HASIL PENELITIAN
Analisis Faktor Risiko
pada Pasien Kanker Payudara
di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang
Azamris
Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas / RSUP Dr. M. Djamil
Padang, Sumatera Barat
ABSTRAK
Pendahuluan : Pada wanita di Indonesia, kanker payudara menduduki urutan ke dua
terbanyak setelah kanker serviks. Sampai saat ini, walaupun telah ditemukan adanya gen kanker
payudara yang dapat diturunkan namun penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti.
Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya kanker payudara seperti faktor hormonal, keturunan,
asupan gizi, pajanan radiasi dan sebagainya.
Metode : Untuk mengidentifikasi faktor risiko tersebut, di RSUP Dr. M. Djamil Padang
dilakukan penelitian epidemiologi sejak bulan Agustus 1998 sampai April 2000. Metoda yang
dipakai adalah studi kasus kontrol; satu kasus dipasangkan dengan dua orang kontrol berdasarkan
faktor usia dan sosial ekonomi. Kasus yang dipilih adalah wanita yang baru pertama kali
didiagnosis dengan kanker payudara primer, tanpa memandang stadium klinik sebanyak 70 orang
dan kontrol dipilih dari pasien wanita yang datang berkunjung ke poliklinik bedah RSUP Dr. M.
Jamil Padang dengan penyakit selain keganasan sebanyak 140 orang.
Hasil : Usia penderita tertinggi adalah 46,7 tahun (23 - 72 tahun). Stadium terbanyak adalah
lanjut lokal (IIIa dan IIIb) sebesar 68,6 %. Faktor - faktor yang meningkatkan risiko kanker
payudara adalah tidak pernah hamil (OR = 5,91 ; C1 = 2,99-6,59), lama menyusui sangat singkat
(OR 4; C1 1,8715,7), menopause (OR 1,89), bertempat tinggal di kota (OR 1,3), riwayat keluarga
(OR 3,16; C1 1,41-5,74), kegemukan (OR 2,29 ; C1 2,06-2,53), asupan lemak tinggi (OR 4,97;
C1 2,45-5,79) dan riwayat trauma tumpul payudara (OR 1,55; C1 1,09-3,25). Faktor - faktor yang
bukan faktor risiko adalah faktor status perkawinan, pendidikan dan siklus menstruasi.
Kesimpulan : Faktor - faktor risiko pada pasien kanker payudara yang berobat di Bagian
Bedah FKUA / RSUP Dr. M. Jamil Padang adalah tidak pernah hamil, lama menyusukan anak
sangat singkat, menopause, kegemukan, asupan lemak yang tinggi, tinggal di daerah perkotaan,
riwayat keluarga menderita kanker payudara dan adanya riwayat trauma tumpul payudara.
Kata kunci : Analisis Epidemiologi, Faktor Risiko, Kanker Payudara.
PENDAHULUAN
Kanker payudara merupakan jenis kanker kedua terbanyak
yang mengenai kaum wanita setelah kanker serviks. Amerika
utara dan Eropa memiliki angka insiden kanker payudara yang
lebih tinggi daripada Asia. Di Amerika Serikat kanker
payudara merupakan 32 % dari seluruh jumlah kanker pada
wanita. Secara umum dapat dikatakan kanker payudara dapat
terjadi pada 1 dari 8-9 wanita di sepanjang hidupnya.
(1)
Belum ada data yang akurat untuk insiden kanker
payudara di masyarakat Indonesia pada saat ini; karena luasnya
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 53
wilayah dan terbatasnya sarana maka semua data kanker
berdasarkan data dari rumah sakit. Dari beberapa laporan,
Angka kanker payudara diperkirakan 20 % dari seluruh kanker
yang menyerang wanita.
(2,3)
Walaupun telah dapat dibuktikan bahwa adanya mutasi
gen dapat menimbulkan kanker payudara serta gen pembawa
sifat kanker payudara diturunkan, namun sampai saat ini belurn
dapat ditemukan penyebab pasti terjadinya kanker payudara.
Studi epidemiologi baik yang bersifat observasional maupun
eksperimental telah banyak mendapatkan faktor-faktor yang
berhubungan dengan kanker payudara, yang dikenal sebagai
faktor risiko kanker payudara.
