background image
MAKALAH
Proses Penemuan Obat Baru
dr. Boenjamin Setiawan, Ph. D.
PT Kalbe Farma, Jakarta, Indonesia
PENDAHULUAN
Obat tidak dapat dipisahkan dan hidup manusia sejak jaman
nenek-moyang sampai jaman modern di masa yang akan datang.
Karena obat, maka banyak penderitaan umat manusia dapat
dikurangi, dicegah, bahkan dapat ditiadakan. Rasa nyeri pada
operasi dapat dihilangkan dengan anestesi dan analgetika.
Berbagai penyakit infeksi dapat dilawan dengan antibiotika.
Pasien dengan hipertensi dapat ditolong dengan berbagai obat
antihipertensi, seperti betabloker, diuretika, antagonis kalsium
dan ACE-inhibitor. Tukak lambung dan tukak duodenum yang
dahulu (sebelum 1976) dapat menimbulkan berbagai komplikasi
dan membutuhkan pengobatan lama, sekarang dengan omepra-
zol, amoksisilin atau kiaritromisin dan metronidazol dapat di-
sembuhkan dalam satu minggu.
Ratusan obat telah ditemukan dan memperkaya formu-
larium dan pilihan para dokter dalam usaha mengurangi
penderitaan orang sakit. Tetapi masih banyak penyakit yang
masih belurn dapat diberantas. Penyakit kanker, HIV, athero-
skierosis pembuluh darah jantung maupun otak sampai sekarang
masih menjadi momok dunia modern, Proses penuaan dengan
segala akibatnya, seperti osteoporosis, kegagalan fungsi berba-
gai organ dan penyakit Alzheimer sampai sekarang tidak ada
obatnya. Berbagai penyakit bawaan/genetik seperti Thalasemia,
Sindrom Down dan berbagai penyakit kejiwaan tidak ada obat-
nya. Banyak tantangan yang masih dihadapi dunia kedokteran
pada umumnya dan dunia farmasi khususnya untuk dapat meng-
atasi berbagai macam penyakit.
Dalam makalah ini saya ingin meinbahas proses penemuan
obat baru. OIeh para pembicara lain akan dibahas teknologi
penemuan obat baru high throughput screen dan "combinatorial
chemistry" yang saya kira akan mempunyai dampak cukup
besar dalam proses pénemuan obat baru. Dengan cara ini, yang
baru dikembangkan beberapa tahun terakhir, maka proses men-
can molekul bioaktif dapat dipercepat. Glaxo mengumumkan
bahwa mereka sekarang mampu mensknin puluhan ribu zat kimia
per hari. Dengan demikian maka dalam tahun-tahun yang akan
datang kecepatan penemuan obat baru akan sangat bertambah.
Karena Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sangat
besar maka kita perlu menguasai teknologi HTS sehingga di
tahun-tahun yang akan datang juga dapat ikut berbicara dalam
kancah penemuan obat baru.
Singapore sudah mempunyai unit peneinuan obat baru dan
sumber alam. Mereka telah mendapatkan sumbangan 50 juta
US$ dari Glaxo untuk melakukan penelitian berbagai tanaman
obat. Institute of Cellular and Molecular Biology merupakan
lembaga penelitian bertaraf internasional dengan puluhan peneliti
tamu ternama dunia. Dengan mengundang peneliti bertaraf
internasional maka dengan cepat akan terjadi alih teknologi dan
alih budaya penelitian yang di4ndonesia masih merupakan
komoditi sangat langka. Lembaga Eykman akan mengembangkan
unit high throughput screen dan Kalbe Farma sedang mempelajari
sebaiknya memfokuskan kepada HTS dalam kelas terapeutik
yang mana. Supaya secepatnya dapat menghasilkan suatu pro-
duk yang mempunyai nilai tambah cukup besar dan mengingat
keterbatasan peneliti berpengalaman dan sumber dana maka
perlu diadakan koordinasi dan kerjasama yang baik antara
Lembaga Penelitian Pemerintah, Laboratorium Universitas
dan Laboratorium Penelitian Industri.
