HASIL PENELITIAN
Peranan Ibu dalam Penanganan ISPA
pada Balita di Jawa Barat
Enny Muchlastriningsih, SKM
Pusat Penelitian Penyakit Menu/ar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departernen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (selanjutnya disingkat
ISPA) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
penting di Indonesia. Hasil SKRT (1986) menunjukkan 42,2%
bayi dan 40,6% balita yang sakit karena menderita ISPA. Data
Puskesmas (1986) menunjukkan bahwa 51,0% bayi dan 43,1%
balita pengunjung puskesmas rnenderita ISPA. Data kematian
dan penelitian di Sukabumi (1983) menunjukkan 22,9% kema-
tian bayi dan 36,0% pada balita disebabkan pneumonia, sedang
kan pada SKRT 1992 ditemukan bahwa proporsi kematian bayi
akibat ISPA adalah 36,0% dan pada golongan 14 tahun adalah
13,0%; pada kelompok umur balita berkisar antara 2030%,
sebagian besar disebabkan oleh pneumonia,
Untuk menurunkan angka kematian karena pneumonia,
Sub. Dit. P2ISPA Dit. Jen. PPM-PLP telah membuat Buku
Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA; penelitian ini akan
mencoba meneliti peranan ibu balita dalam penanganan ISPA
di Jawa Barat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pelatih
an kader ISPA terhadap KABP ibu balita sebelum dan sesudah
pelatihan kader ISPA.
METODOLOGI
Penelitian ini hanya mencakup data yang dikumpulkan
melalui kuesioner terhadap ibu balita.
Cara sampling
·
Kriteria Ibu yang mempunyai anak balita; diperkirakan
10% dari masyarakat mempunyai anak balita. Kader yang
dipilih kader yang belum pernah mendapat pelatihan ISPA.
·
Jumlah responden untuk ibu balita diambil 400 orang dan
kader 40 orang.
·
Daerah: untuk daerah pelatihan diambil Kabupaten Cianjur,
sedangkan Kabupaten Sumedang sebagai daerah kontrol. Kedua
daerah ini dipilih karena mempunyai angka pneumonia tinggi
untuk daerah Jawa Barat.
·
Macam sample : untuk ibu balita dipilih secara acak seder-
hana dan 4 puskesmas (2 daerah pelatihan dan 2 daerah kontrol),
secara house to house diwawancarai mengenai pengetahuannya
tentang pneumonia, pengenalannya, penatalaksanaannya, dan
persepsinya.
Kriteria pneumonia dan pneumonia berat
(2)
.
·
Pneumonia : penderita ISPA yang disertai napas cepat (umur
2 bulan1 tahun : 50 kali per menit atau lebih, umur 14 tahun:
40 kali per menit atau lebih).
·
Pneumonia berat: penderita ISPA yang disertai napas sesak
yaitu adanya tarikan dinding dada ke dalam.
Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah: variabel
kewaspadaan ibu anak balita (selanjutnya disebut ibu balita)
melalui KABP ibu yang meliputi : pengetahuan tentang ISPA,
pe.natalaksanaannya, dan persepsinya sebelum dan sesudah pe-
latihan.
Vaniabel dependen : ibu balita.
Variabel independen : umur, tingkat pendidikan, pekerjaan ke-
pala keluarga, dan jumlah anak.
Penelitian dilakukan dua kali yaitu sebelum pelatihan dan
3 bulan sesudah pelatihan. Analisis dilakukan secara tabulasi
dan tabulasi silang.
HASIL DAN DISKUSI
Dan hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat pendidikan
ibu yang terbanyak di Cianjur yaitu tamat SD (53,45%), sedang
di Sumedang : SLTP (44,30%). Secara keseluruhan terlihat
bahwa tingkat pendidikan ibu balita sebagian besar SD ke
bawah (77,87% iintuk Cianjurdan 52,91% untuk Sumedang);
mungkin hal ini merupakan faktor terhadap ketidaktahuan
tentang ISPA yang berpengaruh terhadap penatalaksanaan
ISPA balita di rumah.
Dalam hal pemberian obat anti panas (antipiretik) pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
50
pneumonia ialah 34,5% sebelum pelatihan dan 86,5% sesudah-
nya; hal ini mungkin terjadi karena ibu sudah mempertimbang-
kan apakah anak dapat diberi pengobatan sendiri atau perlu
dibawa mencari bantuan pengobatan.
Tabel l. Persentase ibu balita yang memberikan obat batuk pada anak
pneumonia di Kabupaten Cianjur dan Sumedang dalam Pene-
litian
Kader
ISPA,
19921993
Cianjur (%)
Sumedang (%)
Pemberian
I (n = 68)
II (n = 180)
I (n = 51)
II (n = 176)
Selalu
Kadang-kadang
Tidak
94,1
5,9
0
92,8
7,2
0
88,2
9,8
0
94,1
5,9
0
Total 100,0
100,0
100,0
100,0
Pada tabel 1 terlihat semua ibu memberikan obat batuk
untuk anaknya, meskipun ada yang selalu memberikan dan ada
yang kadang-kadang saja; hal ini menunjukkan bahwa ibu telah
berusaha memberikan pengobatan untuk anaknya.
Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa ibu balita me-
lakukan pemeliharaan kebersihan hidung anaknya yang sedang
menderita pneumonia. Untuk Cianjur ibu yang selalu member-
sihkan hidung meningkat dan 94,7% menjadi 95,7%, sedang di
Sumedang apabila sebelumnya masih ada ibu yang tidak mem-
bersihkan hidung anaknya, maka pada penelitian kedua semua
ibu telah melakukannya, baik yang selalu maupun yang kadang-
kadang saja; dapat disimpulkan telah terjadi peningkatan ke-
bersihan perseorangan (personal hygiene).
Tabel 2. Persentase ibu balita yang memberikan antibiotika pada anak
ISPA ringan maupun Pneumonia pada Penelitian Kader ISPA
di
Kabupaten
Cianjur
dan
Sumedang,
19921993
Cianjur (%)
Sumedang (%)
Ringan Pneumonia Ringan Pneumonia
Pem-
berian
Anti-
biotika
I(128) II(167) I(157) II(163) I(125) II(136) I(49) II(136)
Selalu
Kadang
Tidak
82,0
18,0
0,0
73,7
26,3
0,0
89,5
10,5
0,0
93,3
6,7
0,0
55,2
29,6
15,2
63,2
36.8
0,0
57,1
12,2
30.6
71,3
28,7
0,0
Total
100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0
Pada tabel 2 terlihat bahwa pemberian antibiotika pada
ISPA ringan masih tinggi, baik di Cianjur maupun di Sumedang.
Tetapi di Cianjur terjadi penurunan sedikit (8,3%) sesudah di-
akukan penyuluhan oleh kader kepada ibu balita. Keadaan ini
sebenarnya dapat dihindarkan dengan jalan penyuluhan yang
baik kepada Petugas Kesehatan (Puskesmas, RS, dan Dokter
Praktek), maupun masyarakat sendiri (orang tua balita).
Dalam upaya pencarian bantuan pengobatan, pada ISPA
ringan sebanyak 8090% ibu balita mencari bantuan pengobat-
an, sedang untuk pneumonia hal ini meningkat yaitu 9598%,
hal ini dapat dilihat sebagai kepedulian ibu terhadap kesehatan
anaknya, tetapi dapat juga dilihat sebagai ketergantungan ibu
terhadap institusi kesehatan serta berkurangnya usaha peng-
obatan sendiri. Sedang macam institusi kesehatan yang dipilih
ibu untuk pengobatan anaknya dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Persentase ibu balita yang mencari pengobatan bagi anak ISPA
ringan
maupun
pneumonia
menurut
institusi
kesehatannya
da-
lam Penelitian Kader ISPA di Kabupaten Cianjur daii Sume-
dang,
19921993
Cianjur (%)
Sumedang (%)
Ringan Pneumonia Ringan Pneumonia
Macam
Institusi
Kesehatan I(191) II(201) I(81) II(201) I(197) II(194) I(62) I(192)
Dukun
Kader
kesehat
an
Bidan
Perawat
Puskes-
mas
Dokter
praktek
Rumah
sakit
Toko
obat/
warung
2,6
2,6
4,2
2,6
61,3
7,3
5,8
12,6
0,0
11,3
2,0
16,7
52,2
9,9
2,5
5,4
3,7
2,5
4,9
3,7
29,6
17,3
24,7
13,6
0,0
1,5
1,5
16,9
42,8
28,9
5,0
3,5
0,0
1,0
4,6
0,0
67,0
19,3
1,0
4,6
0,0
7,2
1,0
0,0
74,7
9,8
2,6
1,2
0,0
0,0
3,2
0,0
32,3
59,7
0,0
0,0
0,0
5,2
1,6
Q,O
59,4
26,6
1,0
1,0
Total
100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0
Pada tabel 3 terlihat, yang paling beragam dalam hal pen-
carian bantuan pengobatan yaitu pada ISPA ringan di Cianjur
sebelum dilakukan penataran; di sini bantuan dukun masih
diperlukan, sedang pada penelitian ke dua, peranan dukun tidak
dipakai lagi, hal ini dapat dipandang sebagai kemajuan bagi
pengobatan modern, tetapi dapat juga dipandang sebagai ke-
munduran pengobatan tradisional. Puskesmas menduduki pe-
ringkat tertinggi yang dicari ibu balita dalam bantuan peng-
obatan, hal ini memang sesuai dengan tugas puskesmas sebagai
ujung tombak pelayanan kesehatan di negara kita. Keadaan ini
menggembirakan tetapi juga harus diimbangi dengan pelayanan
yang memadai serta fasilitas yang cukup.
