Serokonversi terhadap Vaksin Polio Oral
di kalangan Anak-anak
di Daerah Kumuh di Jakarta
Gendrowahyuhono
Pusat Penelitian Penyakit MenularBadan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Penelitian mengenai serokonversi antibodi terhadap oral polio vaksin dari anak-anak
di daerah kumuh telah dilakukan di Kecamatan Cempaka Putih Jakarta, tahun 1989.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui derajat imunitas anak yang berisiko
tinggi di daerah kumuh, terhadap virus polio tipe 1, 2 dan 3, setelah mereka mendapat
vaksinasi polio tiga kali.
Sampel diambil secara acak dari anak-anak yang berumur 3 bulan -1 tahun dan
sudah mendapat vaksinasi tiga kali secara rutin di daerah penelitian. Spesimen berupa
darah, diambil dari ujung jari tangan anak-anak tersebut, kemudian diperiksa serum
antibodinya dengan uji netralisasi mikroteknik di laboratorium Pusat Penelitian Penyakit
Menular, Jakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76% dari 30 anak sehat yang telah mendapat
tigakali vaksinasi mempunyai antibodi terhadap ketiga tipe virus polio (triplepositif),dan
lebih dari 87% anak-anak tersebut mempunyai antibodi terhadap masing-masing tipe
virus polio. Tidak ada seorang anakpun yang tidak mempunyai antibodi (triple negatif =
nol).
Dari hasil penelitian ini disimpulkan di antara anak-anak yang telah mendapat
vaksinasi polio tiga kali, prosentase anak yang mempunyai antibodi terhadap masing-
masing tipe virus polio cukup tinggi, sehingga kemungkinan penyebaran virus polio wild
di daerah penelitian dapat dihambat. Disarankan untuk melakukan isolasi virus di daerah
penelitian untuk mengetahui apakah masih ada virus polio wild yang beredar di masya-
rakat, baik dari anak-anak maupun dari lingkungannya.
PENDAHULUAN
Penyakit polio merupakan salah satu penyakit menular yang
dapat dicegah dengan imunisasi. Pemerintah Indonesia telah
mentargetkan bahwa penyakit polio sudah harus terberantas,
terutama di Jawa, Bali dan Sumatra, pada tahun 1994, dengan
mengintensifkan imunisasi polio pada anak-anak yang berumur
2 bulan 11 bulan. Untuk mencapai maksud tersebut maka oleh
instansi yang berwenang sedang dikaji beberapa hal yang ber-
hubungan dengan pelaksanaan dan hambatan yang ada terhadap
program imunisasi yang sudah dilaksanakan sekarang ini.
Beberapa masalah timbul di negara-negara yang sudah lama
melaksanakan program imunisasi polio dengan oral vaksin, salah
satunya adalah bahwa ternyata respons imun terhadap virus
vaksin polio dari anak-anak yang tinggal di daerah kumuh sangat
rendah, yang mungkin disebabkan karena interferensi dari virus
entero lain non polio yang prevalensinya di daerah kumuh
cukup tinggi
(1)
. Apakah hal tersebut juga terjadi di Indonesia,
masih perlu diteliti, mengingat bahwa dari hasil-hasil penelitian
sebelumnya, ternyata di beberapa daerah di Indonesia infeksi
virus entero non polio juga cukup tinggi
(2,3,4,5)
.
Berdasarkan masalah tersebut, penelitian ini dilakukan
dengan tujuan untuk mengetahui derajat kekebalan anak ter-
hadap penyakit polio, dari anak-anak yang tinggal di daerah
kumuh dan telah mendapat vaksinasi rutin oral polio sebanyak
tiga kali dosis di Fuskesmas atau Posyandu. Diharapkan hasil
penelitian ini dapat membantu program imtinisasi polio dalam
bentuk informasi data mengenai derajat kekebalan masyarakat
(herd immunity)
terhadap penyebaran penyakit polio di suatu
daerah yang telah melakukan program vaksinasi secara rutin
pada anak-anak.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 49
METODOLOGI
1)
Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Puskesmas Rawasari, Kecamatan
Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kepadatan penduduk 4000 jiwa
per kilometer persegi dengan jumlah penduduk 18.304 jiwa (data
diambil dari Puskesmas Kec. Cempaka Putih di Tanah Tinggi).