PROSES PENEMUAN OBAT BARU
Sejak umat manusia diciptakan dan mulai mengembangkan
kemampuan menulis maka ditemukan berbagai catatan mengenai
cara-cara pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan, mineral dan
berbagai organ binatang. Buku tertua ialah Huang Ti Nei Ching
Su Wen, (The Yellow Emperor's Medicine), yang ditulis lebih dari
4000 tahun yang lalu (2697 Sebelum Masehi)
1
. Mesir, India dan
Yunani juga telah menggunakan berbagai tanaman untuk peng-
obatan dan mengembangkan berbagai teori mengena sebab
Makalah untuk Seminar HUT 30 tahun Kalbe Farma, 9 Oktober 1996
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 51
background image
penyakit dan cara-cara untuk mengatasinya. Dunia pengobatan
modern berkembang dan berbagai teori yang telah dikemukakan
oleh Hippocrates, Bapak Dunia Kedokteran Modern, yang
kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh para ahli dari Eropa
sejak abad ke-16 terus sampai sekarang.
Dengan mempelajari pengobatan tradisional telah ditemukan
berbagai obat, seperti digitalis, ephedrine, curare, cocain, morfin,
fisostigmin dan lain sebagainya. Tetapi sejak observasi Paul
Ehrlich pada akhir abad ke-19 bahwa berbagai zat warna mem-
pünyai afinitas selektif terhadap berbagai jaringan dan usahanya
melakukan skrining berbagai zat kimia terhadap kuman sifilis
dan penemuannya bahwa Salvarsan dapat membunuh kuman
sifihis, maka terjadilah revolusi dalam dunia farmasi. Paul Her-
lichmelalui hipotesanya bahwa semua obat harus bergabung
dengan suatu )reseptor, baru terjadi efek yang diinginkan, me-
nyebabkan perubahan cara berpikir dunia kedokteran. Karena
jasa-jasanya inilah maka Paul Ehrlich sering disebut sebagai
Father of Pharmacotherapy. Dengan teori Magic Bullets, maka
molekul obat dapat disamakan seperti peluru, atau lebih baik
sebagai roket, yang setelah ditembakkan mencari mangsanya
atau reséptor dan menimbulkan efeknya. Dengan penemuan
Salvarsan melalui sknining berbagai zat kimia maka industri
farmasi mulai mencari berbagai molekul obat melalui cara ini.
Lahirlah industri farmasi seperti Bayer, Hoechst, Sandoz dan
sebagainya yang tadinya merupakan industri kimia.
Ratusan obat telah ditemukan melalui proses skrining yang
biasanya dilakukan secara acak. Setelab ditemukan molekul obat
yang mempunyai efek farmakologi tertentu, (lead compound)
maka dilakukan SAR, Structure Activity Relationship studies.
Tujuannya ialah untuk menemukan zat kimia dengan efek far-
makologi tinggi dan efek toksik rendah.
Cara lain yang juga telah menghasilkan penemuan berbagai
obat ialah secara kebetulan (serendipity). Penisilin telah ditemukan
secara kebetulan oleh Fleming sewaktu ia sedang melakukan
penelitian mengenai berbagai vanan kuman Staphylococcus
pada tahun 1928, di laboratorium Rumah Sakit St. Mary di
London. Secara kebetulan ia melihat bahwa dalam salah satu
petri ada bercak jemih di mana Staphylococcus tidak tumbuh.
Obsevasi kebetulan inilah yang kemudian menghasilkan pe-
nisilin. Mengapa? Karena otak Fleming setelah observasi
bercak jernih itu mulai bekerja dan bertanya. Apakah yang
menyebabkan kuman Staphylococcus tidak tumbuh di tempat itu
? Kalau yang mengobservasi bercak jernih itu bukan seorang
yang terlatih maka tidak akan timbul pertanyaan yang kemudian
disusul oleh tindak lanjutan, ialah mengambil sampel dan tempat
jernih itu dan membiakkannya lebih lanjut. Dengan demikian
ditemukanlah bahwa lisis Staphylococcus disebabkan jamur
Penicillium. Tetapi baru tahun 1941, tigabelas tahun kemudian,
dihasilkan cukup banyak zat penisilin untuk dicobakan pada
seorang polisi dengan infeksi campuran Staphylococcus dan
Streptococcus, dengan hasil yang sangat menakjubkan
(2)
.
Cara baru yang sedang banyak dibahas untuk menemukan
molekul obat baru ialah yang disebut high throughput screen.
Cara ini pada dasarnya ialah otomatisasi proses skrining se-
hingga menjadi sangat efisien. Dikombinasi dengan penyediaan
ekstrak oleh kimia medisinal dan kimia kombinatorial maka HTS
akan mampu menghasilkan lead compounds dengan cepat dan
efisien. Dengan demikian maka dapat diharapkan bahwa dalam
tahun-tahun yang akan datang puluhan obat baru akan dihasilkan
oleh cara ini.
