ULASAN
Program Pertemuan dan
Penyuluhan Keluarga Klien dalam
Konteks Asuhan Keperawatan
di RSJP Bogor
Rivai
Perawat Jiwa Rumah Sakit Jiwa Pusat Bogor
ABSTRAK
Dalam asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa, keluarga sangat penting
untuk ikut berpartisipasi dalam proses penyembuhan, untuk ini keterlibatan keluarga
secara aktif sangat menunjang keberhasilan asuhan keperawatan.
Kehadiran keluarga dalam konteks Penyuluhan Keluarga tentang gejala-gejala
gangguan jiwa klien, dan cara perawatannya selama di rumah dapat ditangani secara
mandiri.
Penyuluhan keluarga dirasakan sangat positif oleh keluarga karena pihak keluarga
sangat antusias untuk ikut serta dalam setiap pertemuan Penyuluhan Keluarga di Rumah
Sakit Jiwa Pusat Bogor belakangan ini.
PENDAHULUAN
Keluarga hams aktif berperan serta karena merupakan ma-
syarakat paling kecil yang dipergunakan sebagai tempat ber-
lindung dan tempat mencurahkan segala kesenangan maupun
kesedihan serta tempat pemecahan masalah dan anggota
keluarga itu sendiri.
Keterlibatan keluarga dalam membantu penyembuhan pe-
nyakit, baik fisik maupun mental atau makin seringnya komuni-
kasi antar klien dengan keluarga akan menambah kepercayaan
dan meningkatkan harga din klien, sehingga klien akan me-
nyadari penyakitnya dan dapat berusaha melepaskan diri dari
ketidak peduliannya terhadap gangguan jiwa, sehingga mau
bekerjasama dengan keluarga untuk mengatasi gangguan jiwa
klien.
Di saat keluarga menengok klien di rumah sakit dapat di
lakukan penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan jiwa dan
cara-cara perawatannya serta penanganan secara optimal dalam
lingkungan keluarga kelak apabila klien telah kembali di rumah.
LATAR BELAKANG MASALAH
Klien dengan gangguan jiwa yang dirawat di rumah-rumah
sakit jiwa baik swasta maupun pemerintah 75% membutuhkan
masa perawatan yang cukup lama; biasanya terdini dari klien
dengan gangguan jiwa kronis (menahun), yang menjadi beban
tetap bagi Rumah Sakit Jiwa (Direktorat Kesehatan Jiwa 1990).
Rumah Sakit Jiwa sering mengalami kesulitan memulangkan
klien ke pihak keluarga, sebab setiap kali hanya dalam waktu
beberapa hari akan kambuh kembali; selain itu keluarga pasien
sering menolak menerima kembali dengan berbagai macam
alasan serta kurangnya pengertian terhadap penanganan dan pe-
rawatan klien mantan ganggu jiwa ini.
Upaya petugas kesehatan dalam memecahkan masalah ini
melalui metode penyuluhan keluarga; diharapkan agar keluarga
berpartisipasi dalam menangani dan merawat klien. Program
Penyuluhan Keluarga dilakukan sejak awal masuk ruang pe-
rawatan baik secara individuil maupun secara kelompok atau
dengan kunjungan rumah berupa diskusi atau komunikasi antara
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
54
keluarga dengan perawat.
PENGERTIAN
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan me-
lalui ikatan perkawinan, adopsi atau kelahiran yang bertujuan
untuk menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan
perkembangan fisik, mental dan sosial serta emosional dan tiap
anggota keluarga. (Duval, 1976).
Keluarga merupakan suatu sistem tempat individu anggota
keluarga berinteraksi di dalam keluarga (teori sistem). Perilaku
dan sikap anggota keluarga dibentuk oleh hubungannya dengan
anggota keluarga yang lain. Setiap perubahan pada salah satu
anggota keluarga akan mempengaruhi anggota keluarga yang
lain.
