background image
HASIL PENELITIAN
Korelasi Antara Ukuran Panjang
dan Predasi M.aspericornis
terhadap Jentik Nyamuk Vektor
Umi Widyastuti, RA. Yuniarti
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Salatiga
ABSTRAK
Jazad hayati Mesocyclops aspericornis dipelihara dan dikembangkan di Stasiun Pe-
nelitian Vektor Penyakit agar dapat digunakan untuk menunjang penelitian-penelitian
pengendalian vektor baik di laboratorium maupun lapangan.
Predator jentik nyamuk tersebut telah diteliti di laboratorium dengan tujuan untuk
mengetahui korelasi antara ukuran panjang dan predasi M. aspericornis terhadap jentik
nyamuk vektor.
Mesocyclops aspericorni dikelompokkan dalam berbagai ukuran panjang (mm) dan
diuji predasinya terhadap jentik nyamuk An. aconitus, Cx. quinquefasciatus dan Ae.
aegypti instar I.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ukuran panjang M. aspericornis (0,5
mm, 0,8 mm, 1,1 mm, 1,3 mm dan 1,7 mm) efektif memangsa jentik Ae. aegypti (88% ­
100%) selama 24 jam, 48 jam dan 72 jam.
Ukuran panjang M. aspericornis 0,5 mm dan 0 mm ternyata menunjukkan predasi
yang rendah (kurang dari 50%) terhadap jentik Cx. quinquefasciatus selama pengujian 24
jam, 48 jam dan 72 jam. Persen predasi lebih dari 50% baru terlihat pada M. aspericornis
berukuran 1,1 mm atau lebih.
Mesocyclops aspericornis berukuran 0,5 mm, 0,8 mm dan 1,1 mm menunjukkan
predasi yang relatif rendah (kurang dari 50%) terhadap jentik An. aconitus selama
pengujian 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Persen predasi lebih dari 50% baru terlihat pada
M. aspericornis berukuran 1,3 mm pada pengujian 72 jam dan 1,7 mm pada seluruh
waktu pengujian.
Ukuran panjang M. aspericornis ternyata mempengaruhi efisiensi predasi predator
tersebut terhadap jentik Cx. quinquefasciatus dan An. aconitus. Ukuran panjang
menunjukkan korelasi positif dengan predasi M. aspericornis terhadap jentik Cx.
quinquefasciatus dan An. aconitus (p < 0,05).
Mesocyclops aspericornis dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai jazad hayati
predator yang potensial untuk pengendalian jentik nyamuk vektor.
Disajikan pada Seminar Ilmiah Hasil-hasil Penelitian Stasiun Penelitian
Vektor Penyakit. tanggal 30­31 Januari 1995 di Salatiga.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
54
background image
PENDAHULUAN
Penyakit malaria, demam berdarah dan filariasis masih me-
rupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai
upaya telah dilakukan untuk menanggulangi masalah penyakit
tular vektor tersebut, baik secara fisik, kimia maupun pengendali-
an hayati. Sampai sekarang pengendalian vektor masih merupa-
kan salah satu sasaran program, baik terhadap stadium dewasa
maupun jentik.
Timbulnya resistensi nyamuk terhadap insektisida dan per-
timbangan terhadap keamanan lingkungan mendorong adanya
pengembangan jazad hayati sebagai tindakan alternatif untuk
mengendalikan jentik nyamuk vektor. Jazad hayati yang di-
kembangkan pada dasa warsa terakhir antara lain adalah preda-
tor jentik nyamuk
(1)
.
Saat ini jazad hayati Mesocyclops (predator) dipelihara dan
dikembangkan di laboratorium Stasiun Penelitian Vektor Penya-
kit, Salatiga, agar dapat digunakan untuk menunjang penelitian-
penelitian pengendalian nyamuk vektor baik di laboratorium
maupun lapangan.
Mesocyclops adalah Cyclopoid Copepoda, merupakan salah
satu predator yang sampai saat ini masih terus diteliti kemam-
puannya/potensinya sebagai jazad pengendali jentik nyamuk
(2)
.