(4)
Tidak seperti penyakit infeksi,
factor-faktor ini tidak dapat bekerja secara tunggal dalam
menimbulkan kanker melainkan melalui proses yang kompleks
mulai dari faktor genetik sampai ke pola hidup. Pentingnya
mengetahui faktor risiko adalah untuk dapat melakukan deteksi
dini kanker payudara pada kelompok risiko tinggi serta dapat
memberikan informasi ke pada masyarakat untuk menjauhi
faktor-faktor risiko tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi faktor-faktor risiko kanker payudara pada
pasien kanker payudara yang berobat di Bagian Bedah RSUP
Dr. M Jamil Padang.
BAHAN DAN CARA
Penelitian dilakukan di Poliklinik Bedah di RSUP Dr. M.
Djamil Padang mulai bulan Agustus 1998 sampai dengan bulan
April 2000. Metoda yang dipakai adalah studi kasus kontrol
dengan memakai pasangan berdasarkan usia dan
sosioekonomi.
(5)
Untuk kasus diambil wanita yang baru
pertama kali didiagnosis kanker payudara primer, tanpa
memandang stadium klinisnya. Diagnosis dibuat berdasarkan
pemeriksaan histopatologi biopsi jaringan tumor. Untuk kontrol
dipilih dari pasien pngunjung poliklinik bedah atau dirawat di
bagian bedah dengan penyakit lain dan bukan penderita
penyakit keganasan.
Tiap kasus dipasangkan dengan 2 orang kontrol. Semua
kasus dan kontrol diminta persetujuannya untuk mengikuti
wawancara serta pemeriksaan fisik. Baik kasus dan kontrol
memiliki hak untuk ikut penelitian ini atau menolaknya tanpa
mempengaruhi pelayanan pengobatan yang diberikan kepada
mereka. Setelah diagnosis pasti, dilakukan wawancara oleh
satu orang dokter dan satu orang penata gizi yang telah dilatih.
Kuisioner klinik diisi oleh dokter, sedangkan kuisioner gizi
diisi oleh penata gizi. Kuisioner gizi mengacu pada kuisioner
yang dipakai oleh Collaborative Study Indonesia - Japan
tentang epidemiologi kanker payudara yang dilaksanakan di
Jakarta tahun 1995.
(6)
Kriteria kegemukan memakai ukuran indeks BMI
berdasarkan kriteria WHO untuk orang Asia : overweight
adalah BMI > 23 kg/m2. Tingkat asupan lemak responden
dipakai kriteria asupan tinggi jika hampir tiap hari responden
memakan makanan berlemak, sedangkan rendah adalah jika
asupan lemak responden kurang dari 3 hari dalam seminggu.
HASIL
Pada periode Agustus 1998 sampai April 2000 didapatkan
210 orang responden : 70 kasus kanker payudara yang baru
didiagnosis dan 140 kontrol. Dari seluruh responden dibuat
tabulasi menurut masing - masing faktor risiko.
Tabel 1. Distribusi kasus dan kontrol menurut umur
Kasus Kontrol
Umur
(tahun)
n % n %
<35 12
17.1
24
14.3
35-39 8 11.4 16 11.4
40-44 14 20 28 28.6
45-49 10 14.3 20 11.4
50-54 7 10 14 12.9
55-59 6 8.6 12 8.6
60-64 9 12.9 18 7.1
65-69 3 4.3 6 4.3
>70 1 1.4 2 1.4
Total
70
140
Mean 46.7
46.7
SD 12.1
12.1
Nilai OR antara usia < 50 tahun dan
50 tahun : 1,35 (1,25-1,44).
