background image
HASIL PENELITIAN
Survai Serologi Polio
di Daerah Tersangka KLB Polio
Desa Bobojong, Cianjur,
Jawa Barat
Djoko Yuwono*, Shinta Purnamawati*, Gendro Wahyuhono*, Ratu Tri Yulia**
*) Pusat Penelitian Penyakit Menular; Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
**) Kepala Seksi P2M. Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Jawa Barat
PENDAHULUAN
Batas waktu Bebas Polio di Indonesia sudah semakin dekat,
beberapa propinsi sudah ditargetkan akan dinyatakan sebagai
daerah bebas polio antara lain : di Jawa, Sumatera dan Bali
(1,2,5,6)
.
Upaya untuk mencapai target tersebut sudah dilaksanakan de-
ngan meningkatkan cakupan imunisasi polio dalam program EPI,
beberapa daerah telah melaporkan cakupan imunisasi polio
melebihi 90%
(1-4)
. Untuk meyakinkan apakah daerah tersebut
sudah layak dinyatakan bebas polio, perlu dilakukan pengamat-
an adanya strain ganas (wild strain) poliovirus yang terdapat di
daerah tersebut, selain itujuga harus melakukan perburuan kasus
poliomyelitis secara aktif
(1,5,6)
.
Pada tanggal 17 Oktober 1994 telah dilaporkan adanya
tersangka `KLB polio' di desa Bobojong, Kecamatan Mande,
Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat, dengan 1 kasus indeks
paralisis, tersangka poliomielitis. Dalam rangka eradikasi polio
telah disepakati untuk melakukan surveilans polio secara aktif,
sehingga walaupun hanya satu kasus paralitik tetap dianggap
merupakan suatu KLB. Pada bulan Maret 1995 telah dilakukan
peninjauan ke daerah KLB oleh DinKes. Propinsi Jawa Barat.
Telah dilakukan pengambilan tinja terhadap kasus indeks dan
anak balita di sekitarnya. Pemeriksaan virologi dilakukan oleh
laboratorium virologi Perum Bio Farma, hasil pemeriksaan
isolasi virus dinyatakan negatif. Pada bulan Juni 1995 telah di-
ABSTRAK
Telah dilakukan suatu survei enterovirus di daerah tersangka KLB polio di Kecamatan
Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status polio
pada anak balita dan transmisi enterovirus l
telah diamati dan sebanyak 59 serum dan 6
antibodi polio dilakukan dengan uji netralis
sel HEp-2, sedangkan isolasi dan identifi
ECHO, Coxsackie dan polio pada sel HEp-2
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kesmas) atau 72,5% (hasil survei ini) masih
antibodi polio; pada kelompok umur 3-11 b
ditemukan 8,3% anak yang memiliki antib
miliki antibodi polio dobel tipe. Persentase
makin bert
ainnya di daerah tersebut. Sebanyak 91 anak
5 tinja balita telah diperiksa. Pemeriksaan
asi terhadap antigen polio (tipe Sabin) pada
kasi enterovirus dilakukan terhadap antisera
dan sel RD.
p a cakupan imunisasi 95,5% (data pus-
ditemukan 10,9% anak yang tidak memiliki
ulan dengan cakupan imunisasi 50,0% hanya
odi polio-1. Tidak satupun anak yang me-
antibodi polio tripel akan meningkat dengan
ambahnya umur anak; setelah umur 36 bulan tidak ditemukan lagi anak-anak
yang seronegatif polio. Hasil isolasi virus menunjukkan bahwa 24/65 (36,9%) positif;
12/65 (18,5%) adalah enterovirus, antara lain: virus ECHO- 13, ECHO-7 dan ECHO-9
(13,8%) lebih dominan dibanding virus Coxsackie B (4,6%).
ad
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
56
background image
lakukan pengamatan lapangan oleh suatu tim peneliti Puslit
Penyakit Menular Badan Litbang Kesehatan, Jakarta dan tim
DinKes. Kabupaten Cianjur. Penelitian ini merupakan hasil survei
lapangan yang telah dilakukan oleh tim penelitian Puslit Penyakit
Menular.