Mesocyclops dilaporkan sebagai predator jentik nyamuk Aedes,
tetapi juga tidak menutup kemungkinan sebagai predator jentik
nyamuk genus atau spesies lain
(3)
.Mesocyclops pada umumnya
memangsa jentik nyamuk instar I dan instar II
(2)
. Cyclopoid
Copepoda lebih efektif mengendalikan jentik Aedes dibanding-
kan dengan predator lain atau invertebrata aquatik lain yang
memangsajentik nyamuk, mempunyai kapasitas reproduksi yang
tinggi dan mampu memakan berbagai macam organisme seperti
Phytoplankton, Protozoa
(4)
, ganggang, Rotifera, Copepoda,
Oligochaeta, Chironomid, larva ikan dan Crustacea lain
(5)
.
Pada tahun 1993/1994 penelitian laboratorium telah di-
lakukan di SPVP Salatiga dengan tujuan untuk mengetahui
efisiensi predasi Mesocyclops sp terhadap berbagai jentik
nyamuk vektor. Predator tersebut telah diuji kemampuan
makannya terhadap jentik nyamuk Anopheles aconitus, Culex
quinquefasciatus dan Ae. aegypti, instar I, masing-masing dengan
ukuran panjang berturut-turut 1,25 mm, 1,75 mm dan 2,3 mm.
Hasil penelitian menemukan bahwa efisiensi predasi Meso-
cyclops sp betina dan jantan (ukuran 0,8 mm) tidak dipengaruhi
oleh panjangnyajentik nyamuk. Tidak ada korelasi antara pan-
jang jentik nyamuk dan persen kematian jentik nyamuk (p >
0,05). Selain itu baik Mesocyclops sp betina maupun jantan
mempunyai predasi yang paling tinggi terhadap jentik Ae.
aegypti, diikuti oleh Cx. quinquefasciatus dan An. aconitus. Tidak
ada perbedaan persen predasi yang bermakna antara Mesocyclops
sp betina dan jantan terhadap spesies jentik nyamuk yang sama
(p>0,05)
(6)
. Predasi Copepoda mungkin dipengaruhi oleh ukuran
tubuh Copepoda dewasa dan sex ratio
(5)
.
B. Pelaksanaan penelitian
Penelitian dilakukan menurut metoda Brown et al, 199 l
(7)
yang dimodifikasi; prosedur penelitian dilakukan sebagai berikut :
·
M. aspericornis diperoleh dan hasil pemeliharaan dan pe-
ngembangan di laboratorium SPVP Salatiga.
·
M. aspericornis dikelompokkan dalam berbagai ukuran pan-
jang yaitu 0,5 mm, 0,8 mm, 1,1 mm, 1,3 mm dan 1,7 mm. Peng-
ukuran dilakukan mulai dan ujung anterior prosoma sampai
dengan akhir dan caudal ramus (Gambar 1).
Pada tahun ini (1994/1995) penelitian dilanjutkan dengan
tujuan untuk mengetahui korelasi antara ukuran panjang dan
predasi M. aspericornis terhadap jentik nyamuk vektor.
BAHAN DAN CARA KERJA
A. Bahan penelitian
Jazad hayati yang diteliti adalah M. aspericornis sebagai
predator jentik nyamuk. Jentik nyamuk vektor yang digunakan
dalam penelitian ini adalah An. aconitus, Cx. quinquefasciatus
dan Ae. aegypti hasil kolonisasi laboratorium.
Gambar 1. Gambaran umum bagian-bagian tubuh Copepoda
Sumber: Smith & Fernando, 1978 (Williamson, 1991)
·
Percobaan dilakukan dalam stop les plastik yang diisi dengan
1 liter media (terdiri dari 300 ml rendaman kotoran marmut dan
700 ml aquades), 25 ekor M. aspericornis, dan 25 ekor jentik
nyamuk vektor instar I.
·
Rendaman kotoran marmut ditambahkan dalam stoples
pengujian, dimaksudkan agar dapat menyerupai kondisi di alam
di mana biasanya tersedia sumber makanan alternatif bagi
Mesocyclops, seperti Euglena, Paramaecium, Ciliata yang lain,
Rotifera ataupun ganggang hijau.