Gambar 1. Persentase Kasus Menurut Stadium Kanker
Tabel 2. Hubungan antara fakor pendidikan dan risiko kanker payudara
Kasus Kontrol
OR 95%CI
Pendidikan
n % n %
Buta Huruf
9
12.9
16
11.4
0.72
0.28-1.24
SD 26
37.1
49
34.3
0.68
0.30-1.30
SLTP 11
15.7
23
16.4
0.61
0.26-1.21
SLTA 13
18.6
38
27.1
0.44
0.20-0.87
PT 11
15.7
14
10
0.55
0.49-0.62
Total
70
140
Tabel 3. Hubungan antara lokasi tempat tinggal ( geografi ) dengan risiko
kanker payudara
Kasus Kontrol
OR 95%CI
Daerah
n % n %
Kota 45 64.3
98 70 1.30
0.63
Desa 25 35.7
42 30 1.00
2.02
Total
70
140
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
54
Tabel 4. Hubungan antara status hormonal dengan risiko kanker
payudara
Kasus Kontrol
OR
95%CI
n % n %
Statsu
Perkawinan
Tidak
Kawin 1 1.4 3 2.1 0.62 0.57-1.75
Janda 13 18.6 33 23.6 0.73 0.49-0.96
Kawin 56 80 104 74.3 1.00
Sirkulasi
Menstruasi
Tidak
Teratur 13 18.6 34 24.3 0.71 0.54-0.98
Teratur 57 81.4 106 75.7 1
Paritas
Tidak
pernah 9 12.9 8 5.7 5.91 2.66-659
1-2 24 34.3 20 14.3 6.3 2.06-6.51
3-4 29 41.4 70 50 2.18 1.59-3.18
5 8 11.4 42 30 1.00
Riwayat
Menyusui
Tidak
pernah
10 14.3 8 5.7 2.5 0.78-2.67
Sangat
singkat 2 2.9 1 0.7 4 1.8-15.7
Singkat 2 2.9 3 2.1 1.33 0.91-4.04
Rata-Rata 53 75.7 127 87.1 0.87 0.58-3.65
Lama 3 4.3 6 4.3 1.00
Menopause
Postmenopause 41 58.6 60 61.8 1.89
Premennopause 29 41.4 80 57.1 1.00
Tabel 5. Hubungan antara berat badan dengan risiko kanker payudara
Kasus Kontrol
OR
95%CI
Berat
Badan
n % n %
Gemuk 29 61.4 33 23.6 2.29 2.06-2.53
Tidak
Gemuk 41 58.6 107 76.4 76.4 0.87-1.97
Tabel 6. Hubungan antara diet lemak dengan risiko kanker payudara
Kasus Kontrol
OR
95%CI
Diet
Lemak
n % n %
Tinggi 27
38.6
19
13.6
2.29
2.06-2.53
Sedang 43
61.4
121
86.4
1.25 0.87-1.97
Total
70
140
Tabel 7. Hubungan antara riwayat keluarga yang menderita kanker
payudara dengan terjadinya kanker payudara
Kasus Kontrol
OR
95%CI
Keturunan
n % n %
Dekat 3
4.2
2
1.4
3.16
1.41-5.74
Jauh
9 12.9 16 11.4 1.18 0.60-1.40
Tidak ada
58
82.9
122
87.2
1.00
Total
70
140
Tabel 8. Hubungan antara trauma tumpul payudara dengan risiko
kanker payudara
Kasus Kontrol OR 95%CI
Riwayat
trauma
n % n %
Ya
6 8.6 8 5.7 1.55
1.09-3.25
Tidak
64 91.4 132 94.3
Total
70
140
PEMBAHASAN
Umur rata-rata penderita kanker payudara pada penelitian
ini adalah 46,7 (SD 12,1) tahun. Usia puncak penderita berkisar
antara usia 40-50 tahun (34,3 %). Umur termuda adalah 23
tahun sedangkan tertua 72 tahun. Kelompok usia tua ( 50
tahun) pada penelitian ini memiliki risiko kanker payudara 1,35
kali lebih tinggi daripada kelompok usia kurang dari 50 tahun.
Hubungan ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan
penelitian dari negara Barat. Di Amerika Serikat hampir 3/4
kasus terjadi pada usia di atas 50 tahun.
(7)
Budiningsih dkk.
(1995) melaporkan bahwa lebih 70 % kasus kanker payudara
yang berobat di Bagian Bedah RSUPN CM berusia di bawah
50 tahun. Jika dibandingkan dengan negara Asia lain seperti
Jepang, Korea dan Malaysia maka Indonesia memiliki
kesamaan yaitu usia puncak penderita kanker payudara berkisar
antara 40-50 tahun.
(8-10)
Risiko terjadinya kanker payudara
bertambah sebanding dengan pertambahan usia dengan angka
pertambahan insiden baru 1-2 % tiap pertambahan usia 1 tahun.
Hubungan ini diduga karena pengaruh paparan hormonal
(estrogen) yang lama serta paparan faktor risiko lain yang
memerlukan waktu yang lama untuk dapat menginduksi
terjadinya kanker.
(11)
Spektrurn stadium pasien terbanyak
adalah stadium lanjut lokal ( IIIa dan IIIb) sebesar 68,6 %.
Penderita yang datang berobat pada stadium IV adalah 8,6%,
sedangkan stadium dini (Stadium I dan II) hanya 22, 4 %.
Tjindarbumi (1984) dan Ramli M (1995) melaporkan bahwa
jumlah kanker payudara yang berobat pada stadium dini
berkisar 20 - 30 %.
(2,3)
Data ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan
literatur Barat yang menunjukkan bahwa hampir 80 % pasien
datang berobat pada stadium dini. Hal ini mungkin disebabkan
karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang
penyakit ini serta faktor sosial ekonomi yang menghambat
pasien mendapatkan pengobatan medis yang memadai.
