CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
517
BERITA TERKINI
A
ttention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan
kondisi neurologis yang sering ditemukan pada anak-anak.
Beberapa uji klinik telah menilai dampak asam lemak tak jenuh
ganda (PUFA) omega-3 pada pasien ADHD.
Saat ini studi terbaru mengenai hal tersebut juga telah dilakukan.
Studi tersebut menentukan komposisi asam lemak, dan efikasi
serta keamanan suplementasi PUFA omega-3 pada 37 anak-anak
sekolah dengan gejala klinis ADHD.
Studi tersebut merupakan studi silang, acak, dan buta ganda
selama 16 minggu. Untuk menilai perubahan gejala ADHD di-
gunakan The Strengths and Weaknesses in ADHD and Normal
Behaviors (SWAN) dan kuesioner Conner. Pasien diacak menjadi 2
kelompok ; pada fase pertama kelompok A mendapat suplemen
PUFA omega-3 dan kelompok B mendapat suplemen PUFA
omega-6 sebagai plasebo. Selama fase kedua, kelompok B
mendapat suplemen PUFA omega-3 yang tetap dilanjutkan pada
kelompok A.
Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan asam lemak di antara
kedua kelompok ditemukan pada semua pasien yang mengikuti
studi dari awal hingga akhir. Suplementasi PUFA omega-3 me-
nyebabkan peningkatan secara bermakna EPA (eicosapentaenoic
acid) dan dan DHA (docosahexaenoic acid) pada kelompok A,
sedangkan kelompok B juga diperkaya dengan alfa-linoleic, gamma-
linoleic dan homogamma-linoleic acid. Suplementasi PUFA omega-3
dapat ditoleransi tanpa efek samping.
Perbaikan gejala yang bermakna secara statistik ditemukan pada
hasil kuesioner Conner versi orang tua dari basal hingga akhir fase
1-2, ; perubahan dari fase 1 ke fase 2 secara statistik tidak
berbeda bermakna, kecuali pada subskala pengukuran ketidak-
perhatian (inatensi) pada kelompok B. Perbaikan lebih besar pada
pasien kelompok A pada fase 1 dan pasien dari kelompok B pada
fase 2. Terdapat perbaikan yang bermakna secara statistik setelah
pemberian suplemen PUFA omega-3, khususnya pada ketidak-
perhatian dan total Conners' subscales.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa anak-anak ADHD dengan
suplemen PUFA omega-3 dapat mencapai dan mempertahankan
kontrol gejala. Data studi ini juga mendukung keamanan dan
tolerabilitas PUFA omega-3, tetapi data perubahan profil asam
lemak dalam studi ini terbatas.
Sebelumnya suatu studi pendahuluan juga telah dilakukan untuk
menilai efek suplementasi PUFA pada komposisi asam lemak dan
perilaku anak dengan gejala ADHD yang juga melaporkan
masalah kulit.
Studi dilakukan pada 50 anak yang secara acak mendapat
suplemen PUFA yang memberikan dosis harian DHA 480 mg, EPA
80 mg, AA 40 mg, GLA 96 mg dan
-tocopheryl acetate 24 mg,
atau plasebo minyak zaitun selama 4 bulan terapi paralel buta ganda.
Suplementasi PUFA menyebabkan peningkatan proporsi EPA,
DHA, dan
-tocopheryl acetate dalam fosfolipid plasma dan
lemak total sel darah merah, tetapi peningkatan omega-3 juga
terjadi pada kelompok plasebo.
Untuk kebanyakan outcome, perbaikan pada kelompok PUFA
secara konsisten lebih baik dibanding kelompok minyak zaitun.
Suplementasi PUFA menyebabkan lebih banyak peserta yang
menunjukkan perbaikan perilaku menentang/melawan dibanding
kelompok minyak zaitun. Juga terdapat korelasi bermakna antara
peningkatan proporsi EPA dalam sel darah merah dan penurunan
perilaku destruktif yang dinilai dengan the Abbreviated Symptom
Questionnaire (ASQ) for parents dan antara peningkatan EPA dan
DHA dalam sel darah merah dengan the teachers' Disruptive
Behavior Disorders (DBD) Rating Scale for Attention. Menariknya,
juga terdapat korelasi antara peningkatan konsentrasi
-toco-
pherol dalam sel darah merah dengan penurunan skor dari 4
subskala the teachers' DBD. (EKM)
Referensi
1. Bélanger SA, Vanasse M, Spahis S, Sylvestre MP, Lippé S, L'heureux F et al.
Omega-3 fatty acid treatment of children with attention deficit hyperactivity
disorder: A randomized, double-blind, placebo-controlled study. Paediatr Child
Health. 2009;14(2):89-98 (abstract).
