Lingkungan Sosial Pasien Ketergantungan
Obat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat
dan di Inabah
Sudibyo Supardi, Rini Sasanti Handayani, Max Joseph Herman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Ketergantungan obat (narkotik dan atau psikotropik) adalah suatu ketergantungan
psikis dan atau fisik yang diakibatkan karena adanya interaksi antara organisme hidup
dengan obat. Korban ketergantungan obat di kota-kota besar di Indonesia meningkat
setiap tahunnya. Dalam upaya penyuluhan masyarakat untuk pencegahan meningkatnya
korban ketergantungan obat, perlu informasi mengenai lingkungan sosial yang melatar
belakangi penyalahgunaan obat.
Informasi tersebut didapat melalui penelitian deskriptif dengan metoda wawancara
berpedoman pada kuesioner. Sampel penelitian adalah semua korban ketergantungan
obat (lama dan baru) yang telah dapat diwawancarai dan sedang dirawat di RSKO, Inabah
1 dan Inabah 13 antara bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 1990. Skoring
variabel dilakukan terhadap keadaan ekonomi keluarga, komunikasi keluarga, kerukunan
keluarga, pelaksanaan ibadah dan kebiasaan merokok/minum/menggunakan obat.
Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut :
1.
Pasien ketergantungan obat persentase terbesar berasal dari keluarga : yang kedua
orang tua tinggal bersamanya, mempunyai jumlah anak 35 orang, keadaan ekono-
minya tinggi, komunikasi dalam keluarga sedang atau buruk, keluarga tidal( rukun,
pelaksanaan ibadah cukup, dan mempunyai kebiasaan merokok/minuman keras/
menyalahgunakan obat dalam keluarga sedang.
2.
Pasien ketergantungan obat persentase terbesar berasal dari kota besar dan terpapar
oleh teman mainnya.
Dalam upaya penyuluhan untuk mencegah penyalahgunaan obat, disarankan agar
orang tua hendaknya dilibatkan secara aktif.
PENDAHULUAN
Penyalahgunaan obat adalah suatu penggunaan obat di luar
pengawasan medik yang dapat menimbulkan keadaan yang tak
terkuacai oleh individu, atau yang menimbulkan suatu keadaan
yang dapat membahayakan/mengancam masyarakat
(1)
. Golong-
an obat yang disalahgunakan umumnya narkotik dan psiko-
tropik, diminum bersama minuman keras. Penyalahgunaan obat
dapat mengakibatkan ketergantungan obat
(2)
.
Ketergantungan obat adalah suatu ketergantungan psikis
dan atau fisik yang diakibatkan karena adanya interaksi antara
organisme hidup dengan suatu obat('). Akibat lanjut dari keter-
gantungan obat berupa komplikasi medis seperti sindrom otak
organik, malnutrisi, gangguan fisik, gangguan kejiwaan, di
samping sering menimbulkan gangguan sosial/kriminal
(3)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
56
Korban ketergantungan obat di kota-kota besar di Indonesia
meningkat setiap tahunnya. Dalam upaya penyuluhan masya-
rakat, perlu informasi mengenai lingkungan sosial orang yang
menyalahgunakan obat. Karena penyalahgunaan obat merupa-
kan hal yang dilarang undang-undang dan agama, juga diagno-
sisnya sering memerlukan konfirmasi laboratorium, maka
informasi tersebut didapat melalui penelitian terhadap pasien
ketergantungan that yang sedang dirawat secara medik di
Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta dan secara
tradisional di Inabah 1 Ciamis dan Inabah 13 Yogyakarta
(4)
.
METODE PENELITIAN
Faktor-faktor yang melatar belakangi pasien ketergantungan
obat (PKO) dapat digambarkan dalam model berikut
(5)
.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dibatasi
pada lingkungan sosial atau sosiopatologik PKO dengan metoda
wawancara berpedoman pada kuesioner. Populasi penelitian
adalah semua pasien ketergantungan that (lama dan baru) yang
telah dapat diwawancarai dan sedang dirawat di RSKO, Inabah
1 dan Inabah 13 antara bulan Agustus sampai dengan bulan
Oktober 1990. Sampling dilakukan secara sensus; didapat 19
pasien di RSKO, 30 pasien di Inabah 1 dan 20 pasien di Inabah
13. Penelitian ini merupakan bagian dari "Penelitian Pe-
nyalahgunaan Obat Golongan Narkotika dan Psikotropik oleh
Pasien Ketergantungan Obat" yang dilaksanakan oleh Puslitbang.
Farmasi tahun anggaran 1990/1991.
