background image
SeJarah Kedokteran
Kisah Rauwolfia
Alkaloid rauwolfia punya riwayat yang menarik. Sejarah pe-
ngembangannya di India akan memperkenalkan kita dengan
keajaiban serta potensi-potensi bahan obat yang kuno ini.
Catatan-catatan kuno di India menggambarkan sejumlah be-
sar tanaman obat yang dipergunakan untuk meringankan
penderitaan manusia, di samping untuk praktek okultisme.
Survei secara cepat dalam Ayurveda (sistem kedokteran India)
menunjukkan bahwa sebagian besar preparat tanaman tsb.
digunakan dalam kombinasi (kadang-kadang suatu resep
mengandung 25 -- 50 obat atau lebih) dan obat biasanya
harus mengalami berbagai proses -- pengeringan, penggi-
lingan, dididihkan, disaring dsb. Oleh karena itu sulit dike-
tahui tanaman mana yang berguna untuk penyakit tertentu
dan interaksi apa yang terjadi (menguntungkan atau meru-
gikan) antara berbagai tanaman obat tsb. dalam proses-proses
itu. Inilah salah satu sebab (mungkin) mengapa dari farmakope
India yang mengandung sekitar 2000 macam obat, hanya rau-
wolfia yang diakui statusnya dalam percaturan internasional.
Menurut dongeng, 8000 tahun yll orang-orang bijaksana di
negara itu, setelah berkonsultasi di kaki gunung Himalaya,
mengirimkan wakil mereka Bharadwaja untuk pergi ke Dewa
Indra guna mempelajari ilmu pengobatan. Bharadwaja berhasil
mempelajarinya dan menurunkan ilmunya pada Atreya, yang
kemudian sebagai "bapak ilmu kedokteran India". Atreya
mendirikan sekolah kedokteran di Taxila dan menulis banyak
tulisan mengenai subyek tsb. Dalam perkembangan selanjut-
nya, Charaka mengumpulkan dan merevisi tulisan-tulisan itu.
Bukunya sendiri,
Charaka Samhita
(600 sebelum Masehi),
adalah karya yang komprehensif dan monumental, meliputi
berbagai bidang ilmu kedokteran, dan telah diterjemahkan
ke dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Arab dan Cina.
Pada masa itu juga hiduplah Sushruta, ahli bedah yang ter-
kenal itu. Dia menulis buku Sushruta Samhita. Kedua buku
kuno itu melukiskan penggunaan rauwolfia (dikenal dengan
nama Sarpagandha atau dengan nama lain) untuk berbagai
penyakit seperti gigitan ular, sengatan serangga dan kalajeng-
king, epilepsi, demam, malaria, dan juga untuk penyakit
gila. Jadi, tampaknya rauwolfia telah dikenal selama beribu-
ribu tahun dalam ilmu kedokteran India.
Pada abad-abad pertengahan (masa post Budhis) rauwolfia
hilang tak diketahui jejaknya. Dalam masa itu India diserbu
oleh bangsa Yunani, Mogul, Portugis, Perancis, dan Inggris,
yang masing-masing membawa sistem kedokterannya sendiri.
Ini mengakibatkan kemerosotan kedokteran Hindu. Selama
masa itu penyimpanan catatan-catatan kedokteran tidak
diperhatikan dan kitab-kitab Ayurveda yang ada banyak
yang rusak atau hilang. Sekolah-sekolah kedokteran India yang
pernah jaya itu mulai ditinggalkan orang dan hanya ada se-
dikit dokter India yang qualified yang bekerja sebagai dokter
menjadi dongeng rakyat dan tabib palsu bermunculan. Sangat-
lah mungkin bahwa karena identifikasi yang tidak cermat,
banyak tumbuhan lain yang disangka sebagai rauwolfia dan
dipakai untuk mengobati berbagai jenis penyakit, dari keke-
ruhan kornea sampai eksema. Namun demikian beberapa pu-
blikasi asli mengenai ilmu kedokteran India masih juga diha-
silkan, mungkin melalui contoh yang diberikan oleh beberapa
penguasa Hindu yang tertinggal (misalnya, Bhoja-Prabandha,
tahun 980). Untunglah pada bagian akhir dari masa tsb. ba-
nyak orang asing, ahli botani, dan dokter-dokter mengunjungi
India. Maka rauwolfia tetap hidup dalam memoir dan tulisan-
tulisan mereka yang dipublikasikan dari abad 15 dan seterus-
nya. Aktivitas ini meningkat dengan mendadak pada abad
ke 18 dan 19, dimana rauwolfia banyak disebut-sebut dalam
berbagai farmakope, farmakografi, dan atlas-atlas yang diter-
bitkan pada masa itu, terutama oleh penulis Barat.
Karena menyadari pentingnya tumbuhan obat India dan
sadar akan kenyataan bahwa kehidupan sistem kedokteran
Barat di India tergantung banyak pada kerjasamanya dengan
sistem kedokteran setempat, pemerintah Inggris di India
Charaka, dokter India yang termasyhur.
