background image
TEKNIK BARU
Penentuan Potensi Vaksin Pertusis
Menggunakan Beberapa Grup Mencit
Siti Sundari Yuwono, Edhie Sulaksono
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Vaksin yang digunakan dalam program imunisasi hams memiliki potensi yang me-
menuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh WHO. Untuk mengetahui hal tersebut
harus dilakukan uji kualitas vaksin. Sedangkan pengujian vaksin sangat dipengaruhi
oleh mutu mencit yang dipergunakan.
Tujuan penelitian ini adalah memilih grup mencit yang dapat dipergunakan untuk
pengujian vaksin pertusis dengan kepekaan yang tinggi dan memenuhi syarat-syarat yang
telah ditetapkan. Grup mencit yang dipakai ialah grup CBR, BD, YG, dan SBY, masing-
masing 730 ekor mencit. Pengujian potensi vaksin dengan cara challenge. Pemeriksaan
dilakukan pada masing-masing grup sampai kelahiran ke 5.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mencit yang memenuhi syarat adalah grup
CBR dengan potensi rata-rata 10,8 (9,4­12,2) dan grup SBY dengan potensi rata-rata 9,9
(6,8-13,0). Dengan demikian grup mencit tersebut dapat dipergunakan untuk pemeriksaan
vaksin pertusis.
PENDAHULUAN
Penyakit pertusis merupakan penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi DPT. Banyak faktor yang dapat mempenga-
ruhi program tersebut; di antaranya pelaksanaan operasional,
rantai dingin dan vaksin yang digunakan. Vaksin yang digunakan
hams memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, di antaranya
yang penting adalah potensi vaksin. Potensi yang memenuhi
syarat dapat memberikan perlindungan yang diharapkan. Peng-
ujian potensi vaksin sangat tergantung dari keadaan, mutu hewan
yang digunakan.
Penelitian ini merupakan pengujian potensi vaksin pertussis
yang digunakan untuk program imunisasi pada beberapa grup
mencit dengan cara pemeriksaan potensi secara challenge.
Maksud penelitian ini untuk membandingkan grup mencit
yang dipelihara di beberapa laboratorium dengan mencit staridar
yang digunakan untuk pemeriksaan vaksin pertusis.
BAHAN DAN CARA KERJA
Vaksin
Vaksin pertusis yang digunakan dan PN Biofarma dengan
no batch 81238 yang sama.
Hewan percobaan
Terdiri dari beberapa grup mencit yaitu CBR; BD; SBY dan
YG, yang berasal dari beberapa laboratorium, masing-masing
dikembangkan di Puslit Penyakit Menular dengan perlakuan
pemeliharaan yang sama.
Grup mencit SBY di tempat asal dibiakkan dalarn jumlah
yang besar, digunakan untuk pemeriksaan vaksin hewan dan
pemeriksaan laboratorium. Grup YG dipelihara dalam jumlah
kecil untuk pemeriksaan laboratorium. Grup BD dipelihara da-
lam jumlah yang besar untuk pemeriksaan vaksin sedangkan
grup CBR dipelihara dalam jumlah yang besar untuk pemeriksaan
vaksin.
Untuk penentuan LD
50
dipakai 50 ekor mencit dan untuk
penentuan potensi diperlukan 96 ekor mencit. Setiap grup me-
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 57
background image
merlukan 730 ekor, dihitung sampai kelahiran ke 5.
Tabel 1. Angka LD terhadap pertusis dan mencit CBR, BD, YG, SBY
sampai kelahiran kelima
Persiapan kultur bakteri
CBR BD YG SBY
Kelahiran
LD
50
Dosis LD
50
Dosis LD
50
Dosis
LD
50
Dosis
I
766 67 399 125 204 245 685 7522
II
1070 48 187 267 344 130 466 107
III 635
78
285
175
161 360 1234 40
IV
690 72 194 257 195 255 754 68
V
478 104 80 625 98 618 640 77
Satu ampul bakteri Bordetella pertussis kering dilarutkan
dalam 0,1 ml casamino acid 1%, kemudian ditanam pada media
Bordet-Gengou, diinkubasi 4 hari dengan temperatur 35­37°C.
Kemudian dilakukan pasase 2 kali selama 2 hari pada tempera-
tur yang sama.
Ambil koloni dan kultur persediaan, kemudian ditanam
pada media BU, diinkubasi selama 1 8­22jam. Kemudian dibuat
suspensi sejumlah 10 bilion/ml (1 ml larutan dimasukkan ke
dalam media agar tersebut, ditambah 4 ml casamino acid).
Dibuat 5 macam pengenceran, yaitu; 2 x 10
5
, 2 x 10
4
, 2 x 10
3
,
4 x 10
2
, 8 x 10.
