BERITA TERKINI
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
359
T
emuan ini sekaligus merupakan anjuran kepada dokter
untuk lebih berhati-hati dalam meresepkan obat-obatan yang
mungkin akan mempunyai efek tersebut, demikian penjela-
san Dr. Jack Tsao, profesor di bidang Neurologi di Universitas
Uniformed Services di Bethesda, Maryland, Amerika.
Efek antikolinergik yang kuat sering terdapat pada obat-obat
antiparkinson dan obat yang dapat dipakai untuk mengatasi
overactive-bladder atau gangguan berkemih; selain itu juga
disebutkan beberapa obat lain yang mempunyai efek antiko-
linergik di antaranya Warfarin, Furosemid, Hidrokhlorotiazid
(HCT), serta Ranitidin meski efek antikolinegiknya lemah.
Di brosur obat-obat tersebut, kebanyakan tidak disebutkan
mempunyai efek antikolinergik, padahal secara in-vitro efek
tersebut nyata ada. Hal ini merupakan problem yang poten-
sial pada populasi besar, dengan mengacu pada data peneli-
tian Rush Religious Orders Study, suatu penelitian kohort
jangka panjang yang merekrut 870 orang tua dan demensia
dengan follow-up evaluasi kurang dari 1 tahun.
Saat baseline dan evaluasi klinis, fungsi kognitif secara klinik
diukur dengan 21 item pengukuran khusus menggunakan tes
neuropsychological battery.
Pasien dibagi ke dalam kelompok dan kemudian didaftar, 679
pasien mendapat obat yang ada efek antikolinergiknya, 191 pasien
sama sekali tidak menggunakan obat yang memberikan efek
antikolinergik.
Setiap peserta diobservasi selama 7,8 tahun, dicatat, dan
diamati model regresinya, yang dicocokkan dengan jenis
kelamin, usia serta nilai rata-rata penurunan fungsi kognitif
setiap individu sebelum dan sesudah diterapi dengan obat
antikolinergik.
Dr. Tsao melaporkan angka kejadian yang tidak bermakna
baik pada kelompok yang sedang mendapatkan obat atau
kelompok referensi. Tetapi dibandingkan dengan kelompok
referensi, penurunan fungsi kognitif setelah menggunakan
obat tersebut rata-rata adalah 0,045 unit/pertahun lebih cepat
(p=0,0044). Perlu disampaikan bahwa semua peserta dalam
penelitian ini awalnya mempunyai fungsi kognitif normal, dan
tidak ada yang menggunakan obat antikolinergik.
Peneliti menyimpulkan bahwa terapi antikolinergik berhubungan
dengan penurunan fungsi kognitif. Selanjutnya perlu ada
langkah-langkah serta upaya menilai potensi obat ini dalam
menurunkan performa dari fungsi memori.
(IDS)
Referensi:
http://www.abstracts2view.com/aan2008chicago/view.php?nu=AAN08L_
S51.001 Impaired Cognition in Normal Individuals Using Medications with
Anti-cholinergic Activity Occurs Following Several Years.
http: //www. mhguidelines-leics.nhs.uk/default.aspx?page=schizophrenia_
guidance
Sebuah hasil penelitian dipresentasikan dalam pertemuan
American Academy of Neurology ke-60 tahun 2008 di Chicago baru-baru ini,
yang menjelaskan bahwa ternyata semua obat-obatan antikolinergik
berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif pada orang tua.
Hubungan antara efek
antikolinergik dan fungsi kognitif
BERITA TERKINI
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
358
AINS lainnya tidak meningkatkan risiko
insiden stroke secara bermakna.
Kesimpulan :
Dari hasil studi ini dapat disimpul-
kan bahwa terdapat peningkatan
risiko stroke dengan penggunaan 2
AINS golongan coxib, yaitu rofeco-
xib dan valdecoxib, dimana kedua
AINS tersebut juga mempunyai hu-
bungan dengan peningkatan risiko
kardiovaskular.
Studi hubungan antara AINS COX-2
selective dengan risiko stroke iske-
mik bertujuan untuk mengetahui hu-
bungan antara penghambat COX-2
dengan risiko terkena stroke iskemik.
Studi ini merupakan nested case-
control study, yang melibatkan 469.
674 pasien yang terdaftar pada UK
General Practice Research Database
(GPRD), yang setidaknya pernah men-
dapatkan 1 macam AINS antara 1 Juni
2000-31 Oktober 2004. Terdapat 3094
kasus stroke iskemik yang berhasil
diidentifikasi. Kelompok kontrol terdiri
dari 11.859 orang.
Odds ratios (ORs) terhadap hubungan
antara stroke iskemik dengan peng-
gunaan AINS COX-2 selective dihi-
tung dengan menggunakan conditi-
onal logistic regression.
Hasilnya : Pengguna rofecoxib (OR
= 1,71; 95% CI 1,33-2,18), dan
etoricoxib (OR = 2,38; 95% CI 1,10-
5,13) berhubungan dengan pening-
katan risiko stroke iskemik secara ber-
makna, namun tidak demikian halnya
dengan celecoxib (OR = 1,07; 95%
CI 0,79-1,44).
Bagi pengguna rofecoxib dan eto-
ricoxib, ORs cenderung meningkat
dengan dosis harian yang lebih tinggi
dan waktu pemakaian yang lebih
panjang dan ORs juga meningkat pada
pasien tanpa faktor risiko stroke.
Kesimpulan :
AINS COX-2 selective berbeda
potensialitasnya dalam menyebab-
kan kejadian serebrovaskular iskemik.
Peningkatan risiko stroke iskemik
dapat dipengaruhi oleh penggunaan
obat-obatan penghambat COX-2
tertentu.
(VKS)
3.
-
-
Referensi :
Haag M. D. et al. Cyclooxygenase Selectiv-
ity of Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs
and Risk of Stroke. In : Archives of Internal
Medicine. 2008; 168(11):1219-1224. Available
from : http://archinte.ama-assn.org/cgi/ content/
short/168/11/1219
Roumie C. L. et al. Nonaspirin NSAIDs,
Cyclooxygenase 2 Inhibitors, and the Risk
for Stroke. In : Stroke. 2008; 39 : 2037.
Available from : http://stroke.ahajournals.org/
cgi/content/abstract/STROKEAHA.107.50
8549v1
Andersohn F. et al. Cyclooxygenase-2 Selec-
tive Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs
and the Risk of Ischemic Stroke : A Nested
Case-Control Study. In : Stroke. 2006; 37 : 1-6.
Available from : http://stroke.ahajournals.org/
cgi/content/abstract/01.STR.0000226642.
55207.94v1?ck=nck
1.
2.
3.