Terdapat dua fungsi dasar keluarga yaitu guna memenuhi
kebutuhan fisik dan kesejahteraan psikososial.
Kesejahteraan fisik meliputi terpenuhinya kebutuhan ma-
kanan, pakaian, rasa aman dan kesehatan jasmani, sedang ke-
sejahteraan psikososial adalah bila keluarga mampu menjadi
struktur atau kerangka dasar pertumbuhan psikososial dan/atau
keluarga yang berhasil menjalani pertumbuhan psikososial de-
ngan baik.
Keluarga berfungsi sehat atau baik apabila berhasil meme-
nuhi kedua fungsi dasar keluarga ini. Keluarga yang berfungsi
sehat, juga harus mampu melaksanakan tugas kesehatan
keluarga, yaitu antara lain:
1) Mengenal masalah kesehatan.
2) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.
3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
4) Mempertahankan suasana lingkungan rumah yang sehat.
5) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat.
PROGRAM PENYULUHAN KELUARGA KLIEN GANG-
GUAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA PUSAT BOGOR
Pada dekade tahun tujuh puluha program Penyuluhan Ke-
luarga Klien dengan gangguan jiwa di RSJP Bogor dilaksanakan
atas prakarsa team KJM (Kesehatan Jiwa Masyarakat) RSJP
Bogor dan dilakukan di ruang-ruang perawatan dengan team
Penyuluh Kesehatan yang terdiri dari psikiater, psikolog, dokter-
dokter, staf perawatan (Kepala Perawatan Laki-laki dan Perem-
puan beserta staf), perawat-perawat ruangan serta pekerja sosial
(social worker).
Namun dengan adanya perubahan struktur organisasi dan
dengan adanya Unit Pelaksana Fungrional (UPF), pelaksanaan
Program Penyuluhan Kesehatan Jiwa pada Keluarga Klien di-
prakarsai dan dilaksanakan oleh ruangan Rawat inap Unit Pe-
laksana Fungsional dengan sepengetahuan UPF KJM, dilaksana-
kan secara berkala oleh ruang rawat inap baik secara gabungan
beberapa ruang maupun hanya ruang itu sendiri.
UPF yang menggunakan Rawat inap adalah : UPF Anak dan
Remaja, UPF Dewasa dan Lanjut Usia, UPF Mental Organik
dan UPF Rehabilitasi, seluruhnya berjumlah 17 ruang rawat
inap laki-laki dan wanita, berkapasitas ± 600 tempat tidur.
A) Pertemuan dan Penyuluhan Keluarga
Keterlibatan keluarga tidak saja melalui diskusi-diskusi
dengan perawat tetapi juga dengan mengikuti program
pertemuan keluarga (multiple family meeting). Pertemuan dan
penyuluhan keluarga merupakan satu rangkaian pertemuan
beberapa (empat atau lima) keluarga atau lebih, secara intensif
setiap minggu dengan tim kesehatan selama 60 s/d 90 menit
setiap kali pertemuan (Goldberg, 1980).
Pertemuan dan penyuluhan keluarga merupakan gabungan
terapi keluarga dan terapi kelompok dengan diskusi dan meng-
ungkapkan permasalahannya masing-masing sehingga keluarga-
keluarga ini dapat segera merasa "terlibat", dengan mengkaji
keluarga sendiri serta bisa belajar pengalaman keluarga lain
dalam memecahkan masalah.
Tujuan penyuluhan keluarga adalah untuk pendidikan ke-
sehatan keluarga secara serentak tentang proses gangguan jiwa
dan perawatannya, meningkatkan kemampuan dan keterampilan
keluarga dalam perawatan klien di rumah; tujuan lain adalah
agar sesama keluarga klien bisa bertukar pengalaman dalam
menghadapi klien gangguan jiwa di lingkungan keluarganya.
Pengetahuan dan keterampilan (bahan/penyuluhan) yang
disajikan oleh perawat adalah:
1) Pengetahuan tentang proses gangguan jiwa, tanda-tanda
dan gejala-gejala kambuh secara dini.