Pemakaian WC sebanyak 5 kepala keluarga per 1 WC, pem-
buangan limbah WC ke kali, semua penduduk menggunakan air
bersih dengan membeli dari tukang air. Penyakit yang sering
dijumpai dan paling tinggi prosentasenya dari semua kunjungan
ke Puskesmas yaitu penyakit pernapasan dan penyakit kulit.
Cakupan vaksinasi polio I, II dan III masing-masing 85,7%,
73,2%, dan 59,6% (data Puskesmas tahun 1988/89).
2)
Sampel
Sebanyak 30 anak sehat yang sudah mendapat tiga kali
vaksinasi polio dari Puskesmas atau Posyandu di Rawasari di-
pakai sebagai sampel dalam penelitian ini. Dan Kartu Menuju
Sehat (KMS) dilakukan pendataan terhadap anak-anak yang
berumur kurang dari 1 tahun dan yang sudah mendapat
vaksinasi polio tiga kali. Dan pendataan tersebut, kemudian
dengan menggunakan tabel random didapatkan 30 anak sehat
tersebut di atas. Kemudian anak-anak tersebut diberi undangan
agar datang ke Puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan.
Apabila anak tidak datang, petugas pemeriksa datang ke
rumahnya dan melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah.
Spesimen berupa darah (serum) diambil dari ujung jari
tangan anak, dengan menggunakan tabung kapiler sebanyak 0,1
ml (10 kapiler). Kemudian darah dibawa ke laboratorium
menggunakan thermos berisi es; sesampainya di laboratorium
darah diproses untuk memisahkan serumnya. Serum yang sudah
terpisah kemudian disimpan dalam temperatur 20°C, menunggu
pemeriksaan secara simultan setelah semua serum terkumpul.
3)
Pemeriksaan serum
Setelah semua serum terkumpul dan terpisah dari gumpalan
darah, dilakukan pemeriksaan uji netralisasi untuk mengetahui
apakah serum yang diperiksa mengandung antibodi terhadap
virus polio. Uji netralisasi pada pelat mikro menggunakan
biakan primer ginjal kern yang sudah ditumbuhkan dalam pelat
mikro. Serum diencerkan terlebih dulu, dengan pengenceran
1:8 dalam medium PBS, kemudian dicampur dengan larutan
virus polio yang sudah diencerkan 100 unit TCID50.
Serum yang memberikan reaksi netralisasi terhadap virus
sehingga virus tidak dapat membentuk cytopathic effect pada
biakan jaringan ginjal kern, dinyatakan sebagai serum yang
mempunyai antibodi terhadap virus polio sesuai dengan tipe
virus yang dinetralisirnya; contoh, seandainya serum menetrali-
sir virus polio tipe 1, maka berarti serum tersebut mempunyai
antibodi terhadap virus polio tipe 1.
4)
Analisis data
Analisis data dilakukan setelah semua hasil pemeriksaan
serologis dapat diketahui dan dipaparkan dalam tabel/grafik
sehingga dengan mudah dapat dilihat tinggi rendahnya prosen-
tase anak yang mempunyai antibodi terhadap masing-masing
tipe virus polio.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pemeriksaan serum dari anak-anak yang telah men-
dapat vaksinasi polio tiga kali secara rutin di Puskesmas atau
Posyandu dapat dilihat pada grafik 1. Tujuh puluh enam prosen
dari anak-anak yang diperiksa menunjukkan serokonversi ter-
hadap ketiga tipe virus polio (triple positif), dan tidak ada satu-
pun anak yang tidak mempunyai antibodi terhadap virus polio
(triple negatif'nol). Paling sedikit 87% anak memberikan sero-
konversi terhadap salah satu tipe virus polio, yang berarti
bahwa herd immunity anak-anak di daerah penelitian sudah
cukup tinggi.
