran darah ke daerah pangkal dan tungkai terhambat karena
vasoparalisis.
Pada tiga kera percobaan: satu kera mati pada hari ke-16
dan dua ekor yang dibunuh pada hari ke-30, ditemukan pangkal
lidah berwarna hijau dan ini sama seperti pada kelainan lidah
dari orang yang keracunan kliokinol. Menurut Toyokura dan
Takasu (1975) "lidah hijau" ini adalah merupakan salah satu
ciri khas dari penyakit SMON (Subacute M
N
e
8 hidrosikinoline.
mempunyai "lidah hijau", fesesnya juga berwarna hijau dan hal
inipun ditemukan lebih dari 50% pada orang-orang yang
terkena SMON.
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
54
Tabel 1. Jumlah kera, berat badan akhir minggu, gejala klinik dan Jumlah kematian kera yang diberi makan kliokinol 750 mg/kg.bb setiap hari selama
30 hari
156161, (Bahasa Jepang) Dikutip dari Tateishi J, Osuka S. Jap J Med Sc
Bio11975; 28 : 165186.
9.
Matsuoka S, Aoki Y. Studies on the possible difference of toxicity of,
clioquinol in individuals and races. I. Difference of acute toxicity in 3
strains of mice. Annual Report of SMON Research Commisstion, 1974;
131134, (Bahasa Jepang). Dikutip dari Tateishi J, Otsuka S. Jap J Med Sc
Biol 1975; 28 : 165186.
10.
Mc Ewen LM. Neuropathy after clioquinol. Br Med J 1971; 3 : 169170.
11.
Mc Ewen LM, Constantinopoulos P. The use of a dietary and antibacterial
regime in the management of intrinsic allergy. Ann Allergy 1970; 28 :
256266.
12.
Oakly GP Jr. The Neurotoxicity of the halogenated hydroxyquinolines.
JAMA 1973; 225 : 395397.
13.
Schultz MG. Entero-Vioform for preventing travellers diarrhea. JAMA
1972;220: 273174.
14.
Selby G (1972) : Subacute Myelo Optic Neuropathy in Australia. Lancet
1978; 2 : 123125.
B = Betina J = Jantan
tulang belakang dan saraf perifer tungkai tidak tampak adanya
kelainan patologik, sedangkan secara klinik ke empat ekor kera
percobaan menunjukkan gejala parese dan paralisis yang nyata.
Hal ini mungkin sekali karena gejala kelumpuhan itu hanya
berjalan kurang dari 4 hari dengan diakhiri kematian, sehingga
dengan demikian dalam waktu yang singkat belum cukup untuk
dapat mengakibatkan perubahan histologik.
Yang perlu mendapat perhatian dari hasil penelitian ini
adalah bahwa kera-kera yang bertemperamen galak dan sangat
aktif, nampaknya lebih peka dari pada kera yang jinak. Demi-
kian juga kera-kera jantan lebih peka dari pada yang betina
dengan bukti bahwa semua kera jantan mati dalam waktu 16
hari, sedangkan yang betina masih dapat bertahan sampai di-
bunuh pada hari ke-30. Kejadian ini belum pernah dilaporkan
oleh peneliti-peneliti yang terdahulu.
KEPUSTAKAAN
1.
Chandra P, Tjondro L. Troebes P. Subacute Myelo Optic Neuropathy in
Surabaya. Asian J Med 1974; 10 : 192194.
2.
Etheridge JB Jr, Stewart GT. T
1
reating acrodermatitis enteropathica. Lancet
4.
J
15.
S
U
966;1: 261262.
3.
Choir. LM, Arons WL. Prophylaxis and therapy of amebiasis and
shigellosis with iodochlorhydroxyquin. Am J Trop Med Hyg 1964; 13 :
396401.
apan Times : Clioquinol in South East Asia, A preliminary report March
15, 1980.
5.
Kjaergaard K. Amnesia after clioquinol. Lancet 1971; 2 : 1086.
6.
Kodama H, Egashira Y, Ohtaki S. Ohkawa T. Experiments for
reproduction of SMON lesion by the administration of chinoform in
monkeys and dogs. Tr Soc Path Jap 1973; 62 : 122, (Bahasa Jepang)
dicutip dari Tateishi J, Otsuki S. Jap J Med Sc Biol 1975; 28 : 165186.
7.
Kono R. Subacute Myelo Optic Neuropathy, a new Neurological disease
prevailing in Japan. Jap J Med Sci Biol 1971; 24 195-216.
8.
Kuroiwa Y. Ohnishi A, Inoue N. Comperative morphological study of the
paripheral nerves between human SMON and animals intoxicated with
clioquinol. Reports of SMON Research Commission, 1972; No. 9,
pillane JD. S.M.O.N. Lancet 1971; 2 : 13711372.
16.
Spillane JD. S.M.O.N. Lancet 1972;1: 154.
17.
Takahashi T. Nosu I, Okuno Y. Paralysis of the hind legs in the monkeys
orally administered clioquinol. Report of SMON Research. Commission,
1971; No. 3, 201205 (Bahasa Jepadg). Dikutip dari Tateishi J, Otsuki S.
Jap J Med Sc Biol 1975; 28 165186.
18.
Tateishi J, Kuroda S, Saito A, Otsuki. Myelo Optic Neuropathy Induced by
clioquinol in animals. Lancet 1971; 2 : 12631264.
UCAPAN TERIMA KASIH
capan terima kasih disampaikan kepada Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ketua Yayasan Universitas Tarumanagara yang telah men ediakan dana
penelitian ini berdasarkan bantuan riser No. 388/SK/ADM/ FK
UNTAR/VII/80.
Demikian pula ucapan terima kasih disampaikan kepada Drh Sutarman,
Bagian Kesehatan Hewan, Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, yang telah
menydiakan hewan percobaan dan kepada Bapak Chuck Darsono, Cengkareng
Primelab, Jl Juru Mudi, CengkarengTangerang yang telah menyediakan
fasilitas untuk penelftian ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr Iwan Darman:fah, Kepala
Bagian Farmakologi, FKl UI, yang telah meminjamkan rujukan-rujukan untuk
penelitian ini, dan_Dr Priguna Sidharta-yang telah memberikan kritik den
mengulas manuskrip ini
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 55