HASIL PENELITIAN
Gambaran Pola Komplikasi Penderita
Hipertensi Yang Dirawat di RSUD Koja
2000-2004
Santoso M, Lyta, Pina
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UKRIDA / SMF Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Koja
PENDAHULUAN
Hipertensi adalah tekanan sistolik >140 mmHg dan
tekanan diastolik >90 mmHg secara kronik, atau bila pasien
memakai obat antihipertensi.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2
golongan, yaitu :
1.
Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak
diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik.
Meliputi sekitar 95% kasus.
2.
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi
seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf
simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi
natrium, peningkatan Na dan Ca intraseluler dan faktor-faktor
yang meningkatkan risiko seperti obesitas, alkohol, merokok.
3.
Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat pada
sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti
penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal,
hiperaldosteronisme primer dan sindrom Cushing,
feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang
berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain.
(3,4)
Tabel I. Klasifikasi tekanan darah untuk dewasa diatas 18 tahun
Klasifikasi
Tekanan Darah
Tekanan Sistolik dan
Diastolik (mmHg)
Normal
Prehipertensi
Hipertensi Stadium I
Hipertensi Stadium II
<120 dan <80
120-139 atau 80-89
140-159 atau 90-99
>160 atau >100
* Sumber JNC VII 2003
JNC 7 (the Seventh US National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure)
mempublikasikan klasifikasi baru (2003) yang membatasi
tekanan darah normal ialah sistolik di bawah 120 mmHg dan
diastolik di bawah 80 mmHg, dan menambahkan satu kategori
baru yakni "prehipertensi" jika tekanan sistolik antara 120 dan
139 atau tekanan diastolik di antara 80 dan 89 mmHg. Strategi
pencegahan direkomendasikan pada populasi ini
(1)
.
Kebanyakan pasien hipertensi tidak mempunyai gejala
spesifik sehingga hanya ditemukan pada saat pemeriksaan fisik.
Pasien biasanya datang ke dokter karena 3 alasan di bawah ini :
1.
Peningkatan tekanan darah itu sendiri.
2.
Penyakit vaskular hipertensi.
3.
Penyakit yang menjadi penyebab, dalam hal ini hipertensi
sekunder.
GEJALA
Gejala yang sering dikeluhkan adalah nyeri kepala,
biasanya hanya pada hipertensi berat, kebanyakan terlokalisir
di daerah oksipital dan hanya muncul pada saat bangun di pagi
hari, dan akan hilang spontan setelah beberapa jam. Keluhan
lain yang berhubungan dengan peningkatan tekanan darah
antara lain: pusing, palpitasi, cepat lemas dan impotensi.
Keluhan lain yang menunjukkan penyakit vaskular termasuk di
antaranya adalah epistaksis, hematuri, penglihatan kabur
(2)
.
KOMPLIKASI
Kebanyakan pasien hipertensi meninggal akibat penyakit
jantung, stroke dan/atau gagal ginjal, selain itu juga dapat
ditemukan komplikasi retinopati.
1.
Komplikasi jantung
Jantung mengalami peningkatan kerja akibat peningkatan
tekanan darah sistemik mengakibatkan hipertrofi ventrikel kiri.
Kemudian katup akan mengalami kemunduran fungsi, dilatasi
kavitas, sehingga gejala dan tanda gagal jantung akan muncul.
2.
Komplikasi neurologi
Dibagi menjadi retinal dan sistem saraf pusat. Disfungsi
sistem saraf pusat sering muncul pada pasien hipertensi, sakit
kepala oksipital pada pagi hari, pusing, vertigo, tinitus
disebabkan oleh pembuluh darah yang macet, perdarahan dan
encephalopati. Selain itu hipertensi merupakan faktor risiko
utama gangguan peredaran darah otak (stroke).
3.