Dalam penelitian ini juga digali pengetahuan ibu balita
tentang anak yang mudah terserang sakit batuk pilek, sebagian
besar (8090%) menjawab yaitu anak di bawah 5 tahun, hal ini
mendukung kenyataan bahwa balita rentan terhadap serangan
batuk pilek.
Mengenai penyebab mengapa anak terserang batuk pilek,
5073% ibu menyatakan karena anaknya tertular penderita batuk
pilek lainnya, 5,327,5% mengatakan karena anaknya akan
tumbuh gigi/dapat berjalan, 1,711,0% mengatakan karena
lingkungan yang tidak sehat, 1,37,9% mengatakan karena gizi
anak yang kurang, 0,56,0% mengatakan karena anak belum
dapat imunisasi, dan sisanya mengatakan tidak tahu.
Untuk pemberian suntikan pada anak batuk pilek, 60,7
96,7% ibu balita mengatakan hanya kalau perlu saja.
Dalam hal penyuluhan, tempat penyuluhan yang paling se-
ring dipakai menurut ibu balita yaitu Puskesmas dan Posyandu
(5070%) pada penelitian pertama, sedang pada penelitian
kedua dikatakan penyuluhan dilakukan di rumah masing-
masing (8095%), hal ini menunjukkan kader telah Lebih aktif
dalam mengadakan penyuluhan, tentunya hal ini harus
diimbangi dengan fasilitas yang memadai.
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 51
Bentuk penyuluhan yang paling disukai ibu-ibu baik pada
penelitian pertama maupun kedua yaitu bentuk obrolan antar
teman, ini dapat menumbuhkan peningkatan hubungan antar
manusia yang lebih baik, tetapi tentu membutuhkan ketrampil-
an tersendiri bagi petugas untuk melaksanakannya.
Sebagai sumber informasi, lebih dan 55% ibu balita men-
dapatkan lewat televisi, hal ini masih mungkin untuk ditingkat-
kan lagi inengingat semakin banyaknya saluran televisi dan
luasnya jangkauan penyiarannya. Sebagai sumber informasi
kedua terbanyak ialah lewat koran, hal ini tentu menggembira
kan karena memperlihatkan naiknya minat baca pada ibu balita,
tentunya keadaan ini harus diimbangi dengan kemudahan
transportasi koran dan media cetak lainnya. Radio merupakan
pilihan terakhir untuk ibu-ibu mendapatkan informasi, hal ini
cukup memprihatinkan karena radio sebagai media informasi
yang cukup murah dan terluas jangkauannya seharusnya dapat
dimanfaatkan lebih optimal.
Hal di atas dapat dipakai sebagai acuan pilihan media
massa untuk menyampaikan informasi (penyuluhan) kepada
masyarakat khususnya ibu balita. Kekurangan penyuluhan yang
banyak dikeluhkan ibu balita yaitu materi banyak yang tidak
dapat/belum dimengerti (13%), peragaan tidak/kurang menarik
(9,6%), sisanya meliputi pembicara terlalu cepat dan atau
membosankan, suasana tidak enak, merasa dipaksa.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Dari penelitian ini ditemukan perubahan pengetahuan,
sikap, kepercayaan dan tingkah laku pada ibu balita sesudah
mendapat penyuluhan.
2. Sebagian besar ibu mengatakan bahwa balita lebih mudah
terkena ISPA, dan penyebabnya karena tertular penderita ISPA
lainnya; serta puskesmas merupakan pilihan utama dalam men-
cari bantuan pengobatan.
3. Bentuk penyuluhan yang paling disenangi ibu balita yaitu
obrolan antar teman; televisi merupakan sumber informasi ter-
banyak dibanding koran dan radio.
4. Perlu diadakan penelitian di daerah lain untuk mendapatkan
gambaran yang lebih jelas dan kemungkinan kendala yang ada.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami tujukan kepada Dr. Suriadi Gunawan DPH.
Kapuslit Penyakit Menular Badan Litbangkes; Dr. Cholid Rasyidi DSA beserta
Staf dari SubDit ISPA PPM-PLP; Kakanwil DepKes Jawa Barat beserta Staf;
Kepala DinKes Dati Il Cianjur dan Sumedang beserta Staf Dokter Puskesmas
beserta Staf di lokasi penelitian di Cianjur dan Sumedang; rekan-rekan
sejawat maupun semua fihak yang telah membantu kami sampai terlaksananya
penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
1. Departemen Kesehatan RI, Pusat Data Kesehatan. Profil Kesehatan Indo-
nesia, Jakarta, 1991.
2. DitJen PPM-PLP Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pemberantasan
Penyakit ISPA, Jakarta, 1992.
3. DitJen PPM-PLP Departemen Kesehatan RI. Bimbingan Ketrampilan dan
Penatalaksanaan ISPA pada Anak. Jakarta, 1990.
4. Pratomo H. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat
dalam bidang kesehatan. Sebuah analisis. Medika 1988; 19(2).
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
52