T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
208
Zona Dissection
Metode ini umumnya dikenal dengan Partial Zona Dissection
(PZD). Pada awalnya metode ini digunakan pada assisted repro-
duction untuk membantu sperma melewati zona pelucida pada
saat masuk ke dalam sel telur. Metode tersebut kemudian ber-
kembang menjadi Subzonal Sperm Injection (SUZI) dan terakhir
disempurnakan menjadi Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI).
Menurut Balaban et. al. 2002 penggunaan metode ini dalam
assisted hatching memerlukan waktu kurang lebih 40 detik.
Keterbatasan metode tersebut adalah sulitnya membuat lubang
dengan ukuran yang sama pada setiap kali perlakuan sehingga
didapatkan hasil yang bervariasi
[17]
.
Sayatan dibuat dengan cara menahan embrio dengan holding
pipet kemudian pada arah yang berlawanan dilakukan injeksi
menggunakan injection pipet untuk menembus bagian zona
pelucida. Zona pelucida kemudian digesekkan pada holding
atau petri dish sampai zona terpotong. Lyu et. al. (2005) mem-
perkenalkan cara baru untuk membuat sayatan pada embrio,
dikenal dengan controlled zona dissection (CZD). Perbedaan
cara ini terletak pada sudut yang dibuat pada mulut holding pipet
sehingga terbentuk sudut 65º. Selain itu ujung pipet injeksi tidak
dibuat runcing melainkan tumpul. Sudut yang dibuat memudah-
kan untuk menggulirkan embrio sehingga lebarnya sayatan dapat
dibuat lebih panjang dibandingkan dengan cara yang biasa dilaku-
kan. Ujung pipet injeksi yang dibuat tumpul menjadi lebih aman
bagi blastomer sehingga mengurangi kemungkinan untuk melukai
blastomer
[24]
(Gambar 30).
Gambar 3. Cara kerja dan hasil dari controlled zona dissection.
(a) pipet injeksi ditusukkan pada zona pelucida; (b) pembuatan lebar sayatan;
(c) LZD yang dihasilkan; (d) inner cell mass yang besar tertahan pada bukaan
yang dihasilkan dengan MZD; (e) blastosit yang sedang hatching pada sayatan
yang dihasilkan LZD; (f) zona yang kosong setelah proses hatching
[24]
.
Perbedaan antara PZD dan CZD terletak pada bentuk sayatan
yang dihasilkan. Hasil dari PZD pada assisted hatching berupa
sayatan yang bersilangan `+' dengan ukuran masing-masing
sayatan 20-30 _m. Sedangkan sayatan pada CZD berupa satu
garis melintang.
CZD dibedakan menjadi 2 berdasarkan ukurannya, long zona
dissection (LZD) dengan ukuran 100 _m dan moderate zona
dissection (MZD) dengan ukuran antara 55--65 _m. LZD meru-
pakan pengembangan dari MZD yang dibuat untuk mengatasi
kegagalan hatching pada embrio yang telah mengalami MZD.
Kegagalan tersebut disebabkan karena ukuran inner cell mass
yang besar sehingga masih tetap terhambat walaupun sudah
dilakukan assisted hatching. Embrio dengan LZD memiliki
tingkat keberhasilan hatching yang lebih tinggi dibanding MZD.
Namun tingkat implantasi yang dihasilkan dengan LZD masih
harus diuji secara klinik
[24]
.
Risiko dari Prosedur Assisted Hatching
Assisted hatching merupakan metode yang dapat membantu
pasien IVF yang memiliki embrio dengan keadaan-keadaan
yang seringkali menyebabkan kesulitan untuk terjadinya hatching
secara spontan. Namun, perlu diperhatikan bahwa assisted
hatching tidak hanya meningkatkan persentase implantasi dan
kehamilan tapi juga meningkatkan risiko terjadinya hal yang
tidak diinginkan, yaitu degenerasi embrio dan terbentuknya
kembar monozygot
[16, 25]
.
Monozygotic twinning adalah dua zigot yang memiliki materi
genetik yang sama / kembar identik karena berasal dari 1 zigot.
Monozygotic twinning terjadi karena inner cell mass terbagi 2
pada saat proses hatching. Diasumsikan sebagian inner cell
mass tertahan dan terbagi 2 pada saat melalui lubang yang
dibuat dengan assisted hatching
[25]
. Pada kelahiran yang terjadi
secara alami persentase terjadinya monozygotic twinning
diperkirakan sekitar 0,42%
[16, 25]
.
