B E R I T A T E R K I N I
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
115
Ferritin sangat penting dalam pengaturan besi tubuh dan merupakan biomarker
klinik untuk mengevaluasi status besi serta mendeteksi adanya defisiensi besi.
1.
2.
3.
Kadar Ferritin yang Tinggi
Kadar Ferritin yang Tinggi
Berhubungan dengan Risiko Diabetes
Berhubungan dengan Risiko Diabetes
Melitus dan Sindrom Metabolik
Melitus dan Sindrom Metabolik
Kadar Ferritin yang Tinggi
Berhubungan dengan Risiko Diabetes
Melitus dan Sindrom Metabolik
N
amun ada bukti-bukti baru yang memperlihatkan adanya
hubungan antara tingginya kadar ferritin dalam darah dengan
diabetes melitus. Bahkan dalam penelitian, ada hubungan
kuat antara kadar ferritin dengan obesitas, inflamasi dan
sindrom metabolik, faktor-faktor yang berkontribusi dalam
terjadinya diabetes melitus tipe 2.
Besi merupakan katalisator pembentukan radikal bebas.
Percobaan pada hewan memperlihatkan bahwa kadar besi
yang berlebihan dapat menyebabkan stres oksidatif dan
penurunan kapasitas sekresi insulin.
Dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism edisi
Desember 2008, Dr. Xu Lin dkk. dari Institute for Nutritional
Sciences, Shanghai, RRC mengatakan ada hubungan yang
kuat antara konsentrasi ferritin yang tinggi dengan obesitas,
inflamasi dan sindroma metabolik.
Dr. Xu dkk. melakukan penelitian untuk mengetahui apakah
kadar ferritin dalam darah berhubungan dengan peningkatan
risiko diabetes dan sindroma metabolik melibatkan 3289 pasien
dengan usia pertengahan dan usia lanjut.
Sejumlah 10,6% laki-laki dan 14,7% wanita memiliki kadar
ferritin yang tinggi. Anemia dijumpai pada 4,4% laki-laki dan
12,6% pasien wanita.
Pada populasi penelitian ini, prevalensi sindroma metabolik
42,3%, diabetes tipe 2 13,5% dan glukosa puasa terganggu
adalah 27,1%. Kadar median ferritin pada pria adalah 155,7
ng/mL dan kadar median ferritin pada wanita adalah 111,9
ng/mL (p<0,001).
Kelompok pasien dengan kuartil ferritin tertinggi, memiliki
odds ratio 2,80 untuk sindroma metabolik dan 3,26 untuk
diabetes dibandingkan dengan pasien dengan kuartil ferritin
yang terendah. Hubungan ini tetap bermakna setelah beberapa
faktor lainnya seperti diet, indeks massa tubuh, marker inflamasi
dan adipokin disesuaikan.
Dr. Xu menjelaskan bahwa penelitian ini memberikan gambaran
baru mengenai kemungkinan hubungan antara meningkatnya
zat besi dalam tubuh dengan terjadinya diabetes melitus dan
sindrom metabolik. Para klinisi di negara-negara di mana
suplemen besi sering diberikan pada pasien dengan defisiensi
besi perlu memperhatikan kemungkinan peningkatan risiko
diabetes dan sindrom metabolik ini.
Kesimpulan:
Tingginya kadar ferritin dalam darah berhubungan dengan
peningkatan risiko diabetes dan sindrom metabolik.
Kadar ferritin yang tinggi diperkirakan dapat menyebabkan
stress oksidatif dan penurunan kapasitas sekresi insulin.
(YYA)
Referensi :
Fumeron F, Pean F, Driss F, Balkau B, Tichet J, Marre M, et al. Insulin Resistance
Syndrome (DESIR) Study Group 2006 Ferritin and transferring are both predictive of
the onset of hyperglycemia in men andwomenover 3 years: the data from an
epidemiological study on the Insulin Resistance Syndrome (DESIR) study. Diabetes
Care 29:20904.
Medscape Cardiology. Ferritin Levels Linked With Risk of Diabetes, Metabolic
Syndrome.
Sun L, Franco OH, Hu FB, Cai L, Yu Z, Li H, et al. Ferritin Concentrations, Metabolic
Syndrome, and Type 2 Diabetes in Middle-Aged and Elderly Chinese. The Journal of
Clinical Endocrinology & Metabolism. 2008; 93 (12): 4690-6.
·
·