Adapun yang menjadi tujuan dan survei ini antara lain:
1) Apakah terdapat hubungan antara kejadian KLB dengan
tipe virus yang beredar di daerah tersebut dan kaitannya dengan
antibodi anak yang telah mendapatkan imunisasi polio.
2) Untuk mengetahui dampak imunisasi polio selama ini di
daerah tersebut.
3) Identifikasi virus kelompok Enterovirus pada masyarakat
di daerah yang tersangka KLB polio tersebut.
Hasil penelitian ini merupakan masukan yang berguna bagi
penentuan kebijakan tindak lanjut terutama bagi program
eradikasi polio dan pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional.
BAHAN DAN CARA KERJA
1) Studi populasi:
Anak sehat umur balita di kecamatan di daerah yang di-
nyatakan terjadi KLB polio yaitu di desa Bobojong, Kecamatan
Mande, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat.
Wawancara dengan orangtua anak mengenai sanitasi
lingkungan dan riwayat imunisasi polio menurut KMS.
2) Spesimen:
Serum: dan darah vena anak balita sehat (100 anak); 2 ml
darah vena diambil dari tiap anak. Serum dipisahkan dengan
sentrifugasi 2000 rpm selama 10 menit.
Tinja: untuk isolasi virus, sebanyak 100 sampel tinja dari
penderita dan anak sehat akan diteliti adanya Enterovirus.
3) Uji serologi: pemeriksaan antibodi polio pada anak balita
sehat terhadap antigen polio. (Sabin type) dengan uji netralisasi
pada medium sel HEp-2 (human epitel).
4) Isolasi dan identifikasi virus: Isolasi virus dilakukan dengan
menginokulasi suspensi tinja pada sel HEp-2 dan RD sel.
Identitikasi isolat dilakukan dengan uji netralisasi terhadap
antiserum enteroVirus.
5) Analisis data
Penelitian ini merupakan studi deskriptif, hasil ditabulasi-
kan dalam suatu tabel yang menggambarkan hubungan antara
variabel yang diamati.
HASIL
1) Survei populasi anak balita sehat
Dalam penelitian ini telah disensus sebanyak 91 anak ba-
lita; dan jumlah tersebut hanya dapat dikumpulkan 59 sampel
serum dan hanya dapat diperiksa sebanyak 55 serum. Sedang-
kan dari 65 sampel tinja yang dapat dikumpulkan dapat diiso-
lasi sebanyak 24 (36,9%) isolat virus.
Pada Tabel 1 dapat diketahui riwayat imunisasi anak me-
nurut data pada KMS, ternyata terdapat 72,5% anak yang telah
mendapat imunisasi polio.
2) Hasil pemeriksaan antibodi polio
Pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa 10,9% anak balita
Tabel 1. Riwayat hnunisasl polio menurut umur anak di desa Bobojong,
Kecamatan Mande, Kabupaten Clanjur, Propinsi Jawa Barat
tahun
1995
Jenis kelamin
Vaksinasi OVP
Sampel
Laki-laki Wanita
Ya
Tidak
Umur
(bulan)
% n % n % n % n
n
3­11
12­23
24­35
36­47
48­60
70,0
75,0
62,5
31,2
33,3
14
12
15
5
8
30,0
25,0
37,5
68,8
66,7
6
4
9
11
7
50,0
75,0
75,0
75,0
93,3
10.
12
18
12
14
500
250
25,0
25,0
6,7
10
4
4
4
1
20
15
24
16
15
masih belum memiliki antibodi polio, hanya 30,9% saja anak
balita yang telah memiliki antibodi terhadap ke tiga tipe virus.
Sedangkan antibodi terhadap satu tipe virus tertinggi terhadap
virus polio 1 yaitu sebesar 14,5% dan antibodi bitipik tertinggi
terhadap virus polio 2 + polio 3 yaitu sebesar 2 1,8%.
Tabel 2. Persentase status kekebalan polio pada anak balita sehat menurut
kelompok umur di desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten
Cianjur,
Propinsi
Jawa
Barat
tahun
1995
Gambar 1. Antibodi polio tripel seropositif dan seronegatif pada anak
balita
di
Kabupaten
Cianjur,
Jawa
Barat
tahun
1995
3) Hasil isolasi dan identifikasi virus
Dari 24 isolat yang memberikan efek sitopatik pada sel
HEp-2 dan sel RD dapat diidentifikasi sebagai ECHO virus-13,
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 57
background image
Gambar 2. Hubungan antara riwayat imunisasi polio dan antibodi polio
monotipik
dan
tripel
ECHO-7 dan ECHO-9 dan sebagai virus Coxcackie B 6,2%,
18,8% masih belum teridentifikasi, 63% negatif.