Cermin Dunia Kedokteran No. 25, 1982
5 5
background image
mengorganisasi sejumlah komite, badan peneliti, dan pameran
untuk mendiskusikan masalah kedokteran pada akhir abad
19
dan awal abad
20. Nadkarni,
Kirtikar, Basu dan Chopra
di
sini patut dicatat karena sumbangan mereka dalam menyu-
sun kompendium
yang
lengkap mengenai tumbuhan obat
India,
dalam kerja sama dengan penulis Inggris. Naskah ilmiah
khusus mengenai rauwolfia mulai muncul dalam majalah-
majalah
India
pada tahun
1931.
Masih merupakan teka-teki
mengapa dari begitu banyak tumbuhan
yang
dicatat, hanya
rauwoltia
yang
dipilih peneliti
India
untuk dianalisa secara
cermat. Mungkin mereka terkesan oleh Gracia ab Horto
yang
pada tahun
1563
menggambarkan rauwolfia sebagai
"obat
India yang paling
terkemuka dan patut dipuji"
Cuplikan dari Charaka Samhita menggambarkan penggunaan rauwolfia
untuk berbagai penyakit seperti demam, malaria, epilepsi dsb).
Pengaruh besar lainnya berasal dari tabib
Hakim
Azmal
Khan, yang
mempraktekkan sistem kedokteran Yunani--Ayur-
veda. Dia sering menggunakan rauwolfia untuk pasiennya dan
kemudian mendirikan Institut Penelitian untuk Kedokteran
Yunani--Ayurveda
di Delhi.
Dia mendapat penghargaan
yang
selayaknya pada tahun
1931
ketika
alkaloid
pertama
yang
diperoleh dari rauwolfia oleh peneliti
-
peneliti
di
institut itu
dinamakan ajmaline, menurut namanya.
Ahli botani Perancis, Plumier memberi nama rauwolfia
pada abad
17,
sebagai penghargaan terhadap
Leonard
Rauwolf,
dokter dan ahli botani Jerman
yang
mengunjungi
India
dan
menulis tentang tumbuhan itu pada tahun
1582.
Namun
tumbuha
n itu dikenal dengan 15 nama botani
yang
berbeda-
beda (dalam bahasa Inggris) sampai tahun
1890-an.
Diskusi
mengenai ejaan
yang
benar dari rauwolfia (pakai
w
atau
v
setelah
u)
terus berlangsung sampai tahun
1950.
Pada masa itu
tumbuhan tsb. disebut dengan sekitar
75
nama dalam bahasa
Sanskrit, Hindi
dan bahasa-bahasa
India
lainnya. Tumbuhan
itu dipakai untuk mengobati tak kurang dari
30
macam
penyakit
di
berbagai daerah
di India.
Belakangan diketahui
bahwa kadar
alkaloid
dalam tumbuhan tsb. berbeda-beda
dari musim ke musim, dari tempat satu ke tempat
lain.
Pada tahun
1931
Sen dan
Bose di Calcutta
menulis tentang
ekstraksi dua
alkaloid
dari akar tumbuhan itu dan manfaatnya
bagi pasien
yang
gila dan hipertensi. Juga pada tahun
1931,
Siddiqui dan Siddiqui dari
Delhi
menerbitkan hasil peneli-
tian analitiknya
yang
komprehensif mengenai akar rauwolfia.
Mereka melaporkan keberhasilannya mengisolasi
5 alkaloid
(ajmaline, ajmalinine, ajmalicine,
serpentine,
dan serpenti-
nine). Antara tahun
1931
dan
1939
mereka menganalisa
akar-akar
yang
diperoleh dari berbagai tempat
yang
berbeda,
dan meneliti lebih jauh tentang struktur kimia, komposisi
dan reaktivitas berbagai
alkaloid
tsb., dan menemukan bebe-
rapa
alkaloid
lagi.
Farmakologi rauwolfia digambarkan oleh Chopra
dk
k.
di Calcutta.
Antara tahun
1933--34
mereka menunjukkan bah-
wa beberapa
alkaloid
dalam tumbuhan itu punya sifat anti-
hipertensif
yang
kuat (bekerja melalui pembuluh darah perifer
dan pusat
vasomotor)
dan bahwa ada sesuatu dalam ekstrak
kasar tsb
yang
punya daya sedatif
yang
kuat (sesuatu
yang lain
daripada
alkaloid-alkaloid yang
telah ditemukan pada masa
itu). Vakil, ahli kardiologi dari
Bombay,
menulis tentang pe-
ngaruh rauwolfia serpentina dalam
British Heart Journal
tahun
1949.
Dari seri
50
pasien
yang
ditelitinya disimpulkan
bahwa peranan rauwolfia dalam penanggulangan hipertensi
tak perlu diragukan lagi.
Alangkah baiknya bila nanti pada suatu saat
1999
tumbuh-
an obat
India
lainnya mendapat perhatian
yang
sama besar
TIPS, 1980; Dec. viii -- x
seperti rauwolfia.
Berhati-hatilah terhadap dokter yang muda dan tukang cukur tua.
Benjamin Franklin
Corpus valet sed aegrotat crumena (Badan sehat namun kocek sakit)
GD Erasmus
56
Cermin Dunia Kedokteran No. 25, 1982