Pendidikan responden terbanyak adalah sekolah dasar (37,1%)
dan berada pada strata sosioekonnomi rendah. Masih ada
responden yang masih buta huruf (12,9%). Hal ini
mempengaruhi persepsi responden tentang penyakitnya
sehingga sebagian besar penderita datang berobat pada stadium
lanjut. Namun demikian peneliti tidak menemukan peningkatan
faktor risiko terjadinya kanker jika dibandingkan dengan status
pendidikan penderita (OR 0,72 - 1). Secara logika dapat
dikatakan bahwa peningkatan status pendidikan akan
meningkatkan status sosial ekonomi, yang kemudian akan
mengubah pola hidup. Pola hidup masyarakat dengan sosial
ekonomi baik berupa asupan lemak yang lebih tinggi serta pola
hidup tidak sehat akan meningkatkan paparan faktor risiko
kanker payudara. Pada penelitian ini faktor pendidikan bukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 55
faktor risiko, hal ini dapat disebabkan oleh jumlah sampel yang
kecil. Untuk menilai hubungan antara faktor geografi dan
kanker payudara maka pada penelitian ini dibandingkan antara
responden yang bertempat tinggal di kota dan di desa. Pada
penelitian ini didapatkan 63,4 % responden berdomisili di kota
dan ternyata risiko kanker payudara sedikit lebih tinggi (OR =
1,3). Hal ini dapat disebabkan karena pengaruh tingkat sosial
ekonomi dan asupan makanan responden yang bertempat
tinggal di kota meningkatkan risiko terjadinya kanker
payudara. Dari analisis faktor hormonal yang menyangkut
status perkawinan, menstruasi, status menopause, jumlah anak
serta menyusui didapatkan hal sebagai berikut. Faktor
perkawinan pada penelitian ini tidak berpengaruh terhadap
terjadinya kanker payudara (OR 0,73 - 1). Hanya 1 penderita
(1,4 %) yang belum menikah. Dari siklus menstruasi (teratur
atau tidak ) juga tidak didapatkan faktor risiko yang bermakna
(OR 0,7-1). Didapatkan 12,9 % penderita belum pernah hamil
(OR 5,91), pada riwayat kehamilan 1-2 kali OR = 6,3 dan pada
kehamilan lebih dari 5 kali OR =1. Hal ini menunjukkan faktor
protektif kehamilan. Dari literatur didapatkan bahwa kehamilan
memang dapat memperkecil risiko kanker payudara melalui
pengaruh penurunan perangsangan estrogen pada payudara.
Beberapa peneliti melaporkan adanya hubungan lamanya
menyusui dengan efek pencegahan terjadinya kanker payudara.
Pada penelitian ini didapatkan bahwa tidak pernah menyusukan
dan menyusukan anak dalam waktu singkat akan meningkatkan
risiko terjadinya kanker payudara (OR 2,5-4). Dengan
bertambah lamanya menyusukan anak maka paparan estrogen
terhadap payudara berkurang dan menjadi faktor protektif
terhadap risiko kanker payudara. Faktor menopause didapatkan
memiliki risiko 1,89 kali (CI 1,71- 2,06). Hal ini menunjukkan
bahwa kanker payudara lebih sering mengenai wanita usia
menopause. Pada kanker payudara, untuk mencapai ukuran
tumor yang dapat diraba yaitu sebesar 1 cm diperlukan waktu
10 tahun. Jadi dapat dipahami bahwa kanker payudara lebih
sering terjadi pada usia menopause. Pada penelitian ini dengan
mengacu pada kriteria kegemukan pada orang Asia (BMI
23), didapatkan bahwa kegemukan akan meningkatkan risiko
kanker payudara 2,29 kali lipat ( Cl 2,06 - 2,53 ). Peningkatan
berat badan akan meningkatkan risiko terjadinya kanker
payudara. Pada obesitas (BMI > 35) insiden kanker payudara
akan meningkat 2 kali lipat.