Skoring dilakukan sebagai berikut :
1. Keadaan ekonomi
Keadaan ekonomi keluarga diukur berdacarkan pemilikan
beberapa kelengkapan rumah tangga yang lazim terdapat path
keluarga dengan pendapatan atau keadaan ekonomi yang baik
di kota besar, yaitu :
1. Memiliki rumah permanen
bobot = 2
2. Memiliki mobil
bobot = 1
3. Memiliki motor
bobot = 1
4. Memiliki telepon
bobot = 1
5. Memiliki televisi berwarna
bobot = 1
Jumlah = 6
Keadaan ekonomi dibuat skor; tinggi (4-6), sedang (2-3)
dan rendah (0-1).
2. Komunikasi keluarga
Komunikasi keluarga dinilai berdasarkan seringnya kontak
antar anggota keluarga, ditentukan dengan adanya :
1. Kebiasaan makan bersama minimal sekali dalam 1
sehari
2. Kebiasaan membicarakan masalah yang sedang 2
dihadapi anggota keluarga
3. Kebiasaan berkumpul bersama keluarga seperti 1
nonton TV, olah raga atau kegiatan lain
jumlah = 4
Komunikasi keluarga dibuat skor; baik (34), sedang (12)
dan buruk (0).
3. Kerukunan keluarga
Kerukunan keluarga dinilai secara tidak langsung berdasar-
kan pendapat responden tentang:
1. Sering terjadi pertengkaran antar orang tua
1
2. Sering terjadi pertengkaran antar anggota keluarga 1
3. Adanya perbedaan faham atau pendapat dengan 2
orang tua __________
jumlah = 4
Kerukunan keluarga dibuat skor; rukun (0), kurang rukun
(1) dan tidak rukun (2-4).
4. Pelaksanaan ibadah
Pelaksanaan ibadah dinilai berdasarkan jawaban tentang:
1. Pelaksanaan ibadah wajib/ritual oleh orang tua
1
2. Keharusan setiap anggota keluarga melaksanakan 1
ibadah
3. Pelaksanaan ibadah wajib/ritual oleh responden 1
4. Adanya kebiasaan saling mengingatkan aturan agama 1
jumlah = 4
Pelaksanaan ibadah dibuat skor; balk (4), cukup (23) dan
kurang (01).
5. Kebiasaan merokok/minum/menyalahgunakan obat
Kebiasaan merokok, minum minuman keras dan menya-
lahgunakan obat dinilai dengan:
1. Adanya anggota keluarga yang sering merokok 1
2. Adanya anggota keluarga yang sering meminum 1
alkohol
3. Adanya anggota keluarga yang sering mernakai obat 2
Jumlah = 4
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 57
Kebiasaan minum dibuat skor; tinggi (3-4), sedang (1-2)
dan rendah (0).
HASIL PENELITIAN
Lingkungan sosial atau sosiopatologik penyalahgunaan
obat meliputi kelengkapan keluarga, besar keluarga, keadaan
ekonomi keluarga, komunikasi keluarga, kerukunan keluarga,
pelaksanaan ibadah, kebiasaan merokok, meminum minuman
keras dan menyalahgunakan obat, kota pemaparan dan ling-
kungan pemaparan dari PKO.
1.
Kelengkapan keluarga
Tabel 1. Distribusi frekuensi paslen berdasarkan kelengkapan keluarga
Kelengkapan keluarga
n
9b
Lengkap (tinggal dengan orang tua)
Tidak lengkap
50
19
72,5
27,5
Jumlah 69
100,0
2.
Besar keluarga
Tabel 2. Dbtribusi frekuensi pasien berdasarkan besar keluarga
Bear keluarga
n
96
Kecil (1-2 anak)
Sedang (3-S anak)
Besar (> S anak)
4
36
29
5,8
52,2
42,0
Jumlah 69
100,0
3.
Keadaan ekonomi
Tabel 3. Distribusi frekuensi pasien berdasarkan keadaan ekonomi
Keadaan ekonomi
n
96
Tinggi
Sedang
Rendah
47
17
5
68,1
24,6
7,3
Jumlah 69
100,0
4.
Komunikasi keluarga
Tabel 4. Distribusi frekuensi paslen berdasarkan komunikasi dalam
keluarga
Komunikasi keluarga
n
96
Baik
Sedang
Buruk
29
21
19
42,0
30,5
27,5
Jumlah 69
100,0
5.
Kerukunan keluarga
Tabel 5. Distribusi frekuensi pasien berdasarkan kerukunan keluarga
Kerukunan keluarga
n
96
Rukun
Kurang rukun
Tidak rukun
13
9
47
18,8
13,1
68,1
Jumlah 69
100,0
6.
Pelaksanaan ibadah
Tabel 6. Distribusl frekuensi paslen berdasarkan pelaksanaan ibadah
Pelaksanaan ibadah
n
96
Baik
Cukup
Kurang
10
38
21
14,4
55,1
30,5
Jumlah 69
100,0
7.