·
Jentik nyamuk vektor yang digunakan adalah An. aconitus,
Cx. quinquefasciarus dan Ae. aegypti masing-masing dengan
ukuran panjang berturut-turut 1,25 mm, 1,75 mm dan 2,30 mm.
·
Makanan jentik nyamuk berupa serbuk campuran bekatul
dan daging, diberikan sesuai dengan besarnya instar jentik.
·
Percobaan dilakukan selama 72 jam pada suhu kamar (ku-
rang lebih 25°C) dan kematian jentik nyamuk dihitung setiap
24 jam.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 55
background image
·
Sebagai kontrol, stoples pengujian hanya diisi dengan 1 li-
ter media dan 25 ekor jentik nyamuk instar I.
·
Ulangan dilakukan sebanyak 4 kali.
·
Untuk mengetahui pengaruh ukuran M. aspericornis ter-
hadap efisiensi predasi dilakukan penghitungan korelasi antara
ukuran panjang dan predasi M. aspericornis terhadap jentik
nyamuk vektor.
·
Efisiensi predasi diukur berdasarkan persen kematian jentik
nyamuk terhadap kepadatan jentik nyamuk yang diuji per liter
media
(7)
.
HASIL
Predasi M. aspericornis terhadap jentik nyamuk vektor di
laboratorium selama 24 jam, 48 jam dan 72 jam disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1. Predasi M. aspericornis terhadap jentik nyamuk vektor selama
24 jam, 48 jam dan 72 jam pengujian d laboratorium*
Kematian jentik nyamuk (%)**
Ukuran panjang
M. aspericornis
(nn)
Jentik nyamuk
24 jam
48 jam
72 jam
Ac. aegypti
88 94 94
0,5
Cx. quinquefasciatus
10 19 33
An. aconitus
11 18
25
Ae. aegypti
91 93 95
0,8
Cx. quinquefasciatus
24 27 36
An. aconitus
14 26
34
Ae. aegypti
94 100 100
1,l
Cx. quinquefasciatus
61 75 79
An. aconitus
21 24 45
Ae. aegypti
100 100 100
1,3
Cx. quinquefasciatus
66 78 81
An. aconitus
40 49,5
73
Ae. aegypti
100
,
100 100
1,7
Cx. quinquefasciatus
60 70 82
An. aconitus
58 62
92
Ae. aegypti
0 0 0
Kontrol
Cx. quinquefasciatus
0 0 0
An. aconitus
0 0 0
Keterangan:
* Mesocyclops dan jentik nyamuk masing-masing 25 ekor
** Rata-rata dan 4 kali ulangan
Pengujian M. aspericornis terhadap jentik Ae. aegypti selama
24 jam, 48 jam dan 72 jam menunjukkan efisiensi predasi yang
tinggi. Semua ukuran panjang M. aspericornis (0,5 mm, 0,8 mm,
1,1 mm, 1,3 mm dan 1,7 mm) yang diintroduksi efektif, me-
mangsa jentik Ae. aegypti dengan persen predasi berkisar antara
88% 100% selama pengujian 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Hasil
pengujian statistik menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara
ukuran panjang dan predasi M. aspericornis terhadap jentik Ae.
aegypti (r = 1,78; p >0,05).