Komplikasi ginjal
Yang sering terjadi adalah penurunan Glomerular
Filtration Rate (GFR) dan disfungsi tubular, proteinuri dan
hematuri mikroskopik (10%) . Kematian pada hipertensi dapat
berasal dari gagal ginjal
(2)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 47
PENATALAKSANAAN
Target terapi antihipertensi adalah menurunkan morbiditas
dan mortalitas penyakit kardiovaskuler dan penyakit ginjal
serta menurunkan tekanan darah di bawah 140/90 mmHg. Pada
pasien hipertensi dengan diabetes dan penyakit ginjal, target
tekanan darah harus di bawah 130/80 mmHg.
Modifikasi gaya hidup
Yang utama adalah menurunkan berat badan pada pasien
kelebihan berat badan atau obesitas, pembatasan garam,
aktivitas fisik dan menghindari konsumsi alkohol
(1,6)
.
Terapi obat
Beberapa obat yang dapat menurunkan tekanan darah
antara lain adalah sebagai berikut
(1)
.
1.
Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor.
2.
Angiotensin reseptor blockers (ARBs)
3.
Beta Blocker.
4.
Calcium Channel Blockers (CCBs), dan
5.
Diuretik Thiazide
Tabel II. Penatalaksanaan tekanan darah pada orang dewasa umur >18 tahun
Terapi Obat
Klasifikasi
Tekanan Darah
Modifikasi
Gaya Hidup
Tanpa Indikasi
Dengan Indikasi
Normal Dianjurkan
- -
Prehipertensi Ya
Tidak memerlukan terapi obat anti
hipertensi
Obat untuk indikasinya
Hipertensi
Stadium I
Ya
Diuretik jenis tiazid, boleh juga
dengan ACE Inhibitor, ARB, Beta
Blocker, CCB atau kombinasi
Obat untuk indikasinya
Antihipertensi tipe lain (diuretik, ACE
inhibitor, ARB, Beta blocker, CCB)
Hipertensi
Stadium II
Ya
Kombinasi 2 obat (biasanya thiazid
dengan ACE Inhibitor, ARB atau
Beta Blocker, atau CCB)
Obat untuk indikasinya
Antihipertensi tipe lain (diuretik, ACE
inhibitor, ARB, Beta blocker, CCB)
*Sumber JNC 7 2003, American Medical Association
Tabel III. Sebaran responden berdasarkan variabel yang diteliti (Tahun 2000-2004)
Frekuensi Jumlah
Persentase (%)
Kelompok
2000 2001 2002 2003 2004 2000 2001 2002 2003 2004
Usia
- <55 thn
- >55 thn
51
43
39
20
34
20
49
42
20
22
150
126,
114
58,8
100
58,8
144
123
58,5
64,7
Jenis Kelamin
- Laki-laki
- Perempuan
33
61
25
34
16
38
26
65
2
40
97
179
73,5
100
47
111
76,4
191
5,88
117
Nonkomplikasi 14 10 6 27 6 41,1 29,4 17,6 79,4 17,6
Komplikasi:
*Mata
*Epistaksis
*Saraf :
- TIA
- Stroke
- Cephalgia
- Vertigo
*Jantung :
- DC
- HHD
- Aritmia cordis
- Sinus
takikardi
-Cardiomegali
- PJK
- Iskhemic
*Ginjal:
- CKD
- Renal insuf
- GNA
-Urolithiasis
- Nephropathy
*Metabolik:
*Kombinasi
Total :
2
8
9
1
2
4
-
15
6
2
2
-
5
-
-
13
8
3
2
-
-
8
15
340
1
2
2
-
-
2
-
7
5
-
-
-
2
-
-
19
15
3
1
-
-
7
11
2
-
1
-
1
-
-
18
6
4
2
3
3
-
3
12
10
1
-
1
-
4
11
1
1
9
-
4
3
2
14
5
4
1
1
2
1
-
23
13
1
1
2
1
2
14
1
1
2
-
1
1
-
13
3
1
-
1
3
3
2
6
4
2
-
-
-
3
8
5,88
23,5
26,4
2,94
5,88
11,7
-
44,1
17,6
5,88
5,88
-
14,7
-
-
38,2
23,5
8,82
5,88
-
-
23,5
44,1
2,94
5,88
5,88
-
-
5,88
-
20,8
14,7
-
-
-
5,88
-
-
55,8
44,1
8,82
2,94
-
-
20,5
32,3
5,88
-
2,94
-
2,94
-
-
52,9
17,6
11,7
5,88
8,82
8,82
-
8,82
35,2
29,4
2,94
-
2,94
-
11,7
32,3
2,94
2,94
26,4
-
11,7
8,82
5,88
41,1
14,7
11,7
2,94
2,94
5,88
2,94
-
67,6
38,2
2,94
2,94
5,88
2,94
5,88
41,1
2,94
2,94
5,88
-
2,94
2,94
-
38,28,8
2
2,94
-
2,94
8,82
8,82
5,88
17,6
11,7
5,88
-
-
-
8,82
23,5
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
48
HASIL PENELITIAN
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian di tahun 2000-2003,
prevalensi pada usia <55 tahun lebih banyak daripada
prevalensi pada usia >55 tahun. Sedangkan mulai tahun 2004,
prevalensi usia >55 tahun lebih banyak dibanding <55 tahun.