Tabel 3. Hasil isolasi dan identifikasi enterovirus dan tinja anak balita
sehat dl Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat,
tahun
1995
Umur
(bulan)
Polio ECHO-7
ECHO-9
ECHO-13 Cox.
B Unident.
3­11
12­23
24 ­ 35
36­47
48­60
0
0
0
0
0
2
0
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
1
1
0
0
3
2
4
1
2
3­60 0 5 1 3 3 12
PEMBAHASAN
Berdasarkan data DinKes Dati II, Cianjur dan data desa
Bobojong dinyatakan bahwa cakupan imunisasi tingkat desa
sebesar 95,5%, sedangkan pada tingkat kabupaten dinyatakan
sebesar 85,5%. Akan tetapi hasil survei penelitian ini men-
dapatkan hanya 50,0% anak umur 3-li bulan yang telah
mendapat imunisasi polio, menurut data KMS. Hasil ini penting
sebab akan dapat menentukan berhasil tidaknya program
eradikasi polio di satu tempat.
Dari hasil pemeriksaan serologi terhadap antigen polio ter-
nyata diketahui bahwa persentase antibodi polio tripel akan me-
ningkat dengan makin bertambahnya umur anak, (Gambar 2),
sedangkan pada umur 36 bulan sudah tidak ditemukan lagi anak
yang seronegatif polio. Dalam rangka eradikasi polio tampak-
nya yang menentukan adalah antibodi pada kelompok anak umur
3-11 bulan, oleh karena kekebalan pada kelompok anak umur
ini sangatlah penting. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui
bahwa dengan persentase antibodi polio sebesar 50,0% pada
kelompok umur ini (3-11 bulan) ternyata hanya dihasilkan 8,3%
anak yang memiliki antibodi polio tripel tipik, sedangkan semua-
nya memiliki antibodi terhadap polio tipe-1. Hal ini menimbul-
kan dugaan bahwa yang paling imunogenik dalam vaksin polio
OPV Sabin mungkin adalah virus polio-i, sedangkan virus
polio-2 dan polio-3 dalam vaksin akan lebih lambat menimbul-
kan antibodi. Penemuan ini penting karena dengan cakupan
imunisasi yang tinggi (100%), mungkin hanya dihasilkan seki-
tar 20% anak yang akan memiliki antibodi polio tripel tipik dan
100% akan memiliki antibodi terhadap polio-1. Lebih lanjut
dapat diketahui bahwa antibodi terhadap virus polio-2 dan
polio-3 akan terbentuk dengan makin meningkatnya umur.
Hasil isolasi dan identifikasi virus menunjukkan bahwa
kelompok virus ECHO masih merupakan virus yang dominan
di antara kelompok Enterovirus lainnya.Adanya enterovirus ini
mungkin juga merupakan suatu indikasi mengapa kekebalan
yang terbentuk karena imunisasi pada anak umur 3-11 bulan
hanya terhadap virus polio-i, sebab berdasarkan teori memang
virus polio-1 merupakan virus yang stabil dibandingkan dengan
kedua virus polio lainnya. Dengan demikian pemantauan entero
virus lain perlu terus dilakukan oleh karena tipe ECHO virus
yang terdiri dari 33 tipe virus, yang potensial dapat menimbulkan
polio-like disease juga merupakan virus yang dominan di daerah
tersebut (13,8%), jika dibandingkan dengan Coxsackie B yang
besarnya sekitar 4,6%. Hal ini penting jika dikaitkan dengan
pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN).
KESIMPULAN
1) Dengan cakupan imunisasi polio sebesar 85,5% (data ka-
bupaten) atau sebesar 72,5% (hasil survai lapangan) ternyata
masih ditemukan 10,9% anak yang seronegatif terhadap ketiga
jenis tipe poliovirus.