2) Perawatan sehani-hari dan jenis kegiatan di rumah.
3) Pengetahuan tentang pemberian obat dan efek samping.
4) Pengetahuan tentang tindakan yang hams dilakukan pada
saat kritis, cara berkomunikasi, pola pertahanan keluarga yang
konstruktif, waktu kontrol dan tempat pelayanan yang bisa di-
hubungi atau tempat berobat.
Psiko-edukasi dilakukan secara terstruktur artinya sudah
terorganisasi dengan baik, mulai dan kurikulum, tujuan yang
harus dicapai, metode, waktu pelaksanaan dan tim kesehatan
yang terlibat. Susunan materi yang disajikan dan yang sederhana
hingga yang kompleks, pemberian materi secara jelas, tahap
demi tahap dan sistematis agar keluanga mudah mengikuti dan
memahami materi kesehatan jiwa dengan baik.
Untuk mencegah kejenuhan dalam pelaksanaan penyuluhan
keluarga digunakan metode yang bervariasi, antara lain ceramah,
diskusi kelompok antar sesama keluarga, atau antar tim dengan
keluarga dalam kelompok kecil, bermain peran atau mengadakan
simulasi.
Dalam pelaksanaan pertemuan keluarga yang perlu diatur
adalah: frekuensi pertemuan, jarak antar pertemuan dan waktu
pelaksanaan pertemuan.
Frekuensi pertemuan disesuaikan dengan tujuan yang akan
dicapai, jarak antara pertemuan satu dengan pertemuan berikut-
nya sebaiknya tidak terlalu lama, sehingga keluarga masih dapat
mengingat topik pertemuan yang lalu dan dapat menghubungkan
dengan topik yang sedang diikuti pada pertemuan yang baru, dan
waktu pelaksanaan tidak terlalu lama berkisar antara 60 s/d 90
menit sehingga tidak terlalu jenuh.
B) Keterampilan yang Diperlukan oleh Perawat
Perawat agan dapat bekerja sama dengan keluarga klien
harus mempunyai :
1) Wawasan yang tinggi tentang kesehatan jiwa.
2) Kesadaran diri.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 55
KESIMPULAN
3) Empati.
4) Keterampilan komunikasi terapeutik.
Perawatan klien dengan gangguanjiwa di rumah sakit jiwa
memerlukan waktu yang lama, terutama klien dengan gangguan
jiwa kronis (menahun), disebabkan kurang terlibatnya keluarga
untuk ikut mengetahui dan memahami penyebab dan proses
gangguan jiwa serta cara perawatannya sehari-hari; sehingga
keluarga tidak siap dan tidak dapat beradaptasi dengan klien
lagi.
5) Pengetahuan tentang teon keluarga.
Wawasan yang tinggi adalah menguasai perkembangan
ilmu pengetahuan tentang kesehatan jiwa khususnya dan kese-
hatan jasmani secara umum, sehingga dapat memadukan kedua
limo dan menerapkan kepada klien dan keluarga serta lingkung-
an masyarakatnya.
Kesadaran din adalah dasar pertimbangan untuk mengerti
perilaku orang lain. Seseorang harus mampu mengidentifikasi
pikiran sendiri, perasaan dan nilai-nilai yang dianutnya sebelum
mengerti perasaan dan penlaku orang lain. Perawat harus bisa
menyadari dinamika keluarga sendiri, peran dan nilai keluarga-
nya sehingga tidak bingung membandingkan atau mencampur-
kannya ketika berhadapan dengan keluarga lain.
Oleh karena itu perawat-perawat Rumah Sakit Jiwa Pusat
Bogor beberapa tahun belakangan ini berusaha melibatkan
keluarga-keluarga klien yang dirawat, dengan menggunakan
cara atau metode Pertemuan dan Penyuluhan Keluarga yang
dilaksanakan sejak klien masuk RS, selama dirawat dan setelah
pulang (after-care) dalam lingkungan keluarga.