Pengujian M. aspericornis ukuran 0,5 mm, 0,8 mm, 1,1 mm,
1,3 mm dan 1,7 mm terhadap jentik Cx. quinquefasciatus selama
24 jam, 48 jam dan 72 jam menunjukkan kisaran persen predasi
masing-masing berturut-turut sebesar 10% ­33%, 24% ­ 36%,
61% ­ 79%, 66% ­ 81% dan 60% ­ 82%. Hasil analisis data
menunjukkan adanya korelasi antara ukuran panjang dan predasi
M. aspericornis terhadap jentik nyamuk Cx. quinquefasciatus
(r = 0,84; p < 0,
Hasil pengujian M. aspericornis ukuran 0,5 mm, 0,8 mm,
1,1 mm, 1,3 mmdan 1,7 mm terhadap jentik An. Aconitus selama
24 jam, 48 jam dan 72 jam menunjukkan kisaran persen predasi
masing-masing berturut-turut sebesar 11% ­ 25%, 14% ­ 34%,
21% ­ 45%, 40% ­ 73% dan 58% ­ 92%. Hasil uji statistik
menunjukkan adanya korelasi antara ukuran panjang dan predasi
M. aspericornis terhadap jentik An. aconitus (r = 0,82; p<0,05).
PEMBAHASAN
Hasil penelitian terdahulu
(6)
melaporkan bahwa Mesocyclops
sp ukuran panjang 0,8 mm lebih efektif memangsa jentik Ae.
aegypti diikuti oleh Cx. quipiquefasciatus dan An. aconitus. Pada
penelitian ini, dengan menggunakan predator M. aspericornis
pada berbagai ukuran panjang menunjukkan kecenderungan
yang sama. Semua ukuran panjang M. aspericornis (0,5 mm,
0,8 mm, 1,1 mm, 1,3 mm dan 1,7 mm) efektif memangsa jentik
Ae. aegypti (Gambar 2), akan tetapi tidak demikian halnya ter-
hadap jentik Cx. quinquefasciatus dan An. aconitus.
Gambar 2. Predasi M. aspericornis terhadap jentik Ae. aegypti
Pada umumnya Cyclopoida hidup di dasar (mendekati lum-
pur) atau air yang lebih dalam sepanjang hari
(8)
, berenang secara
cepat/kencang dan melakukan gerakan memutar secara vertikal
seSudah menangkap mangsanya
(5)
.
Perbedaan perlaku makan dari ketiga spesies nyamuk ter-
sebut, mungkin juga mempengaruhi predasi M. aspericornis. An.
aconitus biasa mengambil makanan di daerah permukaan air
(surface feeder), Cx. quinquefasciatus menjaring makanan yang
turun dari permukaan (suspension feeder) dan Ae. aegypti biasa
mengambil makanan di dasar (bottom feeder)
(9)
. Kebiasaan jentik
Ae. aegypti mengambil makanan di dasar dan kebiasaan Meso-
cyclops yang hidup di dasar memungkinkan bahwa frekuensi
kontak kedua organisme tersebut relatiftinggi sehingga kematian
jentik Ae. aegypti lebih tinggi dibandingkan dengan Cx. quinque-
fasciatus dan An. Aconitus.
Pengujian M. aspericornis (pada berbagai ukuran panjang)
terhadap jentik Cx. quinquefasciarus dan An. aconitus selama
24 jam, 48 jam dan 72 jam menunjukkan pola predasi yang rela-
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
56
background image
tif sama yaitu semakin panjang ukuran M. aspericornis ternyata
diikuti oleh semakin tingginya persen kematian jentik kedua
spesiesjentik nyamuk tersebut (Gambar 3 dan 4).
Gambar 3. Predasi M. aspericornis terhadap jentik Cx. quinquefasciatus
(%)
Gambar 3. Predasi M. aspericornis terhadap jentik an. aconitus
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa M. aspericornis yang ber-
ukuran 0,5 mm dan 0,8 mm ternyata menunjukkan predasi yang
rendah (kurang dari 50%) terhadap jentik Cx. quinquefasciatus
selama pengujian 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Persen predasi
lebih dari 50% baru terlihat pada M. aspericornis berukuran 1,1
mm atau lebih.
Melihat hasil tersebut tampak ada kecenderungan bahwa
semakin panjang ukuran M. aspericornis semakin aktif pula
predator tersebut mencari mangsa.
Marten et al, 1994
(4)
melaporkan bahwa 4 spesies Cyclopoid
Copepoda (M. thermocyclopoides, M. venezolanus, M. longisetus
dan Macrocyclops albidus) mempunyai efektivitas tinggi untuk
mengendalikan jentik Ae. aegypti pada berbagai tipe penam-
pungan air milik penduduk El Progreso, Honduras. Keempat
spesies tersebut mampu memangsa lebih kurang 20 ekor jentik
Ae. aegypti per Cyclopoid per hari.