Kebiasaan merokok, minum dan menyalahgunakan obat
Tabel 7. Distrlbusi frekuensi pasien berdasarkan kebiasaan merokok,
meminum
minuman
keras
dan
menggunakan
obat
dalam
keluarga
Kebiasaan rokok/minuman keras/obat
n
9fo
Tinggi
Sedang
Rendah
6
44
19
8,7
63,8
27,5
Jumlah 69
100,00
8.
Kota pemaparan
Tabel 8. Distribusi frekuensi paslen berdasarkan kota pemaparan
Kota pemaparan
n
96
Ibukou propinsi
Kota lainnya
45
24
65,2
34,8
Jumlah 69
100,0
9.
Lingkungan pemaparan
Tabel 9. Paden berdasarkan lingkungan pemaparan
Ungkungan pemaparan
(n = 69)
96
Taman main
46
66,7
Taman sekolah
32
46,4
Teman kegiatan/Club
7
10,16
PEMBAHASAN
1.
Kelengkapan keluarga
PKO sebagian besar berasal dari keluarga yang lengkap
yaitu tinggal dengan kedua orang tuanya (tabel 1).
PKO belum mampu mandiri karena umumnya pelajar atau
pengangguran dan berumur 16-25 tahun, namun kedua orang
tuanya mungkin karena berbagai hal tidak mampu mengawasi
anaknya. Juga tennasuk PKO yang mempunyai keluarga tidak
lengkap, yaitu salah satu orang tuanya meninggal atau
bertempat tinggal jauh.
2.
Besar keluarga
Sebagian besar PKO berasal dari keluarga yang mempunyai
anak 3 orang atau lebih (tabel 2). Alasannya adalah bila anak
banyak, orang tua mungkin akan lebih sulit untuk memberikan
perhatian kepada semua anaknya. Anak yang merasa kurang
mendapat perhatian orang tuanya dapat melarikan diri melalui
penyalahgunaan obat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
58
3.
Keadaan ekonomi keluarga
PKO terutama berasal dari keluarga yang keadaan ekonomi-
nya tinggi, minimal memiliki rumah tinggal, kendaraan roda
dua dan televisi berwarna (tabel 3).
Ekonomi keluarga yang tinggi dapat meningkatkan ke-
mampuan, mobilitas dan luasnya pergaulan anggota keluarga-
nya, sehingga memudahkan mereka terpapar oleh obat. Keadaan
ekonomi keluarga yang tinggi juga memungkinkan anak men-
dapat uang jajan yang cukup untuk membeli obat dan minuman
keras; selain itu juga merupakan sasaran bagi para pengedar
(5)
.
Ada juga PKO yang berasal dari keluarga yang keadaan
ekonominya rendah, sehingga melakukan berbagai tindak
kriminal untuk mendapatkan obat yang disalahgunakan.
Namun PKO ini jumlahnya kecil, karena mungkin tidak
mampu untuk berobat ke RSKO atau Inabah.
4.
Komunikasi keluarga
PKO terutama berasal dari keluarga dengan komunikasi
yang sedang atau buruk, yaitu tidak ada acara makan bersama,
kegiatan bersama dalam acara santai atau memecahkan masalah
yang dihadapi anggota keluarga (tabel 4). Komunikasi yang baik
dalam keluarga (akrab) memberikan rasa aman kepada anggota
keluarga dan berkurangnya keakraban dapat menimbulkan pe-
rasaan kurang aman, kecemasan serta kesepian. Untuk mengatasi
perasaan ini individu cenderung mencari komunikasi di luar
keluarga (dengan teman sekolah atau teman main), atau melari-
kan diri dari kenyataan melalui penyalahgunaan obat
(5)
.
5.
Kerukunan keluarga
PKO terutama berasal dari keluarga yang tidak rukun, yaitu
sering terjadi pertengkaran antara anggota keluarga dan antara
PKO dengan orang tua/ayahnya (tabel 5). Keluarga yang tidak
rukun menyebabkan anggota keluarga merasa kurang mendapat
dukungan, merasa kurang aman, serta mudah mengalami konflik
dengan anggota keluarga yang lain. Salah satu cara untuk
mengatasi kecemasan adalah dengan menyalahgunakan obat
(5)
.
6.
Pelaksanaan ibadah
PKO kebanyakan berasal dari keluarga yang pelaksanaan
ibadah ritualnya cukup, yaitu orang tua melaksanakan ibadah
ritual secara rutin, namun PKO tidak melaksanakannya (tabel 6).
Ajaran agama merupakan sumber norma untuk perilaku
yang benar dan yang salah, serta membantu penyesuaian diri
dalam lingkungan sosial dan penyelesaian konflik dalam dirinya.
