background image
123
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
BERITA TERKINI
H
ubungan antara HIV, TB dan penggunaan narkoba
suntikan, didukung oleh bukti statistik yang jelas,
adalah tegas dan pasti. Dalam serangkaian presen-
tasi yang disampaikan dalam konferensi International Harm
Reduction ke-20 di Bangkok, Thailand, kebutuhan adanya
program layanan terpadu ditekankan sebagai unsur kunci
yang diperlukan pada program pengurangan dampak bu-
ruk (harm reduction).
Di antara kurang lebih 16 juta pengguna narkoba suntikan
(penasun) di seluruh dunia, kurang lebih tiga juta saat ini
terinfeksi HIV. Penasun merupakan 10% pada kasus infeksi
HIV baru. Di wilayah Asia-Pasi k, keadaan itu bahkan lebih
rumit. Menurut Christian Gunneberg dari WHO, persentase
penasun dengan HIV berkisar dari 11,5% di India hingga
tingkat yang sangat tinggi 41,5% di Nepal dan 42,5% di
Indonesia. Mukta Sharma dari SEARO, WHO, juga men-
gon rmasi bahwa di wilayah Asia Tenggara, prevalensi HIV
di antara penasun kurang lebih sepertiga populasi.
Risiko penasun mengalami tuberkulosis (TB) sama ting-
ginya. Penelitian menunjukkan bahwa penasun 10-30 kali
lebih mungkin terinfeksi TB. Di dalam lembaga pemasyara-
katan (lapas) risiko itu dapat meningkat hingga 50 kali lipat.
TB adalah penyakit yang dapat disembuhkan, tetapi tanpa
pengobatan yang sesuai dapat mematikan ­ yang terjadi
pada sejumlah besar penasun yang meninggal setahun se-
telah tertular TB. Resistensi terhadap berbagai jenis obat
(TB-MDR) di antara penasun dengan TB dan HIV adalah
fenomena bermakna lain di negara seperti Rusia dan In-
dia. Koinfeksi TB dan HIV di antara penasun meningkatkan
risiko kesakitan dan kematian secara luar biasa. Oleh karena
itu, ada kebutuhan besar untuk memadukan unsur layanan
bagi penasun dengan TB dan HIV.
Dmytro Sherembey dari Ukraina menjelaskan kemajuan se-
lama sepuluh tahun terakhir setelah pengembangan terse-
but. "Sampai dengan 1995, penasun dengan TB atau HIV
atau keduanya, tidak memiliki pilihan selain menunggu
kematian," dia mengatakan. "Sama sekali tidak ada laya-
nan yang tersedia, tidak ada akses pada layanan kesehatan.
Orang biasanya meninggal bukan karena penyakit tetapi
karena ketiadaan pengobatan dan dukungan yang sesuai.
Sistem layanan kesehatan hanya menyediakan tempat tidur
usang dan makanan yang tidak cukup."
Sherembey mengatakan dia dan rekan di All Ukrainian Net-
work of PLHIV berjuang mendapatkan hak untuk penasun, dan
pada 2008, ada perubahan bermakna sebagian akses layanan
kesehatan untuk penasun di Ukraina. Sherembey berharap ba-
hwa kemajuan selanjutnya di Ukraina dan juga di negara lain
di dunia. "Ini adalah cerita kecil tentang kemenangan besar.
Kita harus melanjutkan upaya advokasi kita apabila kita ingin
menyelamatkan sahabat dan keluarga kita," dia mengatakan.
Myanmar dan Malaysia memiliki pengalaman menarik yang
serupa. Di kedua negara itu, tingkat kesadaran tentang
HIV dan TB di antara penasun ditemukan sangat rendah.
Program di tingkat nasional di Myanmar menemukan sama
sekali tidak ada bahan komunikasi, informasi, dan edukasi
(KIE) dan kapasitas di seluruh sistem kesehatan luar biasa
lemahnya untuk menangani masalah yang begitu rumit.
Survei menarik pada penasun di Malaysia mengungkapkan
bahwa hampir separuh penasun berpendapat bahwa me-
makai jarum suntik bergantian tidak berpengaruh terhadap
infeksi HIV dan hampir 64% berpendapat bahwa TB dapat
dicegah dengan penggunaan kondom.
Kebutuhan untuk mengupayakan pendekatan bersama
pada TB dan HIV di antara penasun adalah mendesak.
WHO telah memprakarsai pembentukan Policy Guidelines
on Collaborative TB and HIV Services untuk penasun. Ke-
bijakan itu memiliki tiga unsur utama tentang pelaksanaan
yang menekankan rencana pemberian layanan bersama,
paket layanan secara menyeluruh, dan menangani hamba-
tan untuk menemukan dan mengobati kelompok sasaran.
Walau kebijakan itu tampak sangat baik dalam tulisan, perlu
kehati-hatian pada unsur penerapannya khususnya disemi-
nasi kebijakan secara luas di tingkat lokal.
Pada ketiga unsur tersebut di atas, jaringan berbagai ting-
kat sistem kesehatan adalah penting. Hubungan sering ter-
putus di antara layanan kesehatan di tingkat tersier, primer
dan komunitas. Keadaan semacam itu bahkan lebih buruk
di negara yang didominasi oleh sistem kesehatan swasta,
yang melebarkan celah tersebut..
WHO sepakat ada masalah pelaksanaan penerapan kebija-
kan di tingkat dasar karena ketiadaan koordinasi, kebijakan
penekanan nasional dan lingkungan setempat. Namun de-
mikian, tindakan lebih lanjut dengan pendekatan bersama
mungkin dapat menunjukkan hasil yang baik pada bebe-
rapa tahun mendatang. Tidak ada kata terlambat !
(NFA)
Artikel asli: Integrating services for HIV, TB and drug users
Memadukan
Layanan TB,
HIV pada
Pengguna
Narkoba
Suntikan
CDK Maret April DR.indd 123
CDK Maret April DR.indd 123
2/23/2010 4:15:45 AM
2/23/2010 4:15:45 AM