Marten (1994) (komunikasi pribadi) menyatakan bahwa
Cyclopoid Copepoda berukuran lebih dari 1 mm akan efektif
memangsa jentik nyamuk.
M. aspericornis (French Polynesia) yang berukuran panjang
rata-rata 1,55 mm merupakan predator yang lebih efektif di-
bandingkan dengan M. notius yang berukuran panjang rata-rata
0,94 mm terhadap jentik Cx. Quinquefasciatus
(10)
.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :
M. aspericornis berukuran panjang 0,5 mm, 0,8 mm, 1,1
mm, 1,3 mm dan 1,7 mm efektif memangsa jentik Ae. aegypti
(88% ­ 100%) selama 24 jam, 48 jam dan 72 jam pengujian.
Ukuran panjang M. aspericornis ternyata mempengaruhi
efisiensi predasi predator tersebut terhadap jentik Cx. quinque-
fasciatus dan An. aconitus. Ukuran panjang menunjukkan kore-
lasi positif dengan predasi M. aspericornis terhadap jentik Cx.
quinquefasciatus dan An. aconitus.
M. aspericornis dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai
jazad hayati predator yang potensial untuk pengendalian jentik
nyamuk vektor.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada DR.
ME Sustriayu Nalim, Pjh. Kepala Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Salatiga,
yang telah membina dalam penelitian ini, memberikan komentar dan saran
dari awal hingga selesainya makalah ini, serta para teknisi laboratorium
pengendalian hayati yang telah membantu pelaksanaan penelitian.
KEPUSTAKAAN
1. WHO. Biological control of vectors of disease. Sixth report of the WHO
expert committee on vector biology and control. 1982.
2. Marten GG, Bordes ES. Biological control of mosquitoes. In Mosquito
control training manual. 3rd ed. Graphic services, Lousiana State Univ.
1993: 51-67.
3. Marten GG. Issues in the development of Cyclops for mosquito control.
Pros. 5th. Symp. Arbovirus research in Australia. 1989.
4. Marten GG, Borjas G, Cush M, Fernandez E. Reid JW. Control of larval
Ae. aegypti (Diptera: Culicidae) by Cyclopoid Copepods in peridomestic
breeding containers. J. Med. Entomol. 1994; 3 1(l): 36-44.
5. Williamson CE. Copepoda. In: Ecology and classification of North Ame-
rican freshwater invertebrates. Academic Press Inc. 1991: 787-822.
M. aspericornis berukuran 0,5 mm, 0,8 mm dan 1,1 mm
menunjukkan predasi yang relatif rendah (kurang dari 50%)
terhadap jentik An., aconitus selama pengujian 24 jam, 48 jam
dan 72 jam. Persen predasi lebih dari 50% baru terlihat pada M.
aspericornis berukuran 1,3 mm pada pengujian 72 jam dan 1,7
mm pada seluruh waktu pengujian.
6. Widyastuti, Widiarti, Blondine Ch. P, RA Yuniarti. Pemeliharaan dan
pengembangan.jazad hayati sebagai sarana pemberantasan vektor. Laporan
penelitian rutin tahun 1993/1994.
7. Brown MD, Kay BH. Greenwood JG. The predation efficiency of North-
Eastern Australian Mesocyclops (Copepoda : Cyclopoida) on mosquito
larvae. Bull. Plankton Soc. Japan 1991. Spec. Vol. 329-338.
8.
Wyngaard GA, Chinnappa CC. General biology and cytology of
cyclopoids. In : Developmental biology of freshwater invertebrates. Alan
R Li.s.s, Inc. 1982: 485-533.
9. Becker N, Djakaria S, Kaiser A, Zulhasril 0, Ludwig HW. Efficacy of
new tablet formulation of anrasporogenous strain of B. thuringiensis
israelensis against larvae of Ae. aegypti. Bull. Soc. Vector Ecol. 1991;
16(1): 1­7.
10. Brown MD, Kay BH, Hendriksz JK. Evaluation of Australian Mesocyclops
(Cyclopoida : Cyclopidae) for mosquito control. J. Med. Entol. 1991;
28(5): 6 18-23.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 57