2) Sejak umur 36 bulan sudah tidak ditemukan lagi anak-anak
yang seronegatif terhadap ketiga tipe poliovirus.
3) Presentase antibodi anak balita sehat terhadap polio di
Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur adalah 30,9% telah
memiliki antibodi polio terhadap ketiga tige virus, 25,3% telah
memiliki antibodi terhadap salah satu virus polio, yang tertinggi
terhadap virus polio-1. Sedangkan 32,7% telah memiliki anti-
bodi terhadap dua tipe virus polio yang tertinggi terhadap virus
polio-2 dan polio-3.
4) Pada anak kelompok umur 3-11 bulan ternyata dengan
persentase anak yang divaksin polio sebesar 50% hanya
ditemukan 8,3% anak yang seropositif terhadap polio tripel.
Akan tetapi semuanya memiliki antibodi polio- 1.
5) Hasil isolasi virus menunjukkan dan 24 isolat hanya satu
isolat yang dapat diidentifikasi sebagai poliovirus tipe- 1; 10,8%
adalah kelompok ECHO virus dan 6,2% kelompok Coxsackie
B, 18,3% belum teridentifikasi dan sisanya 63,1% negatif.
Hal ini membuktikan bahwa virus polio-1 merupakan virus
yang dominan di antara virus polio lainnya dan virus ECHO
yang merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan polio-
like disease merupakan virus yang dominan di daerah tersebut.
SARAN
1) Peningkatan terus cakupan imunisasi polio terutama pada
anak umur 3-11 bulan, agar keberadaan virus vaksin dapat mem-
berikan kekebalan secara kontak dengan anak yang mendapat
vaksinasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
58
background image
2) Pemantauan transmisi enterovirus di alam perlu terus dilaku-
kan untuk mengetahui tipe virus yang dominan di satu daerah
terutama di daerah yang dinyatakan siap bebas polio.
5) Kepada semua pihak yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu.atas
segala bantuan dan kerjasama yang baik kami hanya dapat mengucapkan
terima kasih.
KEPUSTAKAAN
1. Gendrowahyuhono, Suharyono W. Evaluasi serologis vaksinasi polio di
Jambi. Cermin Dunia Kcdokt. 1995; 100: 5-8.
3. Gendrowahiuhono. Survei serologis poliomielitis di Bali. Cermin Dunia
Kedokt. 1995; 100: 13-5.
4. Eko Rahardjo dkk. Survei ulang wabah poliomielitis di lokasi transmigrasi
Kecamatan Nimbora, Kabupaten Jayapura, Irian Jaya (1985). Cermin Dunia
Kedokt. 1995; 100: 25-7.
3) Pemantauan serologi hasil Pekan Imunisasi Nasional perlu
dilakukan untuk meyakinkan apakah dengan program tersebut
anak-anak memang akan terlindung terhadap infeksi polio.
2. Heriyanto B, Gendrowahyuhono. Tanggap kebal terhadap virus polio oral
pada anak di daerah kumuh di Palembang. Cermin Dunia Kedokt. 1995;
100 9-12.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1) Dr. Sumaryati Aryoso SKM. Kepala Puslit Penyakit Menular yang telah
memberikan petunjuk dan saran hingga terlalcsananya penelitian ini.
2) Dr. Suriadi Gunawan, DPH. mantan Kepala Puslit Penyakit Menular yang
telah memberikan ijin dan pembinaan sehingga terlaksananya penelitian ini.
3) Dr. Ratu Tri Yulia MSc. Kepala Sic. P2M Dinas Kesehatan Kabupaten
Cianjur, Jawa Barat yang. telah membenikan ijin untuk pelaksanaan penelitian
5. Djoko Yuwono dkk. Penyebaran virus polio di daerah kumuh DKI Jakarta.
Laporan Penelitian (DIK) Puslit Penyakit Menular, Badan Litbang
Kesehatan tahun 1990-1991.
ini di daerah wewenang beliau.
4)
Kepada seluruh staf kultur jaringan yang telah memberikan bantuan
sehingga pemenksaan laboratorium penelitian ini dapat dilaksanakan dengan
baik.
6. Djoko Yuwono. Upaya menuju bebas polio tahun 2000 di Indonesia. Cermin
Dunia Kedokt. 1992.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 59