DAFTAR PUSTAKA
Plachot M. The blastocyst. Human Reproduction 2000; 15: 49--58.
Fong C-Y, Bongso A., Ng S-C., et. al. Blastocyst transfer after enzymatic
treatment of the zona pellucida: Improving in-vitro fertilization and
understanding implantation. Human Reproduction 1998; 13: 2926--2932.
Ebner T, Moser M., Yaman C., et. al. Prospective hatching of embryos
developed from oocytes exhibiting difficult oolemma penetration during
ICSI. Human Reproduction 2002; 17: 1317--1320.
Kiefer SM, Sailing P. Proteolytic processing of human zona pellucida
proteins. Biology of Reproduction 2002; 66: 407--414.
Shostak S. 1991. Embryology: An introduction to developmental biology.
Harper Collins, New York: xiii + 778 hlm.
Elhelw BA, El Sadek MM, El Nomrosy KM. Assisted hatching: Routine or
selective application in IVF. Middle East Fertility Society J 2004; 9: 198--201.
Ng EHY, Naveed F, Lau EYL et. al. A randomized double-blind controlled
study of the efficacy of laser-assisted hatching on implantation and
pregnancy rates of frozen-thawed embryo transfer at the cleavage stage.
Human Reproduction 2005; 20: 979--985.
Lin S-P, Lee R K-K, Tsai Y-J. In vivo hatching phenomenon of mouse
blastocyst during implantation. J Assist Reprod and Genetics 2001; 18: 341-345.
Blake DA, Forsberg AS, Johansson BR. et. al. Laser zona pellucida
thinning--an alternative approach to assisted hatching. Human Reproduc-
tion 2001; 16:1959--1964.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
221
BERITA TERKINI
S
ejak tahun 1980-an, sebenarnya sudah diketahui bahwa
2 golongan antidepresan yaitu golongan trisiklik dan
golongan MAO (monoamine oxidase) inhibitor meskipun
efektif tetapi banyak menimbulkan efek samping serius
sehingga penggunaannya membutuhkan pemantauan
yang ketat oleh dokter.
Penelitian terhadap antidepresan trisiklik kembali dilaku-
kan pada pasien lansia, menggunakan MRI (magnetic
resonance imaging) secara serial untuk melihat apakah
trisiklik akan meningkatkan risiko terjadinya kelainan
serebral. Ternyata ditemukan bahwa antidepresan trisiklik
dapat meningkatkan progresifitas terjadinya lesi di area
putih pasien lansia. Hal ini berhubungan dengan kejadian
depresinya; selain itu, progresifitas lesi tersebut mengin-
dikasikan berbagai efek samping lain seperti hipotensi.
Dr. David C. Steffens, dari Universitas Duke di Durham,
North Carolina meneliti 1.829 pasien dewasa, berusia 65
tahun atau lebih pengguna antidepresan trisiklik pada
saat baseline dan 5 tahun kemudian dengan menggu-
nakan pemindai MRI. Pada beberapa kasus, gejala
depresinya berhubungan dengan adanya lesi dari hasil
pemeriksaan MRI, yang sebabnya sampai saat ini
belum diketahui dengan jelas.
Hasil penelitian ini menunjukkan efek pemakaian trisiklik
pada pasien depresi terhadap area substansia alba pasien
dan efek samping yang sering dikeluhkan oleh pasien
pengguna antidepresan golongan trisiklik, berbeda sekali
dengan pengguna SSRI.
Antidepresan golongan SSRI telah diketahui memiliki efek
menurunkan agregasi trombosit. Pada penelitian terapi
SSRI hanya ditemukan sedikit sekali efek jelek pada sub-
stasia alba.
(IDS)
Referensi:
Antidepressant Treatment and Worsening White Matter on
Serial Cranial Magnetic Resonance Imaging in the Elderly.
Stroke 2008;39:857-862.
Safety of antidepressants in the elderly. Expert Opinion on Drug
Safety 2003; 2( 4): 367-383.
Antidepressant drug use and risk of venous thromboembolism.
Pharmacotherapy 2008; 28(2):1
44-50
1.
2.
3.
Antidepresan trisiklik sepertinya sudah tak aman lagi digunakan oleh pasien lansia.
Hasil laporan dari pusat riset di UK yang dimuat pada Stroke edisi Maret 2008
menunjukkan adanya efek samping tromboemboli vena idiopatik,
akibat pemakaian antidepresan trisiklik.
Efek Trisiklik vs SSRI
terhadap substansia alba otak
BERITA TERKINI