background image
56
Invaginasi pada Anak dan Bayi
Muh. Husain, Farid Nur Mantu
UPF/Lab. lima Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang
PENDAHULUAN
Invaginasi pada anak dan bayi merupakan hal yang masih
suing ditemukan dibandingkan dengan invaginasi pada orang
dewasa. Invaginasi pada anak dan bayi sering dijumpai pada usia
di bawah 2 tahun dan terbanyak ditemukan pada usia 5 ­ 9 bulan.
Penyebab invaginasi pada anak dan bayi 70% ­ 90% tidak
diketahui; beberapa kepustakaan menghubungkan dengan
hypertrophied peyer's patches akibat infeksi oleh virus, perubah-
an cuaca atau perubahan pola makanan. Sedangkan invaginasi
pada anak yang besar dan orang dewasa penyebabnya adalah
suatu kelainan patologis (divertikel Meckel, polip, tumor)
(1,2,3)
.
Invaginasi pada anak dan bayi sering memberikan gejala-
gejala klinik klasik berupa nyeri perut yang bersifat serangan
(kolik), keluarnya lendir dan darah peranum (currant jelly
stool) tanpa faeces dan pada palpasi perut teraba massa tumor
seperti pisang (sausage shape mass)
(2,3,4)
.
Untuk menegakkan diagnosis invaginasi pada anak dan
bayi, selain gejala klinik diperlukan pemeriksaan radiologi. Pada
pemeriksaan radiologi dengan menggunakan barium enema
selain bertujuan diagnostik juga dapat berperan sebagai terapi.
Pada invaginasi anak dan bayi, bila belum terlambat (belum
ada dehidrasi, peritonitis, distensi abdomen yang berlebihan),
dapat. dilakukan reposisi dengan tekanan hidrostatik barium
enema. Bilamana reposisi dengan barium enema tidak berhasil
atau dijumpai gejala invaginasi lebih dari 48 jam, peritonitis,
distensi abdomen yang berlebihan, invaginasi rekuren, maka
tindakan yang diambil adalah reposisi operatif
(4,5)
.
Evaluasi kasus ini bertujuan menyajikan data yang ditemu-
kan pada kasus invaginasi anak dan bayi pada bangsal anak
Bagian Bedah Rumah Sakit Umum Dadi Ujung Pandang sejak
Januari 1989 sampai dengan Desember 1991 dan membanding-
kannya dengan beberapa kepustakaan.
BAHAN DAN CARA
Penulisan ini bersifat retrospektif dan data diperoleh dari
catatan medik penderita yang dirawat Dada bangsal anak
Rumah Sakit Umum Dadi Ujung Pandang sejak Januari 1989
sampai dengan Desember 1991.
Dipelajari mengenai usia penderita, sex, gejala klinik, tin-
dakan yang dilakukan dan jenis invaginasi setelah dilakukan
reposisi operatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Selama tiga tahun ditemukan 12 kasus invaginasi anak dan
bayi, terdiri dari 81aki-laki dan 4 wanita dengan usia antara 4 ­
15 bulan (tabel 1). Dalam kepustakaan, perbandingan antara
ABSTRAK
Dari Januari 1989 sampai dengan Desember 1991 telah dirawat 12 kasus invaginasi
pada anak dan bayi di bagian Bedah Fakultas Kedokteran Unhas/Rumah Sakit Umum
Dadi Ujung Pandang; pada 7 kasus segera dilakukan laparatomi, 4 kasus dilakukan
reposisi dengan tekanan hidrostatik barium enema ­ 3 kasus gagal dan 1 kasus berhasil.
Satu kasus paksa pulang dan 2 kasus meninggal.
background image
57
laki-laki dan wanita 3 : 1 serta usia yang terbanyak dijumpai
antara 5 ­ 9 bulan
(6,7)
.
Penyebab invaginasi pada anak dan bayi tidak diketahui,
sedangkan pada anak yang lebih besar dan orang dewasa ada
yang melaporkan disebabkan oleh kelainan patologis berupa
divertikel Meckel, polip, tumor. Dalam seri kasus ini tidak
dijumpai adanya kelainan patologis tersebut.
Tabel 1. Distribusi Usia dan Jenis Kelamin Penderita Invaginasi Bagian
Bedah
RSU
Dadi,
Ujung
PandangJanuari
1989­Desember
1991
Usia Wanita Pria
4 bulan
5 bulan
8 bulan
9 bulan
13 bulan
15 bulan
2
1
1
­
­
­
2
2
­
2
1
1
4 8
Gambaran klinis invaginasi pada anak dan bayi adalah khas
berupa nyeri perut yang bersifat serangan (kolik) keluarnya
darah dan lendir per anum tanpa faeces dan pada palpasi teraba
massa seperti pisang pada perut.
Dalam seri kasus kami jumpai 8 kasus dengan nyeri abdo-
men (66,6%), keluarnya darah dan lendir dijumpai 10 kasus
(83,3%), pada palpasi perut dijumpai massa seperti pisang 10
kasus (83,3%) (tabel 2).