Grafik 1. Status Antibodi Anak setelah Vaksinasi Polio 3 Kali, Jakarta,
1969.
A
=
Antibodi
triple
positif D
=
Antibodi
positif
polio
tipe
3
B
=
Antibodi
pasitif
polio
ripe
1 E
=
Antibodi
triple
negatif
C = Antibodi pasitif polio tipe 2
Serokonversi yang diperoleh di sini adalah serokonversi
yang dihasilkan bukan hanya dan vaksinasi tetapi kemungkinan
juga oleh adanya infeksi alam sebelum atau setelah mereka
memperoleh vaksinasi. Hal ini disebabkan karena di dalam pe-
nelitian ini tidak disertakan kontrol anak yang belum divaksinasi,
ataupun kontrol status antibodi anak sebelum dilakukannya
vaksinasi polio, sehingga status antibodi yang dipunyai oleh
anak-anak tersebut tidak bisa dikatakan sebagai reaksi dari ada-
nya vaksinasi yang diperolehnya. Meskipun demikian, hasil
yang diperoleh sudah memberikan gambaran berhasilnya ke-
giatan imunisasi di daerah tersebut, yaitu dengan tingginya
herd immunity
anak-anak di daerah itu bila dibandingkan
dengan herd immunity dari anak-anak yang belum
mendapatkan imunisasi di daerah lain seperti di Jambi, Tan
jung Priok, Cimahi, dan Banjarmasin, di mana herd immunity
pada anak-anak dengan umur yang sama di ke empat daerah
tersebut sangat rendah yaitu hanya 14% 53% (Grafik 2)
(1)
.
Bila hasil penelitian ini dibandingkan dengan hasil peneliti-
an yang serupa di Jambi
(2)
dan di Lampung
(3)
, maim prosentase
anak yang memberikan serokonversi terhadap setiap tipe virus
polio setelah mendapat tiga kali vaksinasi, tidak berbeda.
Keberhasilan suatu kegiatan imunisasi sebenarnya tidak
hanya dapat dilihat dari tingginya herd immunity pada anak-anak
di daerah termaksud, tetapi juga harus dilihat mengenai penyeba-
ran virus polio wild didaerah itu. Dengan adanya kegiatan vaksi-
nasi, diharapkan bahwa penyebaran virus polio wild sudah harus
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
50
Grafik 2. Status Antibodi Anak Umur < 1 Tahun sebelum Vaksinasi Polio
di
TanJung
Priok,
Jambi,
Cimahi
dan
BanJarmasin,
1976/1982
tereliminasi/terberantas sehingga dapat dipastikan tidak akan
terjadi lagi kasus poliomyelitis di daerah tersebut. Oleh karena
itu disarankan adanya suatu penelitian lanjutan . untuk menge-
tahui apakah di daerah yang sudah mempunyai herd imunity
tinggi, penyebaran virus polio wild dapat dihambat atau di-
eliminasi ?
Di samping itu juga mungkin perlu untuk mengetahui
penyebaran virus polio strain vaksin di masyarakat, menginbat
bahwa vaksin yang digunakan adalah virus hidup yang
dilemahkan, sehingga dapat diketahui dampak dari vaksinasi
alami yang diakibatkan oleh penyebaran virus vaksin yang di-
"ekskresi" oleh anak yang telah divaksinasi.
KESIMPULAN DAN SARAN.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa serokonversi ter-
hadap masing-masing tipe virus polio dari anak-anak yang
tinggal di daerah yang kumuh setelah mendapat vaksinasi polio
tiga kali, cukup tinggi terutama terhadap virus tipe 2.
Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai
dampak kegiatan vaksinasi tersebut terhadap penyebaran virus
polio wild di masyaralcat, sehingga kberhasilan suatu kegiatan
immunisasi tidak hanya dapat dilihat dari
e
tillgginya herd immu-
nity
pada anak-anak, tetapi juga dari telah terberantasnya
penyebaran virus polio wild di masyarakat atau lingkungan di
mana anak-anak bermain.
UCAPAN TERIMA KASIH.
Dengan berhasilnya penelitian ini, maka penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada instansi ataupun perorangan yang telah membantu secara
mori! maupun materii! dalam penelitian ini, yaitu :
1.
Kepala Direktorat EPIM, Dir. Jen. P2M&PLP, di Jakarta.
2.
Kepala Pusat Penelitian Penyakit Menular, di Jakarta.
3.
Kepala Sub Dit. Irnmunisasi, Dir. Jen. P2M&PLP, di Jakarta.
4.
Dr. Zell, Konsultan USAID di Dir. Jen. P2M&PLP, di Jakarta.
5.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, di Jakarta.
6.
Kepala Puskesmas Kee. Cempaka Putih beserta
g
al, di Jakarta.
7.
Kepala Puskesmas Kel. Rawasari beserta staf, di Jakarta.
KEPUSTAKAAN
1.
Gendrowahyuhono et. al. Status kekebalan anak-anak terhadap polio-
myelitis dibeberapa daerah di Indonesia. Bull. Penelit. Kes. 1984; 2:29-33.
2.
Gendrowahyuhono Penelitian evaluasi program immunisasi polio di Indo-
nesia : efektivitas vaksinasi di Jambi. Kumpulan Laporan Penelitian Bio
Medis,No. 3, Tahun 1982-1983.
3.
Gendrowahyuhono et. al. Tanggap kebal anak terhadap vaksinasi polio
dengan 2 kali dosis dan 3 kali dosis. Medika, 1987; 4: 369-88.
4.
Chowdhury D S et al. Poliomyelitis vaccination of infants : pre-immu-
nization status and sero conversion Bull. WHO 1973; 48: 195-198.
5.
Gendrowahyuhono et. al. Preliminary study of seroimmunity to polio virus
in urban population in Indonesia. Bull. Penchi. Kes. 1979; 2: 21-6.
6.
Gendrowahyuhono et. al. Preliminary study of enterovirus infection among
children in Purwakarta. Bull. Penelit. Kes. 2: 14-7.
7.
Gendrowahyuhono et. al.Tanggkp kebal anak-anak terhadap 2 dosis vaksin
polio di Jakarta. Bull. Penelit. Kes. 1982; 2: 31-4.
STUDY OF SEROCONVERSION TO
ORAL POLIO VACCINE IN URBAN
SLUM CHILDREN IN JAKARTA
Gendrowahyuhono
Communicable Diseases Research
Centre, National Institute of Health Re-
search and Development, Department
of Health, Jakarta, Indonesia
Study of seroconversion to oral
polio vaccine in urban slum chil-
dren was carried out in Cempaka
Putih, Jakarta, in 1989. The objec-
tive of the study is to determine
the level of immunity against polio
type 1,2 and 3 in high risk children
previously immunized with a stan-
dard OPV I-III.
The study is a cross sectional
survey. Children of 3 to 12 months
old were sampled randomly to
get a 30 serum specimens. Micro-
technique neutralization test was
used to detect a seroneutralizing
antibody against polio viruses.
The result shows that among
children who have had com-
pleted OPV I-III, 76% have the
antibody against three types of
polio viruses (triple positive), and
more than 87% have at least one
type of polio antibodies. Triple
negative was zero, it means that
there were no children without
neutralizing antibodies.
It is concluded that herd im-
munity of the children in the study
area were high due to their sero-
conversion to oral polio vaccine
which is routinely given to the
children in that area.
It is suggested that continuing
study should be carried out in the
area where the herd immunity of
the children were high, to deter-
mine whether the spread of wild
strain of polio virus had been
eliminated by the polio vaccine
strain.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 51