Penelitian lain yang akan mempunyai dampak cukup besar
terhadap dunia pengobatan ialah proyek Penelitian Genom
Manusia. Pada akhir abad-20, empat tahun lagi, diharapkan
seluruh genom manusia telah selesai diteliti. Kita akan mempu-
nyai peta genom manusia dan berbagai penyakit herediter akan
diketahui dasar genetiknya. Bilamana hal ini telah dicapai maka
kita akan masuki fase cara pengobatan baru, Terapi Gen.
Cara penemuan obat yang diidam-idamkan ialah Rational
Structure Based Drug Design atau Computer Ass isted Drug
Design. Cara ini akan dimungkinkan bila struktur molékul resep-
tor telah diketahui secara tiga dimensi dan kita mengetahui cara
kerjanya obat pada taraf molekul, cara bergabungnya dan peran
berbagai kekuatan fisik dan kimia terhadap penggabungan
kompleks reseptor-agonis. Mengingat keterbatasan kemampuan
kita untuk dapat mengukur dan melihat pada taraf nanomter
maka pembuatan molekul obat secara rasional masih akan
membutuhkan beberapa puluh tahun.
BIAYA PENEMUAN OBAT BARU
Setelah ditemukan molekul obat dengan efek farmakologi
tertentu masih diperlukan perjalanan panjang sebelumnya zat
potensial ini dapat dipakai dalam klinik. Kita dapat membagi
tahapan proses penemuan obat baru sebagai berikut:
a) Tahap sintesa dan ekstraksi
b) Tahap skrin biologi dan farmakologi
c) Tahap test toksikologi dan keamanan
d) Tahap formulasi dosis dan stabilitas
e) Tahap test klinik fase I, II, dan IH
f) Tahap evaluasi klinik fase IV
g) Tahap proses manufaktur dan kontrol kualitas
h) Tahap pendaftaran IND dan NDA
i) Tahap penelitian bioavailabiliiy
j) Lain-lain
Tahap pertama, sintesa dan ekstraksi menghabiskan waktu
2-10 tahun dan mengeluarkan biaya sampai 12,1% atau rata-rata
40 juta US$ untuk setiap molekul obat yang berhasil dipakai
dalam klinik
(3)
.
Tahap b, sknin biologi dan farmakologi, yang sekarang
sedang mengalami penubahan dengan HTS, menghabiskan biaya
17,4%, atau 62juta US$ per NCE (New Chemical Entity).
Tahap c dan d, yang juga disebut tahap penelitian preklinik
menghabiskan dana 14,5% seluruh biaya penelitian obat yang
berhasil dipasankan yang jumlahnya rata-rata 359 juta US$ per
obat
Tahap e yaitu penelitian klinik menghabiskan 27,9% atau
100 juta US$ per obat. Tahap selanjutnya, evaluasi klinik fase IV,
menyerap dana 5,3%, proses manufaktur dan kontrol kualitas
9,7%, pendaftanan 3,5%,bioavailability3,0% dan lain-lain 6,6%.
Waktu keseluruhan mulai dan sintesa/ekstraksi, skrin far-
mako1og selanjutnya sampai pada fase klinik dan persetujuan
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
52
background image
pendaftaran memakan waktu 14,8 tahun dan rata-rata 10.000
bahan kimia yang diskrin dengan seluruh biaya 359 juta US$
pada tahun 1990
(6)
.
USAHA PENEMUAN OBAT BARU DI INDONESIA
Setiap tahun ditemukan antara 40 sampai 60 molekul obat
baru (NCE). Pada tahun 1995 telah ditemukan 40 NCE
(6)
, Dari
jumlah ini 9 adalah obat neoplastik, 6 obat SSP, 5 obat anti-
infeksi, 4 masing-masing obat kardiovaskuler dan obat paru/
antialergi
Dari 40 NCE ini yang di-"launch" pertama, adalah di Eropa
35% atau 14 obat, di Jepang 32,5% atau 13 obat, di AS 25% atau
10 obat dan di berbagai negara lain 7,5% atau 3 obat
(7)
.