Program Pertemuan dan Penyuluhan Keluarga di Rumah
Sakit Jiwa Pusat Bogor dilaksanakan secara berkala dan berkesi-
nambungan baik secara formal maupun secara non formal.
Empati adalah perasaan ikut dalam situasi yang dirasakan
oleh keluarga; misalnya salah satu keluarga merasa sangat sulit
menghadapi tingkah laku klien yang kurang wajar, perasaan ke-
luarga di saat itu dapat dirasakan oleh seorang perawat sehingga
dapat membantu memecahkan masalah dengan sepenuhnya.
Dalam proses pelaksanaan diperlukan pakar-pakar ilmu
penyakit jiwa yang terkait, namun dalam era globalisasi saat ini
para perawat telah dibekali ilmu-ilmu baik yang didapat sewaktu
di bangku sekolah maupun penataran-penataran selama bertugas
sebagai perawat; untuk itu perawat bisa dan dapat memprakarsai
penyuluhan keluarga klien baik yang di rawa di rumah sakit jiwa
maupun di rumah setelah klien pulang.
Ketrampilan komunikasi terapeutik sangat penting dikuasai
seorang perawat yang bekerja dengan keluarga. Perawat harus
bisa menjadi panutan dalam berkomunikasi dengan cara bicara
yang jelas, terbuka, langsung, jujur dan sesuai dengan situasi.
Ketrampilan lain yang harus dimiliki oleh perawat adalah
kolaborasi (kerjasama dengan tim kesehatan lain) untuk menca-
pai tujuan; perawat berusaha melakukan asuhan keperawatan
dengan memanfaatkan perkembangan disiplin ilmu lain.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih yang tak terhingga untuk semua pihak yang terkait
dalam tulisan ini; semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi generasi penerus
untuk mencapai masyarakat yang sehat baik jasmaniah maupun mental dan
sosial (bio-psiko-sosial).
Perkembangan pola pertahanan (coping) perawat juga penting
untuk menjadi kekuatan perawat dalam kerjasama dengan
keluarga. Perawat harus memiliki istirahat yang cukup, hobi
yang memadai, kemampuan untuk relaksasi dan mendapat du-
kungan dan teman-teman atau dan keluarganya agar memiliki
coping yang kuat dan konstruktif.
KEPUSTAKAAN
1. Bailon SG, Maglaya AS. Family Health Nursing, Quezon City, 1978.
Kemampuan yang dibutuhkan perawat dalam melaksanakan
pertemuan dan penyuluhan keluarga adalah kemampuan meng-
koordinir suatu kegiatan, mulai dan persiapan sampai dengan
evaluasi, kemainpuan berbicara di depan umum, membuat la-
poran dan membuat dokumentasi hasil kegiatan.
2. Beck CM et al. Mentalhealth-Psychiatric Nursing, St. Louis, CV Mosby
Co. 1984.
3. Goldberg,/Goldberg. Family therapy, Pacific Grove, Brooks/Cole
Publ.Com., 1980
4. Stuart, Sundeen. Principles and practice of psychiatric nursing. St. Louis,
CV Mosby Comp., 1991.
Pengetahuan tentang teori keluarga penting dikuasai oleh
perawat, perawat harus mengetahui proses pertumbuhan dan
perkembangan dan anggota keluarga dengan segala sebab akibat
dan suatu gangguan baik fisik maupun mental.
5. Wilson, Kneisl. Psychiatric Nursing, Massachusetts, Addison Wesley Publ.
Comp., 1983.
6. Hasil PenilaianDisabilitas PasienMental dan Sikap Keluarga terhadap
penerimaan Pasien Mental dasi Rumah Sakit Jiwa, Direktorat Kesehatan
Jiwa, Direktorat Jenderal Medik, Departemen Kesehatan RI 1990.
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
56
Our mothers give our spirit heat, our fathers light
(Jean Paul)