background image
Pengalaman Praktek
Dikira Batuk Darah
"Maaf, dok, sayA sudah izin menyela duluan. Masalahnya ibu saya batuk darah."
"Oh ya, tidak apa-apa. Kalau begitu sebaiknya ibunya dibawa ke meja periksa."
Dengan dituntun oleh anak lelakinya, si ibu langsung dibaringkan di meja periksa.
Usianya dalam catatan medis baru empat puluh lima tahun, tapi raut wajahnya tampak
lebih tua dari usianya. Rambutnya sebagian memutih, wajahnya pucat, tubuhnya bergetar
dan sebagian kebayanya terpercik darah di bagian dadanya. Sayapun langsung me-
meriksanya dengan seteliti mungkin.
"Bagaimana dokter? Apa sudah parah7
"Tampaknya paru-paru ibu anda masih dalam keadaan normal."
"Lha, terus sakit ibu saya apa, dok? Coba diteliti lagi paru-parunya, dok. Mudah-
mudahan ibu tidak perlu ke Salatiga."
Kejadian batuk darah seringkali membuat penderitanya takut dan was-was. hingga
segera mencari pengobatan. Pada umumnya masyarakat kita menganggap bahwa batuk
darah itu identik dengan Tuberkulosis paru yang kemudian penderitanya akan menjadi
kurus-kering. Padahal masih banyak penyakit lain yang juga dapat menyebabkan batuk
darah, sepeni: abses paru, kanker paru, bronkitis, pnemonia dan lain sebagainya. Dan
yang cukup panting juga adalah terkadang masyarakat salah dalam menafsirkan batuk
darah sebagai muntah darah atau sebaliknya.
Satu hal lagi anggapan sebagian masyarakat yang masih perlu diluruskan adalah
bahwa penderita tuberkulosis paru harus dirawat/diobati di rumah sakit Salatiga atau BP4
Pati, padahal di puskesmaspun obat-obatan dan fasilitas pemeriksaan riak sudah ada
khusus disediakan oleh Pemerintah.
Pada waktu saya memeriksa rongga mulutnya, ternyata banyak darah segar di
dalamnya. Dan sayapun mulai curiga mungkin saja anal perdarahan dari dalam mulutnya.
"Bu. tolong ibu meludah lalu berkumur sebentar."
Rupanya darah segar itu berasal dari gusi di sekitar gigi geraham yang paling
belakang.
Susatyo P.Hadi
Pusksamas Mejobo
Kudus
To live long is to see much evil'
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 45