Stevenson melaporkan adanya nyeri abdomen pada 85%
kasus, keluarnya darah dan lendir 60% kasus dan massa tumor
85% kasus(
61
; sedangkan Ein melaporkan nyeri abdomen 64%,
keluarnya darah dan lendir 55% dan massa tumor 51%
(4)
.
Tabel 2. Distribusi gejala utama invaginasi
Gejala klinik Mama
Jumlah
Nyeri abdomen
Keluamya darah dan lendir
Teraba massa tumor
8
10
10
Gejala klinik yang dijumpai oleh beberapa penulis tidak
jauh berbeda dari apa yang dijumpai dalam seri kasus kami, hal
ini menunjukkan bahwa gejala klinik invaginasi adalah khas.
Penanganan kasus invaginasi pada anak dan bayi meliputi
penanganan konservatif dengan tekanan hidrostatik barium
enema serta tindakan reposisi operatif.
Semua kasus invaginasi pada anak dan bayi dirawat secara
konservatif dengan tindakan reposisi barium enema, mengingat
angka keberhasilannya lebih dari 50% dan penderita terhindar
dari stres operasi. Namun apabila dijumpai keadaan seperti
distensi abdomen yang berlebihan, peritonitis, reposisi dengan
barium enema mengalami kegagalan, gejala invaginasi lebih dari
24 jam, invaginasi yang rekuren beberapa kali, diindikasikan
untuk melakukan reposisi operatif
(1,7,8,9)
. Dalam seri kasus
kami, 7 kasus langsung dilakukan operasi mengingat penderita
datang ke rumah saki' dengan gejala invaginasi lebih dari 48
jam disertai distensi abdomen yang berlebihan.
Setelah dilakukan tindakan reposisi operatif dijumpai 4
kasus jenis ileocolica, 1 kasus jenis ileocolocolica serta 2 kasus
jenis ileoileal, tidak dijumpai adanya kelainan patologis yang
menjadi penyebabnya. Dilaporkan bahwa jenis invaginasi yang
terbanyak adalah ileocolica
(7,10)
.
Empat kasus direposisi dengan tekanan hidrostatik barium
enema karena penderita tidak menunjukkan gejala-gejala dis-
tensi abdomen yang berlebihan, serta gejala invaginasi sampai
tiba di rumah sakit kurang dari 48 jam, namun setelah dilakukan
reposisi ternyata 3 kasus gagal dan 1 kasus berhasil. Ketiga ka-
sus yang gagal tereposisi tersebut dioperasi dengan jenis invagi-
nasi ileocolica (2 kasus) dan ileocolocolica (1 kasus). Dua kasus
memerlukan reseksi anastomosis karena menunjukkan tanda-
tanda perforasi dan 1 kasus hanya dilakukan reposisi manual.
Satu kasus menolak tindakan dan minta pulang. Dua kasus
postoperasi setelah dirawat beberapa hari meninggal dunia oleh
karena sepsis dan dehidrasi.
Lama perawatan seluruh kasus berkisar 10 sampai 15 hari.
RINGKASAN
Selama kurun waktu Januari 1989 sampai Desember 1991
didapatkan 12 kasus penderita invaginasi pada anak dan bayi
yang berbat ke UPF Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Dadi
Ujung Pandang; sebagian besar datang dengan gejala-gejala
invaginasi lebih dari 48 jam disertai distensi abdomen yang berat.
Diuraikan secara singkat etiologi, gejala klinis, diagnosis,
penanganan serta jenis invaginasi yang dijumpai setelah di-
lakukan reposisi operatif. Selanjutnya data yang diperoleh di-
bandingkan dengan data beberapa kepustakaan.
KEPUSTAKAAN
1. Basu SS. Handbook of Surgery. Bombay: Current Book International,
1986. p. 216.
2. Chapman JA. Intussusception in Rhodesia African. A contrast with the
accepted clinical picture. J. Pediatr. Surg. 1973; 8.
3. Dunphy JE, Way LW. Intussusception. Current Surgical Diagnosis and
Treatment, 3th ed. 1977. p. 1044.
4. Ein SH. Leading point in childhood intussusception J. Pediatr. Surg. 1976;
11: 209­11.
5. Raffenspenger JG. Intussusception. Swenson
'
s Pediatric Surgery, 4th ed.
1980; 190`197.
6. Stevenson RJ. Non neonatal intestinal obstruction in children. Surg Clin
North Am 1985; 65: 1227­31.
7. Way LW. Intussusception. Current Surgical Diagnosis and Treatment, 8th
ed. Prentice/Hall International Inc. 1988. p. 1118-9.
8. Skipper RP, Boeckman CR, Klein RL. Childhood intussusception. Surg.
Gynecol. Obstet. 1990; 171: 151­3.
9. Setiawan I, Theyeb A, Kartona D. Intussusepsi, Penanganan reduksi
dengan enema barium. Ropanasuri 1986; 15(4): 177-82.
10. Sabiston DC. Textbook of Surgery; 12th ed. Philadelphia, London,
Toronto: WB Saunders Co. 1981. pp. 1380­1.