(12)
Pada kegemukan, terjadi
peningkatan kadar estrogen darah, karena hormon estrogen
selain dihasilkan di ovarium dan hati juga diproduksi di
jaringan lemak. Dari wawancara gizi didapatkan 38,6 % kasus
memiliki asupan lemak yang tinggi (makan makanan berlemak
hampir setiap hari) dan faktor risiko kelompok ini adalah 4,97
kali (CI 2,45 - 5,79). Secara umum dapat dikatakan bahwa
asupan lemak masyarakat kota Padang umumnya tinggi karena
makanan tradisional sehari - hari mengandung santan. Asupan
lemak hewani juga tinggi karena makanan tradisional berasal
dari lemak hewan dan jeroan. Dari literatur didapatkan bahwa
kanker payudara yang dapat diturunkan secara genetik hanya
10 % kasus; jika ditelusuri riwayat keluarga dekat yang
menderita kanker payudara akan didapatkan angka sekitar 20
%. Pada penelitian ini didapatkan 3 kasus (4,3%) penderita
dengan keluarga dekat juga penderita kanker payudara;
peningkatan risiko 3,16 kali (C1 = 1,41-5,47). Hal ini sesuai
dengan laporan peneliti lain yang angka risikonya bervariasi
dari 2-5 kali.
(1,14)
Trauma payudara juga dikeluhkan oleh
sebagian penderita kanker payudara. Adanya riwayat trauma
pada payudara (trauma tumpul) akan meningkatkan risiko 1,5
kali (Cl 1,09-3,25). Walaupun dari literatur tidak ditemukan
trauma sebagai faktor risiko, dalam penelitian ini responden
menduga timbulnya benjolan di payudara tersebut adalah
akibat trauma.
KESIMPULAN
1. Umur rata-rata penderita kanker payudara 46,7 tahun;
termuda 23 tahun , tertua 72 tahun.
2. Faktor risiko yang bermakna secara statistik adalah:
a. Usia lebih dari 50 tahun.
b. Tidak pernah hamil / melahirkan anak < 2 orang.
c. Menyusukan anak dalam waktu singkat.
d. Menopause.
e. Kegemukan ( BMI > 23 kg/m2 )
f. Asupan lemak tinggi.
g. Ada riwayat keluarga menderita kanker payudara.
h. Riwayat trauma tumpul payudara.
SARAN
Perlu dilakukan studi epiderniologi nasional untuk men-
dapatkan data akurat mengenai angka kejadian kanker payu-
dara, stadium, serta faktor - faktor risikonya. Data ini sangat
berguna untuk pengambil keputusan di bidang kesehatan baik
untuk prevensi, deteksi dini dan penatalaksanaan kanker
payudara.
KEPUSTAKAAN
1.
Hortobagyi GN. Epidemiology of the breast cancer. Cancer J Clin 1995;
45:199-226,
2.
Ramli M. Deteksi dini dan penatalaksanaan masa kini kanker payudara.
Seminar Sehari Deteksi Dini Kanker Payudara, Padang, Maret 2000.
3. Tjindarburni D, Ohno Y, Prihartono J, dkk. Faktor risiko tinggi pada
kanker payudara di FKUI / RSCM Jakarta. Ropanasuri 1994;XXII(.3-4).
4.
Panigoro SS. Kanker payudara : epidemiologi dan gejala klinis. Munas
Peraboi, Semarang, September 2003.
5. Suradi R, Siahaan CM, Boedjang RF, dkk. Penelitian Kasus kontrol.
Dalam : Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis, penyunting :
Sastroasmoro S, Ismael S. Binarupa Aksara, Jakarta 1995; 78-94.
6.
Budiningsih S, Ohno Y, Prihartono J, et at. Epidemiological analysis of
risk factors for breast cancer in Indonesian females. Med J Indon. 1995;
4(3).
7. Meister K, Morgan J. Risk factors for breast cancer. A report by
American Council on Science and Health. October 2000. URL: http://
www.acsh.or
8. Sasco AJ. Epidemiology of breast cancer : an enviromental disease ?
APMS 2001;109:321-32.
9. Malaysian Medical Association. http:www.mma.org/currenttopic/
women.htm
10. Yoo KY et al. Epidemiology of breast cancer in Korea. J.Korea Med Sci.
2002;17: 1-6.
11. Veroncssi U et al. Breast cancer. In Oxford Textbook of Oncology.
Peckham, Pinedo, Veronessi eds. Oxford University Press. Oxford 1995.
p 1245.
12. Pherson KM, Steel CM, Dixon JM. Epidemiology, risk factors and
genetics. BMJ 2000; 321: 624-28.
13. Ebrahimi M et al. Risk factors for breast cancer in Iran : a case control
study. Breast Cancer Res 2002, 4 (5).
14. Weber BL et al. Familial breast cancer. In Diseases of the Breast. Harris,
Lippman, Morrow, Hellman eds. Lippincot Raven. Philadelphia. 1996. p
170.
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
56
Document Outline