Seluruh pasar obat dunia tahun 1995 diperkirakan 250
milyar US$. Pasar obat USA adalah lebih dari 30%, Eropa kurang
dari 30% dan Jepang sekitar 27%. Sisanya adalah Australia,
Afrika dan Amerika Selatan. Mengingat konsumen terbesar obat
adalah USA, Eropa dan Jepang maka tidak mengherankan bahwa
mereka juga yang mendapatkan obat baru pada tahun 1991 yang
diperkirakan berjumlah 25 milyarUS$, AS mengeluarkan 32,6%,
Jepang 20,6%, Jerman 11,6%, Perancis 8,0%, Inggris 7,7%,
Swiss 5,7%, Italia 5,6% dan negara lain
Asia, di luar Jepang, perannya sebagai konsumen maupun
sebagai produsen obat masih sangat kecil. Korea dan Taiwan
mulai berkembang, tetapi mengingatjumlahpendukungnya yang
relatif kecil maka pasar obat domestiknya tidak akan banyak
berkembang. Cina, India, Indonesia dan Brazil akan menjadi
pemain yang perlu diperhatikan dalam dunia produsen obat di
abad ke-21. Cina dan India yang relatif akan cepat berkembang
karena sekarang mereka sudah menguasi teknologi dasar kimia
maupun bioteknologi. Mereka beruntung karena memiliki sum-
ber daya manusia terdidik yang cukup banyak. Cina sekarang
sudah mampu membuat semua bahan baku obat penting. De-
mikian juga halnya dengan India.
Indonesia yang paling terbelakang dalam kemampuan
memproduksi bahan baku obat. Untuk kemampuan sintesa, kita
belum memiliki SDM terlatih, maupun infrastruktur dasar indus-
tri kimia. Dengan jumlah penduduk 200juta orang dan konsumsi
obat 1 milyar US$ pada tahun 1995, maka konsumsi oba per
kapita hanya 5US$, sedangkan Malaysia USD 12, Thailand USD
13, Filipina USD 13,4, Vietnam USD 2,50 dan Singapore USD
42. Konsumsi obat negara maju adalah sebagai berikut : Jepang
USD400, Jerman 335, Perancis 309, USA 280, Italia 275, U.K.
181, Spanyol 175 dan Belanda 168
(9)
. Walaupun PDB kita masih
relatif kecil, hanya 200 milyarUSD, tetapi kalau dihitung dengan
Purchasing Power Parity (PPP) 3 kali maka kita punya PDB
sama dengan 600 milyar USD. Bilamana pertumbuhan per tahun
7% maka pada 2000 PDB kita dihitung dengan PPP adalah
sebesar S40 milyar USD, dan pada 2020,jumlahnya 3,258 milyar
USD. Kalau kita berasumsi bahwa konsumsi obat adalah 1%
PDB maka jumlahnya 32,58 milyar USD atau sama dengan
konsumsi obat Perancis (USD 15 milyar) dan Jerman Barat (USD
14,5 milyar) pada 1995, digabung menjadi satu
(10)
.
Mengingat bahwa Asia pada umumnya dan ASEAN pada
khususnya akan berkembang dengan cepat di masa yang akan
datang sehingga konsumsi obat di negara-negara ini terus akan
naik dan Indonesia dengan penduduk 200 juta merupakan pasar
obat yang potensial maka kita perlu mempersiapkan din untuk
ikut bermain sebagai produsen bahan baku obat. Bahkan kita
perlu meningkatkan kemampuan untuk juga berperan dalam
penelitian dan penemuan bahan baku obat.
Indonesia memiliki fauna dan flora yang sangat ber-
anekaragam. Menurut kepustakaan kurang dari 5% dan lebih
250.000 tanaman telah diskrin efek farmakologinya. Alam telah
menciptakan jutaan molekul yang sangat beranekaragam, jauh
lebih bervariasi dan yang mampu diciptakan oleh umat manusia.
Kekayaan alam ini yang penlu diteliti, dan teknologi HTS akan
sangat membantu untuk mempercepat proses skrining.
Dengan kerja sama yang baik maka semoga kita akan
mampu menggali dan memanfaatkan megabiodiversity untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia pada umumnya
dan masyanakat Indonesia pada khususnya.
KEPUSTAKAAN
1. Ilza Veith, The Yellow Emperors Classic of Internal Medicine, Univ. of
California Press, 1972, p6.
2. Goodman LS., Gilman A., The Pharmacological Basis of Therapeutics,
Fifth ed. p. 130
3. America's Pharmaceutical Research Companies. PhRMA Home Page.
4. Idem.
5. Idem.
6. Drug News and Perspectives 9 (1). Prous, JR. The Years New Drugs.
February 1996, p19.
7. ldem.
8. Centre for Medicines Research, U.K., 1995.
9. Purchasing Power Parity $US, OECD Health Data, PhRMA Home Page.
http://www.phrma. prg/index.html.
10. World PharmaceuticalMarket 1995.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 53