Tanpa adanya norma agama, terlihat dari PKO yang umumnya
tidak melaksanakan ibadah ritual, PKO kurang menyadari bahwa
penyalahgunaan obat merupakan perilaku yang salah menurut
agama
(4)
.
7.
Kebiasaan merokok/minum/menyalabgunakan obat
PKO terutama berasal dari keluarga yang mempunyai
kebiasaan minum sedang, yaitu orang tua atau kakak laki-laki
PKO merokok, meminum minuman keras dan atau menyalah-
gunakan obat (tabel 7). Sebagai anggota keluarga, PKO senan-
tiasa mengalami proses internalisasi norma sosial yang berlaku
pada lingkungannya. Lingkungan yang paling dekat adalah ke-
luarga, dan anak akan meniru perilaku keluarganya. Akibatnya
anggota keluarga yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga
yang biasa menyalahgunakan obat cenderung lebih mudah
menyalahgunakan obat
(5)
.
8.
Kota besar
PKO sebagian besar berasal dari kota besar/ibukota propinsi
(tabel 8). Menurut pendapat ahli sosial, kota besar dan daerah
urban yang padat merupakan tempat yang cocok untuk penya-
lahgunaan obat, kenakalan remaja dan kriminalitas. Pendapat
lain adalah bahwa kota besar merupakan tempat yang mudah
menimbulkan stres, dan penyalahgunaan obat merupakan salah
satu jalan keluarnya
(5)
.
9.
Lingkungan pemaparan
PKO sebagian besar terpengaruh/terpapar that dari teman
main atau teman sekolahnya (tabel 9). Alasannya adalah PKO
umumnya remaja berumur 1625 tahun yang masih menjalani
proses pendewasaan diri, sehingga mudah terpengaruh ling-
kungan sosialnya. Teman main atau teman sekolah yang biasa
menyalahgunakan obat sangat besar pengaruhnya
(5)
.
KESIMPULAN
1)
Pasien ketergantungan obat persentase terbesar berasal dari
keluarga : yang kedua orang tua tinggal bersamanya, mempunyai
jumlah anak 3--5 orang, keadaan ekonominya tinggi, komuni-
kasi dalam keluarga sedang atau buruk, keluarga tidak rukun,
pelaksanaan ibadah cukup, dan mempunyai kebiasaan merokok/
minuman keras/menyalahgunakan obat dalam keluarga sedang.
2)
Pasien ketergantungan obat persentase terbesar berasal dari
kota besar dan terpapar oleh teman mainnya.
Dalam upaya mencegah penyalahgunaan obat, disarankan
agar orang tua hendaknya :
1.
Mengusahakan agar anak dapat tinggal bersamanya, se-
hingga dapat mengawasi pergaulan anaknya sampai ia cukup
dewasa.
2.
Menyesuaikan jumlah anak dengan kemampuan men-
didiknya, jangan banyak anak kalau tidak mampu mendidik.
3.
Memelihara komunikasi yang baik dengan anak melalui
kegiatan bersama, misalnya pada saat makan malam, nonton
televisi, piknik atau berolah raga.
4.
Membina kerukunan keluarga, sehingga terjadi hubungan
yang harmonis antara suami dengan isteri, orang tua dengan
anak, atau antar anak.
5.
Menanamkan ajaran agama sedini mungkin melalui contoh
langsung dan pendidikan, agar anak mempunyai pedoman
untuk mengetahui perilaku yang benar dan yang salah.
6.
Mengupayakan agar anak memilih teman main yang tidak
terpapar oleh penyalahgunaan obat.
KEPUSTAKAAN
1.
Kramer JF, Cameron DC. A Manual on Drug Dependence. Geneva: WHO,
1975.
2.
Erwin Widjono. Masalah Ketergantungan Obat Dalam: Masalah Ketergan-
5.
Abdul Rahman Alwahdy. Studi tentang Psikopatologi dan Lingkungan
Sosial pada Pasien Ketergantungan Obat di Rumah Sakit Ketergantungan
Obat Jakarta. l'hesis Pascasarjana UI, Bidang Studi Kesehatan Masyarakat,
Jakarta, 1985.
tungan Obat Narkotik di Indonesia. Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 5.
1976.
3.
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II,
1983 (revised). Direkiorat Kesehatan Jiwa Depkes, Jakarta, 1985.
4.
Hasun Nasution. Thoriqot Qodiriyyah Naqsabandiyyah. Sejarah. Asal-usul
dan Perk Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM),
Tasikmalaya, 1990.
6.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Usaha Pencegahan terhadap Pa an Obat.
Dalam: Masalah Penyalahgunain Obel/Narkotika din Penang gulangannya.
Dinkea DKI Jakarta, 1983.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
60