Tabel 2. Potensi Vaksin Pertusis pada Beberapa Grup Mencit
Potensi (IU/ml)
Kelahiran
CBR BD YG SBY
I
8,8­ 9,6
1,9­16,9
1,3­ 8,4
6,9­15,8
II
11,6­15,4
1,4­15,4
1,1­ 6,2
6,3­ 8,0
III 9,4­11,9
8,5­12,7
6,6­14,8 7,0­
9,6
IV 9,7­13,2
2,6­14,0
3,1­13,6
8,2­15,3
V 8,9­12,0
2,3­19,6
4,4­
9,3
5,6­16,5
Cara pemeriksaan LD
5
Lima puluh ekor mencit masing-masing dibagi dalam lima
kelompok, masing-masing 10 ekor mencit, kemudian disuntik
secara intraserebral dengan pengenceran 50000, 10000, 2000,
400 dan 80 kuman dengan dosis 0,03 ml. Pengamatan dilakukan
terhadap hewan yang mati selama 14 hari. Selanjutnya dilakukan
penghitungan untuk mengetahui dosis yang dapat menyebabkan
kematian mencit sebanyak 50%; angka ini digunakan untuk
challenge pada pemeriksaan potensi.
Dari hasil tersebut di atas maka grup CBR dan SBY sampai
kelahiran ke lima tidak mengalami perbedaan dan memenuhi
syarat. Sedangkan grup BD harga antaranya sangatjauh dan grup
YG, masih memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat di-
pergunakan dalam pemeriksaan vaksin.
Cara pemeriksaan potensi
Penindukan untuk pembiakan berikutnya, diambil dari ke-
hamilan ke tiga sehingga diperoleh keturunan yang baik.
Sembilan puluh enam ekor mencit dengan berat 14-16 gram
dari masing-masing grup, separuh berjenis jantan dan separuh
betina. Pemilihan mencit dilakukan secara random, dibagi dalam
enam kelompok, masing-masing 16 ekor. Tiga kelompok per-
tama diimunisasi secara intraperitoneal dengan standard na-
sional pertussis dengan pengenceran berkelipatan lima yaitu
berturut-turut berisi 1,0; 0,2 dan 0,04 IU/ml dengan dosis 0,5 ml;
tiga kelompok berikutnya diimunisasi dengan vaksin yang akan
diperiksa dengan pengericeran 1; 1/4; 1/16 dengan dosis 0,5 ml
secara intraperitoneal. Setelah empat belas hari diimunisasi,
mencit di challenge dengan 0,03 ml Bordetella pertussis secara
intraserebral dengan dosis 50.000 kuman. Pengamatan dilakukan
selama empat belas hari untuk melihat mencit dengan gejala
pertussis ataupun hewan yang mati. Kematian mencit pada hari
pertama tidak diperhitungkan. Penghitungan potensi secara
Wilson-Wochester dilakukan dengan membandingkan hasil
vaksin yang diperiksa terhadap standard. Vaksin pertusis me-
menuhi syarat bila potensi serendah-rendahnya 8 IU/ml.
KESIMPULAN
Berdasarkan basil penelitian, grup mencit CBR dan SBY
dengan pemeliharaan sampal kelahiran ke lima, masih dapat di-
gunakan untuk pemeriksaan potensi vaksin pertusis. Sedangkan
dua grup lain masib memerlukan pemelihanaan yang lebih lama
sebelum dapat dipergunakan untuk pemeriksaan potensi vaksin
pertusis.
Untuk menjamin hasil percobaan yang baik, disarankan
menggunakan mencit dan anak kelahiran ke dua dan ke tiga.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Puslit PenyakitMenular,
Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan yang telah membantu terselengga
ranya penelitian ini.
Ucapan terima kasih juga kepada teman sejawat, sehingga penelitian ini ter-
laksana
.
KEPUSTAKAAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Bellanti. Immunology. Asian ed. Philadelphia. London. 1971; 41­44.
Tabel 1 menunjukkan hasil pemeriksaan LD
50
dan lima
kelahiran berturut-turut terhadap kuman pertusis pada beberapa
grup mencit. Kepekaan terhadap pertusis pada grup mencit CBR,
BD, YG dan SBY berbeda nyata.
2. Kurokawa H, Takahashi K, Ishida K. Statistical analysis in biological assay,
2nd ed. Tokyo: Kindai shippan, 1978.
3. Manclark CR. Microagiutination procedure for Bordetella pertussis anti-
bodies, 1980.
4. Mulyati Priyanto. Penetapan standarnasional vaksin DPT. Penetapan standar
vaksin pertussis. Bul Penelit Kes, 1982; X(2): 8.
Pada Tabel 1 tenlihat tidak ada penbedaan pada mencit CBR
sampai kelahiran ke lima; pada SBY juga tidak ada perubahan
dan memenuhi persyaratan. Pada YG dan BD angka LD50 me-
nunjukkan angka kuman yang rendah.
5. Murata R, Perkins FT. Pittman M, Scheibel, Sladky K. International Colla-
borative Studies on the Pertussis Vaccine potency assay. Bull WHO, 1971;
44: 673­87.
6. WHO. Manual for the production and control of vaccines. Pertussis vaccine.
BLGIUNDP/77.3Rev.1. 1977.
Hasil pemeriksaan potensi vaksin pertusis pada ke lima
grup m dapat dilihat pada Tabel 2. Vaksin yang sama diperiksa
pada grup mencit : CBR, BD, YG dan SBY.
7. WHO. Expert Committee on Biological Standardization. Requirement for
pertussis vaccine. WHO Techn. Rep. Ser, 1964; 274: 25­40.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
58