Didapatkan pula dari 2000-2004 lebih banyak wanita dibanding
pria. Apakah berkaitan dengan hormonal, mekanismenya
belum jelas sampai saat ini
(2)
.
Pada pasien yang dirawat
ditemukan gejala subyektif yaitu pusing, cepat marah, telinga
berdenging, rasa berat di tengkuk, mata berkunang-kunang,
sukar tidur, dan sakit kepala.
Komplikasi yang sering dijumpai adalah komplikasi pada
mata, epistaksis, saraf (sefalgi), jantung (payah jantung), ginjal,
metabolik (hiperlipidemia), serta kombinasi. Gagal jantung dan
gangguan penglihatan banyak dijumpai pada hipertensi berat
atau hipertensi maligna yang umumnya juga disertai oleh
gangguan fungsi ginjal sampai gagal ginjal. Pada hipertensi
ringan dan sedang komplikasi yang terjadi adalah pada mata,
ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa perdarahan retina,
gangguan penglihatan sampai kebutaan.
Gagal jantung merupakan kelainan yang sering ditemukan
pada hipertensi berat di samping kelainan koroner dan miokard.
Pada otak sering terjadi pendarahan yang disebabkan oleh
pecahnya mikroanerisma. Kelainan lain yang dapat terjadi
adalah proses tromboemboli dan serangan iskemi otak
sementara (transient ischemic attack).
Gagal ginjal sering dijumpai sebagai komplikasi hipertensi
yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi
maligna.Pada hipertensi maligna yang berkomplikasi ke retina,
terjadi kerusakan sel endothelial yang akan menimbulkan
obiterasi atau robeknya retina. Hal ini dapat diperiksa melalui
funduskopi.
Gangguan ginjal dapat berupa nekrosis fibrinoid pembuluh
aferen dan penebalan intima pada arteri interlobularis yang
dapat menimbulkan nekrosis kapiler glomerulus. Usaha
penurunan tekanan darah yang cepat pada hipertensi maligna,
dapat menurunkan perfusi ginjal sehingga akan terjadi
gangguan fungsi ginjal .
KESIMPULAN
Prevalensi hipertensi pada pasien yang dirawat di RSUD
Koja (2000-2004) terutama pada usia <55 tahun, pada
perempuan dan lebih banyak yang mengalami komplikasi .
KEPUSTAKAAN
1.
American Medical Association . JNC 7, 2003.
2.
Kasper DL, Fauci AS, Lonjo DL, Braunnwald E, Hauser SL, Jameson JL:
Harrison's Principles Of Internal Medicine, 16 th ed, Mc Graw Hill
Medical Publishing Division, 2005
3.
Mansjoer A, Suprohalita, Wardhani WL, Setiowulan W: Kapita Selekta
Kedokteran, Jakarta, Media Aaesculapius FKUI, 2001
4.
Noer MS: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi Ketiga, Jilid kedua,
Balai Penerbit FKUI, 2003.
5.
Wawolumaya.C, Survei Epidemiologi Sederhana, Seri No.1, 2001.
6.
A Fool may make money, but it takes a wise men to spend it
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 49