2. Sorgi PJ, Hallowell EM, Hutchins HL, Sears B. Effects of an open-label pilot
study with high-dose EPA/DHA concentrates on plasma phospholipids and
behavior in children with attention deficit hyperactivity disorder. Nutr J.
2007;13;6:16.
Manfaat Suplementasi
PUFA pada ADHD
S
tudi pada hewan coba menunjukkan bahwa nicergoline mem-
punyai spektrum potensi yang luas, baik mekanisme secara
seluler maupun molekuler. Nicergoline menunjukkan kemam-
puannya dalam memperbaiki atau meningkatkan fungsi neuro-
transmiter kolinergik dan katekolaminergik dan berhubungan
dengan perbaikan penurunan fungsi kognitif, merangsang
regenerasi fosfoinositide, memodulasi translokasi protein kinase C
(PKC) maupun sekretase-alfa yang dimediasi oleh PKC yang
akan mempengaruhi terbentuknya protein prekrusor amyloid,
meningkatkan aliran darah serebral regional, memperbaiki uptake
dan penggunaan glukosa oleh sel-sel otak, aktivasi sintesis protein,
serta melindungi sel-sel saraf terhadap stres oksidatif atau
apoptosis, dan berinteraksi dengan nerve growth factor endogen
yang berkontribusi terhadap suport saraf kolinergik. Potensi
dan mekanisme nicergoline tersebut saling berinteraksi, semua
itu diperkirakan berhubungan dengan potensi ataupun efek
terapi nicergoline.
Salah satu studi klinis acak, tersamar-ganda, yang mengguna-
kan nicergoline sampai 12 bulan menunjukkan bahwa nicergo-
line mampu memperbaiki fungsi kognitif pasien demensia.
Studi-studi jangka menengah dan jangka panjang penggu-
naan nicergoline menunjukkan bahwa nicergoline secara
bermakna mampu memperbaiki fungsi kognitif atau meng-
hambat penurunan fungsi kognitif dibandingkan dengan
plasebo yang ditunjukkan dengan hasil Mini-Mental State
Examination (MMSE) atau skor Alzheimer's Disease Assess-
ment Scale - Cognitive Subscale (ADAS-cog). Perbaikan fungsi
kognitif ataupun penghambatan progresifitas demensia ini di-
akui oleh baik peneliti, pasien maupun para perawat pasien.
Selain itu, pemberian nicergoline ternyata mampu memper-
baiki kewaspadaan dan proses informasi pada taraf neurofisi-
ologis, serta akan mempengaruhi/ memperbaiki perilaku pada
taraf klinis baik pada demensia tipe degeneratif maupun tipe
vaskuler yang ditunjukkan dengan rekaman ERP (Event-
related potential) yang pendek dari fase laten P300.
Nicergoline secara umum ditoleransi dengan baik. Jenis, frekuensi,
dan kegawatan efek samping secara umum sebanding antara
kelompok kontrol dengan plasebo. Tidak ada perubahan ber-
makna dari evaluasi tanda-tanda vital dan laboratorium yang
dilaporkan kecuali peningkatan serum asam urat yang bersifat
asimptomatik.
Secara keseluruhan menunjukkan bahwa data cukup kuat untuk
mendukung hipotesis nicergoline mungkin mempengaruhi
secara molekuler proses perbaikan fungsi kognisi secara in vivo.
Hasil studi-studi klinis juga mengindikasikan bahwa nicergo
line secara umum ditoleransi dengan baik, efektif memper-
baiki fungsi kognitif dan fungsi global pasien demensia derajat
ringan dan sedang. (KTW)
Referensi:
1. Bengt W, Nicola C, Luisa B et al. Nicergoline in Dementia: A Review of its Pharmaco-
logical Properties and Therapeutic Potential. Review Article. CNS Drugs.
2000:14(4):267-287
(Abstrak)
2. Bernd Saletu B, Paulus E, Linzmayer L et al. Nicergoline in senile dementia of
Alzheimer type and multi-infarct dementia:a double-blind, placebo.controlled,
clinical and EEG/ERP mapping study. Psychopharmacology 1995; l 17:385-395.
Nicergoline merupakan derivat ergoline semisintetik yang digunakan untuk pengobatan
penurunan fungsi kognitif pada berbagai bentuk demensia. Saat ini nicergoline sudah banyak
digunakan pada beberapa negara baik Eropa, Amerika Latin maupun beberapa negara di Asia.
BERITA TERKINI
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
518
Nicergoline untuk Demensia
Nicergoline untuk Demensia
Nicergoline untuk Demensia